Sunday, March 11, 2018

BEBERAPA KARAKTERISTIK ‘AQIDAH AHLUS SUNNAH WAL JAMA’AH[1]

Hasil gambar untuk tauhid islamSesungguhnya orang yang mau berfikir obyektif, jika ia mau melakukan perbandingan antara berbagai keyakinan yang ada di antara ummat manusia saat ini, niscaya ia menemukan beberapa karakteristik dan ciri-ciri dari ‘aqidah Ahlus Sunnah wal Jama’ah yang merupakan ‘aqidah Islamiyyah yang haqq (benar) berbeda dengan lainnya.

Di antara karakter dan ciri-ciri ‘aqidah Ahlus Sunnah wal Jama’ah adalah:

1. Keotentikan Sumbernya.
Hal ini karena ‘aqidah Ahlus Sunnah semata-mata hanya bersandarkan kepada Al-Qur-an, hadits dan ijma’ para ulama Salaf serta penjelasan dari mereka. Ciri ini tidak terdapat pada aliran-aliran mutakallimin (pengagung ilmu kalam), ahli bid’ah dan kaum Shufi yang selalu bersandar kepada akal dan pemikiran atau ke-pada kasyaf, ilham, wujud dan sumber-sumber lain yang berasal dari manusia yang lemah. Mereka jadikan hal tersebut sebagai patokan atau sandaran di dalam masalah-masalah yang ghaib.

Sedangkan Ahlus Sunnah selalu berpegang teguh kepada Al-Qur-an dan Hadits Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam, Ijma’ Salafush Shalih dan penjelasan-penjelasan dari mereka. Jadi: ‘aqidah apa saja yang bersumber dari selain Al-Qur-an, hadits, ijma’ Salaf dan penjelasan mereka itu, maka termasuk kesesatan dan kebid’ahan.[2]

2. Berpegang Teguh Kepada Prinsip Berserah Diri Kepada Allah Dan Kepada Rasul-Nya Shallallahu Alaihi wa Sallam.
‘Aqidah adalah masalah yang ghaib, dan hal yang ghaib itu hanya tegak dan bersandar kepada kepasrahan (taslim) serta keyakinan sepenuhnya (mutlak) kepada Allah (dan Rasul-Nya Shallallahu ‘alaihi wa sallam). Maksudnya, hal tersebut adalah apa yang diberitakan Allah dan Rasul-Nya (wajib diterima dan diyakini sepenuhnya). Taslim merupakan ciri dan sifat kaum beriman yang karenanya mereka dipuji oleh Allah, seraya berfirman:

الم ذَٰلِكَ الْكِتَابُ لَا رَيْبَ ۛ فِيهِ ۛ هُدًى لِلْمُتَّقِينَ الَّذِينَ يُؤْمِنُونَ بِالْغَيْبِ

“Alif Laam Miim. Kitab Al-Qur-an ini tidak ada keraguan padanya, petunjuk bagi mereka yang bertaqwa, (yaitu) mereka beriman kepada yang ghaib…” [Al-Baqarah: 1-3]

Perkara ghaib itu tidak dapat diketahui atau dijangkau oleh akal. Oleh karena itu, Ahlus Sunnah membatasi diri di dalam masalah ‘aqidah kepada berita dan wahyu yang datang dari Allah Subhanahu wa Ta’ala dan Rasul-Nya. Hal ini sangat berbeda dengan ahli bid’ah dan mutakallimin (ahli kalam). Mereka memahami masalah yang ghaib itu dengan berbagai dugaan. Tidak mungkin mereka mengetahui masalah-masalah ghaib. Mereka tidak melapangkan akal-nya[3] dengan taslim, berserah diri kepada Allah dan Rasul-Nya, dan tidak pula menyelamatkan ‘aqidah mereka dengan ittiba’ dan mereka menghalangi kaum Muslimin awam berada pada fitrah yang telah Allah fitrahkan kepada mereka.[4]

3. Sejalan Dengan Fitrah Yang Suci Dan Akal Yang Sehat.
Hal itu karena ‘aqidah Ahlus Sunnah wal Jam’ah berdiri di atas prinsip ittiba’ (mengikuti), iqtida’ (meneladani) dan berpedoman kepada petunjuk Allah, bimbingan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam dan ‘aqidah generasi terdahulu (Salaful Ummah). ‘Aqidah Ahlus Sunnah bersumber dari sumber fitrah yang suci dan akal yang sehat serta pedoman yang lurus. Betapa sejuknya sumber rujukan ini. Sedangkan ‘aqidah dan keyakinan golongan yang lain itu hanya berupa khayalan dan dugaan-dugaan yang membutakan fitrah dan membingungkan akal belaka.[5]

4. Mata Rantai Sanadnya Sampai Kepada Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam, Para Sahabatnya Dan Para Tabi’in Serta Para Imam Yang Mendapatkan Petunjuk.
Tidak ada satu prinsip pun dari prinsip-prinsip ‘aqidah Ahlus Sunnah wal Jama’ah yang tidak mempunyai dasar atau sanad atas qudwah (contoh) dari para Sahabat, Tabi’in dan Tabi’ut Tabi’in serta para Imam yang mendapatkan petunjuk hingga hari Kiamat. Hal ini sangat berbeda dengan ‘aqidah kaum mubtadi‘ah (ahli bid’ah) yang menyalahi kaum Salaf di dalam ber-‘aqidah. ‘Aqidah mereka merupakan hal yang baru (bid’ah) tidak mempunyai sandaran dari Al-Qur-an dan As-Sunnah, ataupun dari para Sahabat Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam dan Tabi’in. Oleh karena itu, mereka berpegang kepada kebid’ahan sedangkan setiap bid’ah adalah sesat.[6]

5. Jelas Dan Gamblang.
‘Aqidah Ahlus Sunnah mempunyai ciri khas yaitu gamblang dan jelas, bebas dari kontradiksi dan ketidakjelasan, jauh dari filsafat, serta kerumitan kata dan maknanya, karena ‘aqidah Ahlus Sunnah bersumber dari firman Allah yang sangat jelas, yang tidak datang kepadanya kebathilan (kepalsuan), baik dari depan mau-pun dari belakang, dan bersumber dari sabda Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam yang beliau tidak pernah berbicara dengan hawa nafsunya. Sedangkan ‘aqidah dan keyakinan yang lainnya berasal dari ramuan yang dibuat oleh manusia atau ta’-wil dan tahrif mereka terhadap teks-teks syar’i. Sungguh sangat jauh perbedaan sumber dari ‘aqidah Ahlus Sunnah dan kelompok yang lainnya. ‘Aqidah Ahlus Sunnah adalah tauqifiyyah (berdasarkan dalil/nash) dan bersifat ghaib, tidak ada pintu bagi ijtihad sebagaimana yang telah dimaklumi.[7]

6. Bebas Dari Kerancuan, Kontradiksi Dan Kesamaran.
Tidak ada kerancuan pada ‘aqidah Islamiyyah yang murni ini, tidak pula kontradiksi dan kesamaran. Hal itu karena ‘aqidah tersebut bersumber dari wahyu, kekuatan hubungan para penganutnya dengan Allah, realisasi ubudiyyah (penghambaan) hanya kepada-Nya semata, penuh tawakkal kepada-Nya semata, kekokohan keyakinan mereka terhadap al-haqq (kebenaran) yang mereka miliki. Orang yang meyakini ‘aqidah Salaf tidak akan ada kebingungan, kecemasan, keraguan dan syubhat di dalam beragama. Berbeda halnya dengan para ahli bid’ah, tujuan dan sasaran mereka tidak pernah lepas dari penyakit bingung, cemas, ragu, rancu dan mengikuti kesamaran.

Sebagai contoh yang sangat jelas sekali adalah keraguan, kegoncangan dan penyesalan yang terjadi pada para tokoh terkemuka mutakallimin (ahli kalam), tokoh filosof dan para tokoh Shufi sebagai akibat dari sikap mereka menjauhi ‘aqidah Salaf. Dan sebagian mereka kembali kepada taslim dan pengakuan terhadap ‘aqidah Salaf, terutama ketika usia mereka sudah lanjut atau mereka menghadapi kematian, sebagaimana yang terjadi pada Imam Abul Hasan al-Asy’ari (wafat th. 324 H) rahimahullah. Beliau telah merujuk kembali kepada ‘aqidah Ahlus Sunnah wal Jama’ah (‘aqidah Salaf) sebagaimana yang dinyatakan di dalam kitabnya, al-Ibaanah ‘an Ushuuliddiyaanah, setelah sebelumnya menganut ‘aqidah mu’tazilah, kemudian talfiq (paduan antara ‘aqidah mu’tazilah dan ‘aqidah Salaf) dan akhirnya kembali kepada ‘aqidah Ahlus Sunnah wal Jama’ah. Hal serupa juga dilakukan oleh Imam al-Baqillani (wafat th. 403 H) sebagaimana yang dinyatakan dalam kitab at-Tamhiid, dan masih banyak lagi tokoh terkemuka lain-nya.[8]

7. ‘Aqidah Ahlus Sunnah Wal Jama’ah Merupakan Faktor Utama Bagi Kemenangan Dan Kebahagiaan Abadi Di Dunia Dan Akhirat
‘Aqidah Ahlus Sunnah wal Jama’ah merupakan faktor utama bagi terealisasinya kesuksesan, kemenangan dan keteguhan bagi siapa saja yang menganutnya dan menyerukannya kepada ummat manusia dengan penuh ketulusan, kesungguhan dan kesabaran. Golongan yang berpegang teguh kepada ‘aqidah ini yaitu Ahlus Sunnah wal Jama’ah adalah golongan yang diberikan kemenangan dan pertolongan, sebagaimana sabda Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam:

لاَ تَزَالُ طَائِفَةٌ مِنْ أُمَّتِي ظَاهِرِيْنَ عَلَى الْحَقِّ لاَ يَضُرُّهُمْ مَنْ خَذَلَهُمْ حَتَّى يَأْتِيَ أَمْرُ اللهِ وَهُمْ كَذَلِكَ.

“Akan tetap ada satu golongan dari ummatku yang berdiri tegak di atas al-haqq (kebenaran), tidak akan membahayakan bagi mereka orang-orang yang tidak menghiraukan mereka hingga datang perintah Allah dan mereka tetap seperti itu.”[9]

8. ‘Aqidah Ahlus Sunnah wal Jama’ah Adalah ‘Aqidah Yang Dapat Mempersatukan Ummat.
‘Aqidah Ahlus Sunnah merupakan jalan yang paling baik untuk menyatukan kekuatan kaum Muslimin, kesatuan barisan mereka dan untuk memperbaiki apa-apa yang rusak dari urusan agama dan dunia. Hal ini dikarenakan ‘aqidah Ahlus Sunnah mampu mengembalikan mereka kepada Al-Qur-an dan Sunnah Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam serta jalannya kaum Mukminin, yaitu jalannya para Sahabat. Keistimewaan ini tidak mungkin terealisasi pada suatu golongan mana pun, atau lembaga da’wah apapun atau organisasi apapun yang tidak menganut ‘aqidah Ahlus Sunnah wal Jama’ah. Sejarah adalah saksi dari kenyataan ini! Hanya negara-negara yang berpegang teguh kepada ‘aqidah Ahlus Sunnah sajalah yang dapat menyatukan kekuatan kaum Muslimin yang berserakan, hanya dengan ‘aqidah Salaf, maka jihad serta amar ma’ruf dan nahi munkar itu tegak dan tercapailah kemuliaan Islam.[10]

9. Utuh, Kokoh Dan Tetap Langgeng Sepanjang Masa.
‘Aqidah Ahlus Sunnah wal Jama’ah adalah utuh dan sama dalam masalah prinsipil (ushuluddin) sepanjang masa dan akan tetap seperti itu hingga hari Kiamat kelak. Artinya ‘aqidah Ahlus Sunnah selalu sama, utuh dan terpelihara baik secara riwayat maupun keilmuannya, kata-kata, maupun maknanya. Ia diwariskan dari generasi ke generasi berikutnya tanpa mengalami perubahan, pencampuradukan, kerancuan dan tidak mengalami penambahan maupun pengurangan. Hal tersebut karena ‘aqidah Ahlus Sunnah bersumber dari Al-Qur-an yang tidak datang kepadanya kebathilan baik dari depan maupun dari belakang dan dari Sunnah Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam yang beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak pernah berbicara dengan hawa nafsu.[11]

10. Allah Menjamin Kehidupan Yang Mulia bagi Orang Yang Menetapi ‘Aqidah Ahlus Sunnah Wal Jama’ah.
Berada dalam naungan ‘aqidah Ahlus Sunnah akan menyebabkan rasa aman dan kehidupan yang mulia. Hal ini karena ‘aqidah Ahlus Sunnah senantiasa menjaga keimanan kepada Allah dan mengandung kewajiban untuk beribadah kepada Allah sebagai satu-satunya yang berhak diibadahi dengan benar. Orang yang beriman dan bertauhid akan mendapatkan rasa aman, kebaikan, kebahagiaan dunia dan akhirat. Rasa aman senantiasa menyertai keimanan, apabila keimanan itu hilang maka hilang pula rasa aman.

Firman Allah:

الَّذِينَ آمَنُوا وَلَمْ يَلْبِسُوا إِيمَانَهُمْ بِظُلْمٍ أُولَٰئِكَ لَهُمُ الْأَمْنُ وَهُمْ مُهْتَدُونَ

“Orang-orang yang beriman dan tidak mencampuradukkan iman mereka dengan kezhaliman (syirik), mereka itulah orang-orang yang mendapatkan keamanan dan mereka itulah orang-orang yang mendapat petunjuk.” [Al-An’aam: 82]

Orang yang bertaqwa dan beriman akan mendapatkan rasa aman yang sempurna dan petunjuk yang sempurna di dunia dan akhirat. Adapun orang yang berbuat syirik, bid’ah dan maksiyat mereka adalah orang yang selalu diliputi dengan rasa takut, was-was, tidak tenang dan tidak ada rasa aman. Mereka selalu diancam dengan berbagai hukuman dan siksaan pada setiap waktu.[12]

[Disalin dari kitab Syarah Aqidah Ahlus Sunnah Wal Jama’ah, Penulis Yazid bin Abdul Qadir Jawas, Penerbit Pustaka Imam Asy-Syafi’i, Po Box 7803/JACC 13340A Jakarta, Cetakan Ketiga 1427H/Juni 2006M]
_______
Footnote
[1]. Pembahasan ini dinukil dari kitab ‘Aqiidah Ahlis Sunnah wal Jamaa’ah; Mafhuu-muha, Khashaa-ishuha, Khashaa-ishu Ahlihaa (hal. 37) karya Muhammad bin Ibrahim al-Hamd, cet. I/ tahun 1416 H dan kitab Buhuuts fii ‘Aqiidah Ahlis Sunnah wal Jamaa’ah (hal. 37-38).
[2]. Lihat Buhuuts fii ‘Aqiidah Ahlis Sunnah wal Jamaa’ah (hal. 33-34).
[3]. Hal ini tidak boleh difahami bahwa Islam mengekang akal, menonaktifkan fung-sinya dan menghapus bakat berfikir yang ada pada manusia, namun sebaliknya, Islam menyediakan bagi akal banyak sarana untuk mengetahui, mengamati, berfikir dan berkarya, sesuatu yang cukup merangsang keinginannya terhadap ciptaan Allah. Wallaahu a’lam.
[4]. Buhuuts fii ‘Aqiidah Ahlis Sunnah wal Jamaa’ah (hal. 34).
[5]. Ibid.
[6]. Lihat Majmuu’ Fataawaa Syaikhil Islaam Ibni Taimiyyah (I/9) dan Buhuuts fii ‘Aqiidah Ahlis Sunnah wal Jamaa’ah (hal. 35).
[7]. Lihat Buhuuts fii ‘Aqiidah Ahlis Sunnah wal Jamaa’ah (hal. 35).
[8]. Lihat Majmuu’ Fataawa Syaikhil Islaam Ibni Taimiyyah (IV/72-73) dan Buhuuts fii ‘Aqiidah Ahlis Sunnah wal Jamaa’ah (hal. 35-36).
[9]. Diriwayatkan oleh Muslim (no. 1920) dan at-Tirmidzi (no. 2229), dari Sahabat Tsauban Radhiyallahu anhu. Perintah Allah, yaitu datangnya angin yang mewafatkan Mukmin dan Mukminah (di akhir zaman). Lihat Syarah Shahiih Muslim (XIII/66).
[10]. Lihat Buhuuts fii ‘Aqiidah Ahlis Sunnah wal Jamaa’ah (hal. 37-38).
[11]. Ibid, hal. 38-39.
[12]. Lihat ‘Aqiidah Ahlis Sunnah wal Jamaa’ah; Mafhuumuha, Khashaa-ishuha, Khashaa-ishu Ahlihaa (hal. 37) karya Muhammad bin Ibrahim al-Hamd, cet. I/ th. 1416 H, dengan sedikit tambahan.

Oleh
Al-Ustadz Yazid bin Abdul Qadir Jawas


Sumber: https://almanhaj.or.id/3423-beberapa-karakteristik-aqidah-ahlus-sunnah-wal-jamaah.html

BANYAKNYA ORANG BUKAN UKURAN KEBENARAN

Hasil gambar untuk kebanyakan orangMereka, pemahaman tassawuf di Indonesia  selalu membanggakan jumlah jamaah mereka yang besar, memang benar jumlah mereka besar, konon sekitar 30juta dari 206 juta Muslim di Indonesia. Masalahnya ukuran kebenaran bukan dari banyaknya jamaah, tapi dari kebenaran yang dia bawa,  yakni hujjah dari Alquran dan Hadist yang sahhihah. Menurut Ustadz Maududi Abdullah Lc.,  Allah ketika menyebutkan banyaknya orang selalu berkaitan dengan dengan kesesatan dan azab, sementara ketika Allah menyebut sedikitnya orang Dia sedang membicarakan Hidayah dan kebaikan.

Perhatikan ayat-ayat  berikut ini :

1. Kebanyakan manusia menyesatkan :

وَإِن تُطِعْ أَكْثَرَ مَن فِي الأَرْضِ يُضِلُّوكَ عَن سَبِيلِ اللّهِ إِن يَتَّبِعُونَ إِلاَّ الظَّنَّ

“Seandainya kalian mengikuti kebanyakan orang di muka bumi, sungguh mereka akan menyesatkan kalian dari jalan Allah (Qs:al An’aam:116)

2. Kebanyakan manusia tidak bersyukur:

إِنَّ اللّهَ لَذُو فَضْلٍ عَلَى النَّاسِ وَلَـكِنَّ أَكْثَرَ النَّاسِ لاَ يَشْكُرُونَ

“..akan tetapi kebanyakan manusia tidak bersyukur” (Qs Al Baqoroh:243)

3. Kebanyakan manusia tidak mengetahui kebenaran:

وَلَـكِنَّ أَكْثَرَ النَّاسِ لاَ يَعْلَمُونَ

“…akan tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui” (Qs.Al A’raf:187)

4. Kebanyakan manusia lalai mengingat Allah:

وَإِنَّ كَثِيراً مِّنَ النَّاسِ عَنْ آيَاتِنَا لَغَافِلُونَ

“.. dan sesungguhnya kebanyakan manusia itu lengah terhadap tanda tanda kekuasan Kami” (Qs.Yunus:92)

5. Kebanyakan manusia itu fasik:

وَإِنَّ كَثِيراً مِّنَ النَّاسِ لَفَاسِقُونَ

“..dan sesungguhnya kebanyakan manusia itu benar benar fasiq” (Qs.Al Maa’idah:49)

6. Kebanyakan manusia mengingkari Al Quran:

وَلَقَدْ صَرَّفْنَا لِلنَّاسِ فِي هَـذَا الْقُرْآنِ مِن كُلِّ مَثَلٍ فَأَبَى أَكْثَرُ النَّاسِ إِلاَّ كُفُوراً

“ dan sesungguhnya Kami telah mengulang ulang kepada manusia didalam Al-Quran ini setiap macam perumpamaan, tetapi kebanyakan manusia tidak menyukai selain mengingkari”. (Qs.Al Isra’:89)

7. Kebanyakan manusia mengingkari berjumpa dengan Allah:

وَإِنَّ كَثِيراً مِّنَ النَّاسِ بِلِقَاء رَبِّهِمْ لَكَافِرُونَ

“ Dan sesungguhnya kebanyakan diantara manusia benar benar ingkar akan pertemuan dengan rabb-nya. (Qs.Ar Ruum:8)

8. Kebanyakan manusia tidak beriman:

وَلَـكِنَّ أَكْثَرَ النَّاسِ لاَ يُؤْمِنُونَ

“ ..akan tetapi kebanyakan manusia tidak beriman”. (Qs.Hud:17)

Saudaraku yang dirahmati oleh Allah, tahukah engkau, bahwa:

1. Sedikit sekali manusia yang bersyukur:

وَقَلِيلٌ مِّنْ عِبَادِيَ الشَّكُورُ

“ Sedikit sekali dari hamba-Ku yang bersyukur.” (Qs.Saba’:13)

2. Sedikit sekali manusia yang beriman:

وَمَا هُوَ بِقَوْلِ شَاعِرٍ قَلِيلاً مَا تُؤْمِنُونَ

“ ..Sedikit sekali kalian beriman kepadanya. (Qs.Al Haaqqah:41)

3. Sedikit sekali manusia menginggat Allah:

مَّعَ اللَّهِ قَلِيلاً مَّا

“ Sangatlah sedikit kalian-Nya.” (Qs.An Naml:62)

4. Sedikit sekali manusia yang mau mengambil pelajaran.

مِن دُونِهِ أَوْلِيَاء قَلِيلاً مَّا تَذَكَّرُونَ

“..Sedikit sekali kamu mengambil pelajaran” (Qs.Al A’raf:3).

Demikian semoga bermanfaat
Oleh : Siswo kusyudhanto.

Kewajiban Mengikuti jalan Salafush Sholeh

Hasil gambar untuk aqidah salafiBanyak diantara umat muslim yang belum mengenal apa itu salaf ,manhaj salaf, Salafush Sholeh dan salafi/Salafiyun , na'am sebelum itu agar tidak Salah maka Kita Jabarkan satu persatu, mulai dari ;

1. Salaf , apa itu salaf ?
"Salaf adalah, istilah atau sebutan, yang memiliki makna / arti Terdahulu, maka disini Biasanya ketika ada mengikuti Pemahaman para salaf, maka Artinya mengikuti pemahaman para Orang terdahulu .

2. Salafush Sholeh ,maknanya adalah orang terdahulu yang dekat dengan Allah, Maka Ketika Bicara, kami mengikuti jejak Salafush Sholeh maka Artinya kita mengikuti jejak Rasulullah , Shaabat, Tabi'in dan Tabi'it, krna mereka bagian dari Salafush Sholeh, lalu gimana kasusnya dengan orang yang taqlid pada satu madzhab saja, misal Syafi'iyah? Apa mereka berhak Dikatakan salafi? Ulama Berselisih, ada yg mengatakan ya mereka bagian salafi Namun Menyimpang karena menganggap Maksum segala pendapat Imam madzhab, sedangkan dilarang menganggap orang Maksum kecuali Rasullalah shalallahu alaihi wasallam dan ada yg berkata bukan, dan mereka termasuk Ahluhawa yang Jahil karena Taqlid.

3. Manhaj, manhaj diartikan oleh sebagian ulama adalah Jalan yang lurus, atau sering kita dengan dengan manhaj salaf, yang artinya jalan yang lurus dari orang terdahulu .

4. SALAFI, Salafi adalah sebutan bagi mereka yang berada di manhaj salaf, yang artinya pengikut salaf atau pengikut salaf yang berada di jalan salaf .

5. Salafiyun, adalah Bagi mereka yang berjumlah Lebih dari satu seperti kita ambil contoh, salafi Indonesia bisa juga di sebut Salafiyun, karena jumlahnya lebih dari 1 wlaau tidak mengelompokkan diri.

Lalu adakah kewajiban dalil bahwa kita wajib mengikuti Manhaj para Salafush Sholeh ?

Allah berfirman ;
Maka jika mereka beriman kepada semisal apa yang kamu telah beriman kepadanya, sungguh mereka telah mendapat petunjuk; dan jika merekaberpaling, sesungguhnya mereka berada dalam permusuhan (dengan kamu). Maka Allah akan memelihara kamu dari mereka. Dan Dialah Yang Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui. [Al Baqarah:137].

Nadhir bin Sa’id Alu Mubarak berkata: “Allah Yang Maha Suci telah menjadikan keimanan, sebagaimana keimanan sahabat dari seluruh sisi, sebagai tempat bergantung petunjuk dan keselamatan dari maksiat dan memusuhi Allah. Maka, jika manusia beriman dengan sifat ini, dan mengikuti teladan jalan sahabat, berarti dia mendapatkan petunjuk menetapi kebenaran. Jika mereka berpaling dari jalan dan pemahaman sahabat, maka mereka berada di dalam perpecahan, permusuhan dan kemaksiatan kepada Allah dan RasulNya. Dan Allah Maha mendengar terhadap pengakuan manusia, bahwa mereka beraqidah dan bermanhaj Salafi, Dia mengetahui hakikat urusan mereka. Dan Allah Ta’ala lebih mengetahui. [Diringkas dari kitab Al Mirqah Fii Nahjis Salaf Sabilin Najah, hlm. 35-36].

Allah kembali berfirman ;
Kamu adalah umat yang terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh kepada yang ma’ruf, dan mencegah dari yang munkar, dan beriman kepada Allah.. [Ali Imran:110].

Syaikh Salim Al Hilali berkata: “Allah telah menetapkan keutamaan untuk para sahabat di atas seluruh umat. Ini berarti, mereka istiqomah (berada di atas jalan lurus) dalam segala keadaan;karena mereka tidak pernah menyimpang dari jalan yang terang. Allah telah menyaksikan telah menjadi saksi untuk mereka, bahwa mereka menyuruh kepada seluruh yang ma’ruf dan mencegah dari seluruh yang munkar. Hal itu mengharuskan menunjukkan bahwa pemahaman mereka merupakan argumen terhadap orang-orang setelah mereka”. [Limadza Ikhtartu Manhajas Salafi, hlm. 86].

Allah kembali berfirman di ayat lain ;

Dan barangsiapa menentang Rasul sesudah jelas kebenaran baginya dan mengikuti jalan yang bukan jalannya orang-orang mu’min, Kami biarkania leluasa terhadap kesesatan yang telah dikuasainya itu dan Kami masukkan ia ke dalam Jahannam, dan Jahannam itu seburuk-buruknya tempat kembali. [An Nisa’:115].

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah berkata,”Sesungguhnya, keduanya itu (yaitu menentang Rasul sesudah jelas kebenaran baginya dan mengikuti jalan yang bukan jalan orang-orang mu’min, Pen.) saling berkaitan. Semua orang yang menentang Rasul sesudah jelas kebenaran baginya, berarti dia mengikuti jalan yang bukan jalannya orang-orang mu’min. Dan semua orang yang mengikuti jalan yang bukan jalannya orang-orang mu’min, berarti dia menentang Rasul sesudah jelas kebenaran baginya.” Lihat Majmu’ Fatawa (7/38)

Karena hanya mereka yang di jamin masuk surga , Allah berfirman ;
Orang-orang yang terdahulu lagi yang pertama-tama (masuk Islam) diantara orang-orang Muhajirin dan Anshar dan orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik, Allah ridha kepadamereka dan Allah menyediakan bagi mereka surga-surga yang mengalir sungai-sungai di dalamnya; mereka kekal di dalamnya selama-lamanya. Itulah kemenangan yang besar. [At Taubah:100].

Lihatlah, Allah menyediakan surga-surga bagi dua golongan. Pertama, golongan sahabat. Yaitu orang-orang Muhajirin dan Anshar. Mereka adalahSalafush Shalih generasi sahabat. Kedua, orang-orang yang mengikuti golongan pertama dengan baik.

Maka jelaslah bahwa Gerakan dakwah salafiyah yang sering di Fitnah Oleh Orang Syiah dan Munafiq sebagai "Wahabi" di Indonesia adalah dakwah yang Haq, kenapa dakwah salafi dengan tegas selalu berkata ini Bid'ah, sesat, syirik,sesat dan neraka ? Keras ? Bukan! Tapi dakwah salafiyah jelas Yaitu menegakkan Yang baik dan menghilangkan/mencegah keburukan, dengan cara dakwah.
Wajib bagi setiap muslim mengatakan yang Haq itu Haq dan yang bathil itu bathil, Haram ya haram, Halal ya halal, Sunnah ya Sunnah, bid'ah ya bid'ah.

Lalu siapa saja mereka yang Membenci Dakwah salafi?

Rasullalah bersabda :
"sesungguhnya orang-orang kafir dan Munafiq akan terus memerangimu(Mengeroyokmu) sebagaimana belatung Memanggil temannya, dan Sahabat bertanya : ya Rasulullah Bagaimana keadaan (jumlah) kami saat itu? Rasulullah menjawab : jumlah kalian besar (banyak) namun seperti buih di lautan(tidak bersatu dan tidak Berguna)" (HR.Muslim,sahih menurut Syaikh Albani)

Maka dalil itu jelas menunjukan bahwa banyaknya umat muslim namun lemah karena adanya Perpecahan, maka Allah beri solusi dalam Al-Quran yaitu dengan firman-nya ;

Dan berpeganglah kamu semuanya kepada tali (agama) Allah, dan janganlah kamu bercerai-berai, dan ingatlah akan nikmat Allah kepadamuketika dahulu (masa Jahiliyah) bermusuh-musuhan, maka Allah mempersatukan hatimu, lalu menjadilah kamu karena nikmat Allah orang-orang  yang bersaudara. (QS Ali Imran:103)

Allah memerintahkan umat Islam untuk bersatu diatas Al-Quran dan Sunnah Ala Fahmi salaf, dimana Persatuan inilah yang coba Di lakukan oleh gerakan salafi yang jelas dalam setiap dakwahnya menyerukan persatuan kembali pada Al-Quran dan Sunnah, sesuai pemahaman Salafush Sholeh.
Maka bagi mereka yang Membenci Dakwah salafi, maka jelas mereka adalah orang yang menyimpang dari jalan Allah .
----------------------

⛔ 12 KESYIRIKAN YANG DI ANGGAP TRADISI PEMBATAL TAUHID & DOSA BESAR

Hasil gambar untuk syirik modernSemoga Allah Subhanahu wa Ta’ala merahmati kita semua. Di tengah-tengah masyarakat kita masih banyak sekali praktek kesyirikan yang merusak bahkan membatalkan tauhid.

Perbuatan-perbuatan tersebut dilakukan oleh sebagian orang dengan dalih bahwa amalan tersebut adalah tradisi dan adat-istiadat peninggalan leluhur.

Padahal perbuatan tersebut adalah bentuk kesyirikan yang membahayakan agama mereka.

Di antara perbuatan-perbuatan tersebut adalah:

➡1. Tathayyur.

Tathayyur adalah beranggapan sial dengan waktu tertentu, tempat tertentu, atau sesuatu yang dilihat, didengar, atau diketahui. (Al-Qaulul Mufid)

Di sebagian daerah, penduduk membangun rumah menghadap arah tertentu. Mereka juga memulai membangun dan menempatinya di hari tertentu, dengan keyakinan akan mendatangkan keberuntungan dan menjauhkan kesialan.

Ada pula yang tidak mau berdagang di hari tertentu dan melarang pernikahan di bulan tertentu. Semua ini adalah bentuk tathayyur syirik, harus dijauhi oleh seorang muslim.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam berkata:
“Thiyarah itu syirik, thiyarah itu syirik, thiyarah itu syirik.” (HR. Abu Dawud no. 3910, lihat al-Qaulul Mufid)

➡2. Tamimah.

Tamimah adalah sesuatu yang digantungkan pada seorang anak untuk menolak ‘ain atau musibah.

Sering kita melihat benda-benda yang digantungkan di rumah, mobil, toko, atau dipakaikan pada anak dengan niat menolak bala.

Semua ini termasuk jenis tamimah yang syirik. Orang yang melakukannya terjatuh dalam kesyirikan. (Lihat al-Qaulul Mufid)

➡3. Tiwalah.

Ia adalah sesuatu yang dibuat untuk membuat suami/seorang lelaki mencintai istrinya/seorang wanita atau sebaliknya.

Adapun dublah (cincin yang dipakai oleh seseorang setelah menikah) dengan keyakinan bahwa selama cincin emas tersebut dipakai maka pernikahannya akan tetap langgeng, ini adalah keyakinan yang syirik, karena tidak ada yang bisa membolak-balikkan hati manusia selain Allah Subhanahu wa Ta’ala.

Memakai cincin seperti ini minimal tasyabbuh (menyerupai) orang kafir, haram hukumnya. Bisa juga terjatuh dalam kesyirikan, jika dia berkeyakinan bahwa cincin itu bisa menjadi sebab langgengnya pernikahan. (Lihat al-Qaulul Mufid Syarah Kitabut Tauhid)

➡4. Jampi-jampi/mantra.

Yang dimaksud adalah ruqyah (bacaan-bacaan) yang syirik, yang mengandung permintaan bantuan kepada jin.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam telah melarang tiga hal di atas dalam hadits beliau:
“Sesungguhnya jampi-jampi, tamimah, dan tiwalah adalah syirik.” (HR. Ahmad dan Abu Dawud, dishahihkan oleh asy-Syaikh al-Albani)

Adapun ruqyah yang dibenarkan oleh syariat adalah yang memenuhi tiga syarat berikut: – Bacaan dari Al-Qur’an, As-Sunnah, dan doa-doa yang baik.
– Menggunakan bahasa Arab dan dimengerti maknanya.
– Diyakini hanya semata-mata sebagai sebab, tidak bisa berpengaruh selain dengan kehendak Allah Subhanahu wa Ta’ala. (Lihat Fathul Majid).

➡5. Perdukunan.

Ini adalah musibah yang melanda banyak kaum muslimin. Banyak orang menjadi pelanggan dukun dalam keadaan senang ataupun susah, padahal ancaman bagi dukun dan yang mendatanginya sangat besar.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam berkata:
“Barangsiapa mendatangi dukun dan bertanya sesuatu, tidak akan diterima shalatnya selama empat puluh malam.” (HR. Muslim).

Dalam hadits lain, beliau shallallahu ‘alaihi wasallam berkata:
“Barangsiapa mendatangi dukun dan bertanya sesuatu kemudian membenarkannya, dia telah mengkufuri apa yang diturunkan kepada Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam.”

Asy-Syaikh Muhammad bin Shalih al-Utsaimin rahimahullah menegaskan bahwa mendatangi dukun ada beberapa rincian hukum,

↪1. Datang dan bertanya kepadanya, maka tidak diterima shalatnya empat puluh hari.
↪2. Datang, bertanya kepadanya, dan membenarkan ucapannya, maka ia telah ingkar kepada apa yang diturunkan kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam.
↪3. Datang untuk membongkar kesesatannya, diperbolehkan. (Lihat al-Qaulul Mufid).

Adapun tentang kafirnya dukun, Syaikh Hafizh bin Ahmad al-Hakami menyebutkan sembilan alasan kafirnya dukun.Di antara yang beliau sebutkan adalah bahwa seorang dukun telah menjadi wali setan. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:
“Sesungguhnya setan itu membisikkan kepada kawan-kawannya….” (Al-An’am: 121).

Padahal setan tidak akan menjadikam seorang menjadi wali selain seorang yang kafir. (Lihat Ma’arijul Qabul hlm. 423-424).

➡6. Sembelihan untuk selain Allah Subhanahu wa Ta’ala.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam telah memberitakan bahwa termasuk orang yang dilaknat adalah seorang yang melakukan sembelihan untuk selain Allah Subhanahu wa Ta’ala.

Dari Ali bin Abi Thalib radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam berkata:
“Allah melaknat orang yang menyembelih untuk selain Allah. Allah melaknat orang yang melaknat (mencerca) dua orang tuanya. Allah melaknat orang yang melindungi pelaku pelanggaran syar’i. Dan Allah melaknat orang yang mengubah-ubah batas tanah.” (HR. Muslim)

Di antara sembelihan yang dipersembahkan untuk selain Allah Subhanahu wa Ta’ala adalah berbagai bentuk sembelihan untuk jin.

↪a. Larung (sedekah laut)
Di antara sembelihan syirik adalah sembelihan tahunan yang dipersembahkan untuk selain Allah Subhanahu wa Ta’ala, baik untuk laut (sedekah laut), sungai, gunung, maupun yang lainnya.

↪b. Sembelihan untuk pengantin
Di sebagian tempat ada sebuah tradisi penyembelihan ketika ada pernikahan. Kedua mempelai diperintahkan untuk menginjakkan kedua kaki mereka di darah sembelihan tersebut sebelum memasuki rumahnya.

↪c. Sembelihan untuk rumah baru
Di sebagian daerah, ketika telah selesai membangun rumah, mereka menyembelih seekor hewan. Sebagian mereka bahkan menanam kepala hewan tersebut di rumah barunya. Ini juga termasuk sembelihan yang syirik.

↪d. Memenuhi keinginan jin yang masuk pada tubuh seseorang
Ketika ada orang kerasukan jin kemudian diruqyah, jin terkadang minta disembelihkan hewan untuk dirinya. Jika terjadi hal demikian, permintaan jin itu tidak boleh ditunaikan, karena hal tersebut adalah sembelihan untuk jin. (Lihat al-Qaulul Mufid, asy-Syaikh Muhammad al-Wushabi).

➡7. Kesyirikan di kuburan.

Di antara perbuatan syirik yang dianggap biasa adalah perbuatan-perbuatan di pekuburan sebagai berikut:

↪a. Berdoa kepada penghuni kubur
↪b. Nadzar untuk penghuni kubur
↪c. Isti’anah, meminta tolong kepada penghuni kubur
d. Isti’adzah, meminta perlindungan kepada penghuni kubur
↪e. Istighatsah, meminta dihilangkan bencana kepada penghuni kubur

Ketahuilah, semua hal di atas adalah kemungkaran yang harus diingkari.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam berkata:
“Barangsiapa melihat kemungkaran hendaknya dia ubah dengan tangannya. Jika tidak mampu, dengan lisannya. Jika tidak mampu juga maka dengan hatinya, dan itu adalah selemah-lemah iman.” (HR. Muslim) (Lihat Ma’ariful Qabul, Ighatsatul Lahafan, Tahdzirul Muslimin).

➡8. Mencari berkah dari benda-benda tertentu.

Sebagian orang mencari berkah kepada pohon, kuburan, atau benda-benda yang mereka miliki, seperti keris dan cincin.

📜 *Faedah*

Tidak boleh bertabarruk (mencari berkah) dari diri sereorang, dengan tubuh atau bagian tubuh seseorang tertentu, selain Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam

Seorang muslim tidak boleh mencari berkah dengan diri seseorang yang dianggap shalih, baik ludah, rambut maupun bagian tubuh lainnya.

Hal ini berdasarkan beberapa alasan.

↪a. Hal tersebut kekhususan bagi Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam.
↪b. Tidak ada seorang pun setelah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam wafat yang meminta berkah dengan bagian tubuh Abu Bakr, Umar, Utsman, Ali bin Abi Thalib, dan sahabat lainnya. Seandainya hal tersebut dibolehkan, niscaya akan dilakukan oleh orang-orang di zaman mereka.
↪c. Akan menyebabkan fitnah dan ujub (bangga diri) dari orang yang dimintai berkah. (Lihat Taisir al-‘Azizil Hamid, hlm. 144-145)

➡9. Sihir.

Sihir adalah satu amalan kufur yang harus dijauhi oleh seorang muslim.
Seseorang yang belajar dan mengajarkan sihir telah terjatuh dalam kekufuran.Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman

“Dan mereka mengikuti apa yang dibaca oleh setan-setan pada masa kerajaan Sulaiman (dan mereka mengatakan bahwa Sulaiman itu mengerjakan sihir), padahal Sulaiman tidak kafir (tidak mengerjakan sihir). Hanya setan-setan itulah yang kafir (mengerjakan sihir). Mereka mengajarkan sihir kepada manuria.” (Al-Baqarah: 102) (Lihat Ma’arijul Qabul hlm. 407-411).

➡10. Sedekah bumi.

Sedekah bumi yaitu memberikan sesuguh/sesaji ketika hendak panen padi dan lainnya. Menurut mereka, sesaji itu dipersembahkan untuk Dewi Sri. Ini pun termasuk bentuk kesyirikan.

➡11. Sesajen.

Yakni memberikan sesuguh untuk karuhun ketika hendak melaksanakan acara tertentu.

➡12. Memberikan penghormatan dengan membungkuk.

Ibnu Taimiyah rahimahullah berkata, “Membungkuk ketika memberikan penghormatan adalah perbuatan yang dilarang. Hal ini sebagaimana dalam riwayat at-Tirmidzi dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, bahwa mereka bertanya tentang seseorang yang berjumpa dengan temannya lalu membungkuk kepadanya.

Beliau shallallahu ‘alaihi wasallam berkata, “Tidak boleh.”

Juga karena ruku dan sujud tidak boleh dilakukan selain untuk Allah Subhanahu wa Ta’ala, walaupun hal ini menjadi bentuk penghormatan pada syariat sebelum kita, sebagaimana dalam kisah Yusuf ‘alaihis salam:
“Dan ia menaikkan kedua ibu bapaknya ke atas singgasana. Mereka (semuanya) merebahkan diri seraya sujud kepada Yusuf. Yusuf pun berkata, “Wahai ayahku, inilah ta’bir mimpiku yang dahulu itu.” (Yusuf: 100).

Adapun dalam syariat kita, bersujud tidak diperbolehkan selain untuk Allah Subhanahu wa Ta’ala. (Lihat Majmu’ al-Fatawa, 1/259).

Ketahuilah, semoga Allah Subhanahu wa Ta’ala merahmati anda, apa yang kami sampaikan hanyalah sebagian amalan syirik yang ada di tengah-tengah masyarakat kita.

Semuanya harus kita jauhi.

Kita juga harus memperingatkan umat Islam untuk menjauhi amalan-amalan syirik.

Ketahuilah, semoga Allah Subhanahu wa Ta’ala merahmati anda, segala adat-istiadat dan kebiasaan masyarakat harus tunduk kepada syariat Allah Subhanahu wa Ta’ala.

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:
“Maka demi Rabbmu, mereka (pada hakikatnya) tidak beriman hingga mereka menjadikan kamu hakim terhadap perkara yang mereka perselisihkan, kemudian mereka tidak merasa dalam hati mereka sesuatu keberatan terhadap keputusan yang kamu berikan, dan mereka menerima dengan sepenuhnya.” (An-Nisa: 65).

Janganlah kita seperti orang-orang jahiliyah yang tidak mau beriman kepada Rasul shallallahu ‘alaihi wasallam dengan alasan mengikuti nenek moyang.

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman tentang keadaan kaum musyrikin:
Apabila dikatakan kepada mereka, “Ikutilah apa yang telah diturunkan oleh Allah,” mereka menjawab, “(Tidak), kami hanya mengikuti apa yang telah kami dapati dari (perbuatan) nenek moyang kami.” (Apakah mereka akan mengikuti juga), walaupun nenek moyang mereka itu tidak mengetahui sesuatu pun dan tidak mendapat petunjuk? (al-Baqarah: 170).

Seorang muslim harus mendahulukan syariat Allah Subhanahu wa Ta’ala di atas segala hal. Dia harus mengutamakan syariat daripada hawa nafsu, adat-istiadat, dan pendapat akalnya.

Allah Subhanahu wa Ta’ala telah mencela orang yang lebih mendahulukan hawa nafsunya.

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:
“Maka pernahkah kamu melihat orang yang menjadikan hawa nafsunya sebagai tuhannya dan Allah membiarkannya berdasarkan ilmu-Nya dan Allah telah mengunci mati pendengaran dan hatinya serta meletakkan tutupan atas penglihatannya? Siapakah yang akan memberinya petunjuk sesudah Allah (membiarkannya sesat)? Maka mengapa kamu tidak mengambil pelajaran?” (al-Jatsiyah: 23).

Mudah-mudahan tulisan yang ringkas ini bisa menjadi nasihat dan menjadi salah satu sebab musnahnya praktik-praktik kesyirikan yang telah menyebar di negeri kita ini.

📚 Faidah ini diambil dari tulisan Al-Ustadz Abdurrahman Mubarak yang berjudul “Penyimpangan Akidah di Sekitar Kita” dalam majalah Asy Syariah no. 67/VI/1432 H/2010, hal. 48-

📮CHANNEL MULIA DENGAN SUNNAH
di Telegram :  https://goo.gl/X2h0P7
🔄 Risalah Sunnah : https://goo.gl/elalbc

TUGAS KITA MASIH PANJANG,
YAITU MENDAKWAHKAN TAUHID

#iman #aqidah #tauhid #syirik #dosa #dosabesar #dakwahtauhid #dakwahsunnah
Repost from group Kajian Sunnah Indonesia
Edited.
Semoga manfaat

Saturday, March 10, 2018

JIKA TAHU PAHALA SHALAT BERJAMAAH DI MASJID, PASTI MENDATANGINYA WALAUPUN MERANGKAK

Hasil gambar untuk sholat berjamaah

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam sangat memperhatikan dan menjaga shalat secara berjamaah di masjid, walaupun beliau sakit tetap beliau berusaha untuk mendatangi shalat jamaah. Beliau shalat sambil duduk, karena sakitnya beliau tidak bisa shalat sambil berdiri.

Aisyah radhiyallaahu 'anha mengisahkan tentang kisah shalat berjamaah Rasulullah shallallaahu 'alaihi wa sallam ketika beliau sakit. 'Aisyah radhiyallaahu 'anha berkata:

فَجَاءَ رَسُولُ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم حَتَّى جَلَسَ عَنْ يَسَارِ أَبِى بَكْرٍ  قَالَتْ  فَكَانَ رَسُولُ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم يُصَلِّى بِالنَّاسِ جَالِسًا وَأَبُو بَكْرٍ قَائِمًا يَقْتَدِى أَبُو بَكْرٍ بِصَلاَةِ النَّبِىِّ صلى الله عليه وسلم وَيَقْتَدِى النَّاسُ بِصَلاَةِ أَبِى بَكْرٍ. )مُتَّفَقٌ عَلَيْهِ

Beliau datang dan duduk di sebelah kiri Abu Bakar. Beliau mengimami jama'ah dengan duduk sedang Abu Bakar berdiri. Abu Bakar mengikuti shalat Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam dan orang-orang mengikuti shalat Abu Bakar. (HR. Bukhari Muslim).

Keutamaan shalat berjamaah di masjid sangat luar biasa. Begitu banyak pahala dan balasan Allah Ta’ala bagi orang yang menhadiri shalat jamaah, sehingga Rasulullah shallallaahu 'alaihi wa sallam walaupun sakit, Beliau tetap menghadiri shalat jamaah.

Untuk kali ini penulis akan tuliskan sebagian dari keutamaan-keutamaan shalat berjamaah di masjid.

Pertama, Pahala Yang Besar.

Ubay bin Ka'ab radhiyallahu ‘anhu bercerita :
"Ada seseorang dari golongan sahabat Anshar yang saya tidak mengetahui seseorang pun yang letak rumahnya lebih jauh dari rumah orang itu dari masjid, tetapi ia tidak pernah terlambat shalat fardhu, ia mesti shalat berjamaah.

Kepadanya dikatakan:  "Alangkah baiknya jikalau engkau membeli seekor keledai yang dapat engkau naiki di waktu malam gelap gulita serta di waktu teriknya panas matahari." la menjawab: "Saya tidak senang kalau rumahku itu ada di dekat masjid, sesungguhnya saya ingin kalau jalanku sewaktu pergi ke masjid dan sewaktu pulang dari masjid untuk kembali ke tempat keluargaku itu dicatat pahalanya untukku."

Lalu Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam  bersabda:

قَدْ جَمَعَ اللَّهُ لَكَ ذَلِكَ كُلَّهُ. )رواه مسلم

"Sungguh Allah telah mengumpulkan untukmu pahala semuanya itu (yakni waktu pergi dan pulangnya semuanya diberi pahala)."  (HR. Muslim).

Coba perhatikan kisah di atas, bagaimana perhatiannya para sahabat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mendatangi masjid untuk shalat berjamaah, mereka rela berjalan kaki walaupun jauh tempatnya, karena mereka mengetahui pahala yang besar di dalamnya.

Lihat pula kisah Bani Salamah yang hendak berpin-dah ke dekat masjid, agar mereka bisa terus menghadiri shalat berjamaah di masjid. Berita tersebut terdengar oleh Nabi shallallahu’alaihi wa sallam, lalu Beliau bersabda kepada mereka : "Ada berita yang sampai kepadaku bahwa engkau semua hendak berpindah di dekat masjid." Mereka menjawab: "Benar, ya Rasulullah. Kita memang berkehendak demikian." Beliau lalu bersabda lagi:

يَا بَنِى سَلِمَةَ دِيَارَكُمْ تُكْتَبْ آثَارُكُمْ دِيَارَكُمْ تُكْتَبْ آثَارُكُمْ فَقَالُوا مَا كَانَ يَسُرُّنَا أَنَّا كُنَّا تَحَوَّلْنَا.

"Hai keluarga Bani Salimah, tetaplah di rumah-rumah kalian saja (tidak usah pindah), dicatat bekas-bekas langkah  kaki kalian, tetaplah di rumah-rumah kalian saja (tidak usah pindah), dicatat bekas-bekas langkah  kaki kalian. Mereka lalu berkata: "Kita tidak berkeinginan lagi untuk pindah (ke dekat masjid)." HR. Muslim).

Kisah yang sangat menakjubkan tentang bagaimana perhatiannya sahabat terhadap shalat berjamaah. Ada yang tidak mau pindah dan tetap mendatangi masjid walaupun dengan berjalan kaki, ada juga yang ingin pindah dekat masjid, kemudian tidak jadi karena diberi tahu Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tentang pahala yang besar bagi orang yang melangkahkan kaki ke masjid.

Mereka tahu dan faham betul bagaimana pahala yang besar bagi orang yang mendatangi masjid. Walaupun jauh, terik matahari, dingin dan sakit tetap mereka pergi ke masjid. Bahkan seandainya harus merangkak untuk mendatanginya, mereka pun akan merangkak, karena Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :

إِنَّ أَعْظَمَ النَّاسِ أَجْرًا فِى الصَّلاَةِ أَبْعَدُهُمْ إِلَيْهَا مَمْشًى فَأَبْعَدُهُمْ وَالَّذِى يَنْتَظِرُ الصَّلاَةَ حَتَّى يُصَلِّيَهَا مَعَ الإِمَامِ أَعْظَمُ أَجْرًا مِنَ الَّذِى يُصَلِّيهَا ثُمَّ يَنَامُ ». وَفِى رِوَايَةِ أَبِى كُرَيْبٍ « حَتَّى يُصَلِّيَهَا مَعَ الإِمَامِ فِى جَمَاعَةٍ ». (رواه مسلم).

"Sesungguhnya sebesar-besar pahala bagi manusia dalam shalat ialah yang paling jauh di antara mereka itu tentang jalannya, lalu lebih jauh lagi. Dan orang yang menantikan shalat sehingga ia dapat mengikuti shalat itu bersama imam adalah lebih besar pahalanya daripada orang yang melakukan shalat ( sendirian ) lalu ia tidur."  Di dalam riwayat Abi Kuraib “Sampai dia shalat bersama imam di dalam jamaah.” (HR. Muslim).

Dan Nabi shallallahu alaihi wa sallam bersabda:

وَلَوْ يَعْلَمُونَ مَا فِي الْعَتَمَةِ وَالصُّبْحِ لأَتَوْهُمَا وَلَوْ حَبْوًا (رواه متفق عليه

Seandainya manusia mengetahui betapa besar pahalanya mengerjakan shalat Isya' dan Subuh (berjamaah), niscaya mereka akan mendatangi kedua shalat itu, sekalipun dengan merangkak." (HR. Bukhari dan Muslim).

Kedua, Mengangkat Derajat dan Menghapuskan Dosa.

Melangkahkan kaki ke masjid untuk shalat berjamaah, akan dinilai suatu kebaikkan, langkah yang pertama mengangkat derajat dan langkah yang kedua menghapuskan dosa. Semakin jauh tempat dari masjid, semakin banyak kaki dilangkahkan, dan semakin tinggi di angkat derajat kita dan semakin banyak dosa yang di hapuskan.

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :

مَنْ تَطَهَّرَ فِى بَيْتِهِ ثُمَّ مَشَى إِلَى بَيْتٍ مِنْ بُيُوتِ اللَّهِ لِيَقْضِىَ فَرِيضَةً مِنْ فَرَائِضِ اللَّهِ كَانَتْ خَطْوَتَاهُ إِحْدَاهُمَا تَحُطُّ خَطِيئَةً وَالأُخْرَى تَرْفَعُ دَرَجَةً (رواه مسلم).

"Barangsiapa yang bersuci di rumahnya kemudian ia pergi ke salah satu dari rumah-rumah Allah (masjid) untuk menyelesaikan salah satu shalat wajib dari beberapa shalat yang diwajibkan oleh Allah, maka langkah-langkahnya itu yang selangkah dapat menghapuskan satu kesalahan sedang langkah yang lainnya dapat menaikkan satu derajat." (HR. Muslim).

Ketiga, Pahalanya Dilipat Gandakan.

Pahala orang yang menghadiri shalat jamaah di masjid, Allah lipat gandakan 25 sampai 27 derajat. Ini pahala yang sangat besar, keuntungan yang sangat menggiurkan dan perniagaan yang menghasilkan laba yang besar.

Namun sayang, sebagian manusia tidak tertarik, tidak seperti halnya dengan keuntungan dunia. Misalkan ada bank yang menawarkan bunga 25% bagi yang menabung di banknya, misalkan kita menabung Rp. 100.000, tiap hari bank menawarkan penambahan uang bagi yang menabung 25 %, berarti 1 hari uangnya akan bertambah Rp 25.000, kalau sebulan menjadi Rp 750.000, tentulah orang akan berbondong-bondong mendatangi bank tersebut.

Tapi kenapa keuntungan akhirat yang pasti dan menjadi bekal kita untuk hidup selama-lamanya di akhirat tidak tertarik! Sungguh kerugian yang nyata bagi orang-orang yang meninggalkan shalat berjamaah di masjid.

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :

صَلاَةُ الْجَمَاعَةِ تَفْضُلُ صَلاَةَ الْفَذِّ بِسَبْعٍ وَعِشْرِينَ دَرَجَةً. (رواه البخاري و مسلم).

Shalat jamaah lebih utama 27 derajat dari pada shalat sendirian (HR. Bukhari Muslim).

Dan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :

صَلاَةُ الْجَمَاعَةِ  تَفْضُلُ صَلاَةَ   الْفَذِّ بِخَمْسٍ  وَعِشْرِينَ دَرَجَةً  (رواه البخاري و مسلم).

Shalat jamaah lebih utama 25 derajat dari pada shalat sendirian (HR. Bukhari Muslim).

Keempat, Malaikat Mendoakan Turunnya Rahmat Allah.

Orang yang senantiasa mendatangi masjid-masjid Allah untuk shalat berjamaah, para malaikat mendoakannya  agar Allah Ta’ala memberikan rahmat kasih sayangNya kepada orang tersebut.

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :

صَلاَةُ الرَّجُلِ فِي الْجَمَاعَةِ تُضَعَّفُ عَلَى صَلاَتِهِ فِي بَيْتِهِ وَفِي سُوقِهِ خَمْسًا وَعِشْرِينَ ضِعْفًا ، وَذَلِكَ أَنَّهُ إِذَا تَوَضَّأَ فَأَحْسَنَ الْوُضُوءَ ثُمَّ خَرَجَ إِلَى الْمَسْجِدِ لاَ يُخْرِجُهُ إِلاَّ الصَّلاَةُ لَمْ يَخْطُ خَطْوَةً إِلاَّ رُفِعَتْ لَهُ بِهَا دَرَجَةٌ وَحُطَّ عَنْهُ بِهَا خَطِيئَةٌ فَإِذَا صَلَّى لَمْ تَزَلِ الْمَلاَئِكَةُ تُصَلِّي عَلَيْهِ مَا دَامَ فِي مُصَلاَّهُ اللَّهُمَّ صَلِّ عَلَيْهِ اللَّهُمَّ ارْحَمْهُ ، وَلاَ يَزَالُ أَحَدُكُمْ فِي صَلاَةٍ مَا انْتَظَرَ الصَّلاَةَ. (رواه البخاري).

"Shalatnya seseorang lelaki dalam jamaah itu dilipat gandakan pahalanya melebihi shalatnya di rumahnya dan di pasarnya dengan dua puluh lima kali lipat. Yang sedemikian itu ialah kerana bahawasanya apabila seseorang itu berwudhu' lalu memperbaguskan cara wudhu'nya, kemudian keluar ke masjid, sedang tidak ada yang menyebabkan keluarnya itu melainkan karena hendak shalat, maka tidaklah ia melangkah sekali langkah, melainkan dinaikkanlah untuknya satu derajat dan dihapuskan daripadanya satu kesalahan. Selanjutnya apabila ia shalat, maka para malaikat itu senantiasa mendoakan untuknya supaya ia memperolehi kerahmatan Allah, selama masih tetap berada di tempat shalatnya, juga selama ia tidak berhadas. Ucapan malaikat itu ialah: "Ya Allah, berikanlah kerahmatan pada orang itu; ya Allah, belaskasihanilah ia." Orang tersebut dianggap berada dalam shalat, selama ia menantikan shalat jamaah." (HR. Bukhari).

Kelima, Mendapat Hidangan di Surga.

Siapa yang tidak suka kalau diberikan hidangan makanan yang lezat bila datang kesuatu tempat. Setiap kali datang diberikan hidangan yang sungguh sangat enak, pastilah kita senang, apalagi makanan itu diberikan secara cuma-cuma, gratis, yang penting mau datang ke tempat itu.
Allah Ta’ala janjikan kepada orang yang mendatangi shalat jamaah di masjid diberikan hidangan makanan yang lezat di surga. Makanan yang rasanya tidak ada bandingan-nya dan belum pernah kita merasakannya ketika di dunia.

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :

مَنْ غَدَا إِلَى الْمَسْجِدِ وَرَاحَ أَعَدَّ اللَّهُ لَهُ نُزُلَهُ مِنَ الْجَنَّةِ كُلَّمَا غَدَا ، أَوْ رَاحَ. (متفق عليه).

"Barangsiapa pergi ke masjid pada waktu pagi atau petang hari, maka Allah menyediakan untuknya suatu hidangan di syurga, setiap kali ia pergi pagi atau petang hari itu." (HR. Bukhari dan Muslim).

Keenam, Mendapatkan Cahaya.

Orang yang berpaling dari peringatan  dan petunjuk Allah dan RasulNya, akan mengalami kegelapan pada hari kiamat, bahkan dibangkitkan dalam keadaan buta.

Allah Ta’ala berfirman :

وَمَنْ أَعْرَضَ عَنْ ذِكْرِي فَإِنَّ لَهُ مَعِيشَةً ضَنْكًا وَنَحْشُرُهُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ أَعْمَى. قَالَ رَبِّ لِمَ حَشَرْتَنِي أَعْمَى وَقَدْ كُنْتُ بَصِيرًا (طه : 124- 125)

Dan barang siapa berpaling dari peringatan-Ku, maka sesungguhnya baginya penghidupan yang sempit, dan Kami akan menghimpunkannya pada hari kiamat dalam keadaan buta". Berkatalah ia: "Ya Tuhanku, mengapa Engkau menghimpunkan aku dalam keadaan buta, padahal aku dahulunya adalah seorang yang melihat?" (Thaha : 124-125).

Lain halnya dengan orang yang senantiasa melangkahkan kakinya ke masjid untuk shalat jamaah, sebagai bentuk ketaatan mengikuti petunjuk Allah dan RasulNya, akan diberikan cahaya yang sempurna, yang terang benderang.

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :

بَشِّرِ الْمَشَّائِينَ فِى الظُّلَمِ إِلَى الْمَسَاجِدِ بِالنُّورِ التَّامِّ يَوْمَ الْقِيَامَةِ ». (رواه أبو داود وابن ماجة و الترمذي قال الشيخ الألباني : صحيح)

"Sampaikanlah berita gembira kepada orang-orang yang berjalan di waktu malam ke masjid-masjid bahwa mereka akan memperoleh cahaya yang sempurna besok pada hari kiamat." (HR. Abu Dawud, Ibnu Majah dan Tirmidzi. Berkata Syekh Al Albani : Hadits Shahih).

Ketujuh, Bukti Keimanan Seseorang.

Orang yang senantiasa pergi ke masjid untuk shalat jamaah merupakan ciri kesempurnaan iman seseorang. Bukti orang yang mengaku beriman, adalah dilihat dari shalat jamaah di masjid atau tidak. Jika dia shalat jamaah di masjid, maka dia memiliki iman yang sempurna, kalau tidak, berarti dia tidak memiliki iman yang sempurna.

Allah Ta’ala berfirman :

إِنَّمَا يَعْمُرُ مَسَاجِدَ اللَّهِ مَنْ آمَنَ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ وَأَقَامَ الصَّلَاةَ…..

Hanyalah yang memakmurkan masjid-masjid Allah ialah orang-orang yang beriman kepada Allah dan hari kemudian, serta tetap mendirikan salatnya. (At Taubah : 18).

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

إِذَا رَأَيْتُمُ الرَّجُلَ يَلْزَمُ الْمَسْجِدَ ، فَلاَ تَحَرَّجُوا أَنْ تَشْهَدُوا أَنَّهُ مُؤْمِنٌ ، فَإِنَّ  اللَّهَ يَقُولُ {إِنَّمَا يَعْمُرُ مَسَاجِدَ اللهِ مَنْ آمَنَ بِاللَّهِ} (رواه الحاكم - قال الذهبي في التلخيص : صحيح).

Apabila kalian melihat seorang laki-laki yang biasa ke masjid (untuk shalat jamaah), lalu mereka tidak  melakukan dosa, saksikanlah bahwasannya dia seorang mukmin. Karena sesungguhnya Allah berfirman : “Hanyalah yang memakmurkan masjid-masjid Allah ialah orang-orang yang beriman kepada Allah.. (At Taubah : 18). (HR. Al Hakim di Al Mustadrak. Berkata Adz Dzahabi di At Talkhish : Hadits Shahih).

Dan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

إِذَا رَأَيْتُمُ الرَّجُلَ يَتَعَاهَدُ الْمَسْجِدَ فَاشْهَدُوا لَهُ بِالإِيمَانِ فَإِنَّ اللَّهَ تَعَالَى يَقُولُ (إِنَّمَا يَعْمُرُ مَسَاجِدَ اللَّهِ مَنْ آمَنَ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الآخِرِ وَأَقَامَ الصَّلاَةَ وَآتَى الزَّكَاةَ). (رواه الترمذي و ابن ماجة و ابن حبان. قال الشيخ الألباني : ضعيف).
"Apabila kalian melihat seorang laki-laki yang biasa pulang pergi ke masjid, maka saksikanlah baginya keimanan (bahwa orang itu benar-benar orang yang beriman).  Karena sesungguhnya Allah Ta’ala berfirman: "Hanyalah yang meramaikan masjid-masjid Allah ialah orang yang beriman kepada Allah dan hari akhir, mendirikan shalat dan menunaikan zakat. (HR. Tirmidzi, Ibnu Majah dan Ibnu Hiban).

Sayang hadits ini di dhaifkan (dilemahkan) oleh syekh Al Albani, tapi maknanya tidak bertentangan dengan ayat dan hadits yang shahih.

Kedelapan, Seperti Shalat Semalam Suntuk.

Orang yang melaksanakn shalat isya berjamaah di masjid pahalanya bagaikan shalat setengah malam dan yang shalat subuh berjamaah di masjid bagaikan orang yang shalat semalam suntuk.

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

مَنْ صَلَّى الْعِشَاءَ فِى جَمَاعَةٍ فَكَأَنَّمَا قَامَ نِصْفَ اللَّيْلِ وَمَنْ صَلَّى الصُّبْحَ فِى جَمَاعَةٍ فَكَأَنَّمَا صَلَّى اللَّيْلَ كُلَّهُ (رواه مسلم).

"Barangsiapa yang mengerjakan shalat Isya' dengan jamaah, maka seolah-olah ia mendirikan shalat separuh malam dan barangsiapa yang mengerjakan shalat Subuh dengan jamaah, maka seolah-olah ia mendirikan shalat semalam suntuk." (HR. Muslim).

Dan Nabi shallallahu alaihi wa sallam bersabda:

مَنْ شَهِدَ الْعِشَاءَ فِى جَمَاعَةٍ كَانَ لَهُ قِيَامُ نِصْفِ لَيْلَةٍ وَمَنْ صَلَّى الْعِشَاءَ وَالْفَجْرَ فِى جَمَاعَةٍ كَانَ لَهُ كَقِيَامِ لَيْلَةٍ (رواه الترمذي قال الشيخ الألباني : صحيح).

"Barangsiapa yang menghadiri shalat Isya' dengan jamaah maka baginya adalah pahala mengerjakan shalat selama separuh malam dan barangsiapa yang shalat Isya' dan Shubuh dengan jamaah, maka baginya adalah pahala seperti mengerjakan shalat semalam suntuk."  (HR. Tirmidzi. Berkata Syekh Al Albani : Hadits Sahih).

Kesembilan, Syetan Ditaklukan

Bila dalam satu kampung tidak ada yang mendirikan-shalat jamaah di masjid, itu menunjukan syetan telah menguasai kampung tersebut. Dan sebaliknya, apabila dalam satu kampung tegak shalat jamaah, walaupun hanya 3 orang, berarti mereka tidak dikuasai syetan dan telah mengalah-kannya.

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

مَا مِنْ ثَلاَثَةٍ فِى قَرْيَةٍ وَلاَ بَدْوٍ لاَ تُقَامُ فِيهِمُ الصَّلاَةُ إِلاَّ قَدِ اسْتَحْوَذَ عَلَيْهِمُ الشَّيْطَانُ فَعَلَيْكَ بِالْجَمَاعَةِ فَإِنَّمَا يَأْكُلُ الذِّئْبُ الْقَاصِيَةَ. (رواه ابو داود. قال الشيخ الألباني : حسن).

Tidaklah 3 orang dalam satu kampung atau satu desa mereka tidak mendirikan shalat (secara jamaah) melainkan syaitan menguasai mereka itu. Maka dari itu, hendaklah engkau semua tetap menjaga jamaah, sebab sesungguhnya serigala itu memamakan kambing yang jauh sendirian (yang terpisah dari kawanannya)." (HR Abu Dawud. Berkata Syekh Al Albani : Hadits Hasan).

Itulah sebagian keutamaan shalat jamaah di masjid. Amalan yang penuh dengan keutamaan dan amalan yang sangat agung, amalan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, para sahabat dan para salafush sholeh, maka sudah seyogyanya kita mengikuti jejak mereka, meramaikan masjid-masjid Allah dengan shalat jamaah.
..............................
 Oleh : Abu Fadhel Majalengka

Monday, March 5, 2018

Bahaya Menafsirkan Al Qur’an dengan Logika

Salah satu lagi cara menafsirkan Al Qur’an yang keliru adalah menafsirkan Al Qur’an dengan logika, akal pikiran, tanpa ilmu.
Hasil gambar untuk islamIbnu Katsir mengatakan, “Menafsirkan Al Qur’an dengan logika semata, hukumnya haram.” (Tafsir Al Qur’an Al ‘Azhim, 1: 11).

Dalam hadits disebutkan,

وَمَنْ قَالَ فِى الْقُرْآنِ بِرَأْيِهِ فَلْيَتَبَوَّأْ مَقْعَدَهُ مِنَ النَّارِ

“Barangsiapa berkata tentang Al Qur’an dengan logikanya (semata), maka silakan ia mengambil tempat duduknya di neraka” (HR. Tirmidzi no. 2951. Tirmidzi mengatakan bahwa hadits ini hasan. Al Hafizh Abu Thohir mengatakan bahwa sanad hadits ini dho’if).

Masruq berkata,

اتقوا التفسير، فإنما هو الرواية عن الله

“Hati-hati dalam menafsirkan (ayat Al Qur’an) karena tafsir adalah riwayat dari Allah.” (Tafsir Al Qur’an Al ‘Azhim, 1: 16. Disebutkan oleh Abu ‘Ubaid dalam Al Fadhoil dengan sanad yang shahih)

Asy Sya’bi mengatakan,

والله ما من آية إلا وقد سألت عنها، ولكنها الرواية عن الله عز وجل

“Demi Allah, tidaklah satu pun melainkan telah kutanyakan, namun (berhati-hatilah dalam menafsirkan ayat Al Qur’an), karena ayat tersebut adalah riwayat dari Allah.” (Idem. Diriwayatkan oleh Ibnu Jarir, sanadnya shahih).

Ibrahim An Nakho’i berkata,

كان أصحابنا يتقون التفسير ويهابونه

“Para sahabat kami begitu takut ketika menafsirkan suatu ayat, kami ditakut-takuti ketika menafsirkan.” (Idem. Diriwayatkan oleh Abu ‘Ubaid dalam Al Fadhoil, Ibnu Abi Syaibah dan Al Baihaqi dalam Syu’abul Iman, sanadnya shahih).
Cara Menafsirkan Al Qur’an yang Benar

Ibnu Katsir menunjukkan bagaimana cara terbaik menafsirkan Al Qur’an sebagai berikut:

1- Menafsirkan Al Qur’an dengan Al Qur’an. Jika ada ayat yang mujmal (global), maka bisa ditemukan tafsirannya dalam ayat lainnya.

2- Jika tidak didapati, maka Al Qur’an ditafsirkan dengan sunnah atau hadits.

3- Jika tidak didapati, maka Al Qur’an ditafsirkan dengan perkataan sahabat karena mereka lebih tahu maksud ayat, lebih-lebih ulama sahabat dan para senior dari sahabat Nabi seperti khulafaur rosyidin yang empat, juga termasuk Ibnu Mas’ud dan Ibnu ‘Umar.

4- Jika tidak didapati, barulah beralih pada perkataan tabi’in seperti Mujahid bin Jabr, Sa’id bin Jubair, ‘Ikrimah (bekas budak Ibnu ‘Abbas), ‘Atho’ bin Abi Robbah, Al Hasan Al Bashri, Masruq bin Al Ajda’, Sa’id bin Al Musayyib, Abul ‘Aliyah, Ar Robi’ bin Anas, Qotadah, dan Adh Dhohak bin Muzahim. (Lihat Tafsir Al Qur’an Al ‘Azhim karya Ibnu Katsir, 1: 5-16)

Hanya Allah yang memberi taufik.
Referensi:

Tafsir Al Qur’an Al ‘Azhim, Ibnu Katsir, terbitan Ibnul Jauzi, cetakan pertama, tahun 1431 H.

Disusun di pagi hari penuh berkah, 16 Rabi’uts Tsani 1435 H di Panggang, Gunungkidul

Akhukum fillah: Muhammad Abduh Tuasikal

Artikel Rumaysho.Com

Ikuti status kami dengan memfollow FB Muhammad Abduh Tuasikal, Fans Page Mengenal Ajaran Islam Lebih Dekat, Twitter @RumayshoCom


Sumber : https://rumaysho.com/6575-menafsirkan-al-quran-dengan-logika.html

Agama Bukan dengan Logika

Hasil gambar untuk islamAgama bukan dengan logika, agama mesti dibangun di atas dalil. Dalam meyakini suatu akidah dalam Islam mesti dengan dalil. Dalam menetapkan suatu amalan dan hukum pun dengan dalil. Kalau seandainya agama dengan logika, maka tentu bagian bawah sepatu (khuf) lebih pantas diusap daripada bagian atasnya. Namun ternyata praktek Rasul –shallallahu ‘alaihi wa sallam– yang diusap adalah bagian atasnya. Kalau logika bertentangan dengan dalil, maka dalil tetap harus dimenangkan atau didahulukan.

 Dari ‘Ali radhiyallahu ‘anhu, ia berkata,

لَوْ كَانَ الدِّينُ بِالرَّأْىِ لَكَانَ أَسْفَلُ الْخُفِّ أَوْلَى بِالْمَسْحِ مِنْ أَعْلاَهُ وَقَدْ رَأَيْتُ رَسُولَ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- يَمْسَحُ عَلَى ظَاهِرِ خُفَّيْهِ

“Seandainya agama dengan logika, maka tentu bagian bawah khuf (sepatu) lebih pantas untuk diusap daripada atasnya. Sungguh aku pernah melihat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mengusap bagian atas khufnya (sepatunya).” (HR. Abu Daud no. 162. Ibnu Hajar mengatakan dalam Bulughul Marom bahwa sanad hadits ini hasan. Syaikh Al Albani menshahihkan hadits ini).

Kata Ash Shon’ani rahimahullah, “Tentu saja secara logika yang lebih pantas diusap adalah bagian bawah sepatu daripada atasnya karena bagian bawahlah yang langsung bersentuhan dengan tanah.” Namun kenyataan yang dipraktekkan Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam tidaklah demikian. Lihat Subulus Salam, 1: 239.

Syaikh Muhammad bin Sholih Al ‘Utsaimin rahimahullah berkata, “Agama bukanlah dengan logika. Agama bukan didasari pertama kali dengan logika. Bahkan sebenarnya dalil yang mantap dibangun di atas otak yang cemerlang. Jika tidak, maka perlu dipahami bahwa dalil shahih sama sekali tidak bertentangan dengan logika yang smart (cemerlang). Karena dalam Al Qur’an pun disebutkan,

أَفَلَا تَعْقِلُونَ

“Tidakkah kalian mau menggunakan akal kalian.” (QS. Al Baqarah: 44). Yang menyelisihi tuntunan syari’at, itulah yang menyelisihi logika yang sehat. Makanya sampai ‘Ali mengatakan, seandainya agama dibangun di atas logika, maka tentu bagian bawah sepatu lebih pantas diusap. Namun agama tidak dibangun di atas logika-logikaan. Oleh karenanya, siapa saja yang membangun agamanya di atas logika piciknya pasti akan membuat kerusakan daripada mendatangkan kebaikan. Mereka belum tahu bahwa akhirnya hanya kerusakan yang timbul.” (Fathu Dzil Jalali wal Ikram, 1: 370).

Guru kami, Syaikh Sholeh bin Fauzan bin ‘Abdillah Al Fauzan hafizhohullah berkata, “Hadits ‘Ali dapat diambil kesimpulan bahwa agama bukanlah berdasarkan logika. Namun agama itu berdasarkan dalil. Sungguh Allah sangat bijak dalam menetapkan hukum dan tidaklah Dia mensyari’atkan kecuali ada hikmah di dalamnya.” (Tashilul Ilmam, 1: 170).

Syaikh Sholeh bin ‘Abdul ‘Aziz bin Muhammad Alu Syaikh hafizhohullah berkata, “Hendaklah setiap muslim tunduk pada hadits yang diucapkan oleh Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam. Janganlah sampai seseorang mempertentangkan dalil dengan logika. Jika logika saja yang dipakai, maka tidak bisa jadi dalil. Ijtihad dengan logika adalah hasil kesimpulan dari memahami dalil Al Qur’an dan hadits.”  (Syarh Kitab Ath Thoharoh min Bulughil Marom, hal. 249).

Beberapa pelajaran dari hadits di atas:

1- Agama bukanlah dibangun di atas logika.

2- Seandainya berseberangan antara akal dan dalil, maka wajib mengedepankan dalil. Namun sebenarnya sama sekali tidak mungkin bertentangan antara dalil shahih dan akal yang baik.

3- Sandaran hukum syar’i adalah pada dalil. Karena ‘Ali pun beralasan yang diusap adalah atas khuf (sepatu) dengan perbuatan Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam.

4- Jika memandang tekstual hadits, kedua kaki diusap berbarengan, yaitu tangan kanan mengusap kaki kanan dan tangan kiri mengusap kaki kiri.

5- Hadits ini merupakan bantahan pada Rafidhah (baca: Syi’ah) karena imam mereka sendiri yaitu ‘Ali bin Abi Tholib yang mereka anggap ma’shum berbeda keyakinan dengan mereka. Karena orang Syi’ah tidak meyakini adanya mengusap khuf (sepatu). Sedangkan ‘Ali meyakini adanya mengusap khuf bahkan meriwayatkan hadits tentang hal itu. Namun anehnya, orang Syi’ah menganggap tidak boleh mengusap khuf, tetapi dalam hal mencuci kaki saat berwudhu, mereka menganggap boleh hanya dengan mengusap kaki kosong. Sungguh aneh!

6- Boleh berdalil dengan perbuatan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Ada dua artikel Rumaysho.Com yang terkait dengan masalah ini yang bisa dipelajari: (1) Mendudukkan Akal pada Tempatnya, (2) Ketika Akal Bertentangan dengan Dalil. Begitu pula baca tulisan penulis ketika menyanggah buku karangan Agus Musthofa: Ternyata Akhirat Tidak Kekal. Silakan baca pula tentang mengusap khuf: Ajaran Mengusap Khuf.

Hanya Allah yang memberi taufik.



Referensi:

Minhatul ‘Allam fii Syarhi Bulughil Marom, Syaikh ‘Abdullah bin Sholih Al Fauzan, terbitan Dar Ibnil Jauzi, cetakan pertama, tahun 1431 H, 9: 286-289.

Fathu Dzil Jalali wal Ikram bi Syarh Bulughil Marom, Syaikh Muhammad bin Sholih Al ‘Utsaimin, terbitan Madarul Wathon, cetakan pertama, tahun 1425 H, 1: 370-374.

Subulus Salam Al Muwshilah ila Bulughil Marom, Muhammad bin Isma’il Al Amir Ash Shon’ani, terbitan Dar Ibnil Jauzi, cetakan kedua, tahun 1432 H.

Syarh Kitab Ath Thoharoh min Bulughil Marom, Syaikh Sholeh bin ‘Abdul ‘Aziz bin Muhammad Alu Syaikh, terbitan Maktabah Darul Hijaz, cetakan pertama, tahun 1433 H, hal. 249.

Tashil Al Ilmam bi Fiqhil Ahadits min Bulughil Marom, Syaikhuna (guru kami) Dr. Sholeh bin Fauzan bin ‘Abdillah Al Fauzan, terbitan Dar Al Imam Ahmad, cetakan pertama, tahun 1430 H.


Selesai disusun tengah malam, Senin, 11 Dzulqo’dah 1434 H @ Pesantren Darush Sholihin, Warak, Girisekar, Panggang-Gunungkidul

Artikel www.rumaysho.com



Sumber : https://rumaysho.com/3633-agama-bukan-dengan-logika.html