Friday, April 20, 2018

Hadits-Hadits Tentang Bid’ah

Hasil gambar untuk BIDAHBanyak kaum muslimin yang masih meremehkan masalah bid’ah. Hal itu bisa jadi karena minimnya pengetahuan mereka tentang dalil-dalil syar’i. Padahal andaikan mereka mengetahui betapa banyak hadits Nabi Shallallahu’alaihi Wasallam yang membicarakan dan mencela bid’ah, mereka akan menyadari betapa Nabi Shallallahu’alaihi Wasallam sangat sering membahasnya dan sangat mewanti-wanti umat beliau agar tidak terjerumus pada bid’ah. Jadi, lisan yang mencela bid’ah dan mewanti-wanti umat dari bid’ah adalah lisan Nabi Shallallahu’alaihi Wasallam sendiri.

Hadits 1
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

ู…َู†ْ ุฃَุญْุฏَุซَ ูِู‰ ุฃَู…ْุฑِู†َุง ู‡َุฐَุง ู…َุง ู„َูŠْุณَ ู…ِู†ْู‡ُ ูَู‡ُูˆَ ุฑَุฏٌّ

“Barangsiapa membuat suatu perkara baru dalam urusan kami ini (urusan agama) yang tidak ada asalnya, maka perkara tersebut tertolak” (HR. Bukhari no. 2697 dan Muslim no. 1718)

Hadits 2
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

ู…َู†ْ ุนَู…ِู„َ ุนَู…َู„ุงً ู„َูŠْุณَ ุนَู„َูŠْู‡ِ ุฃَู…ْุฑُู†َุง ูَู‡ُูˆَ ุฑَุฏٌّ

“Barangsiapa melakukan suatu amalan yang bukan berasal dari kami, maka amalan tersebut tertolak” (HR. Muslim no. 1718)

Hadits 3
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam setiap memulai khutbah biasanya beliau mengucapkan,

ุฃَู…َّุง ุจَุนْุฏُ ูَุฅِู†َّ ุฎَูŠْุฑَ ุงู„ْุญَุฏِูŠุซِ ูƒِุชَุงุจُ ุงู„ู„َّู‡ِ ูˆَุฎَูŠْุฑُ ุงู„ْู‡ُุฏَู‰ ู‡ُุฏَู‰ ู…ُุญَู…َّุฏٍ ูˆَุดَุฑُّ ุงู„ุฃُู…ُูˆุฑِ ู…ُุญْุฏَุซَุงุชُู‡َุง ูˆَูƒُู„ُّ ุจِุฏْุนَุฉٍ ุถَู„ุงَู„َุฉٌ

“Amma ba’du. Sesungguhnya sebaik-baik perkataan adalah kitabullah dan sebaik-baik petunjuk adalah petunjuk Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam. Sejelek-jelek perkara adalah (perkara agama) yang diada-adakan, setiap (perkara agama) yang diada-adakan itu adalah bid’ah, setiap bid’ah adalah kesesatan” (HR. Muslim no. 867)

Dalam riwayat An Nasa’i,

ู…َู†ْ ูŠَู‡ْุฏِ ุงู„ู„َّู‡ُ ูَู„ุง ู…ُุถِู„َّ ู„َู‡ُ ، ูˆَู…َู†ْ ูŠُุถْู„ِู„ْ ูَู„ุง ู‡َุงุฏِูŠَ ู„َู‡ُ ، ุฅِู†َّ ุฃَุตَุฏَู‚َ ุงู„ْุญَุฏِูŠุซِ ูƒِุชَุงุจُ ุงู„ู„َّู‡ِ ، ูˆَุฃَุญْุณَู†َ ุงู„ْู‡َุฏْูŠِ ู‡َุฏْูŠُ ู…ُุญَู…َّุฏٍ ุตَู„َّู‰ ุงู„ู„َّู‡ُ ุนَู„َูŠْู‡ِ ูˆَุณَู„َّู…َ ، ูˆَุดَุฑَّ ุงู„ุฃُู…ُูˆุฑِ ู…ُุญْุฏَุซَุงุชُู‡َุง ، ูˆَูƒُู„َّ ู…ُุญْุฏَุซَุฉٍ ุจِุฏْุนَุฉٌ ، ูˆَูƒُู„َّ ุจِุฏْุนَุฉٍ ุถَู„ุงู„َุฉٌ ، ูˆَูƒُู„َّ ุถَู„ุงู„َุฉٍ ูِูŠ ุงู„ู†َّุงุฑِ

“Barangsiapa yang diberi petunjuk oleh Allah maka tidak ada yang bisa menyesatkannya. Dan yang disesatkan oleh Allah tidak ada yang bisa memberi petunjuk padanya. Sesungguhnya sebenar-benar perkataan adalah Kitabullah dan sebaik-baik petunjuk adalah petunjuk Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam. Sejelek-jelek perkara adalah (perkara agama) yang diada-adakan, setiap (perkara agama) yang diada-adakan itu adalah bid’ah, setiap bid’ah adalah kesesatan dan setiap kesesatan tempatnya di neraka” (HR. An Nasa’i no. 1578, dishahihkan oleh Al Albani dalam Shahih wa Dha’if Sunan An Nasa’i)

Hadits 4
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

ุฃُูˆุตِูŠูƒُู…ْ ุจِุชَู‚ْูˆَู‰ ุงู„ู„َّู‡ِ ูˆَุงู„ุณَّู…ْุนِ ูˆَุงู„ุทَّุงุนَุฉِ ูˆَุฅِู†ْ ุนَุจْุฏًุง ุญَุจَุดِูŠًّุง ูَุฅِู†َّู‡ُ ู…َู†ْ ูŠَุนِุดْ ู…ِู†ْูƒُู…ْ ุจَุนْุฏِู‰ ูَุณَูŠَุฑَู‰ ุงุฎْุชِู„ุงَูًุง ูƒَุซِูŠุฑًุง ูَุนَู„َูŠْูƒُู…ْ ุจِุณُู†َّุชِู‰ ูˆَุณُู†َّุฉِ ุงู„ْุฎُู„َูَุงุกِ ุงู„ْู…َู‡ْุฏِูŠِّูŠู†َ ุงู„ุฑَّุงุดِุฏِูŠู†َ ุชَู…َุณَّูƒُูˆุง ุจِู‡َุง ูˆَุนَุถُّูˆุง ุนَู„َูŠْู‡َุง ุจِุงู„ู†َّูˆَุงุฌِุฐِ ูˆَุฅِูŠَّุงูƒُู…ْ ูˆَู…ُุญْุฏَุซَุงุชِ ุงู„ุฃُู…ُูˆุฑِ ูَุฅِู†َّ ูƒُู„َّ ู…ُุญْุฏَุซَุฉٍ ุจِุฏْุนَุฉٌ ูˆَูƒُู„َّ ุจِุฏْุนَุฉٍ ุถَู„ุงَู„َุฉٌ

“Aku wasiatkan kepada kalian untuk bertakwa kepada Allah, tetap mendengar dan ta’at kepada pemimpin walaupun yang memimpin kalian adalah seorang budak dari Habasyah. Karena barangsiapa di antara kalian yang hidup sepeninggalku nanti, dia akan melihat perselisihan yang banyak. Maka wajib bagi kalian untuk berpegang pada sunnah-ku dan sunnah Khulafa’ur Rasyidin yang mereka itu telah diberi petunjuk. Berpegang teguhlah dengannya dan gigitlah ia dengan gigi geraham kalian. Jauhilah dengan perkara (agama) yang diada-adakan karena setiap perkara (agama) yang diada-adakan adalah bid’ah dan setiap bid’ah adalah kesesatan” (HR. At Tirmidzi no. 2676. ia berkata: “hadits ini hasan shahih”)

Hadits 5
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

ุฅِู†َ ุงู„ู„ู‡َ ุญَุฌَุจَ ุงู„ุชَّูˆْุจَุฉَ ุนَู†ْ ูƒُู„ِّ ุตَุงุญِุจِ ุจِุฏْุนَุฉٍ ุญَุชَّู‰ ูŠَุฏَุนْ ุจِุฏْุนَุชَู‡ُ

“Sungguh Allah menghalangi taubat dari setiap pelaku bid’ah sampai ia meninggalkan bid’ahnya”  (HR. Ath Thabrani dalam Al Ausath no.4334. Dishahihkan oleh Al Albani dalam Shahih At Targhib wa At Tarhib no. 54)

Hadits 6
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

ุฃَู†َุง ูَุฑَุทُูƒُู…ْ ุนَู„َู‰ ุงู„ْุญَูˆْุถِ ، ู„َูŠُุฑْูَุนَู†َّ ุฅِู„َู‰َّ ุฑِุฌَุงู„ٌ ู…ِู†ْูƒُู…ْ ุญَุชَّู‰ ุฅِุฐَุง ุฃَู‡ْูˆَูŠْุชُ ู„ุฃُู†َุงูˆِู„َู‡ُู…ُ ุงุฎْุชُู„ِุฌُูˆุง ุฏُูˆู†ِู‰ ูَุฃَู‚ُูˆู„ُ ุฃَู‰ْ ุฑَุจِّ ุฃَุตْุญَุงุจِู‰ . ูŠَู‚ُูˆู„ُ ู„ุงَ ุชَุฏْุฑِู‰ ู…َุง ุฃَุญْุฏَุซُูˆุง ุจَุนْุฏَูƒَ

“Aku akan mendahului kalian di al haudh (telaga). Lalu ditampakkan di hadapanku beberapa orang di antara kalian. Ketika aku akan mengambilkan (minuman) untuk mereka dari al haudh, mereka dijauhkan dariku. Aku lantas berkata, ‘Wahai Rabbku, ini adalah umatku’. Allah berfirman, ‘Engkau tidak tahu (bid’ah) yang mereka ada-adakan sepeninggalmu’ “ (HR. Bukhari no. 6576, 7049).

Dalam riwayat lain dikatakan,

ุฅِู†َّู‡ُู…ْ ู…ِู†ِّู‰ . ูَูŠُู‚َุงู„ُ ุฅِู†َّูƒَ ู„ุงَ ุชَุฏْุฑِู‰ ู…َุง ุจَุฏَّู„ُูˆุง ุจَุนْุฏَูƒَ ูَุฃَู‚ُูˆู„ُ ุณُุญْู‚ًุง ุณُุญْู‚ًุง ู„ِู…َู†ْ ุจَุฏَّู„َ ุจَุนْุฏِู‰

“(Wahai Rabb), sungguh mereka bagian dari pengikutku. Lalu Allah berfirman, ‘Sungguh engkau tidak tahu bahwa sepeninggalmu mereka telah mengganti ajaranmu”. Kemudian Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mengatakan, “Celaka, celaka bagi orang yang telah mengganti ajaranku sesudahku”(HR. Bukhari no. 7050).

Al’Aini ketika menjelaskan hadits ini beliau berkata: “Hadits-hadits yang menjelaskan orang-orang yang demikian yaitu yang dikenal oleh Nabi sebagai umatnya namun ada penghalang antara mereka dan Nabi, dikarenakan yang mereka ada-adakan setelah Nabi wafat. Ini menunjukkan setiap orang mengada-adakan suatu perkara dalam agama yang tidak diridhai Allah itu tidak termasuk jama’ah kaum muslimin. Seluruh ahlul bid’ah itu adalah orang-orang yang gemar mengganti (ajaran agama) dan mengada-ada, juga orang-orang zhalim dan ahli maksiat, mereka bertentangan dengan al haq. Orang-orang yang melakukan itu semua yaitu mengganti (ajaran agama) dan mengada-ada apa yang tidak ada ajarannya dalam Islam termasuk dalam bahasan hadits ini” (Umdatul Qari, 6/10)

Hadits 7
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

ุงู†َّู‡ُ ุณَูŠَู„ِูŠ ุฃَู…ْุฑَูƒُู…ْ ู…ِู†ْ ุจَุนْุฏِูŠ ุฑِุฌَุงู„ٌ ูŠُุทْูِุฆُูˆู†َ ุงู„ุณُّู†َّุฉَ ، ูˆَูŠُุญْุฏِุซُูˆู†َ ุจِุฏْุนَุฉً ، ูˆَูŠُุคَุฎِّุฑُูˆู†َ ุงู„ุตَّู„َุงุฉَ ุนَู†ْ ู…َูˆَุงู‚ِูŠุชِู‡َุง ” ، ู‚َุงู„َ ุงุจْู†ُ ู…َุณْุนُูˆุฏٍ : ูŠَุง ุฑَุณُูˆู„َ ุงู„ู„َّู‡ِ ، ูƒَูŠْูَ ุจِูŠ ุฅِุฐَุง ุฃَุฏْุฑَูƒْุชُู‡ُู…ْ ؟ ู‚َุงู„َ : ” ู„َูŠْุณَ ูŠَุง ุงุจْู†َ ุฃُู…ِّ ุนَุจْุฏٍ ุทَุงุนَุฉٌ ู„ِู…َู†ْ ุนَุตَู‰ ุงู„ู„َّู‡َ ” ، ู‚َุงู„َู‡َุง ุซَู„َุงุซَ ู…َุฑَّุงุชٍ

“Sungguh diantara perkara yang akan datang pada kalian sepeninggalku nanti, yaitu akan ada orang (pemimpin) yang mematikan sunnah dan membuat bid’ah. Mereka juga mengakhirkan shalat dari waktu sebenarnya’. Ibnu Mas’ud lalu bertanya: ‘apa yang mesti kami perbuat jika kami menemui mereka?’. Nabi bersabda: ‘Wahai anak Adam, tidak ada ketaatan pada orang yang bermaksiat pada Allah'”. Beliau mengatakannya 3 kali. (HR. Ahmad no.3659, Ibnu Majah no.2860. Dishahihkan Al Albani dalam Silsilah Ahadits Shahihah, 2864)

Hadits 8
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

ุฅِู†َّู‡ُ ู…َู†ْ ุฃَุญْูŠَุง ุณُู†َّุฉً ู…ِู†ْ ุณُู†َّุชِูŠ ู‚َุฏْ ุฃُู…ِูŠุชَุชْ ุจَุนْุฏِูŠ ูَุฅِู†َّ ู„َู‡ُ ู…ِู†َ ุงู„ْุฃَุฌْุฑِ ู…ِุซْู„َ ู…َู†ْ ุนَู…ِู„َ ุจِู‡َุง ู…ِู†ْ ุบَูŠْุฑِ ุฃَู†ْ ูŠَู†ْู‚ُุตَ ู…ِู†ْ ุฃُุฌُูˆุฑِู‡ِู…ْ ุดَูŠْุฆًุง ، ูˆَู…َู†ِ ุงุจْุชَุฏَุนَ ุจِุฏْุนَุฉَ ุถَู„َุงู„َุฉٍ ู„َุง ูŠَุฑْุถَุงู‡َุง ุงู„ู„َّู‡َ ูˆَุฑَุณُูˆู„َู‡ُ ูƒَุงู†َ ุนَู„َูŠْู‡ِ ู…ِุซْู„ُ ุขุซَุงู…ِ ู…َู†ْ ุนَู…ِู„َ ุจِู‡َุง ู„َุง ูŠَู†ْู‚ُุตُ ุฐَู„ِูƒَ ู…ِู†ْ ุฃَูˆْุฒَุงุฑِ ุงู„ู†َّุงุณِ ุดَูŠْุฆًุง

“Barangsiapa yang sepeninggalku menghidupkan sebuah sunnah yang aku ajarkan, maka ia akan mendapatkan pahala semisal dengan pahala orang-orang yang melakukannya tanpa mengurangi pahala mereka sedikitpun. Barangsiapa yang membuat sebuah bid’ah dhalalah yang tidak diridhai oleh Allah dan Rasul-Nya, maka ia akan mendapatkan dosa semisal dengan dosa orang-orang yang melakukannya tanpa mengurangi dosa mereka sedikitpun” (HR. Tirmidzi no.2677, ia berkata: “Hadits ini hasan”)

Hadits 9
Hadits dari Hudzaifah Ibnul Yaman, ia berkata:

ูŠุง ุฑุณูˆู„َ ุงู„ู„ู‡ِ ! ุฅู†ุง ูƒู†ุง ุจุดุฑٌ . ูุฌุงุก ุงู„ู„ู‡ُ ุจุฎูŠุฑٍ . ูู†ุญู† ููŠู‡ . ูู‡ู„ ู…ู† ูˆุฑุงุกِ ู‡ุฐุง ุงู„ุฎูŠุฑِ ุดุฑٌّ ؟ ู‚ุงู„ ( ู†ุนู… ) ู‚ู„ุชُ : ู‡ู„ ู…ู† ูˆุฑุงุกِ ุฐู„ูƒ ุงู„ุดุฑِّ ุฎูŠุฑٌ ؟ ู‚ุงู„ ( ู†ุนู… ) ู‚ู„ุชُ : ูู‡ู„ ู…ู† ูˆุฑุงุกِ ุฐู„ูƒ ุงู„ุฎูŠุฑِ ุดุฑٌّ ؟ ู‚ุงู„ ( ู†ุนู… ) ู‚ู„ุชُ : ูƒูŠู ؟ ู‚ุงู„ ( ูŠูƒูˆู† ุจุนุฏูŠ ุฃุฆู…ุฉٌ ู„ุง ูŠู‡ุชุฏูˆู† ุจู‡ุฏุงูŠَ ، ูˆู„ุง ูŠุณุชู†ُّูˆู† ุจุณُู†َّุชูŠ . ูˆุณูŠู‚ูˆู… ููŠู‡ู… ุฑุฌุงู„ٌ ู‚ู„ูˆุจُู‡ู… ู‚ู„ูˆุจُ ุงู„ุดูŠุงุทูŠู†ِ ููŠ ุฌُุซู…ุงู†ِ ุฅู†ุณٍ ) ู‚ุงู„ ู‚ู„ุชُ : ูƒูŠู ุฃุตู†ุนُ ؟ ูŠุง ุฑุณูˆู„َ ุงู„ู„ู‡ِ ! ุฅู† ุฃุฏุฑูƒุช ُุฐู„ูƒ ؟ ู‚ุงู„ ( ุชุณู…ุนُ ูˆุชุทูŠุน ู„ู„ุฃู…ูŠุฑِ . ูˆุฅู† ุถَุฑَุจ ุธู‡ุฑَูƒ . ูˆุฃุฎุฐ ู…ุงู„َูƒ . ูุงุณู…ุนْ ูˆุฃุทุนْ )

“Wahai Rasulullah, dulu kami orang biasa. Lalu Allah mendatangkan kami kebaikan (berupa Islam), dan kami sekarang berada dalam keislaman. Apakah setelah semua ini akan datang kejelekan? Nabi bersabda: ‘Ya’. Apakah setelah itu akan datang kebaikan? Nabi bersabda: ‘Ya’. Apakah setelah itu akan datang kejelekan? Nabi bersabda: ‘Ya’. Aku bertanya: ‘Apa itu?’. Nabi bersabda: ‘akan datang para pemimpin yang tidak berpegang pada petunjukku dan tidak berpegang pada sunnahku. Akan hidup diantara mereka orang-orang yang hatinya adalah hati setan namun berjasad manusia’. Aku bertanya: ‘Apa yang mesti kami perbuat wahai Rasulullah jika mendapati mereka?’. Nabi bersabda: ‘Tetaplah mendengar dan taat kepada penguasa, walau mereka memukul punggungmu atau mengambil hartamu, tetaplah mendengar dan taat’” (HR. Muslim no.1847)

Tidak berpegang pada sunnah Nabi dalam beragama artinya ia berpegang pada sunnah-sunnah yang berasal dari selain Allah dan Rasul-Nya, yang merupakan kebid’ahan.

Hadits 10
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

ุฃَูˆَّู„ُ ู…َู†ْ ูŠُุบَูŠِّุฑُ ุณُู†َّุชِูŠ ุฑَุฌُู„ٌ ู…ِู†ْ ุจَู†ِูŠ ุฃُู…َูŠَّุฉَ

“Orang yang akan pertama kali mengubah-ubah sunnahku berasal dari Bani Umayyah” (HR. Ibnu Abi Ashim dalam Al Awa’il, no.61, dishahihkan Al Albani dalam Silsilah Ash Shahihah 1749)

Dalam hadits ini Nabi mengabarkan bahwa akan ada orang yang mengubah-ubah sunnah beliau. Sunnah Nabi yang diubah-ubah ini adalah kebid’ahan.

Hadits 11
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

ุฌَุงุกَ ุซَู„َุงุซَุฉُ ุฑَู‡ْุทٍ ุฅِู„َู‰ ุจُูŠُูˆุชِ ุฃَุฒْูˆَุงุฌِ ุงู„ู†َّุจِูŠِّ ุตَู„َّู‰ ุงู„ู„َّู‡ُ ุนَู„َูŠْู‡ِ ูˆَุณَู„َّู…َ ูŠَุณْุฃَู„ُูˆู†َ ุนَู†ْ ุนِุจَุงุฏَุฉِ ุงู„ู†َّุจِูŠِّ ุตَู„َّู‰ ุงู„ู„َّู‡ُ ุนَู„َูŠْู‡ِ ูˆَุณَู„َّู…َ ، ูَู„َู…َّุง ุฃُุฎْุจِุฑُูˆุง ูƒَุฃَู†َّู‡ُู…ْ ุชَู‚َุงู„ُّูˆู‡َุง ، ูَู‚َุงู„ُูˆุง : ูˆَุฃَูŠْู†َ ู†َุญْู†ُ ู…ِู†َ ุงู„ู†َّุจِูŠِّ ุตَู„َّู‰ ุงู„ู„َّู‡ُ ุนَู„َูŠْู‡ِ ูˆَุณَู„َّู…َ ู‚َุฏْ ุบُูِุฑَ ู„َู‡ُ ู…َุง ุชَู‚َุฏَّู…َ ู…ِู†ْ ุฐَู†ْุจِู‡ِ ูˆَู…َุง ุชَุฃَุฎَّุฑَ ؟ ู‚َุงู„َ ุฃَุญَุฏُู‡ُู…ْ : ุฃَู…َّุง ุฃَู†َุง ، ูَุฅِู†ِّูŠ ุฃُุตَู„ِّูŠ ุงู„ู„َّูŠْู„َ ุฃَุจَุฏًุง ، ูˆَู‚َุงู„َ ุขุฎَุฑُ : ุฃَู†َุง ุฃَุตُูˆู…ُ ุงู„ุฏَّู‡ْุฑَ ูˆَู„َุง ุฃُูْุทِุฑُ ، ูˆَู‚َุงู„َ ุขุฎَุฑُ : ุฃَู†َุง ุฃَุนْุชَุฒِู„ُ ุงู„ู†ِّุณَุงุกَ ูَู„َุง ุฃَุชَุฒَูˆَّุฌُ ุฃَุจَุฏًุง ، ูَุฌَุงุกَ ุฑَุณُูˆู„ُ ุงู„ู„َّู‡ِ ุตَู„َّู‰ ุงู„ู„َّู‡ُ ุนَู„َูŠْู‡ِ ูˆَุณَู„َّู…َ ุฅِู„َูŠْู‡ِู…ْ ، ูَู‚َุงู„َ : ” ุฃَู†ْุชُู…ُ ุงู„َّุฐِูŠู†َ ู‚ُู„ْุชُู…ْ ูƒَุฐَุง ูˆَูƒَุฐَุง ، ุฃَู…َุง ูˆَุงู„ู„َّู‡ِ ุฅِู†ِّูŠ ู„َุฃَุฎْุดَุงูƒُู…ْ ู„ِู„َّู‡ِ ูˆَุฃَุชْู‚َุงูƒُู…ْ ู„َู‡ُ ู„َูƒِู†ِّูŠ ุฃَุตُูˆู…ُ ูˆَุฃُูْุทِุฑُ ، ูˆَุฃُุตَู„ِّูŠ ูˆَุฃَุฑْู‚ُุฏُ ، ูˆَุฃَุชَุฒَูˆَّุฌُ ุงู„ู†ِّุณَุงุกَ ، ูَู…َู†ْ ุฑَุบِุจَ ุนَู†ْ ุณُู†َّุชِูŠ ูَู„َูŠْุณَ ู…ِู†ِّูŠ

“Ada tiga orang mendatangi rumah istri-istri Nabi shallallahu’alaihi wasallam dan bertanya tentang ibadah Nabi shallallahu’alaihi wasallam. ٍSetelah diberitakan kepada mereka, sepertinya mereka merasa hal itu masih sedikit bagi mereka. Mereka berkata, “Ibadah kita tak ada apa-apanya dibanding Rasulullah shallallahu’alaihi wasallam, bukankah beliau sudah diampuni dosa-dosanya yang telah lalu dan juga yang akan datang?” Salah seorang dari mereka berkata, “Sungguh, aku akan shalat malam selama-lamanya” (tanpa tidur). Kemudian yang lain berkata, “Kalau aku, sungguh aku akan berpuasa Dahr (setahun penuh) dan aku tidak akan berbuka”. Dan yang lain lagi berkata, “Aku akan menjauhi wanita dan tidak akan menikah selama-lamanya”. Kemudian datanglah Rasulullah shallallahu’alaihi wasallam kepada mereka seraya bertanya: “Kalian berkata begini dan begitu. Ada pun aku, demi Allah, adalah orang yang paling takut kepada Allah di antara kalian, dan juga paling bertakwa. Aku berpuasa dan juga berbuka, aku shalat dan juga tidur serta menikahi wanita. Barangsiapa yang benci sunnahku, maka bukanlah dari golonganku” (HR. Bukhari no.5063)

Dalam hadits di atas, ketiga orang tersebut berniat melakukan kebid’ahan, karena ketiganya tidak pernah diajarkan oleh Nabi. Yaitu puasa setahun penuh, shalat semalam suntuk setiap hari, kedua hal ini adalah bentuk ibadah yang bid’ah. Dan berkeyakinan bahwa dengan tidak menikah selamanya itu bisa mendatangkan pahala dan keutamaan adalah keyakinan yang bid’ah. Oleh karena itu Nabi bersabda “Barangsiapa yang benci sunnahku, maka bukanlah dari golonganku“.

Dan masih banyak lagi hadits-hadits yang membicarakan dan mencela bid’ah, namun apa yang kami nukilkan di atas sudah cukup mewakili betapa bahaya dan betapa pentingnya kita untuk waspada dari bid’ah.

Wallahu’alam.



Penulis: Yulian Purnama
Artikel Muslim.Or.Id

Laa Adri(saya tidak tau) adalah sebagian dari ilmu.

Hasil gambar untuk padang pasir terbesar di duniaOleh Siswo Kusyudhanto

Ada seorang teman membanggakan ustadznya yang mampu menjawab semua pertanyaan dari jamaahnya,  kata dia itu menunjukkan ustadznya orang yang berilmu tinggi.  Namun faktanya sepengetahuan saya ada beberapa jawaban si ustadz adalah keliru dan akhirnya di tahzir ustadz lainnya.

Sebaliknya dalam kajian2 Sunnah sering kali ustadz sebagai pematerinya menjawab "saya tidak tau", bagi orang yang berilmu akan menilai si ustadz adalah orang yang bijak dan berhati-hati dalam menjawab pertanyaan,  sebaliknya bagi orang awam jawaban seperti itu menunjukkan si ustadz sedikit ilmunya.

Secara ilmu sebenarnya seseorang yang ahli dalam agama tidak harus menjawab semua pertanyaan dari orang lain agar menunjukkan ketinggian keilmuannya,  justru ketika seorang yang dikenal punya ilmu tentang agama ditanya sesuatu kemudian karena memang tidak mengetahui jawaban dari pertanyaan itu kemudian dia menjawab"saya tidak tau", hal itu justru menunjukkan ketinggian ilmunya, karena jika seseorang menjawab sebuah pertanyaan tampa dasar ilmu ancamannya adalah azab neraka,  seperti termuat dalam Al A'raf 33, Allah Ta’ala ancam seseorang yang berbicara agama tampa ilmu dengan dosa yang lebih besar dari syirik,  waalahua'lam.

Al Khatib Al Baghdadi mengisahkan bahwa Imam Malik ditanya 48 masalah, hanya dua yang dijawab, dan 30 masalah lainnya dijawab dengan, “laa adri“ (saya tidak tahu) (Al Faqih wa Al Mutafaqqih, 2/170).

Kejadian ini tidak hanya sekali. Dirwayatkan juga oleh Ibnu Mahdi bahwa seorang lelaki bertanya kepada Imam Malik, akan tetapi tidak satupun dijawab oleh beliau hingga lelaki itu mengatakan:“Aku telah melakukan perjalanan selama 6 bulan, diutus oleh penduduk bertanya kepadamu, apa yang hendak aku katakan kepada mereka?“ Imam Malik menjawab, “katakan bahwa Malik tidak bisa menjawab!“ (Nukilan dari Al Maqalat Al Kautsari, 398).

Seorang faqih besar Madinah, Imam Madzhab yang dianut ribuan ulama hingga kini, yang madzhabnya menyebar hingga Andalusia tidak segan-segan menyatakan bahwa dirinya tidak mampu menjawab. Tidak hanya beliau, para ulama Madinah juga amat berhati-hati dalam menjawab masalah halal dan haram. Karena jika tidak mengetahui masalah, kemudian memaksakan menjawab, sama dengan menisbatkan suatu perkara yang bukan syari’at kepada syari’at. Beliau menyatakan:“Tidak ada sesuatu yang paling berat bagiku, melebihi pertanyaan seseorang tentang halal dan haram. Karena hal ini memutuskan hukum Allah. Kami mengetahui bahwa ulama di negeri kami (Madinah), jika salah satu dari mereka ditanya, sekan-akan kematian lebih baik darinya.“ (dari Maqalat Al Kautsari, 399).

Abu Hanifah, Imam Madzhab paling tua dari empat madzhab juga pernah ditanya 9 masalah, semua dijawab dengan “laa adri”. (lihat, Al Faqih wa Al Mutafaqqih, 2/171).

Alloh Ta’ala berfirman:

ู‚ُู„ْ ุฅِู†َّู…َุง ุญَุฑَّู…َ ุฑَุจِّูŠَ ุงู„ْูَูˆَุงุญِุดَ ู…َุง ุธَู‡َุฑَ ู…ِู†ْู‡َุง ูˆَู…َุง ุจَุทَู†َ ูˆَุงْู„ุฅِุซْู…َ ูˆَุงู„ْุจَุบْู‰َ ุจِุบَูŠْุฑِ ุงู„ْุญَู‚ِّ ูˆَุฃَู† ุชُุดْุฑِูƒُูˆุง ุจِุงู„ู„ู‡ِ ู…َุง ู„َู…ْ ูŠُู†َุฒِّู„ْ ุจِู‡ِ ุณُู„ْุทَุงู†ًุง ูˆَุฃَู†ْ ุชَู‚ُูˆู„ُูˆุง ุนَู„َู‰ ุงู„ู„ู‡ِ ู…َุง ู„ุงَ ุชَุนْู„َู…ُูˆู†َ

Katakanlah: “Rabbku hanya mengharamkan perbuatan yang keji, baik yang nampak maupun yang tersembunyi, dan perbuatan dosa, melanggar hak manusia tanpa alasan yang benar, (mengharamkan) mempersekutukan Allah dengan sesuatu yang Allah tidak menurunkan hujjah untuk itu dan (mengharamkan) mengada-adakan terhadap Allah apa saja yang tidak kamu ketahui (berbicara tentang Allah tanpa ilmu)” (Al-A’raf:33)

Syeikh Abdul Aziz bin Abdulloh bin Baaz rohimahulloh berkata: “Berbicara tentang Allah tanpa ilmu termasuk perkara terbesar yang diharamkan oleh Allah, bahkan hal itu disebutkan lebih tinggi daripada kedudukan syirik. Karena di dalam ayat tersebut Alloh mengurutkan perkara-perkara yang diharamkan mulai yang paling rendah sampai yang paling tinggi.
Dan berbicara tentang Alloh tanpa ilmu meliputi: berbicara (tanpa ilmu) tentang hukum-hukumNya, syari’atNya, dan agamaNya. Termasuk berbicara tentang nama-namaNya dan sifat-sifatNya, yang hal ini lebih besar daripada berbicara (tanpa ilmu) tentang syari’atNya, dan agamaNya.” [Catatan kaki kitab At-Tanbihat Al-Lathifah ‘Ala Ma Ihtawat ‘alaihi Al-‘aqidah Al-Wasithiyah, hal: 34, tahqiq Syeikh Ali bin Hasan, penerbit:Dar Ibnil Qayyim]

Kesimpulannya ketika ada seorang ustadz,  kyai,  habib atau siapapun dapat menjawab semua pertanyaan dari seseorang dan tidak pernah mengatakan "saya tidak tau" mungkin itu justru menunjukkan kedangkalan ilmunya,  waalahua'lam.

Referensi dr Firanda. Co,  hidayatullah. Co dan muslim. Or. Id

MAINAN ITU BERNAMA DUNIA

Hasil gambar untuk padang pasir terbesar di duniaSetiap dari kita tentu pernah mengalami masa kanak-kanak. Masa yang begitu indah sekaligus menggelikan. Barangkali ada di antara kita yang dahulu saat masih kecil pernah kehilangan mainan kesayangan. Masih ingat bagaimana respon kita saat itu? Menangis berjam-jam, bahkan mungkin sampai berhari-hari  (meskipun orang tua membujuk akan dibelikan mainan baru yang lebih bagus).

Sekarang setelah dewasa, bila teringat peristiwa itu, tentu kita akan tertawa geli, “Koq bisa begitu ya efeknya? Padahal kan cuma mainan biasa yang remeh?!”. Kita bisa berkomentar seperti itu saat ini, sebab kita sudah bertambah usia dan semakin matang dalam berpikir.

Ketahuilah bahwa sejatinya pandangan seseorang terhadap dunia, juga akan terpengaruh dengan semakin bertambah ‘kedewasaan’ dia dalam beriman. Semakin tebal imannya, maka akan semakin sadar betapa remehnya dunia. Sebaliknya bila kita masih mendewakan dunia, berarti itu pertanda iman kita masih ‘kekanak-kanakan’. [Tafsir As-Sady]

Allah ta’ala menggambarkan hakikat dunia dalam firman-Nya,

“ูˆَู…َุง ุงู„ْุญَูŠَุงุฉُ ุงู„ุฏُّู†ْูŠَุง ุฅِู„َّุง ู„َุนِุจٌ ูˆَู„َู‡ْูˆٌ ูˆَู„َู„ุฏَّุงุฑُ ุงู„ْุขุฎِุฑَุฉُ ุฎَูŠْุฑٌ ู„ِู„َّุฐِูŠู†َ ูŠَุชَّู‚ُูˆู†َ ุฃَูَู„َุง ุชَุนْู‚ِู„ُูˆู†َ”

Artinya: “Kehidupan dunia ini hanyalah permainan dan senda gurau. Sedangkan negeri akhirat itu, sungguh lebih baik bagi orang-orang yang bertakwa. Tidakkah kalian mengerti?”. [QS. Al-An’am (6): 32]

Begitulah kira-kira orang yang beriman dalam memandang hakikat dunia hanyalah sebuah permainan dan permainan kita di dunia ini janganlah membuat kita terbuai, sehingga melupakan rumah kita yang sebenarnya, yakni di akhirat.

Dari Ibnu Mas’ud radhiyallahu’anhu,

“ู†َุงู…َ ุฑَุณُูˆู„ُ ุงู„ู„ู‡ِ ุตَู„َّู‰ ุงู„ู„َّู‡ُ ุนَู„َูŠْู‡ِ ูˆَุณَู„َّู…َ ุนَู„َู‰ ุญَุตِูŠุฑٍ ูَู‚َุงู…َ ูˆَู‚َุฏْ ุฃَุซَّุฑَ ูِูŠ ุฌَู†ْุจِู‡ِ، ูَู‚ُู„ْู†َุง: “ูŠَุง ุฑَุณُูˆู„َ ุงู„ู„ู‡ِ ู„َูˆِ ุงุชَّุฎَุฐْู†َุง ู„َูƒَ ูˆِุทَุงุกً”، ูَู‚َุงู„َ: “ู…َุง ู„ِูŠ ูˆَู„ِู„ุฏُّู†ْูŠَุง؟ ู…َุง ุฃَู†َุง ูِูŠ ุงู„ุฏُّู†ْูŠَุง ุฅِู„ุงَّ ูƒَุฑَุงูƒِุจٍ ุงุณْุชَุธَู„َّ ุชَุญْุชَ ุดَุฌَุฑَุฉٍ ุซُู…َّ ุฑَุงุญَ ูˆَุชَุฑَูƒَู‡َุง”.

“Suatu hari Rasulullah shallallahu’alaihiwasallam tidur di atas tikar. Saat beliau bangun, di tubuhnya membekas garis-garis tikar. Maka kami pun berkata, “Wahai Rasulullah, bagaimana bila kami membuatkan kasur untukmu?”.

Beliau menjawab, “Apa kepentinganku di dunia ini? Aku di dunia ini hanyalah bagaikan seorang musafir yang bernaung di bawah sebuah pohon. Setelah itu ia pergi meninggalkannya”. [HR. Tirmidzy dan beliau menyatakan hadits ini hasan sahih]

Sumber :
Salam Dakwah

RENUNGKANLAH AYAT INI AGAR MENDAPAT PELAJARAN ... !!!

Hasil gambar untuk padang pasir terbesar di duniaBetapa keras ancaman Allah Ta'ala  kepada Nabi Muhammad -Shallallahu 'Alaihi Wassalam- jika Nabi -Shallallahu 'alaihi Wassalam- sampai berani mengada-ngada/memalsukan Firman-Nya (meskipun hanya sebagian saja).

Mari kita tengok, Siapakah Nabi Muhammad  -Shallallahu 'alaihi Wassalam- ? Bukankah ia kekasih/utusan Allah 'Azza Wa Jalla ? Mengapa Allah begitu keras memberi peringatan ?. Maha Adil Allah yang menempatkan sesuatu (hukum) pada tempatnya, meskipun Rasulullah -Shallallahu 'alaihi Wassalam- adalah kekasih-Nya/utusan-Nya, jika ia berbuat dzalim (tidak meletakan sesuatu pada tempatnya) maka hukum Allah akan menimpanya. Lalu bagaimana dengan kita ? yang penuh lumpur2 dosa ? tatkala kita berbuat dzalim ? ...

Lalu bagaimana dengan pelaku amalan bid'ah yang beramal tanpa dasar dari sumber hukum (nash) yang jelas, baik Al-Qur'an dan Hadits2 Nabi -Shallalahi 'Alaihi Wassalam- yang shahih ? dan tidak pula ittiba (mengikuti contoh) Beliau -Shallalahu 'Alaihi Wassalam dalam beribadah dan beramal ?
Masih beranikah kita berbuat bid'ah ?

Al Haqqa:44-47

ูˆَู„َูˆْ ุชَู‚َูˆَّู„َ ุนَู„َูŠْู†َุง ุจَุนْุถَ ุงู„ْุฃَู‚َุงูˆِูŠู„ِ
Seandainya dia (Muhammad) mengadakan sebagian perkataan atas (nama) Kami
,
ู„َุฃَุฎَุฐْู†َุง ู…ِู†ْู‡ُ ุจِุงู„ْูŠَู…ِูŠู†ِ
niscaya benar-benar Kami pegang dia pada tangan kanannya
.
ุซُู…َّ ู„َู‚َุทَุนْู†َุง ู…ِู†ْู‡ُ ุงู„ْูˆَุชِูŠู†َ
Kemudian benar-benar Kami potong urat tali jantungnya
.
ูَู…َุง ู…ِู†ْูƒُู…ْ ู…ِู†ْ ุฃَุญَุฏٍ ุนَู†ْู‡ُ ุญَุงุฌِุฒِูŠู†َ
Maka sekali-kali tidak ada seorangpun dari kamu yang dapat menghalangi Kami (untuk menghukum nya)

Semoga Bermanfaat 

Thursday, April 19, 2018

Bahaya GHULUW

Hasil gambar untuk padang pasir terbesar di duniaHadist dari Umar Bin Khattab radhiyallahu ‘anhu, bahwasanya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Janganlah kalian memujiku sebagaimana orang nashrani memuji Isa bin Maryam, aku hanyalah seorang hamba, maka katakanlah ‘ Hamba Allah dan RasulNya”(HR. Bukhari no 3445). Hadist di atas menunjukkan Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah hamba Allah yang tidak boleh dipuji secara BERLEBIH-LEBIHAN , dengan pujian yang hanya layak ditujukan kepada Allah, dan Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah rasul Allah yang tidak boleh didustakan. Nabi saja melarang umatnya untuk bersikap ghuluw kepadanya, sedangkan beliau adalah manusia yang paling mulia kedudukannya di sisi Allah. Sehingga bersikap ghuluw kepada orang shalih yang kedudukannya di bawah beliau, tentu lebih layak untuk dilarang. (Apabila Berlebihan kepada sebaik baik Manusia saja Rasulullah shallallahu alaihi wasallam saja tidak diperbolehkan maka bagaimana dengan yg lain).

Sebagaimana yang dilakukan sebagian kelompok sufi ekstrim, yang berlebih-lebihan dalam memuji syaikhnya,Habaib,Kiyai walinya sampai-sampai mengantarkannya kepada syirik akbar dalam rububiyyah. Mereka berkeyakinan bahwa sebagian wali punya kewenangan mengatur alam semesta, diantara wali tersebut ada yang bisa mendengar ketika dipanggil dari tempat yang jauh, dan bisa mengabulkan permintaan orang yang memanggilnya, diantara wali tersebut ada yang bisa memberikan manfaat dan menolak madharat, dan diantara wali tersebut ada yang mengetahui perkara ghaib. Akan tetapi mereka (sufi ekstrim) tidaklah memiliki satu dalil pun untuk mendukung keyakinan mereka ini, kecuali dari perkataan-perkataan dusta atau dari mimpi-mimpi. Dan perbuatan ghuluw ini juga mengantarkan kepada syirik akbar dalam uluhiyyah. Mereka meminta kepada wali-wali mereka yang telah meninggal, dan memohon perlindungan kepadanya.

Semoga kita di jauhkan, sejauh-jauhnya dari perbuatan Ini dalam berbagai bentuknya. Dan semoga kita senantiasa diberikan keistiqomahan di atas islam dan sunnah Rasulullah shalallahu ‘alaihi wassalam.

Wallahua'lam bishawab.

Memang Hidayah Itu Di Tangan Allah

Hasil gambar untuk hidayah allahMasih saja ada yang mengatakan, bahwa ada bid'ah hasanah dalam Syariat Islam, padahal Imam Malik -rohimahulloh- yg dijuluki sebagai 'Imamnya Kota Nabi' sudah sangat tegas dan lugas mengatakan: "Barangsiapa melakukan bid'ah APAPUN dalam Islam dan dia melihat bid'ah itu baik, maka dia telah menganggap bahwa (Nabi) Muhammad -shollallohu alaihi wasallam- telah MENGKHIANATI risalah (yg diembannya), karena Allah berfirman: "Pada hari ini telah Aku sempurnakan bagi kalian agama kalian", sehingga apapun yg bukan agama pada hari itu, maka dia juga bukan agama pada hari ini". [Kitab: Ali'tishom 1/64].

Bahkan Ibnu Umar -rodhiallohu anhuma- yang merupakan sahabat Nabi -shollallohu alaihi wasallam- juga telah menegaskan: "SEMUA bid'ah adalah sesat, meskipun orang-orang melihatnya BAIK". [Sanadnya shohih, diriwayatkan oleh Ibnu Battoh: 205].

Bahkan Nabi tercinta -shollallohu alaihi wasallam- juga telah menyabdakan: "SEMUA bid'ah itu sesat". [Shohih Muslim: 867].

Kalaupun ada perkataan ulama yang menyelisihi sabda Nabi -shollallohu alaihi wasallam- ini, bukankah seharusnya perkataan mereka yang ditakwil atau diselaraskan maknanya dg sabda Nabi di atas?!

Bukan malah sebaliknya, sabda Nabi yang dita'wil dan dipelintir maknanya sehingga seakan selaras dg perkataan ulama tersebut.

Jika memang Nabi -shollallohu alaihi wasallam- dan sabdanya lebih agung kedudukannya di hati seseorang, harusnya langkah pertama yang dia ambil, yaitu mentakwil atau menyelaraskan perkataan ulama tersebut agar tidak bertentangan hadits Nabi -shollallohu alaihi wasallam.

Atau jika terpaksa harus memilih salah satu, maka harusnya dia memilih perkataan orang yang WAJIB dicintainya melebihi orang tuanya, anaknya, bahkan manusia semuanya, dialah Nabi Muhammad -shollallohu alaihi wasallam.

Semoga Allah memberikan kaum muslimin hidayah untuk menghidupkan sunnahnya dan mematikan bid'ah yang disusupkan dalam agamanya, amin.

Ustadz Dr. Musyaffa’ Ad Dariny, MA
Dewan Pembina Yayasan Risalah Islam

Oleh: Mutiara Risalah Islam

๐Ÿ“Mau Dapat Tambahan Ilmu Setiap Hari dari Ust Dr.Musyaffa’ad Dariny, M.A.

๐Ÿ“’Anda akan mendapatkan Nasehat, Artikel,Tanya Jawab Terbaik Setiap Hari di Group WA Mutiara Risalah Islam MRI

๐Ÿ“ฑDaftar ke Wa : 089628222285 atau klik๐Ÿ‘‰http://gabung.kliksini.me/wa/groupMRI

Seutama-utama dzikir

Hasil gambar untuk kesempatan beramal  di dunia*Membaca Al-Qur’an Adalah Seutama Utama Dzikir.*

✍Dzikir adalan amalan yang sangat dicintai Allah.
Dan Allah akan memberikan balasan yang besar kepada mereka yang menyibukkan diri dengan memperbanyak mengingat-Nya.

ูˆَุงู„ุฐَّุงูƒِุฑِูŠู†َ ุงู„ู„َّู‡َ ูƒَุซِูŠุฑًุง ูˆَุงู„ุฐَّุงูƒِุฑَุงุชِ ุฃَุนَุฏَّ ุงู„ู„َّู‡ُ ู„َู‡ُู…ْ ู…َุบْูِุฑَุฉً ูˆَุฃَุฌْุฑًุง ุนุธูŠู…ุง
"...laki-laki dan perempuan yang banyak menyebut (nama) Allah, Allah telah menyediakan untuk mereka ampunan dan pahala yang besar." [Al-Ahzab: 35]

Didunia ini manusia yang tidak terlaknat hanyalah mereka yang berdzikir mengingat Allah.
Rasulullah ุตู„ู‰ ุงู„ู„ู‡ ุนู„ูŠู‡ ูˆุณู„ู… bersabda:

ุฅِู†َّ ุงู„ุฏُّู†ْูŠَุง ู…َู„ْุนُูˆู†َุฉٌ ู…َู„ْุนُูˆู†ٌ ู…َุง ูِูŠู‡َุง ุฅِู„َّุง ุฐِูƒْุฑُ ุงู„ู„َّู‡ِ ูˆَู…َุง ูˆَุงู„َุงู‡ُ ูˆَุนَุงู„ِู…ٌ ุฃَูˆْ ู…ُุชَุนَู„ِّู…ٌ
“Dunia itu terlaknat dan segala yang terkandung di dalamnya pun terlaknat, kecuali orang yang berdzikir kepada Allah, yang melakukan ketaatan kepada-Nya, seorang ‘alim atau penuntut ilmu syar’i.” (HR. At-Tirmidzi, Ibnu Majah dihasankanAl-Albany dalam Shohihul Jami’)

Syeikh Ibnu Utsaimin berkata:
Ucapan yang baik itu ada dua macam:
⏺Baik dari dzatnya
⏺Baik karena tujuannya
Adapun ucapan yang baik dari dzatnya:
Seperti dzikir ู„ุง ุฅู„ู‡ ุฅู„ุง ุงู„ู„ู‡, ุงู„ู„ู‡ ุฃูƒุจุฑ, ุงู„ุญู…ุฏ ู„ู„ู‡, ู„ุง ุญูˆู„ ูˆู„ุง ู‚ูˆุฉ ุฅู„ุง ุจุงู„ู„ู‡.
Dan seutama-utama dzikir adalah bacaan Al-Qur'an.(Syarah Riyadhus Sholihin 1/290)

Membaca Al-Qur'an bisa membuat perasan nikmat dan tenang, jika itu dilakukan dengan sepenuh hati.
Adapun banyak manusia yang belum merasakan nikmatnya membaca al quran, dikarenakan membaca saja tanpa memahami isinya.
Dan Allah menuntut kita untuk mentadabburi Al-Qur'an bukan cuma di baca.

ุฃَูَู„َุง ูŠَุชَุฏَุจَّุฑُูˆู†َ ุงู„ْู‚ُุฑْุขู†َ ุฃَู…ْ ุนَู„َู‰ٰ ู‚ُู„ُูˆุจٍ ุฃَู‚ْูَุงู„ُู‡َุง
"Maka apakah mereka tidak memperhatikan Al Qur'an ataukah hati mereka terkunci?"(Muhammad : 24)

Ibnul Qoyyim berkata,
“…Dan sesungguhnya al-Qur’an dan iman- merupakan sumber segala kebaikan di dunia dan di akherat. Ilmu tentang keduanya adalah ilmu yang paling agung dan paling utama. Bahkan pada hakekatnya tidak ada ilmu yang bermanfaat bagi pemiliknya selain ilmu tentang keduanya.” (Al-‘Ilmu, Fadhluhu wa Syarafuhu, hal. 38)
Wallohu a'lam

๐ŸƒAbu Yusuf Masruhin Sahal, Lc