Wednesday, April 25, 2018

📋 CARA MUDAH AGAR DICINTAI ALLAH 'AZZA WA JALLA


Allah 'azza wa jalla berfirman,
 
قُلْ إِن كُنتُمْ تُحِبُّونَ اللَّهَ فَاتَّبِعُونِي يُحْبِبْكُمُ اللَّهُ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ ۗ وَاللَّهُ غَفُورٌ رَّحِيمٌ
"
Katakanlah (wahai Muhammad): Kalau kalian benar-benar mencintai Allah maka teladanilah aku, barulah Allah akan mencintai kalian dan mengampuni dosa-dosa kalian. Dan Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang." [Ali Imron: 31]

Al-Hafizh Ibnu Rajab Al-Hanbali rahimahullah berkata,

فإن محبة الله لا تتم إلا بطاعته، ولا سبيل إلى طاعته إلا بمتابعة رسوله
"
Sesungguhnya cinta kepada Allah tidak akan sempurna kecuali dengan menaati-Nya, dan tidak ada jalan untuk menaati-Nya kecuali dengan meneladani Rasul-Nya." [Fathul Baari libni Rojab, 1/48]
Al-Imam Al-Mufassir Ibnu Katsir Asy-Syafi'i rahimahullah berkata,

هذه الآية الكريمة حاكمة على كل من ادعى محبة الله ، وليس هو على الطريقة المحمدية فإنه كاذب في دعواه في نفس الأمر ، حتى يتبع الشرع المحمدي والدين النبوي في جميع أقواله وأحواله ، كما ثبت في الصحيح عن رسول الله صلى الله عليه وسلم أنه قال : "من عمل عملا ليس عليه أمرنا فهو رد" ولهذا قال : (قل إن كنتم تحبون الله فاتبعوني يحببكم الله) أي : يحصل لكم فوق ما طلبتم من محبتكم إياه ، وهو محبته إياكم
"
Ayat yang mulia ini adalah hakim atas setiap orang yang mengaku cinta kepada Allah, sedang ia tidak mengikuti jalan Nabi Muhammad shallallaahu'alaihi wa sallam, maka ia hanya dusta dalam pengakuannya tersebut, sampai ia meneladani syari'at dan agama Nabi Muhammad shallallaahu'alaihi wa sallam dalam setiap ucapan dan perbuatannya.
Sebagaimana juga dalam hadits shahih, dari Rasulullah shallallaahu'alaihi wa sallam, beliau bersabda,

مَنْ عَمِلَ عَمَلاً لَيْسَ عَلَيْهِ أَمْرُنَا فَهُوَ رَد
Barangsiapa yang mengamalkan suatu amalan yang tidak kami perintahkan maka amalan tersebut tertolak.” (HR. Muslim dari Aisyah radhiyallahu’anha)
Oleh karena itu Allah subhanahu wa ta'ala berfirman,
 
قُلْ إِن كُنتُمْ تُحِبُّونَ اللَّهَ فَاتَّبِعُونِي يُحْبِبْكُمُ اللَّه
"Katakanlah (wahai Muhammad): Kalau kalian benar-benar mencintai Allah maka teladanilah aku, barulah Allah akan mencintai kalian..." (Ali Imron: 31)
Maknanya: Kalian akan mendapatkan lebih dari kecintaan kalian kepada-Nya, yaitu kalian akan mendapatkan cinta-Nya." [Tafsir Ibnu Katsir, 2/26-27]
 
•═══════◎❅◎❦۩❁۩❦◎❅◎═══════•
📮CHANNEL MULIA DENGAN SUNNAH
🌐https://t.me/MuliaDenganSunnah
🔄 https://t.me/RisalahSunnah
🛰 Android app : https://goo.gl/ozGo2Q
🌍 Website : https://asysyamil.com
💠️ FB : https://goo.gl/tJdKZY
📱 WA : 081381173870 Admin

Tuesday, April 24, 2018

KRITIKAN PARA ULAMA AHLUS SUNNAH TERHADAP HADITS-HADITS KITAB IHYA ULUMUDDIN

Hasil gambar untuk ihya ulumuddin

Siapa yang tidak kitab Ihya' Ulumuddin karya Imam Al Ghazali?
Namun tahukah anda bahwa kitab tersebut isinya bermasalah dan
Para ulama rahimahumullah telah memberikan catatan atas kitab Ihya Ulumuddin:

🔅1. Imam Abul Faraj Ibnul Jauzi rahimahullah berkata : *“Ketahuilah bahwa kitab Ihyâ’ Ulûmiddîn memuat banyak kerusakan (penyimpangan) yang tidak diketahui kecuali oleh para ulama.* 

*⭕Penyimpangannya yang paling ringan (dibandingkan penyimpangan-penyimpangan besar lainnya) adalah adanya* *hadits-hadits palsu dan batil (yang termaktub di dalamnya), juga hadits-hadits mauquf (ucapan Sahabat atau Tabi’in) yang dijadikan sebagai* *hadits marfû’* *(ucapan Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam )*. 

📌Semua itu dinukil oleh penulisnya dari referensinya, meskipun bukan dia yang memalsukannya. Dan (sama sekali) *tidak dibenarkan mendekatkan diri (kepada Allâh Subhanahu wa Ta’ala ) dengan hadits yang palsu,* *serta tidak boleh tertipu dengan ucapan yang didustakan (atas nama Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam )”*.

📚(Minhâjul Qâshidîn . Nukilan dari al-Bayân edisi 48 hlm. 81).
🔅2. Imam Abu Bakr Muhammad bin al-Walid ath-Thurthûsyi rahimahullah berkata:
*"Kemudian* *al-Ghazali* *memenuhi* *kitab* *ini dengan* *kedustaan atas* *(nama) Rasûlullâh* *Shallallahu ‘alaihi* *wa sallam, bahkan* *aku tidak* *mengetahui sebuah kitab di atas* *permukaan bumi ini yang lebih banyak (berisi)* *kedustaan atas (nama) Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam melebihi* *kitab ini”*

📚[Dinukil oleh Imam adz-Dzahabi dalam Siyaru A’lâmin Nubalâ 19/495] .
🔅3. Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah berkata: *“Dalam kitab ini terdapat hadits-hadits dan riwayat-riwayat* *yang lemah, bahkan (juga mengandung)* *banyak hadits yang palsu, serta berisi banyak kebatilan dan kebohongan orang-orang ahli tasawwuf*”.
📚[Majmû’ al-Fatâwa 10/552] .

🔅4. Imam adz-Dzahabi rahimahullah berkata, *“Adapun kitab Ihyâ’ Ulûmiddîn, di dalamnya terdapat sejumlah (besar)* *hadits-hadist yang batil (palsu)”.*
📚[Siyaru A’lâmin Nubalâ19/339] .

🔅5. Imam Ibnu Katsîr rahimahullah berkata, *"Akan tetapi, dalam kitab ini (Ihyâ’ Ulûmiddîn )* *banyak terdapat hadits-hadits yang asing, mungkar dan palsu”*
.📚 [Al-Bidâyah wan Nihâyah 12/214] .

🔅6. Syaikh Muhammad Nâshiruddîn al-Albâni rahimahullah berkata: *“Betapa banyak kitab Ihyâ’ Ulûmiddîn memuat hadits-hadits* *(palsu) yang oleh penulisnya dipastikan penisbatannya kepada Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi* *wa sallam , padahal Imam al-‘Irâqi dan para ulama lainnya menegaskan bahwa hadits-hadist tersebut tidak ada asalnya (hadist palsu)”*.
📚[Silsilatul Ahâdîtsidh Dha’îfah wal Maudhû’ah 1/60].

🔅7. Bahkan Imam as-Subki
*🖇mengumpulkan hadits-hadist dalam kitab Ihyâ’* *Ulûmiddîn yang tidak ada asalnya (palsu), dan setelah dihitung semuanya berjumlah 923 hadits.*
📚[Thabaqâtusy Syâfi’iyyatil Kubra 6/287] .

📣 Semoga kan-kritikan para ulama di atas menjadikan kita hati-hati dalam membaca isi kitab itu, apalagi orang awam maka tidak direkomendasikan membaca kitab tersebut. Wallahu a'lam.


*✒Diringkas dengan tambahan oleh team BIS BMS* dari tulisan Ustadz Abdullah Taslim, M.A. di
almanhaj.or.id
Published By :
🌐 Group BIS & BMS - Dakwah Untuk Umat
✒ Editor : Admin AsySyamil.com
♻ Raih amal shalih dengan menyebarkan kiriman ini , semoga bermanfaat.
Jazakumullahu khoiron.
•═══════◎❅◎❦۩❁۩❦◎❅◎═══════•
📮CHANNEL MULIA DENGAN SUNNAH
🌐 https://t.me/MuliaDenganSunnah
🔄 https://t.me/RisalahSunnah
🛰 Android app : https://goo.gl/ozGo2Q
🌍 Website : https://asysyamil.com
💠️ FB : https://goo.gl/tJdKZY
📱 WA : 081381173870 Admin

Monday, April 23, 2018

Hidup Mulia dengan Mengikuti Sunnah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam

Hasil gambar untuk mengikuti nabiAllah subhanahu wa ta’ala berfirman (artinya): “Sesungguhnya telah ada pada diri Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam suri tauladan yang baik bagi kalian (yaitu) bagi orang-orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari akhir dan dia banyak menyebut Allah.” (Al Ahzab: 21)

Para pembaca yang mulia, semoga Allah subhanahu wa ta’ala senantiasa mencurahkan rahmat dan taufiq-Nya kepada kita semua. Sibuk dengan ritual keagamaan belum menjadi jaminan seseorang telah shalih, alim, atau ahli ketaatan. Penampilan seseorang dalam beragama hendaknya diukur sejauh mana dirinya menerapkan amal shalih yang didasari keikhlasan dan mengikuti sunnah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam. Tanpa dua prinsip dasar yang harus selalu beriringan ini, maka amaliah seseorang akan menjadi sia-sia. Ia akan mendapatkan kehampaan pahala dan terseret ke arah amaliah yang jauh dari agama Islam itu sendiri.

Tentu merupakan sebuah kewajiban setiap muslim untuk beramal dalam agama Islam ini dengan mengikuti segala apa yang diperintahkan dan dicontohkan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam. Beragama yang baik dan benar bukanlah dengan dasar mengikuti amal perbuatan kebanyakan orang, bukan pula dengan mengikuti semangat yang menggebu semata atau karena kagum dengan figur tokoh tertentu. Akan tetapi menjalankan agama secara baik dan benar haruslah selaras dengan landasan keikhlasan kepada Allah subhanahu wa ta’ala dan amaliahnya (prakteknya) mengikuti apa yang telah dituntunkan oleh rasul-Nya.

Kewajiban Mengikuti Sunnah Rasul shallallahu ‘alaihi wasallam dan Mengagungkannya

Mengagungkan sunnah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam merupakan perkara yang besar dan agung. Yang membutuhkan bukti dan praktek nyata dalam kehidupan sehari-hari. Ironisnya keadaan pada saat ini justru terjadi sebaliknya, fenomena yang ada pada sebagian kaum muslimin enggan menerima, mengabaikannya, bahkan mengolok-oloknya. Padahal Allah subhanahu wa ta’ala berfirman (artinya):

“Dan apa yang diperintahkan Rasul kepada kalian maka lakukanlah sedang apa yang beliau larang darinya maka tinggalkanlah.” (Al Hasyr: 7)

“Barangsiapa yang menaati Rasul berarti ia telah menaati Allah.” (An Nisa’: 80)

“Dan tidaklah patut bagi laki-laki yang mukmin dan tidak (pula) bagi perempuan yang mukminah, apabila Allah dan Rasul-Nya telah menetapkan suatu ketetapan, akan ada bagi mereka pilihan (yang lain) tentang urusan mereka. Dan barangsiapa yang mendurhakai Allah dan Rasul-Nya, maka sungguhlah ia telah sesat, dengan kesesatan yang nyata.” (Al Ahzab: 36)

Ketiga ayat di atas menunjukkan secara tegas bagaimana semestinya sikap seorang muslim menempatkan Sunnah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, yaitu wajib mengambilnya. Hal ini merupakan keharusan yang tidak ada tawar-menawar lagi. Kemudian menjadikan sunnah tersebut sebagai pedoman dalam melangkah dan melakukan ketaatan kepada Allah subhanahu wa ta’ala. Oleh karena itu, Allah subhanahu wa ta’ala menjadikan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam sebagai penjelas Al-Qur’an bukan sekedar menyampaikan atau membacakannya secara lafazh saja, sebagaimana dalam firman-Nya (artinya):

“Dan Kami turunkan kepadamu Al Qur’an agar engkau terangkan kepada manusia apa yang diturunkan kepada mereka.” (An Nahl: 44)

Demikian pula Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Saya mewasiatkan bagi kalian untuk bertakwa kepada Allah, mendengar dan taat kepada pimpinan, walaupun yang memimpin kalian adalah seorang budak. Karena sesungguhnya barangsiapa yang hidup sepeninggalku ia akan melihat perbedaan yang banyak, maka di saat seperti itu wajib atas kalian bepegang teguh dengan Sunnahku dan Sunnah para Al Khulafa’ Ar Rasyidin. Gigitlah dengan gigi-gigi geraham kalian! Jauhilah perkara-perkara yang baru (bid’ah) karena sesungguhnya semua bid’ah itu sesat!” (Shahih, HR. Ahmad, Abu Dawud dan At Tirmidzi dari hadits Al Irbadh bin Sariyah radhiyallahu ‘anhu, dishahihkan oleh Asy Syaikh Al Albani dalam Shahihul Jami’, no. 2549)

Barakah Mengikuti Sunnah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam

Ketahuilah! Siapa saja dari umat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam yang berupaya untuk senantiasa mengikuti dan menaati beliau shallallahu ‘alaihi wasallam dengan ikhlas serta menjadikannya sebagai suri tauladan dalam kehidupan sehari-hari, maka sungguh ia akan mendapatkan sekian banyak keutamaan yang dijanjikan oleh Allah subhanahu wa ta’ala dan Rasul-Nya shallallahu ‘alaihi wasallam di antaranya adalah sebagaimana keterangan berikut ini:

1. Mengikuti Sunnah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam Merupakan Sebab Diterimanya Suatu Amalan

Telah kita ketahui bersama bahwa dua prinsip dasar yang harus selalu beriringan dalam melandasi suatu amal agar diterima oleh Allah subhanahu wa ta’ala adalah keikhlasan dan mengikuti sunnah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam. Sebaliknya, apabila hilang salah satu dari keduanya, maka amalan itu tidak akan diterima oleh Allah subhanahu wa ta’ala, dan hendaknya kita khawatir suatu amal shalih yang kita kerjakan akan ditolak atau tidak diterima oleh Allah subhanahu wa ta’ala.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

“Barangsiapa yang beramal dengan suatu amalan yang tidak pernah kami tuntunkan, maka amalan tersebut tertolak.” (HR. Muslim)

Dari hadits di atas dapat diambil kesimpulan bahwa salah satu keutamaan terbesar dalam Ittiba’us Sunnah (mengikuti Sunnah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam) adalah diterimanya suatu amalan.

Al Imam Ibnu Qudamah rahimahullah berkata: “Dalam mengikuti Sunnah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam terdapat keberkahan dalam mengikuti syari’at, meraih keridhoan Allah subhanahu wa ta’ala, meninggikan derajat, menentramkan hati, menenangkan badan, membuat marah syaithan, dan berjalan di atas jalan yang lurus.” (Dharuratul Ihtimam, hal. 43)

2. Mengikuti Sunnah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam Membuahkan Persatuan Kaum Muslimin

Para pembaca yang mulia, setiap muslim tentu sangat merindukan terwujudnya persatuan kaum muslimin. Sebagaimana yang telah kita ketahui bersama, bahwa persatuan merupakan perkara yang diridhoi dan diperintahkan oleh Allah subhanahu wa ta’ala, sedangkan perpecahan merupakan perkara yang dibenci dan dilarang oleh-Nya. Allah subhanahu wa ta’ala berfirman (artinya): “Dan berpegang-teguhlah kalian semua dengan tali (agama) Allah, dan janganlah kalian bercerai-berai.” (Ali Imran: 103)

Al Imam Al Hafizh Ibnu Katsir rahimahullah berkata: “Allah telah memerintahkan kepada mereka (umat Islam, red) untuk bersatu dan melarang mereka dari perpecahan. Di dalam banyak hadits juga terdapat larangan dari perpecahan dan perintah untuk bersatu dan berkumpul.” (Tafsir Ibnu Katsir, 1/367)

Adapun asas bagi persatuan yang diridhoi dan diperintahkan oleh Allah subhanahu wa ta’ala bukan berasaskan kesukuan, organisasi, kelompok, daerah, partai, dan sebagainya. Akan tetapi asasnya adalah: Al Qur’an dan Sunnah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dengan pemahaman As-Salafush Shalih (para shahabat Rasulullah, para tabi’in, dan tabi’ut tabi’in).

Al Imam Al Qurthubi rahimahullah ketika menjelaskan ayat 103 surat Ali Imran di atas menyatakan bahwa Allah subhanahu wa ta’ala mewajibkan kepada kita agar berpegang teguh dengan kitab-Nya (Al Qur’an) dan sunnah nabi-Nya, serta merujuk kepada keduanya di saat terjadi perselisihan. Allah subhanahu wa ta’ala juga memerintahkan kepada kita agar bersatu di atas Al Qur’an dan As Sunnah dalam hal keyakinan dan amalan. Hal ini agar kaum muslimin bersatu dan tidak tercerai-berai, sehingga akan meraih kemaslahatan dunia dan agama, serta selamat dari perselisihan. (Lihat Tafsir Al Qurthubi, 4/105)

Mengapa harus dengan pemahaman As Salafus Shalih (para shahabat Rasulullah, para tabi’in, dan tabi’ut tabi’in)?

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah rahimahullah berkata: “Sebagaimana tidak ada generasi yang lebih sempurna dari generasi para shahabat, maka tidak ada pula kelompok setelah mereka yang lebih sempurna dari para pengikut mereka. Maka dari itu, siapa saja yang lebih kuat dalam mengikuti hadits Rasulullah dan sunnahnya, serta jejak para shahabat, maka ia lebih sempurna. Kelompok yang seperti ini keadaannya, akan lebih utama dalam hal persatuan, petunjuk, berpegang teguh dengan tali (agama) Allah, dan lebih terjauhkan dari perpecahan, perselisihan, dan fitnah. Dan barangsiapa yang menyimpang jauh dari itu (Sunnah Rasulullah dan jejak para sahabat), maka ia akan semakin jauh dari rahmat Allah dan semakin terjerumus ke dalam fitnah.” (Minhajus Sunnah, 6/368)

3. Pahala Besar Bagi Orang Yang Berpegang Teguh Dengan Sunnah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam

Dari shahabat Abdullah bin Mas’ud radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

“Sesungguhnya di belakang kalian ada hari-hari kesabaran, kesabaran di hari itu seperti menggenggam bara api, bagi yang beramal (dengan Sunnah Nabi) pada saat itu akan mendapatkan pahala lima puluh.” Ada seseorang yang bertanya: “Lima puluh dari mereka, wahai Rasulullah?” Rasulullah menjawab: “Pahala lima puluh dari kalian.” (Shahih, HR. Abu Dawud dan At Tirmidzi, lihat Silsilah Ash Shahihah, no. 494)

4. Jaminan Istiqomah dan Hidayah Bagi Orang Yang Berpegang Teguh dengan Sunnah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam

Selama seseorang berada di atas Sunnah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, maka ia akan tetap berada di atas jalan istiqomah. Sebaliknya, jika tidak demikian, berarti ia telah menyimpang dari jalan yang lurus. Sebagaimana yang dikatakan oleh shahabat Abdullah bin Umar radhiyallahu ‘anhu:

“Manusia akan senantiasa berada di atas jalan yang lurus selama mereka mengikuti jejak Nabi.” (HR. Al Baihaqi, Miftahul Jannah, no. 197).

Shahabat ‘Urwah radhiyallahu ‘anhu berkata: “Mengikuti sunnah-sunnah Nabi adalah tonggak penegak agama.” (HR. Al Baihaqi, Miftahul Jannah, no. 198).

Salah seorang tabi’in bernama Ibnu Sirin mengatakan: “Dahulu mereka mengatakan: selama seseorang berada di atas jejak Nabi, maka ia berada di atas jalan yang lurus.” (HR. Al Baihaqi, Miftahul Jannah, no. 200)

Oleh karena itu, Allah subhanahu wa ta’ala berfirman (artinya): “Dan jika kalian menaatinya niscaya kalian akan mendapatkan hidayah.” (An Nur: 54)

Asy Syaikh Abdurrahman As Sa’di rahimahullah berkata: “Jika kalian menaati Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam niscaya kalian akan mendapatkan petunjuk ke jalan yang lurus, baik ucapan maupun perbuatan. Dan tidak ada jalan untuk mendapatkan hidayah melainkan dengan menaatinya, dan tanpa (menaatinya) tidak mungkin (akan mendapatkan hidayah) bahkan mustahil.” (Tafsir As Sa’di, hal. 521)

5. Mendapatkan Cinta dari Allah subhanahu wa ta’ala dan akan masuk Al Jannah (surga)

Para pembaca yang mulia, bukankah kita semua ingin mendapatkan cinta dari Allah? Ketahuilah! Bahwa cinta dari Allah subhanahu wa ta’ala hanya akan diperoleh dengan mengikuti dan mentaati Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam. Sebagaimana firman Allah subhanahu wa ta’ala (artinya):

“Katakanlah (wahai Muhammad!): “Jika kalian mencintai Allah, maka ikutilah aku! Niscaya Allah pasti akan mencintai kalian dan mengampuni dosa-dosa kalian.” (Ali Imran: 31)

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam juga bersabda: “Setiap umatku akan masuk Al Jannah (surga) kecuali orang yang enggan.” Para shahabat bertanya: “Siapakah orang yang enggan itu wahai Rasulullah?” Beliau menjawab: “Barangsiapa yang menaatiku, ia akan masuk Al Jannah dan barangsiapa yang bermaksiat kepadaku, maka sungguh ia telah enggan.” (HR. Al Bukhari)

Wahai saudaraku sesama muslim! Sepatutnya bagi kita semua selalu berupaya dengan sungguh-sungguh untuk menyesuaikan segala amal ibadah kita dengan tuntunan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam yang berdasarkan dalil-dalil shahih. Dan kita tidak akan dapat mengetahuinya melainkan dengan belajar ilmu syar’i (agama).

Penutup

Semoga Allah subhanahu wa ta’ala menolong kita untuk senantiasa mempelajari ilmu agama Islam ini yang bersumber dari Al-Qur’an dan As-Sunnah sesuai dengan pemahaman para shahabat nabi radhiyallahu ‘anhum di bawah bimbingan ulama` pewaris Nabi. Dan memberikan kekuatan serta keistiqomahan dalam menjalankan sunnah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam agar tergapai kemuliaan hidup yang hakiki di dunia maupun akhirat.

Amin Ya Rabbal ‘Alamin.
Buletin Islam AL ILMU Edisi: 12/III/VIII/1431

Bahaya Tidak Mengikuti Tuntunan Nabi

Hasil gambar untuk menyelisihi nabiSegala puji hanya milik Allah Ta’ala, satu-satunya Rabb yang berhak untuk diibadahi, shalawat dan salam semoga selalu tercurah kepada Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam, beserta keluarganya, para shahabatnya, dan orang-orang yang selalu mengikuti mereka dengan baik hingga hari akhir.

Agama islam telah sempurna

Kaum muslimin yang dimuliakan oleh Allah Ta’ala, diantara hal yang menjadi keutamaan agama islam diatas agama yang lainnya adalah kesempurnaan ajarannya. Sebagaimana firman Allah Ta’ala (yang artinya): “Pada hari ini telah Aku sempurnakan bagimu agamamu, dan telah Aku cukupkan kepadamu nikmat-Ku, dan telah Aku ridhoi Islam sebagai agama bagimu” (QS. al-Ma’idah: 3), karena ajaran agama kita sudah sempurna, maka sudah sepantasnya bagi kita kaum muslimin untuk mencukupkan diri dalam menjalankan ajaran agama kita sesuai dengan apa yang sudah Allah Ta’ala tetapkan bagi agama kita, dan tidak boleh bagi kita untuk menambah atau mengurangi ajaran agama islam yang telah sempurna ini.

Pedoman utama agama islam

Setelah jelas bagi kita bahwa agama islam sudah sempurna dan tidak membutuhkan penambahan serta pengurangan ajarannya, maka wajib bagi kita untuk mengetahui pedoman dasar dalam agama kita sehingga kita dapat menjalankan agama dengan benar sesuai yang dikehendaki oleh Allah Ta’ala.

[1] Pedoman yang pertama adalah Firman Allah Ta’ala yang berupa al-Qur’anul karim, sebagaimana firman-Nya (yang artinya): “Kitab al-Qur’an ini tidak ada keraguan padanya, petunjuk bagi mereka yang bertaqwa” (QS. Al-Baqarah: 2)

[2] Pedoman yang kedua adalah sunnah sunnah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam yang berupa hadits-hadits yang telah jelas datangnya dari Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam, sebagaimana firman-Nya (yang artinya): “Dan segala yang diberikan Rasul kepadamu, maka terimalah ia, dan segala yang dilarang bagimu, maka tinggalkanlah” (QS. Al-Hasyr: 7)

Kedua pedoman inilah yang akan membuat kita selamat, baik di dunia maupun di akhirat, sebagaimana sabda beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam: “Aku telah tinggalkan kepada kalian dua perkara. Kalian tidak akan sesat selama berpegang kepada keduanya, (yaitu) Kitab Allah dan Sunnah Rasul-Nya”(HR. Al-Hakim, shahih)

Al-Qur’an dan Sunnah sesuai pemahaman para shahabat

Kaum muslimin yang dimuliakan oleh Allah Ta’ala, dari kedua pedoman utama diatas yaitu al-Qur’an dan Sunnah, wajib pula bagi kita untuk memahami keduanya sesuai dengan pemahaman yang benar. Pemahaman yang benar tersebut adalah pemahaman para shahabat nabi radhiallahu ‘anhum dan orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik, sebagaimana sabda Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam: “Wajib bagi kalian berpegang teguh pada ajaran (sunnah)ku dan sunnah para Khulafa’ur Rasyidun sepeninggalku. Gigitlah sunnah itu dengan gigi geraham kalian. Dan hati-hatilah kalian, jangan sekali-kali mengada-adakan perkara-perkara baru dalam agama, karena sesungguhnya setiap perkara baru dalam agama adalah bid’ah, dan setiap bid’ah adalah sesat.” (HR. Abu dawud dan Tirmidzi, shahih).

Dari hadits yang mulia diatas dapat kita ambil faidah bahwa kita diperintahkan oleh Nabi  shallallahu ‘alaihi wa sallam untuk berpegang dengan al-Qur’an dan sunnah sesuai dengan pemahaman para shahabat, serta menjauhi perkara baru dalam agama yang dengan tegas disebut oleh Nabi kita shallallahu ‘alaihi wa sallam sebagai bid’ah.

Pengertian bid’ah

Bid’ah menurut bahasa, diambil dari kata bada’a yaitu, “mengadakan sesuatu tanpa ada contoh sebelumnya”.

Sedangkan menurut istilah, bid’ah adalah: “cara baru dalam beragama, yang merupakan sesuatu yang dibuat-buat dan menyerupai syari’at, serta dilaksanakan dengan tujuan memperbanyak ibadah kepada Allah” (kitab al-I’thisom, Imam Syatibi)

Sehingga yang dimaksud dengan bid’ah yang dilarang oleh Nabi kita shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah suatu hal dan cara baru dalam perkara agama. Sedangkan hal baru dalam perkara dunia, semisal pesawat terbang untuk bepergian, mikrofon untuk mengeraskan suara, telepon untuk berkomunikasi, dan lain sebagainya dari perkara dan sarana dunia, maka ini tidak termasuk bid’ah secara istilah yang dilarang oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Bahkan beliau membolehkan dan mempersilahkan bagi kita untuk berinovasi seluas-luasnya dalam perkara dunia selama tidak melanggar syari’at, sebagaimana sabda beliau: “Kalian lebih mengetahui urusan dunia kalian” (HR. Muslim). Adapun bid’ah di dalam perkara agama, maka beliau melarang keras akan hal itu karena bid’ah merupakan hal yang berbahaya bagi agama kita.

Bahaya bid’ah

Bid’ah dalam agama mempunyai banyak bahaya, baik bagi agama islam maupun pelakunya. Diantara bahaya bid’ah adalah:

[1] Amalan pelakunya tertolak

Orang yang membuat bid’ah dan mengamalkan bid’ah maka amalannya tidak diterima oleh Allah Ta’ala, berdasarkan hadits: “Barangsiapa melakukan amalan yang tidak ada perintahnya dari kami, maka amalan tersebut tertolak.” (HR. Bukhari dan Muslim)

[2] Bisa mendapat laknat dari Allah Ta’ala

Setiap orang yang membuat bid’ah dalam agama maka hakikatnya telah melakukan sesuatu hal yang dimurkai dan dibenci oleh Allah Ta’ala, karena telah mengubah-ubah aturan dan agama yang diturunkan oleh-Nya. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Barangsiapa yang berbuat bid’ah atau membantu pelaku bid’ah, maka baginya laknat Allah, para malaikat-Nya dan seluruh manusia” (HR. Bukhari dan Muslim)

[3] Pelakunya sulit untuk bertaubat

Banyak dari pelaku bid’ah akan sulit untuk bertaubat, karena merasa apa yang dilakukannya adalah sebuah ketaatan. Bahkan tak jarang ketika kita menasihati mereka agar meninggalkan perbuatan bid’ahnya, mereka akan memusuhi kita dan menjuluki kita dengan sebutan yang tidak baik. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Sesungguhnya Allah menutup taubat dari seorang pelaku bid’ah sampai ia meninggalkan bid’ahnya.” (HR. at-Thabrani, shahih). Demikian pula penjelasan dari Imam Sufyan Ats-tsauri rahimahullah, beliau berkata: “Bid’ah itu lebih disukai Iblis dibandingkan dengan maksiat biasa. Karena pelaku maksiat itu lebih mudah bertaubat, sedangkan pelaku bid’ah itu sulit bertaubat” (Talbis iblis, ibnul jauzi).

[4] Perkara Bid’ah dapat menghilangkan sunnah

Salah seorang ulama tabi’in, Imam Hasan bin ‘Athiyah rahimahullah berkata: “Tidaklah suatu kaum melakukan suatu bid’ah melainkan Allah akan mencabut suatu sunnah yang semisal dari lingkungan mereka” (Lamud-duril mantsur). Salah satu contoh sederhana dari bahaya ini adalah meredupnya sunnah membaca sural al-Kahfi pada malam jum’at, dan berganti dengan membaca surat yaasin secara bersama-sama. Padahal dalil membaca surat yasin adalah sangat lemah, sedangkan dalil membaca surat al-kahfi adalah shahih, sebagaimana sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam: “Barangsiapa membaca surat Al Kahfi pada hari Ju’mat, akan diberikan cahaya baginya di antara dua Jum’at.” (HR. al-Hakim dan Baihaqi, shahih)

Imam Syafi’i rahimahullah menjelaskan: “Aku juga menyukai surat al-Kahfi dibaca pada malam Jum’at” (Shahih Al Adzkar).

Tidak ada bid’ah hasanah

Sebagian saudara kita kaum muslimin masih mempunyai keyakinan bahwa bid’ah dalam agama ada yang baik atau hasanah. Mereka berdalih dengan perkataan shahabat Umar bin Khaththab radhiallahu ‘anhu maupun sebagian para ulama yang membagi bid’ah menjadi beberapa jenis. Maka perlu diketahui bahwa pembagian tersebut hanyalah pembagian bid’ah dari sisi bahasa, bukan dari sisi istilah syar’i. Imam ibnu rajab rahimahullah berkata: “Adapun perkataan sebagian  ulama terdahulu yang menganggap adanya bid’ah yang baik, maka yang dimaksudkan adalah bid’ah lughowi (bid’ah secara bahasa) dan bukan menurut istilah syar’i”(jami’ul ‘ulum wal hikam).

Adapun bid’ah secara istilah syar’i, maka telah jelas dan tegas dijelaskan oleh Nabi kita shallallahu ‘alaihi wa sallam, para shahabatnya, maupun para ulama, bahwa semua bid’ah adalah kesesatan dan tidak ada bid’ah hasanah. Berikut adalah sebagian nukilannya:

[1] Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Jauhkanlah diri kalian dari perkara-perkara yang baru dalam agama, karena setiap perkara yang baru dalam agama adalah bid’ah dan setiap bid’ah adalah sesat” (HR. Abu dawud, shahih)

[2] Shahabat ‘Abdullah bin ‘Umar radhiallahu ‘anhuma berkata: “Setiap bid’ah adalah kesesatan, meskipun sebagian manusia memandangnya sebagai hasanah (kebaikan)” (al-Ibanah, Ibnu Baththah)

[3] Imam Malik rahimahullah berkata: “Barangsiapa yang berbuat suatu bid’ah dalam Islam yang dia anggap itu adalah suatu hasanah (kebaikan), maka sungguh dia telah menuduh Rasulullah shollallahu ‘alaihi wa sallam telah mengkhianati risalah” (al-I’tishom, As-Syatibhi)

[4] Imam Syafi’i rahimahullah berkata: “Barangsiapa yang menganggap baik (perbuatan bid’ah), sungguh dia telah membikin syari’at tandingan.” (al-Mankhul, al-Ghazali)

[5] Imam Ahmad bin Hanbal rahimahullah berkata : “Pokok sunnah di sisi kami adalah berpegang teguh dengan apa-apa yang para shahabat Rasulullah Shollallahu ‘alaihi wa ‘ala alihi wasallam berada di atasnya, meneladani mereka serta meninggalkan bid’ah dan setiap bid’ah adalah kesesatan.” (Ushul Sunnah, Imam Ahmad)

Penutup

Sebagai penutup, penulis dengan penuh kerendahan hati mengajak kepada para da’i, para ustadz, dan masyarakat secara umum untuk bersama-sama berusaha meninggalkan dan menghilangkan amalan maupun keyakinan bid’ah yang telah banyak tersebar disekitar kita. Meskipun bid’ah tersebut telah mengakar dan membudaya ditengah-tengah kita, hendaknya tidak menyurutkan langkah kita untuk terus berupaya membersihkan agama kita dari noda-noda bid’ah. Tentunya dengan ilmu serta dakwah yang hikmah, mengedepankan kelemah lembutan dan akhlak yang baik, agar ajaran agama islam yang kita cintai ini kembali murni sebagaimana yang dibawa oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan para shahabatnya. Wallahu a’lam

Penulis : Nizamul Adli Wibisono, ST (Alumni Ma’had Al ‘Ilmi Yogyakarta)

Murojaah : Ust Afifi Abdul Wadud, BIS

 

Kewajiban Ittiba’ Berdasarkan pada Dalil-Dalil al-Qur’an

Hasil gambar untuk pemandangan terindah
Firman Allah: “Maka jika mereka beriman kepada apa yang kamu telah beriman kepadanya, sungguh mereka telah mendapat petunjuk, dan jika mereka berpaling, sesungguhnya mereka berada dalam permusuhan (denganmu). Maka Allah akan memeliharamu dari mereka. dan Dia-lah Yang Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.” (al-Baqarah: 137)

Melalui ayat ini Allah menjadikan iman para shahabat Nabi saw. sebagai timbangan (tolok ukur)
Untuk membedakan antara petunjuk dan kesesatan, antara kebenaran dan kebathilan. Apabila ahlul kitab beriman sebagaimana berimannya para shahabat Nabi saw. maka sungguh mereka mendapat hidayah (petunjuk) yang mutlak dan sempurna. Jika mereka (ahlul kitab) berpaling (tidak beriman) sebagaimana berimannya para shahabat, maka mereka jatuh ke dalam perpecahan, perselisihan, dan kesesatan yang sangat jauh…

Memohon hidayah dan iman adalah sebesar-besar kewajiban, menjauhkan perselisihan dan kesesatan adalah wajib; jadi mengikuti (manhaj) shahabat Rasul adalah kewajiban yang paling wajib.

Firman Allah: “Dan bahwa (yang Kami perintahkan ini) adalah jalanKu yang lurus, Maka ikutilah Dia, dan janganlah kamu mengikuti jalan-jalan (yang lain), karena jalan-jalan itu mencerai beraikan kamu dari jalanNya. yang demikian itu diperintahkan Allah agar kamu bertakwa.” (al-An’am: 153)

Ayat ini sebagaimana dijelaskan dalam hadits Ibnu Mas’ud bahwa jalan itu hanya satu, sedangkan jalan selainnya adalah orang-orang yang mengikuti hawa nafsu dan jalannya ahli bid’ah. Hal ini sesuai dengan apa yang telah dijelaskan oleh Imam Mujahid ketika menafsirkan ayat ini. Jalan yang satu ini adalah jalan yang ditempuh oleh Rasulullah saw. dan para shahabatnya. Jalan ini adalah ash-Shirath al-Mustaqiim yang wajib atas setiap Muslim menempuhnya dan jalan inilahyang akan mengantarkan kepada Allah.

Ibnul Qayyim menjelaskan bahwa jalan yang mengantarkan seseorang kepada Allah hanya satu… tidak ada seorang pun yang dapat sampai kepada Allah kecuali melalui jalan yang satu ini.

Firman Allah: “Dan Barangsiapa yang menentang Rasul sesudah jelas kebenaran baginya, dan mengikuti jalan yang bukan jalan orang-orang mukmin, Kami biarkan ia leluasa terhadap kesesatan yang telah dikuasainya itu dan Kami masukkan ia ke dalam Jahannam, dan Jahannam itu seburuk-buruk tempat kembali.” (an-Nisaa’: 115)

Ayat ini menunjukkan bahwa menyalahi jalannya kaum Mukminin sebagai sebab seseorang terjatuh ke dalam jalan-jalan kesesatan dan diancam dengan masuk neraka jahanam. Ayat ini juga menunjukkan bahwa mengikuti Rasulullah saw. adalah sebesar-besar prinsip dalam Islam yang mempunyai konsekuensi wajibnya umat Islam untuk mengikuti jalannya kaum Mukminin, sedangkan jalannya kaum Mukminin pada ayat ini adalah keyakinan, perkataan, dan perbuatan para shahabat. karena ketika turunnya wahyu tidak ada orang yang beriman kecuali shahabat, seperti firman Allah: “Rasul (Muhammad saw) telah beriman kepada al-Qur’an yang diturunkan kepadanya dari Rabb-nya, demikian pula orang-orang yang beriman…” (al-Baqarah: 285)

Orang-orang Mukmin ketika itu hanyalah para shahabat, tidak ada yang lain.

Ayat di atas menunjukkan bahwa mengikuti jalan para shahabat dan memahami syariat Allah adalah wajib dan menyalahinya adalah kesesatan.

Firman Allah: “Orang-orang yang terdahulu lagi yang pertama-tama (masuk Islam) dari golongan muhajirin dan anshar dan orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik, Allah ridha kepada mereka dan merekapun ridha kepada Allah dan Allah menyediakan bagi mereka surga-surga yang mengalir sungai-sungai di dalamnya selama-lamanya. mereka kekal di dalamnya. Itulah kemenangan yang besar.” (at-Taubah: 100)

Ayat tersebut sebagi hujjah bahwa manhaj para shahabat adalah benar. Orang yang mengikuti mereka akan mendapatkan keridlaan dari Allah dan disediakan bagi mereka surga. Mengikuti manhaj mereka adalah wajib atas setiap Mukmin. Kalau mereka tidak mau mengikuti jalan mereka maka mereka akan mendapat hukuman dan tidak mendapat keridlaan dari Allah. Hal ini harus diperhatikan.

Firman Allah: “Kamu adalah ummat terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh kepada yang ma’ruf dan mencegah dari yang mungkar, dan beriman kepada Allah…” (Ali ‘Imraan: 110)

Ayat ini menunjukkan bahwa Allah telah menetapkan keutamaan atas sekalian umat-umat yang ada dan dalam hal ini menunjukkan keistiqamahan para shahabat dalam setiap keadaan karena mereka menyimpang dari syariat yang terang benderang, sehingga Allah mempersaksikan bahwa mereka memerintahkan kepada setiap kema’rufan (kebaikan) dan mencegah setiap kemungkaran. Hal tersebut menunjukkan secara pasti bahwa pemahaman mereka (shahabat) adalah hujjah atas orang-orang setelah mereka sampai Allah swt. mewariskan bumi dan isinya.

Syarah ‘Aqidah Ahlus Sunnah Wal Jama’ah; Yazid bin Abdul Qadir Jawas
Sumber : https://alquranmulia.wordpress.com/2014/02/24/kewajiban-ittiba-berdasarkan-pada-dalil-dalil-al-quran/

Kewajiban Ittiba’ Berdasarkan pada Dalil-Dalil ash-Sunnah

Hasil gambar untuk padang pasir terindahAbdullah bin Mas’ud berkata: Rasulullah membuat garis dengan tangannya kemudian bersabda: “Ini jalan Allah yang lurus.” Lalu beliau membuat garis-garis di kanan kirinya, kemudian bersabda: “Ini adalah jalan-jalan yang bercerai-berai (sesat), tidak satupun dari jalan-jalan ini kecuali di dalamnya terdapat syaithan yang menyeru kepadanya.” Selanjutnya beliau membaca firman Allah [yang artinya]: “Dan bahwa [yang Kami perintahkan ini] adalah jalan-Ku yang lurus, maka ikutilah dia, janganlah kalian mengikuti jalan-jalan [yang lain] karena jalan-jalan itu mencerai beraikan kamu dari jalan-Nya. yang demikian itu diperintahkan oleh Allah kepadamu agar kamu bertakwa.” (al-An’am: 153) (HR Ahmad, al-Hakim; shahih)

Dari ‘Abdullah bin Mas’ud ra. ia berkata, Rasulullah saw. bersabda: “Sebaik-baik manusia adalah pada masaku ini (yaitu masa para shahabat), kemudian yang sesudahnya, kemudian yang sesudahnya. Setelah itu akan datang suatu kaum yang persaksian salah seorang dari mereka mendahului sumpahnya dan sumpahnya mendahului persaksiannya.” (Muttafaq ‘alaih; hadits mutawatir)

Dalam hadist ini Rasulullah mengisyaratkan tentang kebaikan dan keutamaan mereka, yang merupakan sebaik-baik manusia. Sedangkan perkataan ‘sebaik-baik manusia’ yaitu tentang ‘aqidah, manhajnya, akhlaknya, dakwahnya dan lain-lainnya. Oleh karena itu mereka dikatakan sebaik-baik manusia.

Dalam riwaya lain disebutkan dengan kata ‘sebaik-baik kalian’ dan riwayat lain disebutkan ‘sebaik-baik ummatku’.

Dalam hadits lain pun disebutkan tentang kewajiban kita mengikuti manhaj Salafus shalih (para shahabat), yaitu hadits yang terkenal dengan hadits ‘Irbadh bin Sariyah, hadits ini terdapat pula dalam al-Arba’in an-Nawawiyah no. 28:

Berkata al-Irbadh bin Sariyah: Suatu hari Rasulullah saw. pernah shalat bersama kami, kemudian beliau menghadap kepada kami dan memberi nasehat kepada kami dengan nasehat yang menjadikan air mata berlinang dan membuat hati bergetar, maka seseorang berkata: “Wahai Rasulallah, nasehat ini seakan-akan nasehat dari seorang yang akan berpisah, maka berilah kami wasiat.” Maka Rasulullah saw. bersabda: “Aku wasiatkan kepada kalian agar tetap bertaqwa kepada Allah, tetaplah mendengar dan taat, walaupun yang memerintah kalian adalah seorang budak dari Habasyah. Sungguh orang yang masih hidup di antara kalian setelahku akan melihat banyak perselisihan, maka wajib atas kalian berpegang teguh kepada sunnahku dan sunnah khulafaur Rasyidin yang mendapat petunjuk. Peganglah erat-erat dan gigitlah ia dengan gigi gerahammu. Dan jauhilah oleh kalian perkara-perkara yang baru [dalam agama], karena sesungguhnya setiap perkara yang baru itu adalah bid’ah. Dan setiap bid’ah itu adalah sesat.” (HR Ahmad [iv/ 126/127] dll)

Nabi saw. mengabarkan tentang akan terjadinya perselisihan dan perpecahan pada ummatnya, kemudian beliau memberikan jalan keluar untuk selamat dunia dan akhirat, yaitu dengan mengikuti sunnahnya dan sunnah para shahabatnya. Hal ini menunjukkan tentang wajibnya mengikuti sunnahnya (sunnah Nabi saw.) dan sunnah para shahabatnya.

Kemudian dalam hadits yang lain, ketika Rasulullah saw. menyebutkan tentang hadits iftiraq [akan terpecahnya umat ini menjadi 73 golongan], beliau bersabda: “Ketahuilah sesungguhnya orang-orang sebelum kamu dari golongan ahlul kitab telah terpecah menjadi 72 golongan. Sesungguhnya [ummat] agama ini [Islam] akan berpecah-belah menjadi 73 golongan dan 72 golongan masuk di dalam neraka dan hanya satu golongan yang di dalam surga, yaitu al-Jama’ah.” (HR Abu Dawud [no.4597])

Dalam riwayat lain disebutkan: “Semua golongan tersebut tempatnya di neraka, kecuali satu [yaitu] yang aku dan para shahabatku berjalan di atasnya.” (HR at-Tirmidzi [no.2641])

Hadits iftiraq tersebut juga menunjukkan bahwa ummat Islam akan terpecah menjadi 73 golongan, semua binasa kecuali satu golongan, yaitu yang mengikuti apa yang telah dilaksanakan oleh Rasulullah saw. dan para shahabatnya. Jadi, jalan selamat itu hanya satu, yaitu mengikuti al-Qur’an dan as-Sunnah menurut pemahaman Salafush Shalih [para shahabat].

Hadits di atas menunjukkan bahwa setiap orang yang mengikuti Nabi saw. dan para shahabatnya adalah termasuk ke dalam al-Firqatun Naajiyah [golongan yang selamat]. Sedangkan yang menyelisihi [tidak mengikuti] para shahabat, maka mereka adalah golongan yang binasa dan akan mendapat ancaman dengan masuk ke dalam neraka.

Syarah ‘Aqidah Ahlus Sunnah Wal Jama’ah; Yazid bin Abdul Qadir Jawas
Sumber: https://alquranmulia.wordpress.com/2014/02/24/kewajiban-ittiba-berdasarkan-pada-dalil-dalil-ash-sunnah/

Makna hizbiyyah

Hasil gambar untuk padang pasir terindahAl hizb secara bahasa artinya sekelompok manusia. Dalam kitab Lisaanul Arab disebutkan:

الحِزْبُ: جَماعةُ الناسِ، والجمع أَحْزابٌ

“Al hizb artinya sekelompok manusia, jamaknya: ahzaab”

Secara istilah, al hizb memiliki beberapa makna:

    An nashir, artinya penolong; pembela. Sebagaimana dalam ayat:

    وَمَنْ يَتَوَلَّ اللَّهَ وَرَسُولَهُ وَالَّذِينَ آمَنُوا فَإِنَّ حِزْبَ اللَّهِ هُمُ الْغَالِبُونَ

    “barangsiapa loyal kepada Allah dan Rasul-Nya dan orang-orang yang beriman (adalah para wali Allah). Sesungguhnya hizbullah itu adalah orang-orang yang menang” (QS. Al Maidah: 55).
    Ath Thabari dalam Tafsirnya mengatakan:

    ويعني بقوله:”فإن حزب الله”، فإن أنصار الله

    “yang dimaksudkan dalam firmannya ‘Sesungguhnya hizbullah itu…‘ adalah ‘sesungguhnya para pembela Allah itu…‘” (Tafsir Ath Thabari, 10/428)
    Al fariq; al firqah, artinya kelompok agama; sekte; aliran. Sebagaimana dalam ayat:

    فَتَقَطَّعُوا أَمْرَهُمْ بَيْنَهُمْ زُبُرًا كُلُّ حِزْبٍ بِمَا لَدَيْهِمْ فَرِحُونَ

    “Kemudian mereka (pengikut-pengikut rasul itu) menjadikan agama mereka terpecah belah menjadi beberapa pecahan. Tiap-tiap hizb merasa bangga dengan apa yang ada pada sisi mereka (masing-masing)” (QS. Al Mu’minun: 53).

    Ath Thabari dalam Tafsirnya mengatakan:

    وقوله: (كُلُّ حِزْبٍ بِمَا لَدَيْهِمْ فَرِحُونَ) يقول: كل فريق من تلك الأمم، بما اختاروه لأنفسهم من الدين والكتب، فرحون معجبون به، لا يرون أن الحقّ سواه.

    “firman Allah ‘Tiap-tiap hizb merasa bangga dengan apa yang ada pada sisi mereka’ artinya setiap kelompok agama dari umat tersebut merasa bangga dan ujub dengan agama dan kitab yang mereka pilih. Mereka tidak melihat bahwa kebenaran bisa jadi dari selain mereka” (Tafsir Ath Thabari, 19/42).
    Al Jundu wal atba’ wal ash-hab, artinya tentara atau pengikut atau golongan. Sebagaimana dalam ayat:

    اسْتَحْوَذَ عَلَيْهِمُ الشَّيْطَانُ فَأَنْسَاهُمْ ذِكْرَ اللَّهِ أُولَئِكَ حِزْبُ الشَّيْطَانِ أَلَا إِنَّ حِزْبَ الشَّيْطَانِ هُمُ الْخَاسِرُونَ

    “Syaitan telah menguasai mereka lalu menjadikan mereka lupa mengingat Allah; mereka itulah golongan syaitan. Ketahuilah, bahwa sesungguhnya golongan syaitan itulah golongan yang merugi” (QS. Al Mujadalah: 19).

    Dalam Tafsir Jalalain disebutkan:

    أولئك حزب الشيطان” أتباعه”

    “‘mereka itulah hizbus syaitan’ maksudnya: pengikut setan”
    Al wali, artinya wali yaitu orang yang dicenderungi untuk diberikan kasih sayang. Sebagaimana dalam ayat:

    أُولَئِكَ كَتَبَ فِي قُلُوبِهِمُ الْإِيمَانَ وَأَيَّدَهُمْ بِرُوحٍ مِنْهُ وَيُدْخِلُهُمْ جَنَّاتٍ تَجْرِي مِنْ تَحْتِهَا الْأَنْهَارُ خَالِدِينَ فِيهَا رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمْ وَرَضُوا عَنْهُ أُولَئِكَ حِزْبُ اللَّهِ

    “Mereka itulah orang-orang yang telah menanamkan keimanan dalam hati mereka dan menguatkan mereka dengan pertolongan yang datang daripada-Nya. Dan dimasukan-Nya mereka ke dalam surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai, mereka kekal di dalamnya. Allah ridha terhadap mereka, dan merekapun merasa puas terhadap (limpahan rahmat)-Nya. Mereka itulah hizbullah” (QS. Al Mujadalah: 22).

    Ath Thabari menjelaskan:

    (أُولَئِكَ حِزْبُ اللَّهِ) يقول: أولئك الذين هذه صفتهم جند الله وأولياؤه

    “‘Mereka itulah hizbullah‘ maksudnya mereka adalah orang-orang yang demikian sifatnya, mereka itu tentara Allah dan wali Allah” (Tafsir Ath Thabari, 23/258) 1.
    Kelompok yang berfanatik golongan yang memerangi kebenaran. Sebagaimana dalam ayat:

    يا قوم إني أخاف عليكم مثل يوم الأحزاب

    “Dan orang yang beriman itu berkata: ‘Hai kaumku, sesungguhnya aku khawatir kamu akan ditimpa (bencana) seperti peristiwa kehancuran ahzab’” (QS. Al Mu’min: 30).

    Dalam Lisaanul Arab disebutkan:

    والأَحْزابُ: جُنودُ الكُفَّار، تأَلَّبوا وتظاهروا على حِزبْ النبيّ، صلى اللّه عليه وسلم، وهم: قريش وغطفان وبنو قريظة

    “Ahzab adalah pasukan kuffar yang menentang pengikut Nabi Shallallahu’alaihi Wasallam, yaitu kaum Quraisy, Ghathafan dan Bani Quraizhah”

    Ibnu Sayyidihi mengatakan:

    الأحزاب هاهنا قوم نوح، وعاد، وثمود، ومن أهلك بعدهم

    “ahzab dalam ayat ini adalah kaum Nuh, kaum Ad, kaum Tsamud dan kaum-kaum yang binasa setelah mereka” (Al Muhkam wal Muhith Al A’zham, 3/231).

    Syaikh As Sa’di mengatakan:

    الأحْزَابِ يعني الأمم المكذبين، الذين تحزبوا على أنبيائهم، واجتمعوا على معارضتهم

    “Al ahzab yaitu kaum yang mendustakan kebenaran, mereka berkelompok-kelompok menentang dan melawan Nabi mereka” (Taisir Karimirrahman, 736).

Makna yang terakhir inilah yang kita maksudkan dalam pembahasan kita ini. Maka hizbiyyah adalah sikap ta’ashub (fanatik golongan) seseorang terhadap suatu tokoh, atau terhadap kelompoknya, atau golongannya, dalam akidah, pemikiran dan perbuatan mereka yang bertentangan dengan kebenaran.

Syaikh Rabi’ bin Hadi Al Madkhali mengatakan: “setiap yang menyelisihi manhaj salaf maka ia adalah ahzab yang sesat. Hizbiyyah tidak ada persyaratannya. Allah menamai umat terdahulu sebagai ahzab dan menamai kaum Quraisy sebagai ahzab karena mereka berkumpul bersama dengan yang sepaham dengan mereka untuk menentang Rasulullah. Padahal mereka tidak memiliki organisasi atau apapun. Maka adanya organisasi bukanlah syarat dari hizbiyyah. Jika hizb tersebut diatur oleh sebuah organisasi maka lebih bertambah lagi hizbiyyah-nya. Fanatik kepada suatu pemikiran tertentu yang bertentangan dengan Al Qur’an dan As Sunnah, lalu loyal dan saling mencintai karena pemikiran tersebut, inilah yang disebut tahazzub (hizbiyyah). Inilah tahazzub walaupun tidak terorganisir. Membangun suatu pemikiran yang menyimpang lalu mengumpulkan manusia dalam pemikiran tersebut, inilah hizbiyyah, baik terorganisir ataupun tidak. Selama mereka berada dalam satu pemikiran yang menyelisihi Al Qur’an dan As Sunnah, inilah hizbiyyah” 2.

Syaikh Yahya Al Hajuri menjelaskan: “Hizbiyyah adalah orang-orang yang cakupan wala wal bara’-nya sempit. Terbatas hanya pada orang-orang yang bersama mereka saja, tanpa berpegang teguh kepada Al Qur’an dan As Sunnah. Hizbiyyun adalah setiap yang menentang Ahlussunnah. Setiap yang menentang Ahlussunnah maka pada dirinya, sesuai penyimpangannya, terdapat kadar bid’ah dan kadar hizbiyyah” 3.
Sikap kita: Jauhilah hizbiyyah!

Syaikh Muhammad bin Shalih Al Utsaimin rahimahullah mengatakan: “wajib bagi para penuntut ilmu agar melepaskan diri dari bergolong-golongan dan juga hizbiyyah yaitu mengikat wala dan bara‘ kepada suatu kelompok tertentu atau aliran tertentu. Tidak diragukan lagi bahwa hizbiyyah bertentangan dengan manhaj salaf. Salafus shalih tidak ada beberapa kelompok, melainkan mereka hanya 1 kelompok saja. Di bawah naungan firman Allah ‘azza wa jalla:

هُوَ سَمَّاكُمُ الْمُسْلِمِينَ مِنْ قَبْلُ

“Allah lah yang menamakan kalian sebagai Muslimin dari dahulu” (QS. Al Hajj: 78)

Tidak ada hizbiyyah dan tidak ada berkelompok-kelompok. Tidak ada loyalitas dan saling mencintai kecuali sesuai dengan apa yang datang dari Al Qur’an dan As Sunnah.

Misalnya sebagian manusia ada yang ber-hizbiyyah pada kelompok tertentu, mereka mengikrarkan pemikiran kelompok tersebut sebagai manhaj mereka dan untuk melegalkan hal itu mereka berdalil dengan dalil-dalil yang justru sebenarnya menentang mereka. Mereka membela orang-orang yang berada dalam kelompok tersebut dan menyesatkan yang di luar kelompok walaupun yang di luar kelompok tersebut lebih dekat kepada kebenaran. Mereka memiliki slogan: “yang tidak bersamaku, maka itu musuhku“. Ini adalah slogan yang hina. Karena sesungguhnya ada penengah yang benar antara kedua sisi tersebut. Jika mereka bertentangan denganmu namun di atas kebenaran, maka pada hakikatnya ia bersamamu. Karena Nabi Shallallahu’alaihi Wasallam bersabda:

انصر أخاك ظالمًا أو مظلومًا

“tolonglah saudaramu yang zhalim dan terzalimi”

Menolong orang yang zalim adalah dengan mencegahnya berbuat zalim.

Maka tidak ada hizbiyyah dalam Islam. Oleh karena itu ketika muncul banyak hizb di tengah kaum Muslimin, bermacam-macam manhaj, berpecah-belah umat, jadilah mereka saling menyesatkan satu-sama-lain, saling memakan bangkai saudaranya yang lain, maka mereka akan menemui kelemahan. Sebagaimana firman Allah Ta’ala:

وَلَا تَنَازَعُوا فَتَفْشَلُوا وَتَذْهَبَ رِيحُكُمْ

“dan janganlah kamu berbantah-bantahan, yang menyebabkan kamu menjadi gentar dan hilang kekuatanmu” (QS. Al Anfal: 46).

Oleh karena itu kita dapati sebagian penuntut ilmu yang belajar kepada salah seorang Syaikh. Kemudian ia membela Syaikh tersebut, baik dalam kebenaran maupun dalam kebatilan. Menentang yang selainnya dan membid’ahkan yang selain mereka. Ia lalu memandang bahwa Syaikh-nya tersebut adalah orang yang alim dan mushlih, sedangkan Syaikh yang lain itu jahil dan mufsid. Ini adalah sebuah kesalahan besar. Bahkan yang wajib adalah mengambil perkataan yang sesuai dengan Al Qur’an dan As Sunnah serta pendapat para sahabat Nabi Shallallahu’alaihi Wasallam” 4.

Syaikh Shalih bin Fauzan Al Fauzan pernah ditanya: “apakah hizbiyyah itu haram secara dzatnya atau dibolehkan karena adanya sebab lain?” Beliau menjawab: “Berpecah-belah itu tidak diperbolehkan, baik ia dinamakan hizbiyyah atau bukan hizbiyyah. Perpecahan itu tercela dan dilarang oleh Allah dan Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam. Allah dan Rasul-Nya memerintahkan untuk bersatu padu.  Maka berpecah-belah itu tidak diperbolehkan, baik ia dinamakan hizbiyyah atau bukan” 5.

Al Imam Al Albani rahimahullah ditanya: “apa hukum hizbiyyah dan ahzab dalam Islam?”. Beliau menjawab: “kami katakan dengan tegas bahwa kami memerangi hizbiyyah. Karena hizbiyyah ini akan menerapkan apa yang difirmankan oleh Allah Tabaaraka wa Ta’ala:

كُلُّ حِزْبٍ بِمَا لَدَيْهِمْ فَرِحُونَ

‘Tiap-tiap hizb merasa bangga dengan apa yang ada pada sisi mereka (masing-masing)‘

dan karena hizbiyyah tentu akan memecah belah persatuan kaum Muslimin, dan akan menambahkan kelemahan mereka yang saat ini sudah lemah. Maka semakin bertambahkan kelemahan.

Maka tidak ada hizbiyyah dalam Islam. Yang ada hanya satu hizb yang dinyatakan dalam Al Qur’an.

أَلَا إِنَّ حِزْبَ اللَّهِ هُمُ الْمُفْلِحُون

“ketahuilah sesungguhnya hizbullah itu adalah orang-orang yang beruntung”

Namun siapa hizbullah itu? Mereka adalah jama’ah Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam. Semakin seorang Muslim di zaman ini mendekati petunjuk Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam dan manhaj para sahabat sebagaimana dalam hadits firqatun najiyyah, maka ia semakin dalam keamanan. Demikian juga sebaliknya. Dan ini membutuhkan kepada ilmu tentang Al Qur’an dan As Sunnah. Dan inilah (ilmu) timbangan yang pasti bagi setiap Muslim yang berakal agar ia terlepas dari hizbiyyah yang buta dan dari hawa nafsu. Dan hendaknya setiap Muslim mengetahui bahwa tidak ada jalan lain untuk mengenali manhaj para sahabat Nabi kecuali dengan ilmu. Dan orang-orang yang berada dalam kelompok-kelompok Islam atau kelompok-kelompok yang lain semakin mereka dekat kepada ilmu Al Qur’an dan As Sunnah, maka ia semakin kuat perkataannya dan semakin benar petunjuknya. Demikian pula sebaliknya.

Oleh karena itu, hendaknya kita menuntut ilmu yang shahih. Karena ilmu ini yang akan membawa kita kepada jalan firqatun najiyyah. Adapun yang selain ilmu, tidak akan bisa mengantarkan kepada firqatun najiyyah selamanya-lamanya” 6.

Wallahu waliyut taufiq was sadaad.

***

Penyusun: Yulian Purnama

Artikel Muslim.or.id

    Banyak mengambil faedah dari Ta’riful Hizbiyyah, Ahmad bin Hadi bin Hamdani, http://www.albaidha.net/vb4/showthread.php?t=52333 ↩
    Sumber: http://aloloom.net/vb/showthread.php?t=283 ↩
    http://www.sh-yahia.net/show_s_fatawa_113.html ↩
    Kitaabul Ilmi, 89-91 ↩
    Sumber: http://www.alfawzan.af.org.sa/node/14240 ↩
    Sumber: http://www.almeske.net/vb/t11760.html ↩