Friday, April 20, 2018

Hukum Video dan TV Dakwah

Hasil gambar untuk rodja tvAlhamdulillah, saat ini telah beredar TV Islam seperti Rodja TV, Insan TV, dan Wesal TV di tengah-tengah kita. Terdapat pula tayangan-tayangan ceramah Islam bermanfaat yang ada di Yufid TV dan Muslim.Or.Id menampilkan beberapa video nasehat pada pengunjung setia. Bagaimana hukum video dan film itu sendiri? Bolehkah menggunakan sarana TV semacam itu untuk dakwah? Kalau kita memperhatikan fatwa berikut, akan diperoleh jawabannya.

Syaikh ‘Abdul ‘Aziz bin Baz -mufti Kerajaan Saudi Arabia di masa silam- pernah ditanya mengenai hukum video dan sinema, apa hukumnya? Bagaimana pula hukum musik?

Video dan sinema atau film (saat ini) sangat berbahaya. Namun jika video tersebut mengandung manfaat, tidak ada tayangan-tayangan yang terlarang menurut syari’at, maka tidaklah masalah, misalnya tidak nampak wanita yang tidak menutupi aurat, tidak terdapat musik, serta tayangannya bermanfaat dalam hal dunia dan akhirat.

Begitu pula untuk tayangan sinema (film), selama tayangannya bermanfaat dan tidak menyelisihi syari’at, maka tidaklah bermasalah. Akan tetapi, yang ma’ruf di tengah-tengah kita, film yang ada saat ini hanya mengandung keburukan yang banyak. Begitu pula tayangan video yang ada saat ini, tampak adanya musik dan wanita-wanita yang berpakaian namun telanjang, dan semisal itu yang dihukumi haram.

Kesimpulannya, tayangan-tayangan tersebut dinilai haram ketika mengandung keburukan dan kebatilan. Namun jika ada tayangan video atau film yang tidak terdapat tayangan yang menyelisihi syari’at, maka tidaklah diharamkan. Namun jika yang ada adalah tayangan-tayangan kejelekan, kerusakan dan terdapat gambar wanita yang tidak menutupi diri, juga terdapat musik, maka diharamkan karena sebab tersebut. Adapun musik haram untuk didengar. (Fatwa Syaikh Ibnu Baz: http://www.binbaz.org.sa/mat/18187)

Al Lajnah Ad Daimah juga dalam fatawanya (1: 458) mengatakan, “Mengambil gambar dengan video atau lewat HP dan memindahkannya pada alat lain, atau lewat peralatan semacam itu, tidaklah dihukumi seperti mengambil gambar yang terlarang.”

Semoga bermanfaat.

Apa Itu Radio Rodja?

Hasil gambar untuk rodja tvBerikut ini adalah Profil Radio Rodja yang saya dapat di www.radiorodja.com:

Radio Rodja dimulai dari sebuah radio FM komunitas yang dirintis sejak awal 2005. Mulai mengudara untuk ujicoba pada Maret 2005. Kemudian, dari animo masyarakat yang besar akan hadirnya Radio Rodja,alhamdulillah, Allah Ta’ala mengizinkanRadio Rodjauntuk secara resmi mengudara padafrekuensi 756 kHz (AM)di tahun 2007. Tepatnya pada Mei 2007, Radio Rodja mengujicoba siarannya melalui frekuensi 756 AM. Migrasi ke gelombang AM ini, adalah sebuah keputusan yang harus diambil pada saat itu dengan segala konsekuensi akan kelebihan dan kekurangannya. Alhamdulillah, seiring berjalannya waktu, sejak mengudara dengan frekuensi 756 AM ini, Radio Rodja mengalami kemajuan pesat. Lantaran izin AllahSubhanahu wa Ta’alapula, dan karakteristik dari sinyal AM ini yang memiliki salah satu kelebihan paling utama yaitu daya jangkaunya yang jauh lebih luas daripada sinyal FM, Radio Rodja dapat menjangkau pendengar dari berbagai wilayah. Pendengar Radio Rodja semakin meluap (alhamdulillah), baik dari radio analog (756 AM) maupunradio streaming 2009, RodjaTV Mengudara.

Dengan komitmen untuk selalu menyajikan yang terbaik kepada para pendengar akanilmu syar’i(insyaAllah), Radio Rodja meluncurkanRodjaTV, sebagai stasiun televisi dakwah Islam yang mengudara melalui streaming Internet (TV streaming). Pada 2011,alhamdulillah, RodjaTV dapat mengudara melalui satelit. Para pemirsa RodjaTV dapat menikmati siaran RodjaTV melalui pesawat televisi mereka, tentunya dengan bantuan set perangkat antena parabola.
Radio Rodja dan RodjaTV

Radio Rodja dan RodjaTV menyajikan siarantilawah Al-Qur’an Al-Karim,hadits-hadits Nabishallallahu ‘alaihi wasallam,kajian Islam Ahlus Sunnah wal Jama’ah, juganasihat para ulama Ahlus Sunnah, yanginsyaAllah sesuai dengan pemahaman para sahabat Nabiridwanallahu ‘anhum jami’an. Sekarang ini, siaran Rodja dapat dinikmati melalui radio frekuensi 756 AM (Jabodetabek dan stasiun relay Rodja di Bandung, Berau, Lampung, Pontianak, dan Tanjung Pinang), radio streaming, radio via Flexi (Flexi Radio), radio satelit dan TV salelit (membutuhkan perangkat antena parabola), dan TV streaming. Tentunya untuk radio streaming dan TV streaming ini, para pendengar dan pemirsa dapat menikmatinya melalui handphone dan gadget, seperti Blackberry, Android, iPhone & iPad, Windows Phone, dan handphone berbasis Symbian.

Nah itulah Profil singkat dari Radio Rodja dan TV Rodja, untuk lebih mengetahuinya silakan anda bisa akses sendiri website Radio Rodja. 

Sumber :kompasiana

Mereka yang Dijuluki Salafy Wahabi Ternyata Sangat Taat kepada Pemerintah

Hasil gambar untuk dakwah tauhid
DATARIAU.COM - Fitnah yang diberikan kaum penentang dakwah tauhid kepada para umat Islam terdahulu (salaf) sangat keji. Berbagai hujatan dan celaan dibuat mereka agar manusia jauh dari mentauhidkan Allah.

Dakwah para Nabi dan para salafus shalih yakni umat Islam terdahulu adalah dakwah tauhid, meng-Esa-kan Allah Subahanahu wa Ta'ala dan menjunjung tinggi sunnah-sunnah Nabi Muhammad Shalallahu 'alaihi wa sallam sebagai Nabi akhir zaman.

Berusaha beribadah hanya ditujukan kepada Allah saja secara ikhlas dan juga beribadah menurut apa yang diajarkan Nabi Muhammad Shallahu 'alaihi wasallam tanpa ditambah dan dikurang-kuranginya. Dengan demikian, umat Islam senantiasa mempelajari kisah-kisah Nabi dan cara Nabi beribadah melalui hadits shahih.

Namun, kaum tradisionalis, kaum yang beragama dengan berdalil kepada nenek moyang mereka, tanpa menela'ah apakah ajaran yang dibawakan sebagian nenek moyang mereka sesuai dengan Al Qur'an dan Sunnah, dari dulu sudah gencar agar dakwah tauhid diruntuhkan. Karena sebagian besar ajaran sebagian nenek moyang mereka masih mengagungkan makhluk dan mengagungkan sebagian kuburan orang-orang yang mereka nilai 'alim.

Kondisi ini ternyata sudah diceritakan Allah Subahanahu wa Ta'ala di dalam Kitab Al Qur'an. Sangat banyak sekali ayat yang menjelaskan tentang orang-orang yang beragama dengan agama sebagian nenek moyang mereka yang rusak aqidahnya, seperti di antaranya:

QS. Al-Baqarah [2] : 170

وَإِذَا قِيلَ لَهُمُ ٱتَّبِعُوا۟ مَآ أَنزَلَ ٱللَّهُ قَالُوا۟ بَلْ نَتَّبِعُ مَآ أَلْفَيْنَا عَلَيْهِ ءَابَآءَنَآ ۗ أَوَلَوْ كَانَ ءَابَآؤُهُمْ لَا يَعْقِلُونَ شَيْـًٔا وَلَا يَهْتَدُونَ

"Dan apabila dikatakan kepada mereka: "Ikutilah apa yang telah diturunkan Allah," mereka menjawab: "(Tidak), tetapi kami hanya mengikuti apa yang telah kami dapati dari (perbuatan) nenek moyang kami". "(Apakah mereka akan mengikuti juga), walaupun nenek moyang mereka itu tidak mengetahui suatu apapun, dan tidak mendapat petunjuk?".

QS. Al-Ma'idah [5] : 104

وَإِذَا قِيلَ لَهُمْ تَعَالَوْا۟ إِلَىٰ مَآ أَنزَلَ ٱللَّهُ وَإِلَى ٱلرَّسُولِ قَالُوا۟ حَسْبُنَا مَا وَجَدْنَا عَلَيْهِ ءَابَآءَنَآ ۚ أَوَلَوْ كَانَ ءَابَآؤُهُمْ لَا يَعْلَمُونَ شَيْـًٔا وَلَا يَهْتَدُونَ

Apabila dikatakan kepada mereka: "Marilah mengikuti apa yang diturunkan Allah dan mengikuti Rasul". Mereka menjawab: "Cukuplah untuk kami apa yang kami dapati bapak-bapak kami mengerjakannya". Dan apakah mereka itu akan mengikuti nenek moyang mereka walaupun nenek moyang mereka itu tidak mengetahui apa-apa dan tidak (pula) mendapat petunjuk?.

QS. Al-'A'raf [7] : 28

وَإِذَا فَعَلُوا۟ فَٰحِشَةً قَالُوا۟ وَجَدْنَا عَلَيْهَآ ءَابَآءَنَا وَٱللَّهُ أَمَرَنَا بِهَا ۗ قُلْ إِنَّ ٱللَّهَ لَا يَأْمُرُ بِٱلْفَحْشَآءِ ۖ أَتَقُولُونَ عَلَى ٱللَّهِ مَا لَا تَعْلَمُونَ

Dan apabila mereka melakukan perbuatan keji, mereka berkata: "Kami mendapati nenek moyang kami mengerjakan yang demikian itu, dan Allah menyuruh kami mengerjakannya". Katakanlah: "Sesungguhnya Allah tidak menyuruh (mengerjakan) perbuatan yang keji". Mengapa kamu mengada-adakan terhadap Allah apa yang tidak kamu ketahui?

Banyak lagi ayat yang berbunyi demikian, seperti QS. Al-'A'raf [7] : 70, QS. Yunus [10] : 78, QS. Hud [11] : 62, 87, 109, QS. 'Ibrahim [14] : 10, QS. Al-'Anbya' [21] : 51, 52, 53, 54, QS. As-Saffat [37] : 68, 69, 70, QS. Az-Zukhruf [43] : 22, 23, 24.

Salah satu fitnah yang dilontarkan kaum penentang dakwah tauhid kepada umat Islam yang benar-benar mengikuti cara beragama orang terdahulu yang mereka sebut dengan sebutan Salafy Wahabi, yakni tidak maunya Salafy Wahabi mengikut aturan pemerintah. Ternyata fitnah ini sangat bertentangan dengan fakta yang ada dalam ajaran Nabi Muhammad Shalallahu 'alaihi wasallam yang diikuti oleh umat Islam.

Dalil-dalil yang menunjukkan wajibnya taat kepada pemerintah di antaranya,

Nash Al-Quran

Allah berfirman dalam surat An-Nisaa: 59:

يَاأَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا أَطِيعُوااللَّهَ وَأَطِيعُوا الرَّسُولَ وَأُولِيالْأَمْرِ مِنْكُمْ

“Hai orang-orang yang beriman taatlah kalian kepada Allah dan taatlah kalian kepada rasul dan ulil amri kalian.”

Allah berfirman dalam surat Al-Anfal: 46:

وَأَطِيعُوا اللَّهَ وَرَسُولَهُ وَلَا تَنَازَعُوا فَتَفْشَلُوا وَتَذْهَبَ رِيحُكُمْ وَاصْبِرُوا إِنَّ اللَّهَ مَعَ الصَّابِرِينَ

“Dan taatlah kalian kepada Allah dan janganlah kalian saling berselisih, karena akan menyebabkan kalian akan menjadi lemah dan hilang kekuatan, dan bersabarlah. Sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang sabar.”

Firman Allah dalam surat Al’imran: 103:

وَاعْتَصِمُوا بِحَبْلِ اللَّهِ جَمِيعًا وَلَا تَفَرَّقُوا

“Dan berpegang teguhlah kalian semua pada tali agama Allah dan janganlah kalian berpecah belah.”

Hadist Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam:

Disebutkan dalam Shahih Bukhri dan Muslim dari ‘Ubadah bin Shamit radhiyallahu ‘anhu, dia berkata:

بايعنا رَسُولَ اللَّهِ – صلى الله عليه وسلم – فقال فيما أخذ علينا أن بايعنا على السمع والطاعة في منشطنا ومكرهنا وعسرنا ويسرنا وأثرة علينا وأن لا ننازع الأمر أهله إلا أن تروا كفرا بواحا عندكم من الله فيه برهان

“Kami berbai’at kepada Rasulullah untuk senantiasa mau mendengar dan taat kepada beliau dalam semua perkara, baik yang kami senangi ataupun yang kami benci, baik dalam keadaan susah atau dalam keadaan senang, dan lebih mendahulukan beliau atas diri-diri kami dan supaya kami menyerahkan setiap perkara-perkara itu kepada ahlinya. Beliau kemudian bersabda, ‘Kecuali jika kalian melihat kekafiran yang nyata dan bisa kau jadikan hujjah dihadapan Allah.’”

Beliau juga bersabda,

مَنْ رَأَى مِنْ أَمِيرِهِ شَيْئًا يَكْرَهُهُ فَلْيَصْبِرْ عَلَيْهِ ، فَإِنَّهُ مَنْ فَارَقَ الْجَمَاعَةَ شِبْرًا فَمَاتَ ، إِلاَّ مَاتَ مِيتَةً جَاهِلِيَّةً

“Barang siapa yang melihat pada pemimpinnya suatu perkara ( yang dia benci ), maka hendaknya dia bersabar, karena sesungguhnya barangsiapa yang memisahkan diri dari jama’ah satu jengkal saja kemudian dia mati,maka dia mati dalam keadaan jahiliyyah.” (HR. Bukhari)

Beliau juga bersabda,

من خلع يدا من طاعة لقي الله يوم القيامة لا حجة له

“Barang siapa yang melepaskan tangannya bai’atnya (memberontak) hingga tidak taat (kepada pemimpin) dia akan mememui Allah dalam keadaan tidak berhujjah apa-apa.” (HR. Muslim)

Beliau juga bersabda,

اسْمَعُوا وَأَطِيعُوا وَإِنِ اسْتُعْمِلَ عَلَيْكُمْ عَبْدٌ حَبَشِىٌّ

“Dengar dan taatlah kalian kepada pemimpin kalian, walaupun dia seorang budak Habsy.” (HR. Bukhari)

Beliau juga bersabda,

على المرء المسلم السمع والطاعة فيما أحب وكره إلا أن يؤمر بمعصية فإن أمر بمعصية فلا سمع ولا طاعة

“ Wajib atas seorang muslim untuk mendengar dan taat (kepada pemimpin –ed.-) baik dalam perkara yang ia sukai atau dia benci, kecuali dalam kemaksiatan. Apabila dia diperintah untuk maksiat, tidak boleh mendengar dan taat.” ¹

Perkataan Para Ulama.

Al Hafizh Ibnu Hajar Rahimahullah berkata, “Para fuqaha bersepakat atas wajibnya taat kepada imam yang mutaghallib (berkuasa melalui perang , kudeta, atau cara represif lainnya, Pent.)

Imam Al-Qadhi ‘Ali bin ‘Ali bin muhammad bin Abi al-Izz ad-Dimasqy rahimahullah (terkenal dengan ibnu Abil ‘Izz wafat th. 792 H), berkata : Hukum mentaati ulil Amri adalah wajib (selama tidak dalam kemaksiatan) meskipun mereka berbuat zhalim, karena kalau keluar dari ketaatan kepada mereka akan menimbulkan kerusakan yang berlipat ganda dibanding dengan kezhaliman penguasa itu sendiri. Bahkan bersabar terhadap kezhaliman mereka dapat melebur dosa-dosa dan dapat melipat gandakan pahala. Karena Allah ’azza wajalla tidak akan menguasakan mereka atas diri kita melainkan disebabkan kerusakan amal perbuatan kita juga. Ganjaran itu tergantung amal perbuatan. Maka hendaklah kita bersungguh-sungguh memohon ampun, bertaubat dan memperbaiki amal perbuatan.

Imam Al-Barbahari rahimahullah (wafat tahun 329 H) dalam kitabnya Syarhus Sunnah berkata, “Jika engkau melihat seseorang mendo’akan keburukan kepada pemimpin, ketahuilah bahwa ia termasuk salah satu pengikut hawa nafsu, namun jika engkau melihat seseorang mendoakan kebaikan kepada seorang pemimpin, ketahuilah bahwa ia termasuk Ahlus Sunnah, insya Allah.”

Fudhail bin ‘Iyadh rahimahullah berkata: “Jika aku mempunyai do’a yang baik yang akan dikabulkan, maka semuanya akan aku tujukan bagi para pemimpin.” ia ditanya: “Wahai Abu ‘Ali jelaskan maksud ucapan tersebut?” Beliau berkata: “Apabila do’a itu hanya aku tujukan untuk diriku sendiri, tidak lebih hanya bermanfaat bagi diriku, namun apabila aku tujukan kepada pemimpin dan para pemimpin berubah menjadi baik, maka semua orang dan negara akan merasakan manfaat dan kebaikannya.”

Kita memohon ampunan kepada Allah Ta’ala untuk seluruh kaum muslimin dan menjadikan kita rakyat yang selalu bertakwa kepada-Nya dan taat kepada pemimpin. Kita juga memohon kepada Allah Ta’ala agar menjadikan para pemimin kaum muslimin senantiasa berada dalam ketakwaan dan diberi kekuatan untuk memimpin negara dengan adil, terutama untuk presiden kita. Amin yaa mujiba saailiin.

Jadi, terungkaplah bahwa fitnah yang dilontarkan kaum penentang dakwah tauhid tidak terbukti, ternyata orang yang mereka sebut Salafy Wahabi sangat taat kepada pemerintah, tertib berlalu lintas karena bagian dari ketaatan kepada pemerintah, dakwahnya hanya meng-Esa-kan Allah dan mempelajari Al Qur'an dan Sunnah.

Dakwah tauhid ini pun sudah berkembang pesat di Kota Pekanbaru dan Riau secara umum dengan banyaknya masyarakat yang dulunya menuntut ilmu ke Madinah setelah tamat kemudian kembali ke kampungnya untuk meluruskan ajaran Islam yang selama ini banyak ditambah dan dikurang-kurangi agar menjadi murni kembali seperti yang dibawa Rasulullah shalallahu 'alaihi wa sallam.

Perkembangan Dakwah Sunnah Di Belanda

Hasil gambar untuk radio dakwah di belandaBelanda, salah satu di antara negara maju di Eropa barat, dengan kehidupan yang serba bebas sebagaimana kehidupan warga Eropa secara umum. Meskipun sampai saat ini mayoritas warganya tidak beragama, sedikit demi sedikit pemeluk agama Islam semakin bertambah dari tahun ke tahun. Berkembangnya Islam di Belanda tidak terlepas dari migrasi besar-besaran setelah perang dunia ke dua, di mana Belanda membutuhkan tenaga kerja asing dalam jumlah besar untuk melakukan percepatan pembangunan di berbagai bidang. Masuklah penduduk muslim yang didominasi berasal dari Turki dan Maroko ketika itu, dan dalam jumlah yang lebih kecil berasal dari Suriname. Seiring dengan berjalannya waktu, semakin banyak pula warga asli Belanda yang masuk Islam.

Perkembangan Islam pun semakin pesat dengan semakin banyaknya masjid yang didirikan di Belanda. Masjid-masjid ini sebagiannya merupakan gereja yang dialih-fungsikan menjadi masjid. Hal ini dilatarbelakangi karena semakin sepi dan merosotnya jumlah jamaah gereja mereka, sehingga mereka pun kesulitan secara ekonomi untuk memelihara dan merawat bangunan gereja. Sehingga akhirnya, aset-aset bangunan gereja dijual, di antaranya kepada umat muslim, yang kemudian diubah menjadi masjid. Sebagian dijual dalam harga yang relatif murah. Secara finansial, hal ini jauh lebih murah dibandingkan membuat dan mendirikan masjid baru sejak awal, di mana proses perijinan juga lebih sulit. Oleh karena itu, tidak heran jika banyak masjid di Belanda dari luar tampak seperti gereja. Suasana masjid baru didapatkan jika kita memasuki bangunan masjid tersebut.
Kondisi “Islam” di Belanda

Melihat sejarah mulai berkembangnya Islam di Belanda, maka tidak heran jika ada banyak aliran yang bisa kita temui di Belanda. Kita bisa menjumpai pemeluk agama Syi’ah di sini. Bahkan di Belanda ini pula, penulis berjumpa dengan pemeluk Syi’ah pertama kali dalam sejarah hidup penulis. Perjumpaan ini berawal dari keheranan penulis ketika melihat salah seorang teman di kampus yang selalu menolak untuk shalat berjamaah bersama kami, dan lebih memilih untuk shalat sendiri. Perkenalan selanjutnya akhirnya terkuak bahwa teman ini adalah pemeluk Syi’ah. Begitu pula dengan penganut sufiyah (tasawwuf), yang rata-rata didominasi oleh penduduk muslim Turki. Di sini pula penulis secara tidak sengaja menghadiri acara tari-tarian sufi mereka. Masih ada lagi dengan Jamaah Tabligh (JT) yang datang silih berganti ke Belanda dari berbagai daerah di Indonesia dan negara-negara lainnya, dengan difasilitasi sesama pengikut JT yang ada di sini, sebagaimana yang sudah berulang kali penulis temui. Belum lagi mereka yang sudah terpengaruh dengan pemikiran liberal dan sebagainya.

Namun siapa sangka, di balik semua itu, dakwah sunnah sedikit demi sedikit mulai tumbuh subur di Belanda. Dakwah yang mengajak kepada aqidah Islam yang murni, yang bersih dari kemusyrikan dan pemikiran-pemikiran yang menyimpang. Entah bagaimana awalnya, dakwah yang penuh berkah ini ternyata mulai berkembang dan tumbuh subur di Belanda.
Masjid dan Organisasi sebagai Pusat Dakwah Sunnah di Belanda

Masjid adalah pusat dakwah, di mana berbagai kegiatan dakwah seperti kajian-kajian ilmu diselenggarakan. Masjid merupakan elemen penting sebagai pusat kegiatan keagamaan di Belanda, seperti shalat lima waktu, shalat Jum’at, dan aktivitas selama bulan Ramadhan seperti shalat tarawih, pengumpulan zakat dan sebagainya. Juga pusat pelaksanaan ibadah di hari raya, termasuk pengumpulan dan penyaluran hewan kurban pada saat hari raya Idul Adha.

Saat ini, semakin banyak dijumpai masjid yang digunakan sebagai pusat dakwah sunnah di Belanda. Hal ini bisa dilihat di antaranya dengan kegiatan kajian ilmu yang dilaksanakan dengan mengkaji kitab-kitab para ulama ahlus sunnah. Di antara masjid yang menjadi pusat dakwah sunnah di Belanda antara lain:

    Masjid al-Mouahiddin, Ede. Alamat: Peppelensteeg 1, Ede.

    Masjid As-Sunnah, Tilburg. Alamat: Benatzkystraat 6, Tilburg. Masjid ini sudah dari dahulu terkenal dengan dakwah untuk mengajak kepada aqidah yang murni –in syaa Allah-. Masjid ini dikelola oleh salah satu ulama terbesar di Eropa dan salah seorang murid Syaikh Muhammad Nashiruddin Al-Albani, yaitu Syaikh Ahmad Salaam atau dikenal juga dengan Syaikh Abu Suhaib hafidzahullah.

    Masjid el-Feth, Tilburg. Alamat: Academielaan 9, 5037 ET Tilburg.

    Masjid As-Soennah, Den Haag. Alamat: Fruitweg 5, 2525 KE Den Haag.

    Masjid Quba, Den Haag. Alamat: Beeklaan 69-71, Den Haag.

    Masjid el-Oemma (baca: ummah), Den Haag. Alamat: Guido Gazellestraat 48, 2524 CM Den Haag.

    Masjid Imaam Maalik, Utrecht. Alamat: Orinocodreef 17, 3563 ST Utrecht.

    Masjid al-Fitrah, Utrecht. Alamat: Pahud de Mortagnesdreef 41, Utrecht.

    Masjid al-Furqaan, Eindhoven. Alamat: Otterstraat 2, Eindhoven.

    Masjid al-Ihsane (baca: Ihsaan), Amsterdam. Alamat: Medes da Costahof 32, 1067 ZN Amsterdam.

    Masjid Badr, Amsterdam. Alamat: Willem Leevendsstraat 7, 1055 KB Amsterdam

    Masjid Tawheed (baca: Tawhid), Amsterdam. Alamat: Jan Hanzenstraat 114, 1053 SV Amsterdam. (Masjid ini adalah salah satu pusat dakwah sunnah di Amsterdam, ibu kota Belanda).

    Masjid Assalaam, IJmuiden (baca: Aimauden). Alamat: Celsiusstraat 23, 1973RM Ijmuiden.

    Masjid As-Soennah, Zwolle. Alamat: Schubertstraat 41, 8031ZC Zwolle.

Selain masjid-masjid di kota besar di atas, masih ada lagi masjid kecil di kota–kota kecil yang tersebar di Belanda.

Ada pula organisasi yang bertujuan untuk mendakwahkan sunnah, di antaranya:

    IVOE (Instituut voor Onderwijs en Educatie = Institusi untuk Tarbiyyah dan Edukasi). Organisasi ini tidak mempunyai headquarters (kantor pusat atau markas), tetapi menyelenggarakan berbagai kursus yang bisa ditemui di seluruh Belanda dan di beberapa kota di Belgia. Kursus-kursus yang diselenggarakan oleh IVOE dapat dilihat di: http://nl.ivoe.nl/opleidingen/

    SMJ (Stichting Moslim Jongeren). Organisasi untuk anak-anak muda muslim. Pusatnya di Masjid Imaam Malik, di kota Utrecht.

Jadwal Pengajian dengan Kitab-Kitab para Ulama Ahlus Sunnah

Dakwah sunnah di Belanda juga diramaikan dengan berbagai pengajian yang membahas kitab-kitab para ulama ahlus sunnah dalam bidang tauhid, aqidah, fiqih, tafsir, akhlak, bahasa Arab, dan sebagainya. Berikut kami sebutkan beberapa kajian Islam yang diselenggarakan oleh empat masjid besar di Belanda:

    Masjid Al-Mouahiddin, Ede.

Setiap hari Jum’at 17.30 – 21.30 CET, membahas “Kitaab at-Tauhiid” dan “Tsalaatsatul Ushuul” karya Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab rahimahullah dan kitab “Al-Wajiiz fii Fiqhis Sunnah wal Kitaabil ‘Aziiz” karya Syaikh ‘Abdul ‘Adzim Badawi. Setiap pekan hanya membahas satu kitab saja (berganti-ganti). Kajian ini menggunakan bahasa pengantar dalam bahasa Belanda.

    Masjid as-Sunnah, Tilburg.

Pengajian di Masjid As-Sunnah, Tilburg, yang dikelola oleh Syaikh Ahmad Salaam hafidzahullah, dibagi dalam dua level:

    Hari Jum’at (18.00 – 22.00), Level 1 (kelas pemula): “Tsalaatsatul Ushuul”; “Al-Wajiiz fii Fiqhis Sunnah wal Kitaabil ‘Aziiz”; dan pelajaran tentang dzikir. Kajian level 1 menggunakan bahasa pengantar dalam bahasa Belanda.

    Hari Minggu (18.00 -22.00), Level 2 (kelas lanjutan): “Kitaab at-Tauhiid”; “Al-Wajiiz fii Fiqhis Sunnah wal Kitaabil ‘Aziiz”; dan hadits “Al-Arba’in An-Nawawiyyah”. Kajian level dua menggunakan bahasa pengantar dalam bahasa Belanda dan bahasa Arab.

    Masjid As-Soennah, Den Haag.

    Senin (setelah Maghrib): Syarh Shahih al-Bukhaari (dalam bahasa Arab)
    Selasa (setelah Maghrib): Tafsir Al-Qur’an (dalam bahasa Arab)
    Rabu (setelah Maghrib): Ushuul as-Sunnah karya Imaam Ahmad (dalam bahasa Arab)
    Kamis (setelah Maghrib): Al-Wajiiz fii Fiqhis Sunnah wal Kitaabil ‘Aziiz (dalam bahasa Arab)
    Jum’at (setelah Maghrib): Syarh ‘Umdatul Ahkaam (dalam bahasa Arab)
    Sabtu (setelah Maghrib): Adab wal Akhlaaq (dalam bahasa Arab)

Untuk jadwal yang lebih tepat, bisa mengunjungi situs: http://al-yaqeen.com/agenda/agenda.php

    Masjid al-Furqaan, Eindhoven.

    Rabu jam 19.00 – 20.30: Tsalaatsatul Ushuul .
    Minggu jam 09.00 – 14.00: Les Bahasa Arab.

Dakwah dengan Televisi atau Facebook

Jika di Indonesia kita mengenal adanya Rodja TV, Yufid TV dan sebagainya, maka demikian pula di Belanda, dakwah dengan media seperti ini juga mulai marak, seperti: SunnahTV, FitrahTV, SOS-Stichting, Al-Yaqeen livestream, IslaamTV, DawahTV, dan SadaqaTV. Dakwah dengan media-media seperti ini pun memiliki nilai penting tersendiri untuk lebih memperluas jangkauan dakwah ke seluruh penjuru Belanda, tidak hanya di masjid-masjid saja.

Demikian pula dakwah melalui facebook pun bisa dijumpai, dan bisa di–follow untuk mendapatkan ilmu yang bermanfaat. Di antaranya:

    Suhayb Salam: (https://www.facebook.com/suhayb.salam.9)
    Abderrahman aboe Jouwairiah: (https://www.facebook.com/Abderrahman-Aboe-jouwairiah-1465333780428160/timeline/)
    Fadjr Ahmed Salam: (https://www.facebook.com/fadjr.ahmedsalam)
    Stichting alFitrah: (https://www.facebook.com/StichtingalFitrahNL)
    IVOE: (https://www.facebook.com/Instituut-voor-Opvoeding-Educatie-375716429135397/timeline/)
    Al-Yaqeen: (https://www.facebook.com/alyaqeenweb)
    SadaqaTV: (https://www.facebook.com/SadaqaTv)
    SMJ: (https://www.facebook.com/MoslimJongeren)

Dauroh Musiman di Belanda

Di musim dingin, beberapa masjid menyelenggarakan dauroh musim dingin, seperti di Masjid As-Soennah Den Haag, Masjid Assunnah Tilburg, Masjid Al-Furqaan Eindhoven, Masjid Al-Fitrah Utrecht, Masjid Imaam Maalik Utrecht, dan Masjid Tawheed Amsterdam.

Di musim panas di Belanda biasanya mengadakan “zomerschool” (summer school). Seperti dauroh menghafal Al-Qur’an selama sebulan yang diadakan di Masjid Al-Furqaan Eindhoven dan Masjid As-Soennah Den Haag. Intinya, di setiap liburan sekolah pasti ada dauroh dan bisa dilihat di situs–situs masjid yang disebutkan untuk menambah informasi tentang hal ini.

Demikianlah gambaran sekilas tentang bagaimanakah dakwah sunnah yang mulai tumbuh suburu di negeri Belanda. Semoga Allah Ta’ala menunjukkan kita kepada jalan yang lurus, yaitu jalan yang telah ditempuh oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan para sahabatnya.

***

Selesai disusun menjelang ‘isya, Rotterdam, Sabtu 20 Dzulhijjah 1436

Yang senantiasa membutuhkan rahmat dan ampunan Rabb-nya,

Penulis: M. Saifudin Hakim

Artikel Muslim.or.id

Temuan Riset PPIM: Salafi Lebih Agresif Berdakwah melalui Radio

Hasil gambar untuk radio dakwahKemajuan teknologi dalam bidang komunikasi dan informasi yang sangat pesat saat ini telah mendorong terciptanya berbagai media baru yang belakangan dimanfaatkan untuk kepentingan dakwah. Satu contoh yang tampak jelas di depan mata adalah sosial media. Tapi kehadiran media baru itu tidak lantas mematikan media konvensional yang sudah lama dimanfaatkan sebagai sarana dakwah, khususnya radio.

Radio memang tidak seperti sosial media yang dinilai lebih interaktif dan cepat mengabarkan informasi terbaru yang dianggap penting. Tapi bagi segmen masyarakat tertentu, khususnya kalangan Muslim, radio masih dipandang sebagai media dakwah yang efektif, memiliki daya jangkau yang lumayan luas, dan yang terpenting murah.

Melihat masih pentingnya radio sebagai media dakwah, Pusat Pengkajian Islam dan Masyarakat (PPIM), satu lembaga penelitian otonom di bawah Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah, Jakarta, melakukan riset lapangan di sembilan kota tentang radio dakwah sejak akhir 2014 lalu. Sembilan kota itu adalah Bogor, Cirebon, Tasikmalaya, Solo, Yogyakarta, Banjarmasin, Makkasar, Batam, dan Mataram.

Meski hasil riset itu belum resmi dirilis, Din Wahid, ketua tim riset, sudah memberikan informasi umum awal tentang hasil riset itu dalam satu kesempatan wawancara. Peraih gelar doktoral dari Utrecht University itu mengatakan sebagian besar kelompok Muslim sudah memilik radio dakwah (umumnya radio komunitas). Cuma satu kelompok Muslim yang belum ditemukan memiliki radio dakwah, yaitu Ahmadiyah.

Dari sisi konten, radio dakwah lebih mengandalkan program seperti ceramah dan pembacaan al-Quran (hasil rekaman audio qori/pembaca al-Quran ternama) sebagai mata acara utamanya. Lantuan musik, biasanya berupa qasidah, sebagai mata acara tersendiri menjadi pembeda mana radio dakwah yang dikelola kelompok Muslim yang moderat dengan kelompok yang konservatif.

Dari konten tersebut, mudah diketahui bahwa program-program yang disiarkan radio dakwah umumnya adalah rekaman. Porsi untuk program yang disiarkan secara live hanya kiasaran 20 sampai 30 persen. Program yang disiarkan secara live biasanya adalah program ceramah.

Peneliti dengan minat Pemikiran Modern dalam Islam dan Gerakan Islam Kontemporer itu mengakui ada kontentasi antar kelompok Muslim di ruang udara yang tak terelakkan. Pendirian radio dakwah milik satu kelompok Muslim tidak hanya dimaksudkan untuk menyiarkan pandangan keislaman versinya sendiri, tapi juga untuk melindungi umatnya dari pandangan keislaman yang berbeda, bahkan berseberangan, yang disiarkan melalui radio juga.

Berikut petikan lengkap wawancara Din Wahid kepada Redaksi Madina Online Irwan Amrizal terkait temuan riset PPIM tentang radio dakwah. Wawancara dilakukan di kantornya di gedung PPIM lantai 2, pada Senin (25/5) lalu.

Apa yang menarik dari radio dakwah sebagai objek riset?

Untuk berdakwah itu kan banyak caranya. Salah satunya adalah berdakwah melalui radio. Kalau kita lihat sejarah dakwah melalui radio itu sebenarnya sudah dilakukan sejak tahun 80-an dan 90-an. Pada saat itu ada nama Ustad Kosim Nurseha dan Kiai Zainudin MZ yang berdakwah melalui radio. Belakangan kita melihat ada fenomena menarik munculnya radio dakwah. Radio yang mengkhususkan kepada dakwah atau radio yang porsi dakwahnya lebih banyak ketimbang yang lain.

Perlu dibedakan antara dakwah di radio dan radio dakwah.  Dakwah di radio pada zaman itu sudah dilakukan, misalnya, di RRI (Radio Republik Indonesia; red). Bahkan hampir semua radio pada masa itu ada program dakwahnya. Itu sebagai cara untuk meraih pasar.

Sementara radio dakwah itu adalah radio yang isinya murni dakwah. Radio ini secara umum dikelola kelompok-kelompok Muslim. Yang menonjol dan relatif kuat adalah radio dakwah milik Salafi. Bahkan belakangan ini hampir semua pesantren Salafi mendirikan radio dakwah, selain Radio Rodja yang sudah terkenal.

Ada alasan mengapa kelompok Salafi menggunakan radio sebagai media dakwah mereka?

Menyebarkan dakwah melalui radio itu dianggap lebih gampang. Saya kutipkan pernyataan salah satu ustad Salafi di Batam tentang mengapa mereka berdakwah melalui radio saat saya mewawancarainya. Katanya, “Berdakwah melalui radio itu paling murah. Masuk hotel tanpa bayar dan tanpa mengetuk pintu. Masuk ke rumah-rumah tanpa harus mengucapkan salam. Masuk ke mobil-mobil juga tidak bayar.”

Selain itu, berdakwah di radio bisa menyasar pendengar yang lebih luas. Berdakwah di radio bisa menyasar orang yang sedang menyetir mobil atau ibu-ibu yang sedang masak di rumah. Kalau berdakwah melalui televisi, si audiens kan harus fokus pada tayangan yang disajikan.

Kelompok Salafi juga dikenal kuat dengan dakwah literasinya. Mereka membuat banyak laman dan dikunjungi nitezen yang tidak sedikit. Dari dua medium ini, anda melihat lebih massif yang mana?

Bicara massif, jelas yang literasi. Selain membuat website, mereka juga membuat banyak bahan bacaan cetak. Tapi berdakwah melalui radio itu bisa menjangkau wilayah-wilayah yang tidak bisa disambangi oleh ustad dan ustadzah Salafi. Kalaupun di daerah itu tidak ada jaringan internet, radio mereka bisa menjangkau daerah itu karena menggunakan frekuensi publik. Jadi, kata orang Salafi sendiri, kesibukan mereka dan keterbatasan waktu mereka yang mendorong mereka untuk mendirikan radio dakwah.

Selain alasan murah dan bisa menyapa tanpa batas, adakah alasan lain mengapa kelompok Salafi mendirikan radio dakwah?

Yang kami temukan cuma dua alasan itu. Tapi bagaimana pun berdirinya radio dakwah itu adalah bagian dari gerakan sosial-keagamaan yang nuansanya terlihat berbeda dari kelompok yang lain.

Ada pandangan yang menyatakan mengapa kelompok Salafi menggunakan radio sebagai media dakwahnya karena itu sebagai “pelarian” mereka akibat tidak terlalu diterima di ruang non-virtual. Terkait pandangan ini, apa komentar anda?

Sekarang semakin banyak yang tertarik dengan Salafi, terutama anak-anak muda Muhammadiyah dan Persis. Mereka tertarik karena ada kesamaan spirit, yaitu al-ruju ilal Quran wal Hadis (kembali ke al-Quran dan Hadis). Bedanya, bila Muhammadiyah dan Persis masih memberikan ruang pada rasio, sementara Salafi tidak memberi ruang pada rasio.

Di pengajian Salafi, kita bisa melihat bagaimana mereka sangat rajin menginformasikan hal-hal yang mereka anggap penting untuk diketahui jamaahnya. Mobilisasi informasi di kalangan mereka cukup massif. Karena itu, jika karena alasan temu darat tidak diterima lalu mereka mendirikan radio, saya kira itu tidak tepat. Justru dakwah di ruang virtual seperti radio itu lebih terbuka karena bisa didengar oleh banyak orang ketimbang pengajian di sebuah masjid.

Dengan kata lain, dengan berdakwah melalui radio kelompok Salafi justru ingin menyapa pendengar yang lebih luas ya…

Iya, dan itu berbahaya bagi kelompok lain. Karena berpotensi mengambil jamaah dari kelompok yang lain.

Selain itu, sebenarnya gaya berdakwah kelompok Salafi sekarang tidak se-provokatif dulu. Mereka sekarang memilih untuk menggunakan yang bahasa tidak mengundang reaksi negatif dari kelompok yang mereka serang. Mereka, misalnya, sudah menghindari pengunaan kata bid’ah. Mengatakan bid’ah untuk satu ritual atau amalan yang dilakukan kelompok tertentu, terutama bagi NU, itu kan bisa memerahkan telinga.

Untuk menghindari pengunaan kata bid’ah, mereka mengunakan frasa “amalan yang tidak dicontohkan pada masa Nabi Muhammad dan para sahabat”. Jadi, terdengar lebih wise ketimbang mengatakan bid’ah. Esensinya sama, tapi cara menyampaikannya berbeda.

Ada preseden tertentu yang membuat kelompok Salafi menjadi lebih wise dalam berdakwah?

Banyak. Di berbagai daerah kita mendengar terjadi konflik antara kelompok Salafi dengan kelompok lain. Hampir semua wilayah yang di sana muncul gerakan Salafi lalu model dakwah mereka provokatif seperti itu menyebabkan ketegangan secara horizontal dengan sesama kelompok Muslim.

Dalam riset ini apakah ditemukan ada radio dakwah yang didirikan oleh kelompok selain Salafi?

Ada. Bahkan ada kelompok yang sengaja mendirikan radio dakwah untuk menandingi radio dakwah milik Salafi. Di Cirebon, misalnya, ada dua radio yang bernama Radioku dan Radio al-Kisah. Dua radio ini didirikan oleh komunitas NU untuk menandingi radio milik Salafi.

Di daerah lain juga ada radio dakwah milik HTI, FPI, Syiah, dan Muhammadiyah. Di Solo dulu ada radio milik FPI. Tapi saat kami turun ke lapangan, tenyata radio itu sudah tidak ada lagi. Di Banjarmasin, ada radio milik Muhammadiyah yang sangat kuat. Tapi di Martapura, tidak jauh dari Banjarmasin, ada radio milik Salafi. Di Solo dan di Jogjakarta juga ada radio milik MTA (Majelis Tafsir Al-Qur’an; red).

Dengan kata lain, munculnya berbagai radio dakwah itu tidak lepas dari respon sebagian umat terhadap radio yang didirikan oleh kelompok dakwah transnasional, khususnya Salafi. Jadi, ada kontentasi juga di ruang udara.

Adakah perbedaan antara radio dakwah yang dimiliki berbagai kelompok Muslim dari sisi konten?

Radio milik Salafi itu cenderung monoton. Isinya umumnya ceramah dan tartil al-Quran. Kalau pun ada program yang interaktif dan live, di Radio Rodja, terutama, adalah program “Doa by Request”. Pada program itu pendengar diajak untuk meminta informasi tentang bacaan doa tertentu kepada ustad yang menjadi penyiarnya. Sementara radio dakwah yang dikelola non-Salafi, terutama NU  itu relatif lebih berwarna. Selain ceramah dan tartil al-Quran, juga ada program musik, terutama qasidah.

Meski dari sisi konten terkesan monoton, tapi radio kelompok Salafi, terutama Radio Rodja, diduga banyak pendengarnya dibandingkan radio milik kelompok Muslim lainnya. Apa temuan riset ini mengafirmasi itu?

Kelompok Salafi itu lebih agresif dan progresif dalam upaya dakwahnya. Radio Rodja itu tidak hanya bisa didengar melalui radio dari frekuensi AM, tapi juga melalui streaming. Jadi, meskipun saya, misalnya, sedang di luar negeri, saya bisa mengakses radio itu selama ada jaringan internet. Belakangan model radio dakwah secara streaming ini diikuti kelompok yang lain. Selain itu, di website Radio Rodja ada materi-materi audio yang bisa diunduh untuk didengarkan secara offline melalui program Winamp dan lainnya.

Radio Rodja juga ditemukan di berbagai daerah. Seperti franchise, radio-radio Salafi yang didirikan di sejumlah daerah menggunakan nama yang sama, yaitu Rodja. Beberapa kontennya diambil dari Rodja pusat di Cileungsi. Meski radio milik Salafi itu banyak, tapi Radio Rodja itu adalah barometer radio Salafi di Indonesia. Itu karena di Radio Rodja ada banyak ustad Salafi yang mengisi, didukung SDM yang mumpuni, dan daya jangkau pendengar yang luas.

Yang menarik, saya menemukan fakta ada satu pesawat radio yang dibuat hanya untuk bisa menangkap satu kanal, yaitu Radio Rodja.

Mereka berpikir sampai sejauh itu ya…

Saya tidak pernah mengalami, tapi satu saat seorang teman bercerita bahwa ada kerabatnya yang membeli pesawat radio itu. Kemudian pesawat itu diberikan kepada teman saya itu. Saat memberikan pesawat radio itu, kerabatnya berpesan agar tidak membuang pesawat radio itu jika tidak suka. Katanya lebih baik diberikan ke orang lain ketimbang dibuang. Jadi, mereka sudah berpikir sejauh itu.

Dan jangan salah sangka. Segmen pendengar radio dakwah mereka bukan hanya kalangan mereka saja. Di Cirebon saya kenal dengan seorang dosen IAIN Cirebon. Dia bukan seorang Salafi, tapi dalam perjalanan pulang dia mendengarkan radio itu. Dia beralasan daripada mendengar siaran radio yang tidak jelas, mending mendengarkan bacaan al-Quran yang disiarkan radio Salafi.

Sampai mereka membuat pesawat radio sendiri, menurut anda itu apa maknanya?

Itu menandakan mereka betul-betul literate dengan teknologi. Perlu diingat, banyak dari mereka dengan latar pendidikan di bidang teknik. Lalu, itu menunjukkan upaya serius mereka dalam berdakwah. Menurut saya, apa yang mereka lakukan itu luar biasa. Dan saya kira belum ada kelompok Muslim lain yang memikirkan hal itu.

Tadi anda menyebut radio dakwah milik MTA. Nama MTA belum familiar terdengar. Bisa digambarkan corak pandangan organisasi ini?

MTA itu sama seperti Salafi, tapi dalam beberapa hal mereka jauh lebih ekslusif. Di Jogja dan Solo radio MTA cukup luas jangkauannya. Yang menarik, di Jogjakarta muncul radio komunitas tandingan yang didirikan pengurus NU setempat untuk merespon radio ini. Kalau tidak salah ingat, ada 5 radio komunitas milik NU yang didirikan untuk menandingi MTA.

Kabarnya ada satu radio milik kelompok Salafi di Batam, yaitu Hang FM, yang dirusak oleh FPI dan NU karena muatan dakwahnya. Bisa dijelaskan apa yang terjadi?

Intinya, FPI dan NU merasa muatan dakwah di Radio Hang FM menyerang ajaran dua kelompok itu, terutama soal amalan-amalan yang disebut bid’ah. Karena FPI dan NU tidak terima, maka terjadilah aksi pengrusakan di kantor Radio Hang FM. Peristiwa itu tentu disayangkan.

Kemunculan radio dakwah Salafi itu biasanya belakangan. Awalnya, di satu daerah, misalnya, mereka muncul lalu mereka berkembang. Setelah itu mereka membuat pengajian, mendirikan pesantren dan madrasah. Baru setelah itu radio. Artinya, radio itu didirikan belakangan. Nah, dalam kasus di Batam itu situasinya berbeda. Radio Hang itu muncul lebih dahulu, komunitasnya baru terbentuk belakangan.

Di daerah yang lain, resistensi terhadap kelompok Salafi sudah terjadi ketika mereka masih komunitas kecil dan belum mendirikan radio dakwah. Ketika kelompok Salafi di satu daerah sudah mapan dan mereka mendirikan radio dakwah, warga sekitar tidak terkejut. Terlebih karena ketegangan antara mereka dengan kelompok lain di awal kehadiran mereka, mereka belajar untuk berdakwah dengan lebih lembut.

Selain kasus ini, apakah ditemukan juga kasus serupa dari riset itu?

Kalau hanya karena siaran radio, selain kasus Radio Hang tidak ada.

Melihat maraknya radio dakwah milik kelompok Salafi di berbagai daerah dalam temuan riset ini sepertinya bisa dimengerti bila sikap keberislaman di Indonesia belakangan ini terkesan yang konservatif. Terkait hal ini, apa komentar anda?

Salah satu faktornya memang karena kehadiran radio dakwah seperti itu. Tapi seperti yang saya katakan sebelumnya, muncul kontestasi di ruang udara. Di Cirebon ada dua radio Salafi, yaitu Ihya al-Sunnah dan As-Sunnah direspon kalangan NU dengan mendirikan radio dakwah untuk meng-counter wacana yang disebarkan radio Salafi itu.

Tujuan kalangan NU untuk mendirikan radio tandingan itu tentu saja untuk membentengi akidah mereka, melindungi jamaah mereka, dan menjaga tradisi mereka. Jangan sampai tahlilan berkurang, bahkan hilang. Itu artinya, ada adu argumentasi di udara. Dan ini pada satu titik menunjukkan bahwa otoritas keagamaan sudah terdesiminasi.

Kabar baiknya, meski sebagian kelompok Muslim terancam dengan kehadiran radio dakwah kelompok Salafi tapi itu tidak disikapi dengan cara-cara kekerasan seperti yang dialami Radio Hang di Batam ya..

Ya, kita harus bersikap cerdas merespon hal ini. Bila ada kelompok-kelompok lain yang terancam dengan kehadiran radio Salafi, ya tandingi dengan membuat radio dakwah juga. Yang perlu dipikirkan kemudian bagaimana membuat muatannya yang lebih bagus dan atraktif dari radio Salafi. Setelah itu berkontestasi. Saya kira ini cara yang cerdas dan elegan. []

Jangan Sampai Susah Payah Beramal Tetapi Sia-Sia

Hasil gambar untuk lelah beribadah tidak diterimaWahai saudara/i ku janganlah melelahkan dirimu dahulu dengan banyak melakukan amal perbuatan, karena banyak sekali orang yang melakukan perbuatan, sedangkan amal tersebut sama sekali tidak memberikan apa-apa kecuali kelelahan di dunia dan dan siksa di akhirat. Oleh karena itu sebelum melangkah untuk melakukan amal perbuatan, kita harus mengetahui syarat diterimanya amal tersebut, dengan harapan amal kita bisa diterima di sisi Allah subhanahu wa ta’ala. Di dalam masalah ini ada tiga syarat penting lagi agung yang perlu diketahui oleh setiap hamba yang beramal, jika tidak demikian, maka amal terebut tidak akan diterima.

Pertama, Iman Kepada Allah dengan Men-tauhid-Nya

إِنَّ الَّذِينَ ءَامَنُواْ وَعَمِلُواْ الصَّـلِحَاتِ كَانَتْ لَهُمْ جَنَّـتُ الْفِرْدَوْسِ نُزُلاً

“Sesungguhnya orang-orang yang beriman dan beramal sholeh, bagi mereka adalah surga Firdaus menjadi tempat tinggal.”(QS. Al- Kahfi:107)

Tempat masuknya orang-orang kafir adalah neraka jahannam, sedangkan surga firdaus bagi mereka orang-orang yang mukmin, namun ada 2 syarat seseorang bisa memasuki surga firdaus tersebut yaitu:

1. Iman

Aqidah Islam dasarnya adalah iman kepada Allah, iman kepada para malaikat-Nya, iman kepada kitab-kitab-Nya, iman kepada para rasul-Nya, iman kepada hari akhir, dan iman kepada takdir yang baik dan yang buruk. Dasar-dasar ini telah ditunjukkan oleh kitabullah dan sunnah rasul-Nya

Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam juga bersabda dalam sunnahnya sebagai jawaban terhadap pertanyaan malaikat Jibril ketika bertanya tentang iman:

“Iman adalah engkau mengimani Allah, para malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya, para rasul-Nya, hari kemudian, dan mengimani takdir yang baik dan yang buruk.” (HR Muslim)

2. Amal Shalih

Yaitu mencakup ikhlas karena Allah dan sesuai dengan yang diperintahkan dalam syariat Allah.

…إِنَّا أَنْزَلْنَا إِلَيْكَ الْكِتَابَ بِالْحَقِّ فَاعْبُدِ اللَّهَ مُخْلِصًا لَهُ الدِّينَ (2) أَلَا لِلَّهِ الدِّينُ الْخَالِصُ

“Sesungguhnya Kami menurunkan kepadamu Kitab (Al-Qur’an) dengan (membawa) kebenaran. Maka sembahlah Allah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya. Ingatlah, hanya kepunyaan Allah-lah agamya yang bersih (dari syirik).” (Az-Zumar: 2-3)

الَّذِي خَلَقَ سَبْعَ سَمَوَاتٍ طِبَاقًا مَا تَرَى فِي خَلْقِ الرَّحْمَنِ مِنْ تَفَاوُتٍ فَارْجِعِ الْبَصَرَ هَلْ تَرَى مِنْ فُطُورٍ

“Yang menjadikan mati dan hidup, supaya Dia menguji kalian, siapa di antara kalian yang lebih baik amalnya.” (All-Mulk : 2)

Al-Fudhail berkata: “Maksud yang lebih baik amalnya dalam ayat ini adalah yang paling ikhlas dan paling benar.” (Tafsir al-Baghawi, 8:176)

Kedua, Ikhlas karena Allah

Mungkin kita sudah bosan mendengar kata ini, seringkali kita dengar di ceramah-ceramah, namun kita tidak mengetahui makna dari ikhlas tersebut. Ikhlas adalah membersihkan segala kotoran dan sesembahan-sesembahan selain Allah dalam beribadah kepada-Nya. Yaitu beramal karena Allah tanpa berbuat riya’ dan juga tidak sum’ah.

Orang-orang bertanya: “Wahai Abu Ali, apakah amal yang paling ikhlas dan paling benar itu?”.

Dia menjawab, “Sesungguhnya jika amal itu ikhlas namun tidak benar, maka ia tidak diterima. Jika amal itu benar namun tidak ikhlas maka ia tidak akan diterima, hingga amal itu ikhlas dan benar. Yang ikhlas ialah yang dikerjakan karena Allah, dan yang benar ialah yang dikerjakan menurut As-Sunnah.” Kemudian ia membaca ayat:

فَمَنْ كَانَ يَرْجُوا لِقَاءَ رَبِّهِ فَلْيَعْمَلْ عَمَلًا صَالِحًا وَلَا يُشْرِكْ بِعِبَادَةِ رَبِّهِ أَحَدًا

“Barangsiapa mengharap perjumpaan dengan Rabbnya, maka hendaklah ia mengerjakan amal yang shalih dan janganlah ia mempersekutukan seorang pun dalam beribadah kepada Rabbnya.” (Al-Kahfi :110)

Allah juga berfirman:

وَمَنْ أَحْسَنُ دِينًا مِمَّنْ أَسْلَمَ وَجْهَهُ لِلَّهِ وَهُوَ مُحْسِنٌ

“Artinya : Dan sipakah yang lebih baik agamanya daripada orang yang ikhlas menyerahkan dirinya kepada Allah, sedang dia pun mengerjakan kebaikan?” (An-Nisa’ :125)

Menyerahkan diri kepada Allah artinya memurnikan tujuan dan amal karena Allah. Sedangkan mengerjakan kebaikan ialah mengikuti Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan sunnah beliau.

Allah juga berfirman.

وَقَدِمْنَا إِلَى مَا عَمِلُوا مِنْ عَمَلٍ فَجَعَلْنَاهُ هَبَاءً مَنْثُورًا

” Dan Kami hadapi segala amal yang mereka kerjakan, lalu Kami jadikan amal itu (bagaikan) debu yang beterbangan”. (Al-Furqan : 23)

Amal yang seperti debu itu adalah amal-amal yang dilandaskan bukan kepada As-Sunnah atau amal yang dimaksudkan untuk selain Allah. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah bersabda kepada Sa’ad bin Abi Waqqash, “Sesungguhnya sekali-kali engkau tidak akan dibiarkan, hingga engkau mengerjakan suatau amal untuk mencari wajah Allah, melainkan engkau telah menambah kebaikan, derajat dan ketinggian karenanya.”

Ketiga, Sesuai dengan Ajaran Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam

Dasar dari setiap amal adalah ikhlas dalam beramal dan jujur dalam batinnya sehingga tidak terbesit di dalam pikirannya hal-hal yang merusak amal tersebut, karena segala saesuatu hal yang kita kerjakan harus dilandasi perkara ikhlas ini. Namun, apakah hanya dengan ikhlas saja, amal kita sudah diterima oleh Allah?

Adapun pilar yang ketiga ini yaitu harus sesuai dengan tuntunan yang diajarkan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa salla. Mayoritas di kalangan masyarakat kita, sanak saudara kita, bahkan orang tua kita melakukan amalan-amalan yang tidak dicontohkan oleh Rasululullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, dan parahnya lagi bisa terjerumus dalam keyirikan. Adapun hadits yang termahsyur yang menjelaskan hal ini:

Dari Ummul Mu’minin, Ummu Abdillah, Aisyah radhiallahuanha dia berkata : Rasulullah shallallahu’alaihi wasallam bersabda:

مَنْ أَحْدَثَ فِي أَمْرِنَا هَذَا مَا لَيْسَ مِنْهُ فَهُوَ رَدٌّ

“Siapa yang mengada-ada dalam urusan (agama) kami ini yang bukan (berasal) darinya), maka dia tertolak.” (HR. Bukhari dan Muslim), dalam riwayat Muslim disebutkan:

مَنْ عَمِلَ عَمَلاً لَيْسَ عَلَيْهِ أَمْرُنَا فَهُوَ رَدٌّ

“Siapa yang melakukan suatu perbuatan (ibadah) yang bukan urusan (agama) kami, maka dia tertolak.”

Setiap perbuatan ibadah yang tidak bersandar pada dalil yang syar’i yaitu yang bersumber dari Al-Qur’an dan As Sunnah maka tertolaklah amalannya. Oleh karena itu amalan yang tidak dicontohkan oleh Rasulullah shallallaahu ‘alahi wa sallam merupakan amalan yang sangat buruk dan merupakan salah satu dosa besar.

Wahai saudariku, agama Islam adalah agama yang berdasarkan ittiba’ (mengikuti berdasarkan dalil) bukan ibtida’ (mengada-ada suatu amal tanpa dalil) dan Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam telah berusaha menjaganya dari sikap yang berlebih-lebihan dan mengada-ada. Dan Agama islam merupakan agama yang sempurna tidak ada kurangnya. Oleh karena itu, jangan ditambah-ditambahi ataupun dikurang-kurangi.

Itulah sekelumit tentang 3 syarat diterimanya suatu amalan. Apabila salah satunya tidak dilaksanakan, maka amalannya tertolak. Walaupun hati kita sudah ikhlas dalam mengerjakan suatu amalan, namun tidak ada dalil yang menjelaskan amalan tersebut atau tidak dicontohkan oleh Rasulullah maka amalannya menjadi tertolak. Begitupula sebaliknya, apabila kita sudah bersesuaian dengan tuntunan Rasulullah shallallaahu ‘alahi wa sallam, namun hati kita tidak ikhlas karena Allah ta’ala malah ditujukan kepada selain-Nya maka amalannya pun juga tertolak.

Wallahu a’lam

***
Muslimah.or.id
Penulis: Ummu Farroos Anita Rahma Wati
Murajaah: Ust Ammi Nur Baits

Maraji’:

    Ikhlas Syarat Diterimanya Ibadah,Husain bin ‘Audah al-‘Awayisyah,Pustaka Ibnu Katsir.
    Khudz ‘Aqiidataka Minal Kitab wa Sunnah As-Shohiihah, Syaikh Muhammad Jamil Zainu
    Syarh Hadits Arba’in An-Nawawi, Imam An-Nawawi dalam program salafidb.com, download program di
    Tafsir Al Qur’an Al-‘Adzim: Surat Al- Kahfi, Shaikh Muhammad Shalih Al-‘Utsaimin, Dar ‘Umar bin Khattab