Monday, April 23, 2018

KEWAJIBAN ITTIBA’ KEPADA RASULULLAH SHALLALLAHU ‘ALAIHI WA SALLAM (2)


Oleh
Hasil gambar untuk padang pasir terindahAl-Ustadz Yazid bin Abdul Qadir Jawas

7. Allah Azza wa Jalla berfirman :

وَمَن يُشَاقِقِ الرَّسُولَ مِن بَعْدِ مَا تَبَيَّنَ لَهُ الْهُدَىٰ وَيَتَّبِعْ غَيْرَ سَبِيلِ الْمُؤْمِنِينَ نُوَلِّهِ مَا تَوَلَّىٰ وَنُصْلِهِ جَهَنَّمَ ۖ وَسَاءَتْ مَصِيرًا

Dan barangsiapa yang menentang Rasul sesudah jelas kebenaran baginya, dan mengikuti jalan yang bukan jalan orang-orang mu’min, Kami biarkan ia leluasa terhadap kesesatan yang telah dikuasainya itu, dan Kami masukkan ia ke dalam Jahannam, dan Jahannam itu seburuk-buruk tempat kembali. [an Nisaa’: 115].

Ayat-ayat tersebut menjelaskan tentang wajibnya bagi setiap kita untuk ittiba’ kepada Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam, tidak hanya dalam masalah ibadah, namun juga wajib berittiba’ dalam masalah-masalah yang lain. Dengan ittiba’ ini, kita akan mendapatkan kemuliaan, kebahagiaan dan kemenangan.

Para sahabat, mereka mendapatkan kemuliaan, kemenangan, izzah, dengan sebab mereka ittiba’ kepada Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Ketika mereka tidak ittiba’ kepada Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam, sekali saja, maka mereka mendapatkan kekalahan, sebagaimana yang masyhur kita ketahui tentang kisah Perang Uhud. Pada Perang Uhud tersebut para sahabat mendapatkan kekalahan, karena pasukan pemanah tidak taat kepada Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam, dan itu disebabkan karena perbuatan mereka.

Allah berfirman:

أَوَلَمَّا أَصَابَتْكُم مُّصِيبَةٌ قَدْ أَصَبْتُم مِّثْلَيْهَا قُلْتُمْ أَنَّىٰ هَٰذَا ۖ قُلْ هُوَ مِنْ عِندِ أَنفُسِكُمْ ۗ إِنَّ اللَّهَ عَلَىٰ كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ

Dan Mengapa ketika kamu ditimpa musibah (pada peperangan Uhud), padahal kamu telah menimpakan kekalahan dua kali lipat kepada musuh-musuhmu (pada peperangan Badar), kamu berkata: “Darimana datangnya (kekalahan) ini?” Katakanlah: “Itu dari (kesalahan) dirimu sendiri”. Sesungguhnya Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu. [Ali Imran : 165].

Yang lebih menyedihkan lagi, umat Islam saat ini sudah sangat jauh dari ittiba’ kepada Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Bahkan mereka mengerjakan syirik dengan bangga, mereka melakukan perbuatan bid’ah, melakukan kemaksiatan dan lainnya, yang menjadi sebab kehinaan bagi mereka. Maka tarbiyah (pendidikan) yang harus diutamakan kepada ummat ini, yaitu harus mengikuti perkataan Allah dan perkataan RasulNya, sebagaimana yang dilakukan oleh para sahabat.

Sebagai contoh, Abu Bakar ash Shiddiq, seorang sahabat yang dijamin oleh Allah masuk surga, mengatakan :

لَسْتُ تَارِكاً شَيْئاً كَانَ رَسُوْلُ اللهِ يَعْمَلُ بِهِ إِلاَّ عَمِلْتُ بِهِ ، فَإِنِّيْ أَخْشَى إِنْ تَرَكْتُ شَيْئاً مِنْ أَمْرِهِ أَنْ أَزِيْغَ

Aku tidak akan meninggalkan sesuatu yang Rasulullah lakukan kecuali untuk aku amalkan, karena aku khawatir, jika aku tinggalkan perintah Rasulullah, maka aku akan sesat. [HR Bukhari, no. 3093, dan diriwayatkan oleh Ibnu Baththah dalam kitabnya, al Ibanah, I/245-246 no. 77]

Imam Abu Abdillah bin Ubaidillah bin Muhammad bin Baththah yang wafat pada tahun 387H dalam kitabnya al Ibanah pada juz pertama, berkata: “Wahai saudara-saudaraku, Abu Bakar ash Shiddiq, ash shiddiqul akbar, beliau takut apabila kesesatan menimpa dirinya. Kalau dia menyalahi sesuatu dari salah satu saja dari perintah Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam, bagaimana nanti akan ada satu zaman, yang orang yang ada di zaman tersebut, mereka memperolok-olok Nabi mereka, mereka memperolok-olok perintah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam, dan mereka berbangga menyalahi Sunnah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam, dan kita mohon kepada Allah dari ketergelinciran, dan kita mohon keselamatan dari amal yang jelek”. [al Ibaanah, I/246].

Kita sekarang berada pada abad ke-15 Hijriah. Ibnu Baththah yang hidup pada abad ke-4 Hijriah telah mengingatkan, bahwa nanti akan ada di tengah ummat Islam yang mencela Sunnah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam, dan hal ini telah terbukti pada zaman sekarang ini. Dan yang membenci serta mencela Sunnah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam, bukan saja dari golongan orang-orang yang awam, tetapi juga para ustadz, da’i dan kyai. Jika mereka sudah mengucapkan dua kalimat syahadat, maka mereka wajib memenuhi konsekuensi dari kalimat tersebut, yaitu mereka wajib ittiba’ kepada Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Tetapi mengapa mereka masih melecehkan dan meninggalkan sunnah-sunnah Nabi yang mulia, dengan mencela dan menghina sebagian dari penuntut ilmu yang mengamalkan sunnah-sunnah, baik dalam tulisan maupun ceramah-ceramah mereka? Hal ini akan menyebabkan kekufuran, kemunafikan, sebagaimana yang termaktub dalam surat an Nuur ayat 63.

Menyalahi Sunnah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam akan menyebabkan kesesatan, sakitnya hati, bahkan matinya hati seseorang, dan akan membawa pada kebinasaan, kehinaan, adzab yang pedih.

Orang yang sibuk dengan perbuatan sia-sia, tidak ada manfaatnya dan berbuat bid’ah, tidak mengikuti Sunnah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam, maka pada hakikatnya mereka adalah orang-orang yang terhina.

Syaikhul Islam, Ibnu Taimiyah menjelaskan tentang orang-orang yang membenci dan tidak mau mengikuti Sunnah, tidak menyampaikan sabda-sabda Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam; di antara mereka ada yang sebelumnya telah hafal al Qur`an kemudian lupa, karena yang disampaikan bukan perkataan Allah dan perkataan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam, tetapi menurut pendapat fulan, sibuk dengan pendapat fulan. Kata Syaikhul Islam,”Wahai saudaraku, berhati-hatilah jika engkau membenci sesuatu yang datang dari Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam atau engkau menolak Sunnah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam karena mengikuti hawa nafsumu, atau membela madzhabmu, atau membela syaikhmu, membela gurumu, atau kalian menolak Sunnah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam karena engkau sibuk dengan dunia, mementingkan dunia, mengikuti syahwat. Sesungguhnya Allah tidak mewajibkan ketaatan kepada seorang pun, melainkan taat kepada Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam, dan kita wajib berpegang dengan apa yang dibawa oleh Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Kalau seandainya seorang hamba menyalahi seluruh makhluk dan mengikuti Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam, maka Allah tidak akan bertanya kenapa engkau menyalahi seluruh makhluk. Justru yang akan ditanya, kenapa seseorang tidak mengikuti Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam, tapi malah mengikuti madzhab, syaikh, guru (kyai). Jika ia mengikuti Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam, justru ini yang akan membawa pada keselamatan dunia dan akhirat. Dan sebaliknya, jika dia menyalahi Sunnah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam, maka dia akan celaka dan binasa di dunia dan di akhirat. Ketahuilah, hendaknya engkau dengar dan taat, ikuti dan jangan berbuat bid’ah, nanti engkau akan tersesat, tidak akan barokah hidup dan amalmu, dan tidak ada kebaikan dari amal yang terputus, dan tidak ada kebaikan bagi orang yang melakukannya.” [Majmu’ Fatawa, XVI/527-529]

Di dalam ayat-ayat al Qur`an dan hadits-hadits Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam yang shahih disebutkan tentang amal-amal yang diterima Allah dan ditolak. Supaya amal kita diterima Allah, maka harus memenuhi dua syarat. Pertama, ikhlas karena Allah. Dan kedua, ittiba’ kepada Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Jika salah satu di antara keduanya tidak dipenuhi, maka tidak akan diterima amal tersebut oleh Allah. Orang ikhlas tetapi tidak ittiba’ kepada Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam , atau sebaliknya dia berittiba’ kepada Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam namun tidak ikhlas dalam beramal, maka tidak akan diterima amal ibadahnya.

Kita wajib taat dan ittiba’ kepada Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam, dan semua ummat Islam dijamin masuk surga, semuanya, dengan syarat mereka harus taat dan ittiba’ kepada Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :

كُلُّ أُمَّتِيْ يَدْخُلُوْنَ الْجَنَّةَ إِلاَّ مَنْ أَبَى ، قِيْلَ : وَمَنْ يَأْبَى يَا رَسُوْلَ اللهِ ؟ قَالَ : مَنْ أَطَاعَنِيْ دَخَلَ الْجَنَّةَ ، وَمَنْ عَصَانِيْ فَقَدْ أَبَى

Setiap ummatku akan masuk surga, kecuali yang enggan”. Para sahabat bertanya,”Siapa yang enggan, ya Rasulullah?” Rasulullah menjawab,”Barangsiapa yang taat kepadaku, maka dia masuk surga. Dan barangsiapa yang durhaka kepadaku, maka dialah yang enggan.” [HR Imam Bukhari no. 7280 dari sahabat Abu Hurairah Radhiyallahu ‘anhu].

Barangsiapa yang menghendaki dimasukkan ke dalam surga, maka wajib baginya untuk taat kepada Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam, mereka wajib ittiba’ kepada Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Tidak boleh membuat yang baru dalam Islam, karena Islam sudah sempurna. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam diutus kepada golongan jin dan manusia, agar mereka semua ittiba’ kepada Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Tidak ada aqidah, syariat dan hakikat, kecuali yang dibawa oleh Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam Tidak ada jalan yang selamat, kecuali jalan yang ditempuh oleh Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Seseorang tidak akan masuk ke surga dan mendapat keridhaan Allah, tidak mendapatkan kemuliaan, melainkan dengan ittiba’ kepada Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Hal itu sebagaimana yang dikatakan oleh Imam Ibnu Abil ’Izzi al Hanafi (wafat tahun 792H), beliau mengatakan: “Tidak ada jalan, kecuali jalan yang ditempuh oleh Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Tidak ada hakikat, kecuali hakikat yang dibawa oleh Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Tidak ada syariat, kecuali syariat yang dibawa oleh Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam.Tidak ada aqidah, kecuali aqidah yang dibawa oleh Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Seorang makhluk, setelah diutusnya Nabi Muhammad, mereka tidak akan mendapatkan keridhaan Allah, tidak akan sampai ke surga dan kemuliannya, melainkan dengan ittiba’ kepada Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam secara lahir dan batin. Barangsiapa yang tidak membenarkan apa yang diberitakan dan disampaikan oleh Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam, tidak berpegang dan tidak taat terhadap apa yang diperintahkan oleh Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam, baik dalam perkataan yang batin (yang ada dalam hati) maupun perkataan yang lahir (dengan lisan dan anggota tubuh), maka dia tidak termasuk orang yang beriman. Kalau dia tidak membenarkan apa yang disampaikan oleh Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam, tidak taat kepada Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam, tidak tunduk, tidak taslim hatinya, dan anggota tubuhnya tidak melaksanakan sesuai dengan ketentuan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam, maka dia bukan termasuk orang yang mukmin, apalagi dikatakan sebagai wali, meskipun dia terbang di udara atau berjalan di atas air”. [Syarah Aqidah Thahawiyah, hlm. 107, takhrij Syaikh Muhammad Nashiruddin al Albani].

Demikian ini adalah bantahan terhadap thariqah Shufiyah, yang mereka membuat syariat dan hakikat serta ma’rifat sendiri; sebab di antara yang merusak agama Islam ini adalah firqah-firqah yang sesat, yang disebutkan oleh Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam ada 72 golongan. Ummat Islam terpecah menjadi 73 golongan, satu golongan yang masuk surga dan 72 golongan masuk neraka. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

أَلاَ إِنَّ مَنْ قَبْلَكُمْ مِنْ أَهْلِ الْكِتَابِ اِفْتَرَقُوْا عَلَى ثِنْتَيْنِ وَسَبْعِيْنَ مِلَّةً، وَإِنَّ هَذِهِ الْمِلَّةَ سَتَفْتَرِقُ عَلَى ثَلاَثٍ وَسَبْعِيْنَ: ثِنْتَانِ وَسَبْعُوْنَ فِي النَّارِ، وَوَاحِدَةٌ فِي الْجَنَّةِ، وَهِيَ الْجَمَاعَةُ.

Ketahuilah, sesungguhnya orang-orang sebelum kamu dari Ahlul Kitab telah berpecah-belah menjadi tujuh puluh dua golongan. Dan sesungguhnya agama ini (Islam), akan berpecah-belah menjadi tujuh puluh tiga golongan, tujuh puluh dua golongan tempatnya di dalam Neraka dan hanya satu golongan di dalam Surga, yaitu al Jama’ah. [4]

Dalam riwayat lain disebutkan :

“…كُلُّهُمْ فِي النَّارِ إِلاَّ مِلَةً وَاحِدَةً: مَا أَنَا عَلَيْهِ وَأَصْحَابِيْ.”

Semua golongan tersebut tempatnya di Neraka, kecuali satu (yaitu) yang aku dan para sahabatku berjalan di atasnya.[5]

Dua firqah terbesar di dunia ini, di antara 72 golongan yang merusak tersebut adalah thariqah Shufiyah dan Syi’ah Rafidhah. Mereka merusak aqidah Islam, tauhid, syariat Islam. Mereka membuat cara-cara sendiri untuk sampai kepada Allah, padahal semua cara-cara yang mereka bikin tersebut, tidak akan dapat membuat mereka sampai kepada yang diinginkan, melainkan mereka wajib ittiba’ kepada Rasulullah n. Banyak sekali di antara kaum Muslimin yang mengadakan cara-cara baru berupa bid’ah-bid’ah yang dikerjakan kaum Muslimin, yang jumlahnya sangat banyak, bahkan mencapai angka ribuan sampai hari ini. dan bid’ah tersebut bukan berkurang, tetapi justru kian bertambah seiring dengan perjalanan waktu. Hal ini terus dilakukan oleh kaum Muslimin, serta sangat sedikit da’i yang mengingatkan bahaya ini; karena dakwah mereka juga tidak ittiba’ kepada Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Jika dilihat dari manhaj dakwah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam, maka banyak da’i yang tidak ittiba’ kepada Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam berdakwah. Mereka tidak memulai dakwahnya dengan tauhid. Jika mereka menyatakan ittiba’ kepada Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam, maka mereka harus memulai dakwahnya dengan tauhid, sedangkan banyak sekali da’i yang tidak memulai dakwahnya dengan tauhid. Dakwah tauhid ini harus terus diulang-ulang, supaya ummat ini ittiba’ kepada Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam dan mentauhidkan Allah. Mereka telah menyimpang dari manhaj para nabi dalam berdakwah di jalan Allah. Mereka juga tidak mengingatkan orang dari bahaya kesyirikan. Kesyirikan adalah sesuatu yang telah dianggap biasa di masyarakat, padahal kesyirikan adalah dosa besar yang paling besar, yang tidak akan diampuni oleh Allah.

Banyak khutbah Jum’at dan ceramah yang tidak mengingatkan terhadap pentingnya tauhid kepada Allah. Mereka justru banyak membahas masalah politik, yang terus diulang-ulang, yang tidak membawa manfaat bagi da’i itu sendiri dan tidak bermanfaat bagi ummat sama sekali, bahkan membawa mudharat bagi ummat ini. Seseorang yang telah menyalahi Sunnah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam, jelas dia telah membawa mudharat. Ummat dicekoki dengan masalah politik, yang ummat tidak tahu sama sekali. Mestinya da’i dan khatib memberikan ilmu yang bermanfaat, agar ummat dapat membawa pulang ilmu yang disampaikan dan mengamalkannya. Seringkali ummat dibangkitkan emosinya dengan menyampaikan masalah politik, agar mereka marah kepada penguasa, untuk memberontak kepada penguasa. Hal ini tidak ada manfaatnya sama sekali. Dan ini menyalahi Sunnah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Mereka harus introspeksi, menggunakan akalnya kembali, apakah mereka sudah ittiba’ kepada Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam ataukah belum?

Pembenahan ini harus dimulai dari para da’i, untuk ittiba’ dalam dakwah ini, jangan disibukkan dengan masalah-masalah politik, filsafat atau yang lainnya, yang tidak membawa manfaat. Hal ini berbahaya bagi ummat. Berikanlah ilmu kepada ummat agar mereka bisa beramal sesuai dengan Sunnah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Saat ini, fenomena kesyirikan banyak merebak di tengah kaum Muslimin. Di antaranya adalah, kubur-kubur yang dibangun dan disembah semakin banyak adanya, setiap tahun bertambah, baik jumlah maupun pengunjungnya. Dan yang menganjurkan untuk ziarah dan menyembah kubur itu adalah para da’i, ustadz, kyai. Padahal ini merupakan perbuatan syirik akbar. Ini sudah jelas, bahwa mereka tidak hanya berbuat bid’ah, tapi telah berbuat syirik akbar, mereka tidak ittiba’ kepada Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Mereka berlebih-lebihan dalam ziarah kubur, sampai ada yang sujud, thawaf terutama di bulan-bulan Rabi’ul Awwal, Rajab, Sya’ban dan lainnya. Kita wajib mengingatkan agar mereka ittiba’ kepada Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam dan tidak boleh mereka melakukan yang demikian.

Di antara tujuan para peziarah kubur tersebut adalah untuk meminta, minta tolong, minta syafa’at dan berdoa kepada penghuni kubur. Maka perbuatan ini jelas-jelas merupakan syirik yang paling besar, menentang Allah dan RasulNya. Dosa syirik adalah dosa yang tidak diampuni oleh Allah, sebagaimana firmanNya.

إِنَّ اللَّهَ لَا يَغْفِرُ أَن يُشْرَكَ بِهِ وَيَغْفِرُ مَا دُونَ ذَٰلِكَ لِمَن يَشَاءُ ۚ وَمَن يُشْرِكْ بِاللَّهِ فَقَدِ افْتَرَىٰ إِثْمًا عَظِيمًا

Sesungguhnya Allah tidak akan mengampuni dosa syirik, dan dia mengampuni segala dosa yang selain dari (syirik) itu, bagi siapa yang dikehendakiNya. Barangsiapa yang mempersekutukan Allah, maka sungguh ia telah berbuat dosa yang besar. [an Nisaa’: 48].

Bid’ah yang banyak dilakukan di bulan Rabi’ul Awwal adalah peringatan Maulid Nabi. Dan sedikit sekali para da’i yang mengingatkan penyimpangan ini. Oleh mereka, hal ini dianggap termasuk syiar. Kita harus melihat, apakah hal ini dilaksanakan oleh Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam ataukah tidak? Beliau mencontohkan atau tidak? Jika Nabi tidak melaksanakan, maka kita tidak boleh melakukannya.

Demikian juga, apakah peringatan maulid itu dilakukan para sahabat Nabi atau tidak? Jika sahabat tidak melakukan, maka kita tidak boleh melakukan. Seandainya ibadah-ibadah ini dianggap baik, pasti mereka sudah melaksanakannya terlebih dahulu. Bid’ah-bid’ah semacam ini sudah banyak berkembang di tengah masyarakat karena para da’inya tidak ittiba’ dalam berdakwah di jalan Allah, justru mereka meninggalkan amalan-amalan Sunnah dan mereka membiarkan kaum muslimin melakukan perbuatan-perbuatan bid’ah.

Agama Islam telah sempurna, sebagaimana firman Allah dalam surat al Maidah ayat 3 :

 الْيَوْمَ أَكْمَلْتُ لَكُمْ دِينَكُمْ وَأَتْمَمْتُ عَلَيْكُمْ نِعْمَتِي وَرَضِيتُ لَكُمُ الْإِسْلَامَ دِينًا

Pada hari ini telah Ku-sempurnakan untuk kamu agamamu, dan telah Ku-cukupkan kepadamu nikmatKu, dan telah Ku-ridhai Islam itu menjadi agama bagimu.

Ibnu Katsir (wafat 774 H) berkata,”Ini merupakan nikmat yang terbesar atas ummat ini. Yakni Allah telah menyempurnakan bagi mereka agama mereka. Mereka tidak membutuhkan agama selain dari agama Islam. Mereka tidak butuh pada Nabi selain daripada Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam, karena itu Allah menjadikan Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam, sebagai penutup para nabi. Allah mengutus Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam kepada golongan jin dan manusia. Tidak ada yang halal, kecuali yang dihalalkan oleh Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Tidak ada yang haram, kecuali yang diharamkan oleh Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam,. Tidak ada agama, melainkan yang disyariatkan oleh beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Setiap yang diperintahkan oleh Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam, semuanya benar dan jujur, tidak ada kedustaan dan tidak ada penyalahan janji, sebagaimana firman Allah “Telah sempurna kalimat Rabb-mu dengan jujur dan adil”. Jujur dalam masalah berita, dan adil dalam perintah dan larangan. Tatkala Allah telah menyempurnakan agama ini, Allah sempurnakan nikmat ini, karena itu Allah berfirman “Pada hari ini telah Ku-sempurnakan untuk kamu agamamu”.

Ayat ini turun pada sore hari saat Hari Arafah, yang bertepatan dengan hari Jum’at. Orang-orang Yahudi mengakui tentang kesempurnaan agama Islam, dengan turunnya ayat ini. Sampai mereka berkata kepada Umar bin Khaththab: “Demi Allah, sesungguhnya kalian membaca ayat. Kalau seandainya ayat tersebut turun kepada kami, niscaya kami akan jadikan sebagai Hari Raya”.
Kata Umar bin Khaththab,”Sesungguhnya aku mengetahui kapan ayat ini turun, dimana ayat ini turun, dan dimana Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam ketika ayat ini turun. Ayat ini turun pada Hari Arafah, dan aku dengan izin Allah ada di Arafah, dan hari itu Hari Jum’at (yaitu pada hajatul wada’)”. [Tafsir Ibnu Katsir, II/15-16]

Penjelasan tentang keterangan Ibnu Katsir adalah sebagai berikut:
1. Ayat ini turun di Arafah.

2. Dalam ayat ini, nikmat yang terbesar adalah nikmat Islam. Hal ini wajib kita syukuri. Kita bersyukur telah diberi oleh Allah, nikmat di atas Islam. Namun yang perlu kita ingat lagi, kita harus memohon kepada Allah agar kita diberikan hidayah di atas Sunnah. Sebab kalau dikatakan Islam saja, hal ini tidak cukup, karena banyak orang-orang yang mengaku Islam. Firqah-firqah yang sesatpun mengaku Islam. Yang terbaik bagi kita adalah, meminta kepada Allah agar diberikan hidayah di atas Sunnah, setelah kita diberi hidayah di atas Islam ini. Sebagaimana kata Imam Abu Aliyah : “Aku tidak tahu, dari dua nikmat Allah yang mana yang paling besar. Yang pertama, aku diberikan hidayah di atas Islam. Yang kedua, Allah menunjuki aku di atas Sunnah, dan tidak dijadikan aku sebagai orang Khawarij”. [Diriwayatkan oleh Abdur Razzaq dalam Mushannaf-nya, X/153; al Laalikaiy dalam Syarah Ushul I’tiqad Ahlus Sunnah wal Jama’ah no. 230. Disebutkan pula oleh Imam adz Dzahabi dalam Siyar A’lamin Nubala`, IV/212].

3. Bahwa Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam, diutus kepada jin dan manusia.

4. Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah penutup para nabi. Tidak ada nabi setelah beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Beliau merupakan penutup para nabi dan rasul.

Tidak ada agama, melainkan yang disyariatkan oleh Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Islam satu-satunya agama yang haq. Semua orang Yahudi dan Nasrani, mereka harus masuk ke dalam agama Islam. Kalau mereka tidak masuk ke dalam agama Islam, maka pasti mereka menjadi penghuni neraka. Setelah diutusnya Nabi Muhammad, maka orang Yahudi, Nasrani dan juga yang lainnya harus masuk ke dalam Islam, sebab Allah Azza wa Jalla berfirman :

وَمَن يَبْتَغِ غَيْرَ الْإِسْلَامِ دِينًا فَلَن يُقْبَلَ مِنْهُ وَهُوَ فِي الْآخِرَةِ مِنَ الْخَاسِرِينَ

Barangsiapa mencari agama selain agama Islam, maka sekali-kali tidaklah akan diterima daripadanya, dan dia di akhirat termasuk orang-orang yang rugi. [Ali Imran : 85]

Dan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :

وَ الَّذِي نَفْسُ مُحَمَّدٍ بِيَدِهِ ! لاَ يَسْمَعُ بِى أَحَدٌ مِنْ هَذِهِ الأُمَّةِ يَهُودِيٌّ وَ لاَ نَصْرَانِيٌّ، ثُمَّ يَمُوْتُ وَلَمْ يُؤْمِنْ بِالَّذِي أُرْسِلْتُ بِهِ، إِلاَّ كَانَ مِنْ أَصْحَابِ النَّارِ

Demi yang diri Muhammad ada di tangan Allah, tidaklah mendengar seorang dari umat Yahudi dan Nasrani yang mendengar diutusnya Muhammad, kemudian dia mati dalam keadaan tidak beriman dengan apa yang diutus dengannya (Islam), niscaya dia termasuk penghuni neraka.[6]

Setiap orang yang mendakwakan adanya kenabian sesudah Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam, maka yang demikian itu adalah sesat dan kufur. Allah Azza wa Jalla berfirman : 

مَّا كَانَ مُحَمَّدٌ أَبَا أَحَدٍ مِّن رِّجَالِكُمْ وَلَٰكِن رَّسُولَ اللَّهِ وَخَاتَمَ النَّبِيِّينَ ۗ وَكَانَ اللَّهُ بِكُلِّ شَيْءٍ عَلِيمًا

Muhammad itu sekali-kali bukanlah bapak dari seorang laki-laki di antara kamu, tetapi dia adalah Rasulullah dan penutup nabi-nabi. Dan adalah Allah Maha Mengetahui segala sesuatu. [al Ahzab : 40].

Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam menyebutkan akan adanya ad-Dajjal yang mengaku nabi, kemudian Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

كُلُّهُمْ يَزْعُمُ أَنَّهُ نَبِيٌّ وَ أَنَا خَاتَمُ النَّبِيِّيْنَ لاَ نَبِيَّ بَعْدِيْ

Mereka semua mengaku sebagai nabi, dan aku adalah penutup para nabi, dan tidak ada nabi sepeninggalku.[7]

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :

لِيْ خَمْسَةُ أَسْمَاءٍ : أَنَا مُحَمَّدٌ ، وَ أَحْمَدُ ، وَ أَنَا المَاحِي الَّذِي يَمْحُو اللهُ بِيَ الكُفْرَ . وَ أَنَا الحَاشِرُ الَّذِي يُحْشَرُ النَّاسُ عَلَى قَدَمِيْ ، وَ أَنَا العَاقِبُ ( لَيْسَ بَعْدِي نَبِيٌّ )

Aku memiliki lima nama. Aku, Muhammad (yang terpuji). Aku adalah Ahmad (yang banyak memuji). Aku adalah al Mahi (penghapus), yaitu dengan perantaraanku, Allah menghapus kekufuran. Aku adalah al Hasyr (pengumpul), yaitu manusia akan dikumpulkan di hadapanku. Aku mempunyai nama juga al ‘Aqib (makna belakangan atau penutup), (yaitu tidak ada lagi nabi yang datang sesudahku).

5. Kesempurnaan agama Islam ini diakui oleh orang-orang Yahudi. Bahwa agama Islam ini sudah sempurna, tidak boleh lagi ditambah-tambah atau dikurang-kurangi. Maka ketika ayat ini turun, Umar bin Khaththab menangis. Ketika beliau ditanya kenapa menangis, beliau menjawab: “Aku menangis, (karena) tidak ada yang sesuatu yang sempurna melainkan pasti akan berkurang”. Berkurang yang beliau maksud adalah dengan wafatnya Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam. karena selang beberapa waktu antara turunnya ayat ini dengan wafatnya Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah 81 hari.

6. Tidak boleh orang menambah sesuatu dalam agama ini. Agama Islam sudah sempurna, dan kewajiban kita adalah ittiba’.

7. Semua yang dikatakan oleh Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah benar dan jujur. Karena Allah telah berfirman :
Dan tiadalah yang diucapkannya itu menurut kemauan hawa nafsunya. Ucapannya itu tiada lain hanyalah wahyu yang diwahyukan. [an Najm : 3-4]

8. Bahwa inti ajaran Islam adalah tauhid dan menjauhkan syirik.

9. Kewajiban kaum muslimin adalah ittiba’ kepada Rasulullah Shallallahu ‘alaihiwa sallam.

Washallahu ‘ala Nabiyina Muhammad wa ‘ala aalihi wa shahbihi ajma’in.

[Disalin dari majalah As-Sunnah Edisi 02/Tahun X/1427H/2006M Diterbitkan Yayasan Lajnah Istiqomah Surakarta, Jl. Solo – Purwodadi Km. 8 Selokaton Gondangrejo Solo 57183 Telp. 08121533647, 08157579296]
_______
Footnote
[4]. HR Abu Dawud no. 4597; Ahmad (IV/102); al Hakim (I/128); ad Darimi (II/241), al Ajuri dalam asy Asyari’ah (I/no. 29); al Laalikaiy dalam as Sunnah (I/113 no. 150). Dishahihkan oleh al Hakim dan disepakati oleh Imam adz Dzahabi, dari Mu’awiyah bin Abi Sufyan. Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah mengatakan, hadits ini shahih masyhur. Dishahihkan oleh Syaikh al Albani. Lihat Silsilah Ahaadits Shahiihah, no. 203-204.
[5]. HR at Tirmidzi, no. 2641 dari sahabat ‘Abdullah bin ‘Amr, dan dihasankan oleh Syaikh al Albani dalam Shahiihul Jami’ no. 5343. Lihat Dar-ul Irtiyaab ‘an Hadits ma Ana ‘Alaihi wa Ashhabii oleh Syaikh Salim bin ‘Id al Hilali, Cet. Daarul Raayah, 1410 H.
[6]. HR Muslim no 153 dari sahabat Abu Hurairah Radhiyallahu ‘anhu
[7]. HR Ahmad (V/278); Abu Dawud no. 4252; dan Ibnu Majah no. 3952 dari sahabat Tsauban. Lihat Silsilah Ahaadits Shahihah, no. 1683 oleh Syaikh al Albani.
[8]. HR Bukhari, no. 3532; Muslim no. 2354, dan Tirmidzi no. 2840 dari sahabat Jubair bin Muth’im Radhiyallahu ‘anhu. Penjelasan dalam tanda kurung adalah penjelasan dari Imam az Zuhri yang terdapat dalam riwayat Tirmidzi. Lihat Fathul Baari (VI/557), Cet. Daar Fikr.

Sumber: https://almanhaj.or.id/2960-kewajiban-ittiba-kepada-rasulullah-shallallahu-alaihi-wa-sallam-2.html

KEWAJIBAN ITTIBA’ (MENGIKUTI JEJAK) SALAFUSH SHALIH DAN MENETAPKAN MANHAJNYA(1)

Oleh
Hasil gambar untuk padang pasir terindahAl-Ustadz Yazid bin Abdul Qadir Jawas
Mengikuti manhaj (jalan) Salafush Shalih (yaitu para Sahabat) adalah kewajiban bagi setiap individu Muslim. Adapun dalil-dalil yang menunjukkan hal tersebut adalah sebagai berikut:

A. Dalil-dalil dari Al-Qur-an
Allah berfirman:

فَإِنْ آمَنُوا بِمِثْلِ مَا آمَنْتُمْ بِهِ فَقَدِ اهْتَدَوْا ۖ وَإِنْ تَوَلَّوْا فَإِنَّمَا هُمْ فِي شِقَاقٍ ۖ فَسَيَكْفِيكَهُمُ اللَّهُ ۚ وَهُوَ السَّمِيعُ الْعَلِيمُ

“Maka jika mereka beriman kepada apa yang kamu telah beriman kepadanya, sungguh mereka telah mendapat petunjuk, dan jika mereka berpaling, sesungguhnya mereka berada dalam permusuhan (denganmu). Maka Allah akan memeliharamu dari mereka. Dan Dia-lah Yang Mahamendengar lagi Mahamengetahui.” [Al-Baqarah: 137]

Al-Imam Ibnu Qayyim al-Jauziyyah rahimahullah (wafat th. 751 H) berkata: “Melalui ayat ini Allah menjadikan iman para Sahabat Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam sebagai timbangan (tolok ukur) untuk membedakan antara petunjuk dan kesesatan, antara kebenaran dan kebathilan. Apabila Ahlul Kitab beriman sebagaimana berimannya para Sahabat Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam, maka sungguh mereka mendapat hidayah (petunjuk) yang mutlak dan sempurna. Jika mereka (Ahlul Kitab) berpaling (tidak beriman) sebagaimana berimannya para Sahabat, maka mereka jatuh ke dalam perpecahan, perselisihan, dan kesesatan yang sangat jauh …”

Kemudian beliau rahimahullah melanjutkan: “Memohon hidayah dan iman adalah sebesar-besar kewajiban, menjauhkan perselisihan dan kesesatan adalah wajib; jadi mengikuti (manhaj) Sahabat Rasul Shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah kewajiban yang paling wajib (utama).”[1]

وَأَنَّ هَٰذَا صِرَاطِي مُسْتَقِيمًا فَاتَّبِعُوهُ ۖ وَلَا تَتَّبِعُوا السُّبُلَ فَتَفَرَّقَ بِكُمْ عَنْ سَبِيلِهِ ۚ ذَٰلِكُمْ وَصَّاكُمْ بِهِ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ

“Dan bahwa (yang Kami perintahkan ini) adalah jalan-Ku yang lurus, maka ikutilah dia; janganlah kalian mengikuti jalan-jalan (yang lain), karena jalan-jalan itu mencerai-beraikan kamu dari jalan-Nya. Yang demikian itu diperintahkan oleh Allah kepada-mu agar kamu bertaqwa.” [Al-An’aam: 153]

Ayat ini sebagaimana dijelaskan dalam hadits Ibnu Mas’ud Radhiyallahu anhu bahwa jalan itu hanya satu, sedangkan jalan selainnya adalah jalan orang-orang yang mengikuti hawa nafsu dan jalannya ahli bid’ah. Hal ini sesuai dengan apa yang telah dijelaskan oleh Imam Mujahid ketika menafsirkan ayat ini. Jalan yang satu ini adalah jalan yang telah ditempuh oleh Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam dan para Sahabatnya Radhiyallahu anhum. Jalan ini adalah ash-Shirath al-Mustaqiim yang wajib atas setiap Muslim menempuhnya dan jalan inilah yang akan mengantarkan kepada Allah Azza wa Jalla.

Ibnul Qayyim menjelaskan bahwa jalan yang mengantarkan seseorang kepada Allah hanya SATU… Tidak ada seorang pun yang dapat sampai kepada Allah kecuali melalui jalan yang satu ini.[2]
Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

وَمَنْ يُشَاقِقِ الرَّسُولَ مِنْ بَعْدِ مَا تَبَيَّنَ لَهُ الْهُدَىٰ وَيَتَّبِعْ غَيْرَ سَبِيلِ الْمُؤْمِنِينَ نُوَلِّهِ مَا تَوَلَّىٰ وَنُصْلِهِ جَهَنَّمَ ۖ وَسَاءَتْ مَصِيرًا

“Dan barangsiapa yang menentang Rasul sesudah jelas kebenaran baginya, dan mengikuti jalan yang bukan jalan orang-orang Mukmin, Kami biarkan ia leluasa terhadap kesesatan yang telah dikuasainya itu dan Kami masukkan ia ke dalam Jahannam, dan Jahannam itu seburuk-buruk tempat kembali.” [An-Nisaa’: 115]

Ayat ini menunjukkan bahwa menyalahi jalannya kaum Mukminin sebagai sebab seseorang terjatuh ke dalam jalan-jalan kesesatan dan diancam dengan masuk Neraka Jahannam. Ayat ini juga menunjukkan bahwa mengikuti Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah sebesar-besar prinsip dalam Islam yang mempunyai konsekuensi wajibnya umat Islam untuk mengikuti jalannya kaum Mukminin sedangkan jalannya kaum Mukminin pada ayat ini adalah keyakinan, perkataan dan perbuatan para Sahabat Radhiyallahu anhum. Karena, ketika turunnya wahyu tidak ada orang yang beriman kecuali para Sahabat, seperti firman Allah Subhanahu wa Ta’ala:

آمَنَ الرَّسُولُ بِمَا أُنْزِلَ إِلَيْهِ مِنْ رَبِّهِ وَالْمُؤْمِنُونَ

“Rasul telah beriman kepada Al-Qur-an yang diturunkan kepada-nya dari Rabb-nya, demikian pula orang-orang yang beriman.” [Al-Baqarah: 285]
Orang-orang Mukmin ketika itu hanyalah para Sahabat Radhiyallahu anhum, tidak ada yang lain.
Ayat di atas menunjukkan bahwasanya mengikuti jalan para Sahabat dalam memahami syari’at adalah wajib dan menyalahinya adalah kesesatan.[3]

وَالسَّابِقُونَ الْأَوَّلُونَ مِنَ الْمُهَاجِرِينَ وَالْأَنْصَارِ وَالَّذِينَ اتَّبَعُوهُمْ بِإِحْسَانٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمْ وَرَضُوا عَنْهُ وَأَعَدَّ لَهُمْ جَنَّاتٍ تَجْرِي تَحْتَهَا الْأَنْهَارُ خَالِدِينَ فِيهَا أَبَدًا ۚ ذَٰلِكَ الْفَوْزُ الْعَظِيمُ

“Orang-orang yang terdahulu lagi yang pertama-tama (masuk Islam) di antara orang-orang Muhajirin dan Anshar serta orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik, Allah ridha terhadap mereka dan mereka ridha kepada Allah. Allah menyediakan bagi mereka Surga-Surga yang mengalir sungai-sungai di dalamnya; mereka kekal di dalamnya selama-lamanya. Itulah kemenangan yang besar.” [At-Taubah: 100]

Ayat tersebut sebagai hujjah bahwa manhaj para Sahabat Radhiyallahu anhum adalah benar. Orang yang mengikuti mereka akan mendapatkan keridhaan dari Allah Subhanahu wa Ta’ala dan disediakan bagi mereka Surga. Mengikuti manhaj mereka adalah wajib atas setiap Mukmin. Kalau mereka tidak mau mengikuti maka mereka akan mendapatkan hukuman dan tidak mendapatkan keridhaan Allah Azza wa Jalla. Hal ini harus diperhatikan.[4]

كُنْتُمْ خَيْرَ أُمَّةٍ أُخْرِجَتْ لِلنَّاسِ تَأْمُرُونَ بِالْمَعْرُوفِ وَتَنْهَوْنَ عَنِ الْمُنْكَرِ وَتُؤْمِنُونَ بِاللَّهِ

“Kamu adalah umat yang terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh kepada yang ma’ruf dan mencegah dari yang mungkar, dan beriman kepada Allah…” [Ali ‘Imran: 110]
Ayat ini menunjukkan bahwa Allah Azza wa Jalla telah menetapkan keutamaan atas sekalian ummat-ummat yang ada dan hal ini menunjukkan keistiqamahan para Sahabat dalam setiap keadaan karena mereka tidak menyimpang dari syari’at yang terang benderang, sehingga Allah Azza wa Jalla mempersaksikan bahwa mereka memerintahkan setiap kema’rufan (kebaikan) dan mencegah setiap kemungkaran. Hal tersebut menunjukkan dengan pasti bahwa pemahaman mereka (Sahabat) adalah hujjah atas orang-orang setelah mereka sampai Allah Azza wa Jalla mewariskan bumi dan seisinya.[5]

B. Dalil-Dalil Dari As-Sunnah
‘Abdullah bin Mas‘ud Radhiyallahu anhu berkata :
خَطَّ لَنَا رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ خَطًّا بِيَدِهِ، ثُمَّ قَالَ: هَذَا سَبِيْلُ اللهِ مُسْتَقِيْمًا، وَخَطَّ خُطُوْطًا عَنْ يَمِيْنِهِ وَشِمَالِهِ، ثُمَّ قَالَ: هذِهِ سُبُلٌ ]مُتَفَرِّقَةٌ[ لَيْسَ مِنْهَا سَبِيْلٌ إِلاَّ عَلَيْهِ شَيْطَانٌ يَدْعُوْ إِلَيْهِ، ثُمَّ قَرَأَ قَوْلَهُ تَعَالَى: وَأَنَّ هَٰذَا صِرَاطِي مُسْتَقِيمًا فَاتَّبِعُوهُ ۖ وَلَا تَتَّبِعُوا السُّبُلَ فَتَفَرَّقَ بِكُمْ عَنْ سَبِيلِهِ ۚ ذَٰلِكُمْ وَصَّاكُمْ بِهِ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ

“Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam membuat garis dengan tangannya kemudian bersabda: ‘Ini jalan Allah yang lurus.’ Lalu beliau membuat garis-garis di kanan kirinya, kemudian bersabda: ‘Ini adalah jalan-jalan yang bercerai-berai (sesat) tidak satupun dari jalan-jalan ini kecuali di dalamnya terdapat syaithan yang menyeru kepadanya.’ Selanjutnya beliau membaca firman Allah Azza wa Jalla: ‘Dan bahwa (yang Kami perintahkan ini) adalah jalan-Ku yang lurus, maka ikutilah dia, janganlah kalian mengikuti jalan-jalan (yang lain) karena jalan-jalan itu mencerai-berai-kan kamu dari jalan-Nya. Yang demikian itu diperintahkan oleh Allah kepadamu agar kamu bertaqwa.’” [Al-An’aam: 153][6]

Dari ‘Abdullah bin Mas’ud Radhiyallahu anhu, ia berkata: “Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

خَيْرُ النَّاسِ قَرْنِيْ ثُمَّ الَّذِيْنَ يَلُوْنَهُمْ، ثُمَّ الَّذِيْنَ يَلُوْنَهُمْ، ثُمَّ يَجِئُ قَوْمٌ تَسْبِقُ شَهَادَةُ أَحَدِهِمْ يَمِيْنَهُ، وَيَمِيْنُهُ شَهَادَتَهُ.

‘Sebaik-baik manusia adalah pada masaku ini (yaitu masa para Sahabat), kemudian yang sesudahnya, kemudian yang sesudahnya. Setelah itu akan datang suatu kaum yang persaksian salah seorang dari mereka mendahului sumpahnya dan sumpahnya mendahului persaksiannya.’”[7]

Dalam hadits ini Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam mengisyaratkan tentang kebaikan dan keutamaan mereka, yang merupakan sebaik-baik manusia. Sedangkan perkataan ‘sebaik-baik manusia’ yaitu tentang ‘aqidahnya, manhajnya, akhlaknya, dakwahnya dan lain-lainnya. Oleh karena itu mereka dikatakan sebaik-baik manusia.[8] Dalam riwayat lain disebutkan dengan kata (خَيْرُكُمْ) ‘sebaik-baik kalian’ dan dalam riwayat yang lain disebutkan (خَيْرُ أُمَّتِيْ)‘sebaik-baik ummatku.’
Sahabat Ibnu Mas’ud Radhiyallahu anhu berkata:

إِنَّ اللهَ نَظَرَ إِلَى قُلُوْبِ الْعِبَادِ، فَوَجَدَ قَلْبَ مُحَمَّدٍ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ خَيْرَ قُلُوْبِ الْعِبَادِ فَاصْطَفَاهُ لِنَفْسِهِ، فَابْتَعَثَهُ بِرِسَالَتِهِ، ثُمَّ نَظَرَ فِي قُلُوْبِ الْعِبَادِ بَعْدَ قَلْبِ مُحَمَّدٍ، فَوَجَدَ قُلُوْبَ أَصْحَابِهِ خَيْرَ قُلُوْبِ الْعِبَادِ فَجَعَلَهُمْ وُزَرَاءَ نَبِيِّهِ، يُقَاتِلُوْنَ عَلَى دِيْنِهِ، فَمَا رَأَى الْمُسْلِمُوْنَ حَسَناً فَهُوَ عِنْدَ اللهِ حَسَنٌ، وَمَا رَأَوْا سَيِّئاً فَهُوَ عِنْدَ اللهِ سَيِّئٌ.

“Sesungguhnya Allah melihat hati hamba-hamba-Nya dan Allah mendapati hati Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah sebaik-baik hati manusia, maka Allah pilih Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam sebagai utusan-Nya dan Allah memberikan risalah kepadanya, kemudian Allah melihat dari seluruh hati hamba-hamba-Nya setelah Nabi-Nya, maka didapati bahwa hati para Sahabat merupakan hati yang paling baik sesudahnya, maka Allah jadikan mereka sebagai pendamping Nabi-Nya yang mereka berperang untuk agama-Nya. Apa yang dipandang kaum Mus-limin (para Sahabat Rasul) itu baik, maka itu baik pula di sisi Allah dan apa yang mereka (para 

Sahabat Rasul) pandang buruk, maka di sisi Allah hal itu adalah buruk.”[9]
Dalam hadits lain pun disebutkan tentang kewajiban kita mengikuti manhaj Salafush Shalih (para Sahabat), yaitu hadits yang terkenal dengan hadits ‘Irbadh bin Sariyah, hadits ini terdapat pula dalam al-Arba’in an-Nawawiyyah (no. 28):

قَالَ الْعِرْبَاضُ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ : صَلَّى بِنَا رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ذَاتَ يَوْمٍ ثُمَّ أَقْبَلَ عَلَيْنَا فَوَعَظَناَ مَوْعِظَةً بَلِيْغَةً ذَرَفَتْ مِنْهَا الْعُيُوْنُ وَوَجِلَتْ مِنْهَا الْقُلُوْبُ، فَقَالَ قَائِلٌ: يَا رَسُوْلَ اللهِ كَأَنَّ هَذِهِ مَوْعِظَةُ مُوَدِّعٍ، فَمَاذَا تَعْهَدُ إِلَيْناَ فَقَالَ: أُوْصِيْكُمْ بِتَقْوَى اللهِ وَالسَّمْعِ وَالطَّاعَةِ وَإِنْ عَبْدًا حَبَشِيًّا، فَإِنَّهُ مَنْ يَعِشْ مِنْكُمْ بَعْدِي فَسَيَرَى اخْتِلاَفاً كَثِيْراً، فَعَلَيْكُمْ بِسُنَّتِي وَسُنَّةِ الْخُلَفَاءِ الْمَهْدِيِّيْنَ الرَّاشِدِيْنَ، تَمَسَّكُوْا بِهَا وَعَضُّوْا عَلَيْهَا بِالنَّوَاجِذِ، وَإِيَّاكُمْ وَمُحْدَثَاتِ اْلأُمُوْرِ فَإِنَّ كُلَّ مُحْدَثَةٍ بِدْعَةٌ، وَكُلَّ بِدْعَةٍ ضَلاَلَةٌ.

Berkata al-‘Irbadh bin Sariyah Radhiyallahu anhu : “Suatu hari Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah shalat bersama kami kemudian beliau menghadap kepada kami dan memberikan nasihat kepada kami dengan nasihat yang menjadikan air mata berlinang dan membuat hati bergetar, maka seseorang berkata: ‘Wahai Rasulullah nasihat ini seakan-akan nasihat dari orang yang akan berpisah, maka berikanlah kami wasiat.’ Maka Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: 

‘Aku wasiatkan kepada kalian agar tetap bertaqwa kepada Allah, tetaplah mendengar dan taat, walaupun yang memerintah kalian adalah seorang budak dari Habasyah. Sungguh, orang yang masih hidup di antara kalian setelahku akan melihat perselisihan yang banyak, maka wajib atas kalian berpegang teguh kepada Sunnahku dan Sunnah Khulafaur Rasyidin yang mendapat petunjuk. Peganglah erat-erat dan gigitlah dia dengan gigi gerahammu. Dan jauhilah oleh kalian perkara-perkara yang baru (dalam agama), karena sesungguhnya setiap perkara yang baru itu adalah bid‘ah. Dan setiap bid‘ah itu adalah sesat.”[10]

Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam mengabarkan tentang akan terjadinya perpecahan dan perselisihan pada ummatnya, kemudian Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam memberikan jalan keluar untuk selamat dunia dan akhirat, yaitu dengan mengikuti Sunnahnya dan Sunnah para Sahabatnya Radhiyallahu anhum. Hal ini menunjukkan tentang wajibnya mengikuti Sunnahnya (Sunnah Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam) dan Sunnah para Sahabatnya Radhiyallahu anhum.
Kemudian dalam hadits yang lain, ketika Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam menyebutkan tentang hadits iftiraq (akan terpecahnya umat ini menjadi 73 golongan), beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

أَلاَ إِنَّ مَنْ قَبْلَكُمْ مِنْ أَهْلِ الْكِتَابِ اِفْتَرَقُوْا عَلَى ثِنْتَيْنِ وَسَبْعِيْنَ مِلَّـةً، وَإِنَّ هَذِهِ الْمِلَّةَ سَتَفْتَرِقُ عَلَى ثَلاَثٍ وَسَبْعِيْنَ: ثِنْتَانِ وَسَبْعُوْنَ فِي النَّارِ، وَوَاحِدَةٌ فِي الْجَنَّةِ، وَهِيَ الْجَمَاعَةُ.

“Ketahuilah, sesungguhnya orang-orang sebelum kamu dari Ahlul Kitab telah berpecah belah menjadi tujuh puluh dua golongan. Sesungguhnya (ummat) agama ini (Islam) akan berpecah belah menjadi tujuh puluh tiga golongan, tujuh puluh dua golongan tempatnya di dalam Neraka dan hanya satu golongan di dalam Surga, yaitu al-Jama’ah.”[11]

Dalam riwayat lain disebutkan:

كُلُّهُمْ فِي النَّارِ إِلاَّ مِلَّةً وَاحِدَةً: مَا أَنَا عَلَيْهِ وَأَصْحَابِيْ.

“Semua golongan tersebut tempatnya di Neraka, kecuali satu (yaitu) yang aku dan para Sahabatku berjalan di atasnya.”[12]

Hadits iftiraq tersebut juga menunjukkan bahwa umat Islam akan terpecah menjadi 73 golongan, semua binasa kecuali satu golongan, yaitu yang mengikuti apa yang telah dilaksanakan oleh Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam dan para Sahabatnya Radhiyallahu anhum. Jadi, jalan selamat itu hanya satu, yaitu mengikuti Al-Qur-an dan As-Sunnah menurut pemahaman Salafush Shalih (para Sahabat).

Hadits di atas menunjukkan bahwa setiap orang yang mengikuti Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam dan para Sahabatnya adalah termasuk ke dalam al-Firqatun Naajiyah (golongan yang selamat). Sedangkan yang menyelisihi (tidak mengikuti) para Sahabat, maka mereka adalah golongan yang binasa dan akan mendapat ancaman dengan masuk ke dalam Neraka.

C. Dalil-Dalil Dari Penjelasan Para Ulama
‘Abdullah bin Mas’ud Radhiyallahu anhu berkata:

اِتَّبِعُوْا وَلاَ تَبْتَدِعُوْا فَقَدْ كُفِيْتُمْ وَكُلُّ بِدْعَةٍ ضَلاَلَةٌ.

“Hendaklah kalian mengikuti dan janganlah kalian berbuat bid’ah. Sungguh kalian telah dicukupi dengan Islam ini, dan setiap bid’ah adalah sesat.”[13]

Kembali ‘Abdullah bin Mas’ud Radhiyallahu anhu mengatakan:

مَنْ كَانَ مِنْكُمْ مُتَأَسِّياً فَلْيَتَأَسَّ بِأَصْحَابِ رَسُوْلِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ، فَإِنَّهُمْ كَانُوْا أَبَرَّ هَذِهِ اْلأُمَّةِ قُلُوْباً، وَأَعْمَقَهَا عِلْمًا، وَأَقَلَّهَا تَكَلُّفًا، وَأَقْوَمَهَا هَدْيًا، وَأَحْسَنَهَا حَالاً، قَوْمٌ اِخْتَارَهُمُ اللهُ لِصُحْبَةِ نَبِيِّهِ وَِلإِقَامَةِ دِيْنِهِ، فَاعْرِفُوْا لَهُمْ فَضْلَهُمْ، وَاتَّبِعُوْهُمْ فِي آثَارِهِمْ، فَإِنَّهُمْ كَانُوْا عَلَى الْهُدَى الْمُسْتَقِيْمِ.

“Barangsiapa di antara kalian yang ingin meneladani, hendaklah meneladani para Sahabat Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Karena sesungguhnya mereka adalah ummat yang paling baik hatinya, paling dalam ilmunya, paling sedikit bebannya, dan paling lurus petunjuknya, serta paling baik keadaannya. Suatu kaum yang Allah telah memilih mereka untuk menemani Nabi-Nya, untuk menegakkan agama-Nya, maka kenalilah keutamaan mereka serta ikutilah atsar-atsarnya, karena mereka berada di jalan yang lurus.”[14]

Imam al-Auza’i (wafat tahun 157 H) rahimahullah mengatakan:

اِصْبِرْ نَفْسَكَ عَلَى السُّنَّةِ، وَقِفْ حَيْثُ وَقَفَ الْقَوْمُ، وَقُلْ بِمَا قَالُواْ، وَكُفَّ عَمَّا كُفُّوْا عَنْهُ، وَاسْلُكْ سَبِيْلَ سَلَفِكَ الصَّالِحِ، فَإِنَّهُ يَسَعُكَ مَا وَسِعَهُمْ.

“Bersabarlah dirimu di atas Sunnah, tetaplah tegak sebagaimana para Sahabat tegak di atasnya. Katakanlah sebagaimana yang mereka katakan, tahanlah dirimu dari apa-apa yang mereka menahan diri darinya. Dan ikutilah jalan Salafush Shalih karena ia akan mencukupimu apa saja yang mencukupi mereka.”[15]

Beliau rahimahullah juga berkata:

عَلَيْكَ بِآثَارِ مَنْ سَلَفَ وَإِنْ رَفَضَكَ النَّاسُ، وَإِيَّاكَ وَآرَاءَ الرِّجَالِ وَإِنْ زَخْرَفُوْهُ لَكَ بِالْقَوْلِ.

“Hendaklah engkau berpegang kepada atsar Salafush Shalih meskipun orang-orang menolaknya dan jauhkanlah dirimu dari pendapat orang meskipun ia hiasi pendapatnya dengan perkataannya yang indah.”[16]

Muhammad bin Sirin (wafat tahun 110 H)rahimahullah berkata:

كَانُوْا يَقُوْلُوْنَ: إِذَا كَانَ الرَّجُلُ عَلَى اْلأَثَرِ فَهُوَ عَلَى الطَّرِيْقِ.

“Mereka mengatakan: ‘Jika ada seseorang berada di atas atsar (Sunnah), maka sesungguhnya ia berada di atas jalan yang lurus.’” [17]
Imam Ahmad (wafat tahun 241 H) rahimahullah berkata:

أُصُوْلُ السُّنَّةِ عِنْدَنَا: التَّمَسُّكُ بِمَا كَانَ عَلَيْهِ أَصْحَابُ رَسُوْلِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَاْلإِقْتِدَاءُ بِهِمْ وَتَرْكُ الْبِدَعِ وَكُلُّ بِدْعَةٍ فَهِيَ ضَلاَلَةٌ.

“Prinsip Ahlus Sunnah adalah berpegang dengan apa yang dilaksanakan oleh para Sahabat Radhiyallahu anhum dan mengikuti jejak mereka, meninggalkan bid’ah dan setiap bid’ah adalah sesat.”[18]

Jadi dari penjelasan tersebut di atas dapat dikatakan bahwa Ahlus Sunnah meyakini bahwa kema’shuman dan keselamatan hanya ada pada manhaj Salaf. Bahwasanya seluruh manhaj yang tidak berlandaskan kepada Al-Qur-an dan As-Sunnah menurut pemahaman Salafush Shalih adalah menyimpang dari ash-Shirath al-Mustaqiim, penyimpangan itu sesuai dengan kadar jauhnya mereka dari manhaj Salaf. Kebenaran yang ada pada mereka juga sesuai dengan kadar kedekatan mereka dengan manhaj Salaf. Sekiranya para pengikut manhaj-manhaj menyimpang itu mengikuti pedoman manhaj mereka, niscaya mereka tidak akan dapat mewujudkan hakekat penghambaan diri kepada 

Allah Azza wa Jalla sebagaimana mestinya selama mereka jauh dari manhaj Salaf. Sekiranya mereka berhasil meraih tampuk kekuasaan tidak berdasarkan pada manhaj yang lurus ini, maka janganlah terpedaya dengan hasil yang mereka peroleh itu. Karena kekuasaan hakiki yang dijanjikan oleh Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam hanyalah bagi orang-orang yang berada di atas manhaj Salaf ini. Janganlah kita merasa terasing karena sedikitnya orang-orang yang mengikuti kebenaran dan jangan pula kita terpedaya karena banyaknya orang-orang yang tersesat.

Ahlus Sunnah meyakini bahwa generasi akhir ummat ini hanya akan menjadi baik dengan apa yang menjadikan baik generasi awalnya. Alangkah meruginya orang-orang yang terpedaya dengan manhaj (metode) baru yang menyelisihi syari’at dan melupakan jerih payah Salafush Shalih. Manhaj (metode) baru itu semestinya dilihat dengan kacamata syari’at bukan sebaliknya.[19]
Fudhail bin ‘Iyadh rahimahullah berkata:

اِتَّبِعْ طُرُقَ الْهُدَى وَلاَ يَضُرُّكَ قِلَّةُ السَّالِكِيْنَ وَإِيَّاكَ وَطُرُقَ الضَّلاَلَةِ وَلاَ تَغْتَرْ بِكَثْرَةِ الْهَالِكِيْنَ.

“Ikutilah jalan-jalan petunjuk (Sunnah), tidak membahayakanmu sedikitnya orang yang menempuh jalan tersebut. Jauhkan dirimu dari jalan-jalan kesesatan dan janganlah engkau tertipu dengan banyaknya orang yang menempuh jalan kebinasaan.”[20]
Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah rahimahullah berkata,

مَنْ عَدَلَ عَنْ مَذَاهِبِ الصَّحَابَةِ وَالتَّابِعِيْنَ وَتَفْسِيْرِهِمْ إِلَى مَا يُخَالِفُ ذَلِكَ كَانَ مُخْطِئًا فِيْ ذَلِكَ، بَلْ مُبْتَدِعًا، وَإِنْ كَانَ مُجْتَهِدًا مَغْفُوْرًا لَهُ خَطَؤُهُ. وَنَحْنُ نَعْلَمُ أَنَّ الْقُرْآنَ قَرَأَهُ الصَّحَابَةُ وَالتَّابِعُوْنَ وَتَابِعُوْهُمْ، وَأَنَّهُمْ كَانُوْا أَعْلَمَ بِتَفْسِيْرِهِ وَمَعَانِيْهِ كَمَا أَنَّهُمْ أَعْلَمُ بِالْحَقِّ الَّذِى بَعَثَ اللهُ بِهِ رَسُوْلَهُ.

“Barangsiapa yang berpaling dari madzhab Sahabat dan Tabi’in dan penafsiran mereka kepada yang menyelisihinya, maka ia telah salah bahkan (disebut) Ahlul Bid’ah. Jika ia sebagai mujtahid, maka kesalahannya akan diampuni. Kita mengetahui bahwa Al-Qur-an telah dibaca oleh para Sahabat, Tabi’in dan yang mengikuti mereka, dan sungguh mereka lebih mengetahui tentang penafsiran Al-Qur-an dan makna-maknanya, sebagaimana mereka lebih mengetahui tentang kebenaran yang dengannya Allah mengutus Rasul-Nya.”[21]
D. Perhatian Para Ulama Terhadap ‘Aqidah Salafush Shalih.
Sesungguhnya para ulama mempunyai perhatian yang sangat besar terhadap ‘aqidah Salafush Shalih. Mereka menulis kitab-kitab yang banyak sekali untuk menjelaskan dan menerangkan ‘aqidah Salaf ini, serta membantah orang-orang yang menentang dan menyalahi ‘aqidah ini dari berbagai macam firqah dan golongan yang sesat. Karena sesungguhnya ‘aqidah dan manhaj Salaf ini dikenal dengan riwayat bersambung yang sampai kepada imam-imam Ahlus Sunnah dan ditulis dengan penjelasan yang benar dan akurat.

Adapun untuk mengetahui ‘aqidah dan manhaj Salaf ini, maka kita bisa melihat:
Pertama, penyebutan lafazh-lafazh tentang ‘aqidah dan manhaj Salaf yang diriwayatkan oleh para Imam Ahlul Hadits dengan sanad-sanad yang shahih.
Kedua, yang meriwayatkan ‘aqidah dan manhaj Salaf adalah seluruh ulama kaum Muslimin dari berbagai macam disiplin ilmu: Ahlul Ushul, Ahlul Fiqh, Ahlul Hadits, Ahlut Tafsir, dan yang lainnya.
Sehingga ‘aqidah dan manhaj Salaf ini diriwayatkan oleh para ulama dari berbagai disiplin ilmu secara mutawatir.

Penulisan dan pembukuan masalah ‘aqidah dan manhaj Salaf (seiring) bersamaan dengan penulisan dan pembukuan Sunnah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam.
Pentingnya ‘aqidah Salaf ini di antara ‘aqidah-‘aqidah yang lainnya, yaitu antara lain:[22]
1. Bahwa dengan ‘aqidah Salaf ini, seorang Muslim akan meng-agungkan Al-Qur-an dan As-Sunnah, adapun ‘aqidah yang lain karena mashdarnya (sumbernya) hawa nafsu, maka mereka akan mempermainkan dalil, sedang dalil dan tafsirnya mengikuti hawa nafsu.
2. Bahwa dengan ‘aqidah Salaf ini akan mengikat seorang Muslim dengan generasi yang pertama, yaitu para Sahabat Radhiyallahu anhum yang mereka itu adalah sebaik-baik manusia dan ummat.
3. Bahwa dengan ‘aqidah Salaf ini, kaum Muslimin dan da’i-da’inya akan bersatu, sehingga dapat mencapai kemuliaan serta menjadi sebaik-baik ummat. Hal ini karena ‘aqidah Salaf ini berdasarkan Al-Qur-an dan As-Sunnah menurut pemahaman para Sahabat. Adapun ‘aqidah selain ‘aqidah Salaf ini, maka dengannya tidak akan tercapai persatuan bahkan yang akan terjadi adalah perpecahan dan kehancuran.

Imam Malik rahimahullah berkata:
لَنْ يُصْلِحَ آخِرَ هَذِهِ اْلأُمَّةِ إِلاَّ مَا أَصْلَحَ أَوَّلَهَا.
“Tidak akan dapat memperbaiki ummat ini melainkan dengan apa yang telah membuat baik generasi pertama ummat ini (Sahabat)”[23]
4. ‘Aqidah Salaf ini jelas, mudah dan jauh dari ta’wil, ta’thil dan tasybih.[24] Oleh karena itu, dengan kemudahan ini setiap Muslim akan mengagungkan Allah Subhanahu wa Ta’ala dan akan merasa tenang dengan qadha’ dan qadar Allah Subhanahu wa Ta’ala.
5. ‘Aqidah Salaf ini adalah aqidah yang selamat, karena Salafus Shalih lebih selamat, lebih tahu dan lebih bijaksana (aslam, a’lam, ahkam). Dengan ‘aqidah Salaf ini akan membawa kepada keselamatan di dunia dan akhirat. Oleh karena itu berpegang pada ‘aqidah Salaf ini hukumnya wajib.
[Disalin dari kitab Syarah Aqidah Ahlus Sunnah Wal Jama’ah, Penulis Yazid bin Abdul Qadir Jawas, Penerbit Pustaka Imam Asy-Syafi’i, Po Box 7803/JACC 13340A Jakarta, Cetakan Ketiga 1427H/Juni 2006M]
_______
Footnote
[1]. Bashaa-ir Dzawii Syaraf bi Syarah Marwiyyati Manhajis Salaf (hal. 53) karya Syaikh Salim bin ‘Ied al-Hilali.
[2]. Tafsiirul Qayyim libnil Qayyim (hal. 14-15).
[3]. Bashaa-ir Dzawii Syaraf bi Syarah Marwiyyati Manhajis Salaf (hal. 54).
[4]. Bashaa-ir Dzawii Syaraf bi Syarah Marwiyyati Manhajis Salaf (hal. 43).
[5]. Lihat Limaadza Ikhtartul Manhajas Salafi (hal. 86), oleh Syaikh Salim bin ‘Ied al-Hilaly.
[6]. Hadits shahih riwayat Ahmad (I/435, 465), ad-Darimy (I/67-68), al-Hakim (II/318), Syarhus Sunnah lil Imaam al-Baghawy (no. 97), dihasankan oleh Syaikh al-Albani dalam As-Sunnah libni Abi ‘Ashim no. 17. Tafsir an-Nasa-i (no. 194). Adapun tambahan (mutafarriqatun) diriwayatkan oleh Imam Ahmad (I/435).
[7]. Muttafaq ‘alaihi. HR. Al-Bukhari (no. 2652, 3651, 6429, 6658) dan Muslim (no. 2533 (212)) dan lainnya dari Sahabat Ibnu Mas’ud Radhiyallahu anhu. Hadits ini mu-tawatir sebagaimana telah ditegaskan oleh al-Hafizh Ibnu Hajar dalam al-Ishaabah (I/12), al-Munawi dalam Faidhul Qadiir (III/478) serta disetujui oleh al-Kattaany dalam kitab Nadhmul Mutanaatsiir (hal 127). Lihat Limaadzaa Ikhtartul Manhajas Salafi (hal. 87).
[8]. Limaadzaa Ikhtartul Manhajas Salafi (hal. 86-87).
[9]. HR. Ahmad (I/379), dishahihkan oleh Syaikh Ahmad Syakir (no. 3600). Lihat Majma’uz Zawaa-id (I/177-178). Diriwayatkan juga oleh al-Hakim (III/78), ath-Thabrani dalam al-Mu’jamul Kabiir (IX, no. 8582) dan al-Ajurri dalam asy-Syarii’ah.
[10].HR. Ahmad (IV/126-127), Abu Dawud (no. 4607) dan at-Tirmidzi (no. 2676), ad-Darimy (I/44), al-Baghawy dalam kitabnya Syarhus Sunnah (I/205), al-Hakim (I/95), dishahihkan dan disepakati oleh Imam adz-Dzahabi. Syaikh al-Albani juga menshahihkan hadits ini dalam Irwaa-ul Ghaliil (no. 2455).
[11]. HR. Abu Dawud (no. 4597), Ahmad (IV/102), al-Hakim (I/128), ad-Darimi (II/241), al-Ajurri dalam asy-Syarii’ah, al-Lalikai dalam as-Sunnah (I/113 no. 150). Dishahihkan oleh al-Hakim dan disepakati oleh Imam adz-Dzahabi dari Mu’a-wiyah bin Abi Sufyan. Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah mengatakan hadits ini shahih masyhur. Dishahihkan oleh Syaikh al-Albani. Lihat Silsilatul Ahaadiits ash-Shahiihah (no. 203-204).
[12]. HR. At-Tirmidzi (no. 2641) dan al-Hakim (I/129) dari Sahabat ‘Abdullah bin ‘Amr, dan dihasankan oleh Syaikh al-Albani dalam Shahiihul Jaami’ (no. 5343). Lihat Dar-ul Irtiyaab ‘an Hadiits maa Anaa ‘alaihi wa Ash-haabii oleh Syaikh Salim bin ‘Ied al-Hilali, cet. Darur Rayah, th. 1410 H.
[13]. Diriwayatkan oleh ad-Darimi (I/69), al-Lalika-i dalam Syarah Ushuul I’tiqaad Ahlis Sunnah wal Jamaa’ah (I/96 no. 104), ath-Thabrani dalam Mu’jaamul Kabiir (no. 8770), dan Ibnu Baththah dalam al-Ibaanah (no. 175).
[14]. Diriwayatkan oleh Ibnu ‘Abdil Baar dalam kitabnya Jaami’ Bayaanil ‘Ilmi wa Fadhlih (II/947 no. 1810), tahqiq Abul Asybal Samir az-Zuhairi.
[15]. Syarah Ushuul I’tiqaad Ahlis Sunnah wal Jamaa’ah (I/174 no. 315).
[16]. Imam al-Ajurri dalam asy-Syarii’ah (I/445, no. 127) dishahihkan oleh Syaikh al-Albani dalam Mukhtasharul ‘Uluww lil Imaam adz-Dzahabi (hal. 138), Siyar A’laamin Nubalaa’ (VII/120) dan Jaami’ Bayaanil ‘Ilmi wa Fadhlihi (II/1071, no. 2077).
[17]. HR. Ad-Darimi (I/54), Ibnu Baththah dalam al-Ibaanah ‘an Syarii’atil Firqatin Naajiyah (I/356, no. 242). Syarah Ushuul I’tiqaad Ahlis Sunnah wal Jamaa’ah oleh al-Lalika-i (I/98 no. 109).
[18]. Syarah Ushuul I’tiqaad Ahlis Sunnah wal Jamaa‘ah oleh al-Lalika-i (I/176, no. 317).
[19]. As-Siraajul Wahhaaj fii Bayaanil Minhaaj (hal. 81, no. 166).
[20]. Lihat al-I’tishaam (I/112).
[21]. Majmuu’ Fataawaa Syaikhil Islaam Ibni Taimiyyah (XIII/361-362)
[22]. Dinukil dari muqaddimah Syarhul ‘Aqiidah al-Waasithiyyah (hal. 6-7) oleh Syaikh Khalil Hirras, takhrij Alwi Saqqaf, dengan sedikit tambahan.
[23]. Lihat at-Tamhiid karya Ibnu ‘Abdil Barr (XV/292), tahqiq Usamah bin Ibrahim, Ighaatsatul Lahfaan min Mashaayidhisy Syaithaan (I/313) oleh Ibnul Qayyim, tahqiq Khalid ‘Abdul Lathif as-Sab’il ‘Alami, cet. Darul Kitab al-‘Arabi, th. 1422 H dan Sittu Durar min Ushuuli Ahlil Atsar (hal. 73) oleh ‘Abdul Malik bin Ahmad Ramadhani.
[24]. Lihat penjelasannya pada catatan kaki no. 218-221 di halaman 143.
Sumber: https://almanhaj.or.id/3422-kewajiban-ittiba-mengikuti-jejak-salafush-shalih-dan-menetapkan-manhajnya.html

Jika Anda Mencintai Allah, Ikuti Tuntunan Rasulullah

Hasil gambar untuk padang pasir terindah
Ayat yg sangat indah dan halus dalam menjelaskan bahwa seharusnya kita meninggalkan semua bid’ah dalam agama. Allah ta’ala berfirman:

قُلْ إِنْ كُنْتُمْ تُحِبُّونَ اللَّهَ فَاتَّبِعُونِي يُحْبِبْكُمُ اللَّهُ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ

“Katakanlah (wahai Muhammad kepada umatmu): Jika kalian benar-benar mencintai Allah, maka ikutilah aku (Muhammad), niscaya Allah akan mencintai kalian dan mengampuni dosa kalian“. (QS. Alu Imron: 31).

Renungkanlah kandungan ayat ini: Ayat ini berkenaan tentang cinta kepada Allah, yang harusnya menjadi derajat cinta paling tinggi di hati kaum mukminin. (QS. Al Baqarah: 165). Itu saja dalam mengejewantahkannya harus mengikuti Nabi –shollallohu alaihi wasallam-, apalagi bila cinta itu kepada makhluk-Nya.

Sehingga dalam mencintai Nabi –shollallohu alaihi wasallam– kita lebih wajib mengikuti cara dan tuntunan beliau, begitu pula dlm mecintai keluarga beliau, ka’bah, Al Quran, dst.Ayat ini memerintahkan kita untuk mengikuti Nabi –shollallohu alaihi wasallam– saja dalam mengejewantahkan cinta kita kepada Allah.

Sehingga kita tidak boleh mencintai Allah dengan cara para Nabi selain beliau, apalagi cara para ulama, apalagi cara kita sendiri, jika cara-cara tersebut tidak sesuai dengan yang disyariatkan oleh Nabi –shollallohu alaihi wasallam-.

Ayat ini menjelaskan bahwa Allah akan mencintai kita jika kita mengikuti Nabi –shollallohu alaihi wasallam– dlm mengejewantahkan cinta kita kepada-Nya.   Maka sebaliknya Allah akan menjadi murka, bila kita mengejewantahkan cinta tersebut dengan mengikuti tuntunan dari selain beliau.

Semoga Allah memberikan taufiq kepada kita, sehingga kita dapat mencintai Allah, Rasulullah, para ulama, dan yang lainnya, sebagaimana dituntunkan oleh Nabi –shollallohu alaihi wasallam-.



Penulis: Ust. Musyafa Ad Darini, Lc., MA

KEWAJIBAN MENGIKUTI PEMAHAMAN SALAFUSH SHALIH

Oleh
Hasil gambar untuk padang pasirUstadz Muslim Al Atsari

Salaf, artinya adalah orang-orang terdahulu. Adapun yang dimaksud dengan Salafush Shalih, dalam istilah ulama adalah orang-orang terdahulu yang shalih, dari generasi sahabat dan orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik, dari generasi tabi’in, tabi’ut tabi’in, dan para ulama Ahlus Sunnah Wal Jama’ah setelah mereka.

Salafush Shalih adalah generasi terbaik umat Islam. Oleh karenanya, merupakan kewajiban bagi kita untuk mengikuti pemahaman mereka dalam beragama. Sehingga berbagai macam bid’ah, perpecahan dan kesesatan dapat dijauhi. Karena adanya berbagai macam bid’ah, perpecahan, dan kesesatan tersebut, berawal dari menyelisihi pemahaman Salafush Shalih. Menjadi keniscayaan, jika seluruh umat Islam, dari yayasan atau organisasi atau lembaga apapun, wajib mengikuti pemahaman Salafush Shalih dalam beragama.

Banyak dalil-dalil dari Al Qur’an dan As Sunnah yang menunjukkan kewajiban mengikuti pemahaman Salafush Shalih. Para ulama telah banyak menulis masalah besar ini di dalam karya-karya mereka.

Imam Ibnul Qoyyim di dalam kitab I’lamul Muwaqqi’in, menyebutkan 46 dalil tentang kewajiban mengikuti sahabat [1]. Syaikh Salim Al Hilali menulis kitab yang sangat bernilai tentang kewajiban mengikuti manhaj Salaf ini di dalam kitab beliau yang berjudul Limadza Ikhtartu Manhaj As Salafi?, yang telah diterjemahkan ke dalam bahasa Iindonesia.

Sekedar untuk memudahkan pemahaman bagi saudara-saudara seiman, secara ringkas kami ingin menyampaikan sebagian dalil-dalil yang menunjukkan kewajiban mengikuti sahabat dalam beragama.

DALIL DARI AL QUR’AN
Allah berfirman dalam Al Qur’an:

فَإِنْ ءَامَنُوا بِمِثْل مَآءَامَنتُمْ بِهِ فَقَدِ اهْتَدَوْا وَإِن تَوَلَّوْ فَإِنَّمَا هُمْ فِي شِقَاقٍ فَسَيَكْفِيكَهُمُ اللهُ وَهُوَ السَّمِيعُ الْعَلِيمُ

Maka jika mereka beriman kepada semisal apa yang kamu telah beriman kepadanya, sungguh mereka telah mendapat petunjuk; dan jika mereka berpaling, sesungguhnya mereka berada dalam permusuhan (dengan kamu). Maka Allah akan memelihara kamu dari mereka. Dan Dialah Yang Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui. [Al Baqarah:137].

Nadhir bin Sa’id Alu Mubarak berkata: “Allah Yang Maha Suci telah menjadikan keimanan, sebagaimana keimanan sahabat dari seluruh sisi, sebagai tempat bergantung petunjuk dan keselamatan dari maksiat dan memusuhi Allah. Maka, jika manusia beriman dengan sifat ini, dan mengikuti teladan jalan sahabat, berarti dia mendapatkan petunjuk menetapi kebenaran. Jika mereka berpaling dari jalan dan pemahaman sahabat, maka mereka berada di dalam perpecahan, permusuhan dan kemaksiatan kepada Allah dan RasulNya. Dan Allah Maha mendengar terhadap pengakuan manusia, bahwa mereka beraqidah dan bermanhaj Salafi, Dia mengetahui hakikat urusan mereka. Dan Allah Ta’ala lebih mengetahui. [Diringkas dari kitab Al Mirqah Fii Nahjis Salaf Sabilin Najah, hlm. 35-36].

كُنتُمْ خَيْرَ أُمَّةٍ أُخْرِجَتْ لِلنَّاسِ تَأْمُرُونَ بِالْمَعْرُوفِ وَتَنْهَوْنَ عَنِ الْمُنكَرِ وَتُؤْمِنُونَ بِاللهِ

Kamu adalah umat yang terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh kepada yang ma’ruf, dan mencegah dari yang munkar, dan beriman kepada Allah.. [Ali Imran:110].

Syaikh Salim Al Hilali berkata: “Allah telah menetapkan keutamaan untuk para sahabat di atas seluruh umat. Ini berarti, mereka istiqomah (berada di atas jalan lurus) dalam segala keadaan; karena mereka tidak pernah menyimpang dari jalan yang terang. Allah telah menyaksikan telah menjadi saksi untuk mereka, bahwa mereka menyuruh kepada seluruh yang ma’ruf dan mencegah dari seluruh yang munkar. Hal itu mengharuskan menunjukkan bahwa pemahaman mereka merupakan argumen terhadap orang-orang setelah mereka”. [Limadza Ikhtartu Manhajas Salafi, hlm. 86].

وَمَن يُشَاقِقِ الرَّسُولَ مِن بَعْدِ مَا تَبَيَّنَ لَهُ الْهُدَى وَيَتَّبِعْ غَيْرَ سَبِيلِ الْمُؤْمِنِينَ نُوَلِّهِ مَا تَوَلَّى وَنُصْلِهِ جَهَنَّمَ وَسَآءَتْ مَصِيرًا

Dan barangsiapa menentang Rasul sesudah jelas kebenaran baginya dan mengikuti jalan yang bukan jalannya orang-orang mu’min, Kami biarkan ia leluasa terhadap kesesatan yang telah dikuasainya itu dan Kami masukkan ia ke dalam Jahannam, dan Jahannam itu seburuk-buruknya tempat kembali. [An Nisa’:115].

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah berkata,”Sesungguhnya, keduanya itu (yaitu menentang Rasul sesudah jelas kebenaran baginya dan mengikuti jalan yang bukan jalan orang-orang mu’min, Pen.) saling berkaitan. Semua orang yang menentang Rasul sesudah jelas kebenaran baginya, berarti dia mengikuti jalan yang bukan jalannya orang-orang mu’min. Dan semua orang yang mengikuti jalan yang bukan jalannya orang-orang mu’min, berarti dia menentang Rasul sesudah jelas kebenaran baginya.” Lihat Majmu’ Fatawa (7/38)
Pada saat ayat ini turun, belum ada umat Islam selain mereka, kecuali para sahabat Radhiyallahu ‘anhum. Merekalah orang-orang mu’min yang pertama-tama dimaksudkan ayat ini. Sehingga wajib bagi generasi setelah sahabat mengikuti jalan para sahabat Nabi.

وَالسَّابِقُونَ اْلأَوَّلُونَ مِنَ الْمُهَاجِرِينَ وَاْلأَنصَارِ وَالَّذِينَ اتَّبَعُوهُم بِإِحْسَانٍ رَضِيَ اللهُ عَنْهُمْ وَرَضُوا عَنْهُ وَأَعَدَّ لَهُمْ جَنَّاتٍ تَجْرِي تَحْتَهَا اْلأَنْهَارُ خَالِدِينَ فِيهَآ أَبَدًا ذَلِكَ الْفَوْزُ الْعَظِيمُ

Orang-orang yang terdahulu lagi yang pertama-tama (masuk Islam) diantara orang-orang Muhajirin dan Anshar dan orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik, Allah ridha kepada mereka dan Allah menyediakan bagi mereka surga-surga yang mengalir sungai-sungai di dalamnya; mereka kekal di dalamnya selama-lamanya. Itulah kemenangan yang besar. [At Taubah:100].

Lihatlah, Allah menyediakan surga-surga bagi dua golongan. Pertama, golongan sahabat. Yaitu orang-orang Muhajirin dan Anshar. Mereka adalah Salafush Shalih generasi sahabat. Kedua, orang-orang yang mengikuti golongan pertama dengan baik.

Jika demikian, maka seluruh umat Islam, generasi setelah sahabat wajib mengikuti para sahabat dalam beragama, sehingga meraih janji Allah di atas. Jika orang-orang Islam yang datang setelah para sahabat enggan mengikuti jalan mereka, siapa yang akan mereka ikuti? Jika bukan para sahabat, tentunya yang mereka adalah Ahli Bid’ah!

Imam Ibnul Qoyim rahimahullah berkata: “Sisi penunjukan dalil (wajibnya mengikuti sahabat), karena sesungguhnya Allah Ta’ala memuji orang yang mengikuti mereka. Jika seseorang mengatakan satu perkataan, lalu ada yang mengikutinya sebelum mengetahui dalilnya, dia adalah orang yang mengikuti sahabat. Dia menjadi terpuji dengan itu, dan berhak mendapatkan ridha (Allah), walaupun dia mengikuti sahabat semata-mata dengan taqlid”. [2].

DALIL DARI AS SUNNAH
Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :

خَيْرُ النَّاسِ قَرْنِي ثُمَّ الَّذِينَ يَلُونَهُمْ ثُمَّ الَّذِينَ يَلُونَهُمْ

Sebaik-baik manusia adalah generasiku (yaitu generasi sahabat), kemudian orang-orang yang mengiringinya (yaitu generasi tabi’in), kemudian orang-orang yang mengiringinya (yaitu generasi tabi’ut tabi’in). [Hadits mutawatir, riwayat Bukhari dan lainnya].

Imam Ibnul Qoyyim rahimahullah berkata: “Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam memberitakan, sesungguhnya sebaik-baik generasi adalah generasi Beliau secara mutlak. Itu mengharuskan (untuk) mendahulukan mereka dalam seluruh masalah (berkaitan dengan) masalah-masalah kebaikan”. [3].

Para sahabat adalah manusia terbaik, karena mereka merupakan murid-murid Rasulullah n . Dibandingkan dengan generasi-generasi sesudahnya, mereka lebih memahami Al Qur’an. Mengapa? Karena mereka menghadiri turunnya Al Qur’an, mengetahui sebab-sebab turunnya. Dan mereka, juga bertanya kepada Rasulullah n tentang ayat yang sulit mereka fahami.

Al Qur’an juga turun untuk menjawab pertanyaan mereka, memberikan jalan keluar problem yang mereka hadapi, dan mengikuti kehidupan mereka yang umum maupun yang khusus. Mereka juga sebagai orang-orang yang paling mengetahui bahasa Al Qur’an, karena Al Qur’an diturunkan dengan bahasa mereka. Dengan demikian, mengikuti pemahaman mereka merupakan hujjah terhadap generasi setelahnya.

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :

أُوصِيكُمْ بِتَقْوَى اللَّهِ وَالسَّمْعِ وَالطَّاعَةِ وَإِنْ عَبْدًا حَبَشِيًّا فَإِنَّهُ مَنْ يَعِشْ مِنْكُمْ بَعْدِي فَسَيَرَى اخْتِلَافًا كَثِيرًا فَعَلَيْكُمْ بِسُنَّتِ وَسُنَّةِ الْخُلَفَاءِ الْمَهْدِيِّينَ الرَّاشِدِينَ تَمَسَّكُوا بِهَا وَعَضُّوا عَلَيْهَا بِالنَّوَاجِذِ وَإِيَّاكُمْ وَمُحْدَثَاتِ الْأُمُورِ فَإِنَّ كُلَّ مُحْدَثَةٍ بِدْعَةٌ وَكُلَّ بِدْعَةٍ ضَلَالَةٌ

Aku wasiatkan kepada kamu untuk bertaqwa kepada Allah; mendengar dan taat (kepada penguasa kaum muslimin), walaupun (dia) seorang budak Habsyi. Karena sesungguhnya, barangsiapa hidup setelahku, dia akan melihat perselisihan yang banyak. Maka wajib bagi kamu berpegang kepada Sunnahku dan sunnah para khalifah yang mendapatkan petunjuk dan lurus. Peganglah dan giggitlah dengan gigi geraham. Jauhilah semua perkara baru (dalam agama), karena semua perkara baru (dalam agama) adalah bid’ah, dan semua bid’ah adalah sesat. [HR Abu Dawud, no. 4607; Tirmidzi 2676; Ad Darimi; Ahmad, dan lainnya dari Al ‘Irbadh bin Sariyah].

Imam Ibnul Qoyyim rahimahullah berkata: “Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam menggabungkan sunnah (jalan, ajaran) para khalifah Beliau dengan Sunnahnya. Beliau Shallallahu ‘alihi wa sallam memerintahkan untuk mengikuti sunnah para khalifah, sebagaimana Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam memerintahkan untuk mengikuti Sunnahnya. Dalam memerintahkan hal itu, Beliau bersungguh-sungguh, sampai-sampai memerintahkan agar menggigitnya dengan gigi geraham. Dan ini berkaitan dengan yang para khalifah fatwakan dan mereka sunnahkan (tetapkan) bagi umat, walaupun tidak datang keterangan dari Nabi, namun hal itu dianggap sebagai sunnah Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Demikian juga dengan yang difatwakan oleh keseluruhan mereka atau mayoritas mereka, atau sebagian mereka. Karena Beliau mensyaratkan hal itu dengan yang menjadi ketetapan Al Khulafa’ur Rasyidun. Dan telah diketahui, bahwa mereka tidaklah mensunnahkannya ketika mereka menjadi kholifah pada waktu yang sama, dengan demikian diketahui bahwa apa yang disunnahkan tiap-tiap seorang dari mereka pada waktunya, maka itu termasuk sunnah Al-Khulafa’ Ar-Rosyidin”. [4].

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

وَإِنَّ بَنِي إِسْرَائِيلَ تَفَرَّقَتْ عَلَى ثِنْتَيْنِ وَسَبْعِينَ مِلَّةً وَتَفْتَرِقُ أُمَّتِي عَلَى ثَلَاثٍ وَسَبْعِينَ مِلَّةً كُلُّهُمْ فِي النَّارِ إِلَّا مِلَّةً وَاحِدَةً قَالُوا وَمَنْ هِيَ يَا رَسُولَ اللَّهِ قَالَ مَا أَنَا عَلَيْهِ وَأَصْحَابِي

Sesungguhnya Bani Israil telah berpecah-belah menjadi 72 agama. Dan sesungguhnya umatku akan berpecah-belah menjadi 73 agama. Mereka semua di dalam neraka, kecuali satu agama. Mereka bertanya:“Siapakah mereka, wahai Rasulullah?” Beliau menjawab,“Siapa saja yang mengikutiku dan (mengikuti) sahabatku.” [5].

Ketika menjelaskan hubungan hadits ke-3 dengan hadits ke-2 ini, Syaikh Salim Al Hilali berkata,”Barangsiapa yang memperhatikan dua hadits itu, ia pasti mendapatkan keduanya membicarakan tentang satu masalah. Dan solusinya sama, yaitu jalan keselamatan, kekuatan kehidupan, ketika umat (Islam) menjadi jalan yang berbeda-beda, maka pemahaman yang haq adalah apa yang ada pada Nabi n dan para sahabat beliau Radhiyallahu ‘anhum“[6]

DIANTARA PERKATAAN SAHABAT DAN ULAMA ISLAM
1. Abdullah bin Masud Radhiyallahu ‘anhu. Dia membantah orang-orang yang menanti shalat dengan membuat halaqah-halaqah (kumpulan orang-orang yang duduk melingkar) untuk berdzikir bersama-sama dengan menggunakan kerikil dan dipimpin satu orang dari mereka.

Abdullah bin Masud Radhiyallahu ‘anhu mengatakan:

وَيْحَكُمْ يَا أُمَّةَ مُحَمَّدٍ مَا أَسْرَعَ هَلَكَتَكُمْ هَؤُلَاءِ صَحَابَةُ نَبِيِّكُمْ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مُتَوَافِرُونَ وَهَذِهِ ثِيَابُهُ لَمْ تَبْلَ وَآنِيَتُهُ لَمْ تُكْسَرْ وَالَّذِي نَفْسِي بِيَدِهِ إِنَّكُمْ لَعَلَى مِلَّةٍ هِيَ أَهْدَى مِنْ مِلَّةِ مُحَمَّدٍ أَوْ مُفْتَتِحُو بَابِ ضَلَالَةٍ

Celaka kamu, wahai umat Muhammad. Alangkah cepatnya kebinasaan kamu! Mereka ini, para sahabat Rasulullah masih banyak, ini pakaian-pakaian Beliau belum usang, dan bejana-bejana Beliau belum pecah. Demi Allah Yang jiwaku di tanganNya, sesungguhnya kamu berada di atas suatu agama yang lebih benar daripada agama Muhammad, atau kamu adalah orang-orang yang membuka pintu kesesatan. [HR Darimi, dishahihkan oleh Syaikh Salim Al Hilali dalam Al Bid’ah Wa Atsaruha As Sayi’ Fil Ummah, hlm. 44].

Syaikh Salim Al Hilali berkata: Abdullah bin Mas’ud telah berhujjah terhadap calon-calon Khawarij dengan adanya para sahabat Rasulullah diantara mereka. Dan sesungguhnya para sahabat tidak melakukan perbuatan mereka. Maka jika perbuatan mereka calon-calon Khawarij itu baik -sebagaimana anggapan mereka- pasti para sahabat Nabi n telah mendahului melakukannya. Maka, ketika para sahabat tidak melakukannya, berarti itu adalah kesesatan. Seandainya manhaj (jalan) sahabat bukanlah hujjah atas orang-orang setelah para sahabat, tentulah mereka (orang-orang yang berhalaqoh itu) mengatakan kepada Abdulloh bin Mas’ud: “Kamu laki-laki, kamipun laki-laki!” [Limadza, hal: 100]

Abdullah bin Mas’ud juga pernah berkata: “Sesungguhnya kami meneladani, kami tidak memulai. Kami mengikuti (ittiba’), kami tidak membuat bid’ah. Kami tidak akan sesat selama berpegang kepada atsar (riwayat dari Nabi dan sahabatnya, Pen.)”. [7]

2. Abdullah bin Abbas Radhiyallahu ‘anhu, berkata kepada orang-orang Khawarij:

أَتَيْتُكُمْ مِنْ عِنْدِ أَصْحَابِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ الْمُهَاجِرِينَ وَاْلأَنصَارِ وَ مِنْ عِنْدِ ابْنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَ صِهْرِهِ وَعَلَيِهِمْ نَزَلَ الْقُرْآنُ, فَهُمْ أَعْلَمُ بِتَأْوِيْلِهِ مِنْكُمْ, وَ لَيْسَ فِيْكُمْ مِنْهُمْ أَحَدٌ

Aku datang kepada kamu dari sahabat-sahabat Nabi, orang-orang Muhajirin dan Anshar, dan dari anak paman Nabi dan menantu Beliau (yakni Ali bin Abi Thalib). Al Qur’an turun kepada mereka, maka mereka lebih mengetahui tafsirnya daripada engkau. Sedangkan diantara kalian tidak ada seorangpun (yang termasuk) dari sahabat Nabi. [Riwayat Abdurrazaq di dalam Al Mushonnaf, no. 18678, dan lain-lain. Lihat Limadza, hlm. 101-102; Munazharat Aimmatis Salaf, hlm. 95-100. Keduanya karya Syaikh Salim Al Hilali].

3. Abul ‘Aliyah rahimahullah, ia berkata:

تَعَلَّمُوْا اْلإِسْلاَمَ فَإِذَا تَعَلَّمْتُمُوْهُ فَلاَ تَرْغَبُوْا عَنْهُ وَ عَلَيْكُمْ بِالصِّرَاطِ الْمُسْتَقِيمِ فَإِنَّهُ اْلإِسْلاَمُ وَلاَ تُحَرِّفُوْا اْلإِسْلاَمَ يَمِْينًا وَلاَ شِمَالاً وَعَلَيْكُمْ بِسُنَّةِ نَبِيِّكُمْ وَالَّذِيْ عَلَيْهِ أَصْحَابُهُ. وَ إِيَّاكُمْ وَهَذِهِ الْأَهْوَاءَ الَّتِيْ تُلْقِي بَيْنَ النَّاسِ الْعَدَاوَةَ وَالْبَغْضَآءَ

Pelajarilah Islam! Jika engkau mempelajarinya, janganlah kamu membencinya. Hendaklah engkau meniti shirathal mustaqim (jalan yang lurus), yaitu Islam. Janganlah engkau belokkan Islam ke kanan atau ke kiri. Dan hendaklah engkau mengikuti Sunnah Nabimu dan yang dilakukan oleh para sahabatnya. Dan jauhilah hawa nafsu-hawa nafsu ini (yakni bid’ah-bid’ah) yang menimbulkan permusuhan dan kebencian antar manusia. [Al Muntaqa Min Syarh Ushulil I’tiqad Ahlis Sunnah Wal Jama’ah, hlm. 34, no. 5].

4. Muhammad bin Sirin rahimahullah, ia berkata:

كَانُوْا يَرَوْنَ أَنَّهُمْ عَلَى الطَّرِيْقِ مَا كَانُوْا عَلَى الْأَثَرِ

Orang-orang dahulu mengatakan, sesungguhnya mereka (berada) di atas jalan (yang lurus) selama mereka meniti atsar (riwayat Salafush Shalih). [Al Muntaqa Min Syarh Ushulil I’tiqad Ahlis Sunnah Wal Jama’ah, hlm. 42, no. 36].

5. Al Auza’i rahimahullah, ia berkata:

اِصْبِرْ نَفْسَكَ عَلَى السُّنَّةِ , وَقِفْ حَيْثُ وَقَفَ الْقَوْمُ , وَقُلْ بِمَا قَالُوْا وَكُفَّ عَمَّا كَفُّوْا عَنْهُ , وَاسْلُكْ سَبِيْلَ سَلَفِكَ الصَالِحِ فَإِنَّهُ يَسَعُكَ مَا وَسَعَهُمْ

Sabarkanlah dirimu (berada) di atas Sunnah. Berhentilah di tempat orang-orang itu (Ahlus Sunnah, Salafush Shalih) berhenti. Katakanlah apa yang mereka katakan. Diamlah apa yang mereka diam. Dan tempuhlah jalan Salaf (para pendahulu)mu yang shalih, karena sesungguhnya akan melonggarkanmu apa yang telah melonggarkan mereka. [Al Muntaqa Min Syarh Ushulil I’tiqad Ahlis Sunnah Wal Jama’ah, hlm. 56; Al Ajuri di dalam Asy Syari’ah, hlm. 58; Limadza, hlm. 104].

Dalam membantah bid’ah, Al Auza’i rahimahullah juga menyatakan: Seandainya bid’ah ini baik, pasti tidak dikhususkan kepada engkau tanpa (didahului) orang-orang sebelummu. Karena sesungguhnya, tidaklah ada kebaikan apapun yang disimpan untukmu karena keutamaan yang ada pada kamu tanpa (keutamaan) mereka (Salafus Shalih). Karena mereka adalah sahabat-sahabat NabiNya, yang Allah telah memilih mereka. Dia mengutus NabiNya di kalangan mereka. Dan Dia mensifati mereka dengan firmanNya.

مُّحَمَّدُُ رَّسُولُ اللهِ وَالَّذِينَ مَعَهُ أَشِدَّآءُ عَلَى الْكُفَّارِ رُحَمَآءُ بَيْنَهُمْ تَرَاهُمْ رُكَّعًا سُجَّدًا يَبْتَغُونَ فَضْلاً مِّنَ اللهِ وَرِضْوَانًا

Muhammad itu adalah utusan Allah dan orang-orang yang bersama dia adalah keras terhadap orang-orang kafir, tetapi berkasih-sayang sesama mereka; kamu lihat mereka ruku’ dan sujud mencari karunia Allah dan keridhaanNya. [Al Fath: 29] [8].

6. Imam Abu Hanifah rahimahullah, berkata:

آخُذُ بِكِتَابِ اللهِ, فَمَا لَمْ أَجِدْ فَسُّنَّةِ رَسُولِ اللهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ , فَإِنْ لَمْ أَجِدْ فِي كِتَابِ اللهِ وَلاَ سُّنَّةِ رَسُولِهِ آخُذُ بِقَوْلِ أَصْحَابِهِ, آخُذُ بِقَوْلِ مَنْ شِئْتُ مِنْهُمْ وَأَدَعُ قَوْلَ مَنْ شِئْتُ, وَلاَ أَخْرُجُ مِنْ قَوْلِهِمْ إِلَى قَوْلِ غَيْرِهِمْ

Aku berpegang kepada Kitab Allah. Kemudian apa yang tidak aku dapati (di dalam Kitab Allah, maka aku berpegang) kepada Sunnah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Jika aku tidak dapati di dalam Kitab Allah dan Sunnah Rasulullah, aku berpegang kepada perkataan-perkataan para sahabat beliau.Aku akan berpegang kepada perkataan orang yang aku kehendaki. Dan aku tinggalkan perkataan orang yang aku kehendaki diantara mereka. Dan aku tidak akan keluar dari perkataan mereka kepada perkataan selain mereka. [Riwayat Ibnu Ma’in dalam Tarikh-nya, no. 4219. Dinukil dari Manhaj As Salafi ‘Inda Syaikh Nashiruddin Al Albani, hlm. 36, karya ‘Amr Abdul Mun’im Salim].

7. Imam Malik bin Anas rahimahullah.
Imam Ibnul Qoyyim menyatakan, bahwa Imam Malik t berdalil dengan ayat 100, surat At Taubah, tentang kewajiban mengikuti sahabat. [9]

8. Imam Syafi’i rahimahullah, berkata:

مَا كَانَ الْكِتَابُ أَوِ السُّنَّةُ مَوْجُوْدَيْنِ , فَالْعُذْرُ عَلَى مَنْ سَمِعَهُمَا مَقْطُوْعٌ إِلاَّ بِاتِّبَاعِهِمَا, فَإِذَا لَمْ يَكُنْ ذَلِكَ صِرْنَا إَلَى أَقَاوِيْلِ أَصْحَابِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَوْ وَحِدٍ مِنْهُمْ

Selama ada Al Kitab dan As Sunnah, maka alasan terputus atas siapa saja yang telah mendengarnya, kecuali dengan mengikuti keduanya. Jika hal itu tidak ada, kita kembali kepada perkataan-perkataan para sahabat Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam, atau salah satu dari mereka. [10].

9. Imam Ahmad bin Hambal rahimahullah, ia berkata:

عَلَى أُصُوْلُ السُّنَّةِ عِنْدَنَا: التَّمَسُّكُ بِمَا كَانَ عَلَيْهِ أَصْحَابُ رَّسُولِ اللهِ وَالْإِقْتِدَاءُ بِهِمْ , وَ تَرْكُ الْبِدَعِ, وَ كُلُّ بِدْعّةٍ ضَلاَلَةٍ…

Pokok-pokok Sunnah menurut kami adalah: berpegang kepada apa yang para sahabat Rasulullah n berada di atasnya, meneladani mereka, meninggalkan seluruh bid’ah. Dan seluruh bid’ah merupakan kesesatan … [Riwayat Al Lalikai; Al Muntaqa Min Syarh Ushulil I’tiqad Ahlis Sunnah Wal Jama’ah, hlm. 57-58].

Demikianlah penjelasan singkat mengenai kewajiban yang harus ditempuh oleh kaum Muslimin. Bahwa meniti jalan Salafush Shalih merupakan kebenaran. Sehingga jalan-jalan lainnya merupakan kesesatan. Bukankah selain kebenaran kecuali kesesatan?

Mudah-mudahan Allah selalu membimbing kita di atas jalanNya yang lurus, mengikuti Al Kitab, As Sunnah sesuai dengan pemahaman salaful ummah.

[Disalin dari majalah As-Sunnah Edisi 06/Tahun VIII/1425H/2004M Diterbitkan Yayasan Lajnah Istiqomah Surakarta, Jl. Solo – Purwodadi Km. 8 Selokaton Gondangrejo Solo 57183 Telp. 08121533647, 08157579296]
_______
Footnote
[1]. I’lamul Muwaqqi’in (2/388-409), Penerbit Darul Hadits, Kairo, Th. 1422H/2002M
[2]. I’lamul Muwaqqi’in (2/388), Penerbit: Darul Hadits, Kairo, Th. 1422 H/2002M.
[3]. I’lamul Muwaqqi’in (2/398), Penerbit Darul Hadits, Kairo, Th. 1422 H / 2002M.
[4]. I’lamul Muwaqqi’in (2/400-401), Penerbit Darul Hadits, Kairo, Th. 1422 H / 2002M.
[5]. Tirmidzi, no. 2565; Al Hakim, Ibnu Wadhdhah, dan lainnya; dari Abdullah bin’Amr. Dihasankan oleh Syaikh Salim Al Hilali di dalam Nash-hul Ummah, hlm. 24.
[6]. Limadza, hlm. 76.
[7]. Al Muntaqa Min Syarh Ushulil I’tiqad Ahlis Sunnah Wal Jama’ah, hlm. 42, no. 35.
[8]. Al Muntaqa Min Syarh Ushulil I’tiqad Ahlis Sunnah Wal Jama’ah, hlm. 56-57
[9]. I’lamul Muwaqqi’in (2/388), karya Ibnul Qoyyim
[10]. Riwayat Baihaqi di dalam Al Madkhal Ilas Sunan Al Kubra, no. 35. Dinukil dari Manhaj As Salafi ‘Inda Syaikh Nashiruddin Al Albani, hlm. 36 dan Manhaj Imam Asy Syafi’i Fi Itsbatil Aqidah (1/129), karya Syaikh Dr. Muhammad bin Abdul Wahhab Al ‘Aqil.

Sumber: https://almanhaj.or.id/3013-kewajiban-mengikuti-pemahaman-salafush-shalih.html