Saturday, April 28, 2018

Berbicara Agama Tanpa Ilmu Lebih Bahaya dari Dosa Kesyirikan

Hasil gambar untuk pemandangan indahIbnul Qayyim mengatakan, “Allah subhanahu wa ta’ala telah mengharamkan berbicara tentang-Nya tanpa dasar ilmu baik dalam fatwa dan memberi keputusan. Allah menjadikan perbuatan ini sebagai keharaman paling besar bahkan Dia menjadikannya sebagai tingkatan dosa paling tinggi.”

Allah Ta’ala berfirman,

قُلْ إنَّمَا حَرَّمَ رَبِّيَ الْفَوَاحِشَ مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ وَالْإِثْمَ وَالْبَغْيَ بِغَيْرِ الْحَقِّ وَأَنْ تُشْرِكُوا بِاللَّهِ مَا لَمْ يُنَزِّلْ بِهِ سُلْطَانًا وَأَنْ تَقُولُوا عَلَى اللَّهِ مَا لَا تَعْلَمُونَ

“Katakanlah: “Rabbku hanya mengharamkan perbuatan yang keji, baik yang nampak atau pun yang tersembunyi, dan perbuatan dosa, melanggar hak manusia tanpa alasan yang benar, (mengharamkan) mempersekutukan Allah dengan sesuatu yang Allah tidak menurunkan hujah untuk itu dan (mengharamkan) mengada-adakan terhadap Allah apa yang tidak kamu ketahui“.” (QS. Al A’rof: 33)”

Ibnul Qayyim -rahimahullah- ketika menjelaskan ayat di atas mengatakan, “Allah mengurutkan keharaman menjadi empat tingkatan. Allah memulai dengan menyebutkan tingkatan dosa yang lebih ringan yaitu al fawaahisy (perbuatan keji). Kemudian Allah menyebutkan keharaman yang lebih dari itu, yaitu melanggar hak manusia tanpa jalan yang benar. Kemudian Allah beralih lagi menyebutkan dosa yang lebih besar lagi yaitu berbuat syirik kepada Allah. Lalu terakhir Allah menyebutkan dosa yang lebih besar dari itu semua yaitu berbicara tentang Allah tanpa ilmu. Larangan berbicara tentang Allah tanpa ilmu ini mencakup berbicara tentang nama dan shifat Allah, perbuatan-Nya, agama dan syari’at-Nya.”

Mengapa bisa dikatakan demikian? Karena berbicara tentang Allah dan agama-Nya tanpa dasar ilmu akan membawa pada dosa-dosa yang lainnya.

Semoga hal ini sebagai nasehat bagi kita semua, termasuk juga penulis. Begitu banyak kita lihat saudara-saudara kita memberi komentar dalam masalah agama, padahal tidak ada satu pun dasar dari Al Qur’an dan Hadits yang ia bawa, bahkan mereka jarang mempelajari agama tetapi sangat nekad dan berani untuk memberi komentar. Semestinya setiap muslim selalu menjaga lisan dan perkataan. Seharusnya setiap muslim yang tidak memiliki ilmu agama diam dan tidak banyak bicara daripada banyak komentar sana-sini tanpa dasar ilmu sama sekali. Hanya kepada Allah kami meminta perlindungan dari dosa semacam ini.

Hanya Allah yang memberi taufik.

 

Faedah Ilmu dari I’lamul Muwaqi’in, Ibnul Qayyim, 1/38, Darul Jail Beirut

Sumber : https://rumaysho.com/590-berbicara-agama-tanpa-ilmu-lebih-bahaya-dari-dosa-kesyirikan.html

Seandainya Tidak Ada Keutamaan Ilmu Selain Ini

Hasil gambar untuk lilinNabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

نَضَّرَ اللَّهُ امْرَأً سَمِعَ مَقَالَتِى فَوَعَاهَا وَحَفِظَهَا وَبَلَّغَهَا

“Moga Allah memperelok seseorang yang mendengar perkataanku, lalu dia memahaminya, menghafalnya dan menyampaikannya.” (HR. Tirmidzi no. 2658 dengan sanad yang shahih)

Ibnul Qayyim rahimahullah mengatakan mengenai makna hadits di atas,

Kalau tidak ada keutamaan ilmu selain yang disebutkan dalam hadits di atas, maka itu sudahlah cukup menunjukkan kemuliaan ilmu syar’i. Karena Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mendoakan kepada orang yang mendengar hadits, lalu memahaminya, menghafalkannya dan menyampaikannya pada yang lainnya. Inilah tingkatan ilmu. Pertama dan keduanya adalah mendengar dan merenungkan ilmu. Jika seseorang mendengarnya dan memperhatikan dengan hatinya, menancaplah ilmu dalam qolbunya sebagaimana menancapnya sesuatu yang selalu jadi pusat perhatian, yang hal ini tidak membuat ilmu itu hilang. Tingkatan ketiga adalah menghafalnya sehingga tidak terlupa. Tingkatan keempat adalah menyampaikan dan menyebarkan hadits (ilmu) di tengah-tengah ummat. Ilmu yang tidak disampaikan pada orang lain adalah ibarat harta simpanan yang dipendam di tanah yang tidak pernah diinfaqkan. Ilmu yang tidak diinfaqkan (artinya: tidak disampaikan pada orang lain, pen) padahal hal itu sudah diilmui, maka lambat laut, ilmu itu akan sirna. Namun jika ilmu diinfaqkan (disampaikan) pada yang lain, maka ilmu itu akan terus tumbuh dan berkembang.

Barangsiapa yang melakukan empat martabat ini, maka ia termasuk dalam orang yang menjalankan dakwah nabawiyyah yang hal ini mencerahkan lahir dan batin. Karena yang namanya nadhroh, maksudnya adalah keelokan di wajah karena sebab iman dan hal ini pun akan merambat pada batin yang ikut menjadi elok. Hati menjadi begitu ceria dengan keelekon tersebut dan inilah yang namanya kegembiraan. Kegembiraan inilah yang akhinya tampak pada wajah.[1]

***

Bahasan singkat ini menunjukkan akan kemuliaan ilmu syar’i. Karena ilmu jika dimuthlaqkan maka maksudnya adalah demikian dan bukan maksudnya adalah ilmu dunia. Jika seseorang memperhatikan penjelasan hadits di atas, maka seharusnya ia termotivasi mempelajari, memahami, menghafalkan ilmu syar’i yang dipelajari, lalu setelah itu ilmu tersebut disampaikan pada yang lain. Karena ilmu yang sekedar disimpan untuk diri sendiri, maka lama kelamaan bisa sirna sebagaimana harta simpanan yang tidak pernah diinfaqkan dan hanya sekedar dipendam di dalam tanah. Beda halnya jika ilmu itu gemar disampaikan pada yang lainnya, maka ilmu itu akan terus bertambah dan berkembah. Oleh karenanya, janganlah bosan mencari ilmu dan menyebarkannya pada saudara muslim yang lainnya, baik melalui tulisan, lisan atau pun dengan contoh suri tauladan yang hasan (baik).

Wallahu waliyyut taufiq.


Worth note in Panggang-GK, 21st Shafar 1432 H, 25/01/2011 <in the blessed morning on vacation>

www.rumaysho.com

Sumber : https://rumaysho.com/1534-seandainya-tidak-ada-keutamaan-ilmu-selain-ini.html

Menyembunyikan Ilmu

Hasil gambar untuk lilinAllah ta’ala berfirman :

إِنَّ الَّذِينَ يَكْتُمُونَ مَا أَنْزَلْنَا مِنَ الْبَيِّنَاتِ وَالْهُدَى مِنْ بَعْدِ مَا بَيَّنَّاهُ لِلنَّاسِ فِي الْكِتَابِ أُولَئِكَ يَلْعَنُهُمُ اللَّهُ وَيَلْعَنُهُمُ اللاعِنُونَ * إِلا الَّذِينَ تَابُوا وَأَصْلَحُوا وَبَيَّنُوا فَأُولَئِكَ أَتُوبُ عَلَيْهِمْ وَأَنَا التَّوَّابُ الرَّحِيمُ
 
“Sesungguhnya orang-orang yang menyembunyikan apa yang telah Kami turunkan berupa keterangan-keterangan (yang jelas) dan petunjuk, setelah Kami menerangkannya kepada manusia dalam Al-Kitab, mereka itu dilaknati Allah dan dilaknati (pula) oleh semua (makhluk) yang dapat melaknati, kecuali mereka yang telah taubat dan mengadakan perbaikan dan menerangkan (kebenaran), maka terhadap mereka itu Aku menerima taubatnya dan Akulah Yang Maha Penerima taubat lagi Maha Penyayang” [QS. Al-Baqarah : 159-160].
 
Al-Qurthubiy rahimahullah berkata :
أخبر الله تعالى أن الذي يكتم ما أنزل من البينات والهدى ملعون. واختلفوا من المراد بذلك، فقيل: أحبار اليهود ورهبان النصارى الذين كتموا أمر محمد صلى الله عليه وسلم، وقد كتم اليهود أمر الرجم. وقيل: المراد كل من كتم الحق، فهي عامة في كل من كتم علما من دين الله يحتاج إلى بثه،....... قوله تعالى: {مِنْ بَعْدِ مَا بَيَّنَّاهُ} الكناية في "بيناه" ترجع إلى ما أنزل من البينات والهدى. والكتاب: اسم جنس، فالمراد جميع الكتب المنزلة.
قوله تعالى: {أُولَئِكَ يَلْعَنُهُمُ اللَّهُ} أي يتبرأ منهم ويبعدهم من ثوابه ويقول لهم: عليكم لعنتي، كما قال للّعين: {وَإِنَّ عَلَيْكَ لَعْنَتِي} [ص: 78]. وأصل اللعن في اللغة الإبعاد والطرد، وقد تقدم.
قوله تعالى: {وَيَلْعَنُهُمُ اللاَّعِنُونَ} قال قتادة والربيع: المراد "باللاعنون" الملائكة والمؤمنون. قال ابن عطية: وهذا واضح جار على مقتضى الكلام.
 
“Allah ta’ala telah mengkhabarkan orang yang menyembunyikan keterangan-keterangan yang jelas dan petunjuk yang diturunkan Allah termasuk orang yang terlaknat. Para ulama berselisih pendapat maksud orang yang terlaknat tersebut. Dikatakan : Mereka adalah para rahib Yahudi dan pendeta Nashara yang menyembunyikan perkara Muhammad shallallaahu ‘alaihi wa sallam. Orang-orang Yahudi juga telah menyembunyikan ayat rajam.[1] Dikatakan juga bahwa yang dimaksud orang yang terlaknat tersebut adalah orang yang menyembunyikan kebenaran. Dan hal itu berlaku umum bagi setiap orang yang menyembunyikan ilmu agama Allah yang seharusnya disebarluaskan.

Dan firman-Nya ta’ala  : ‘Setelah Kami menerangkannya kepada manusia dalam Al-Kitab’ ; merupakan kinayah dari kalimat : ‘setelah Kami menerangkannya’ yang kembali pada apa yang telah Allah turunkan berupa berbagai keterangan dan petunjuk. Adapun Al-Kitab merupakan kata jenis, yang mempunyai maksud semua kitab suci yang diturunkan oleh Allah…. Firman-Nya : ‘mereka itu dilaknati Allah’ ; maksudnya : Allah berlepas diri dari mereka dan menjauh dari mereka dari pahala, lalu Allah pun berfirman : ‘Wajib atas kalian akan laknat-Ku’ sebagaimana firman Allah : ‘sesungguhnya kutukan-Ku tetap atasmu’ (QS. Shaad : 78). Dan asal kata dari laknat adalah menjauhi dan mengusir.
 
Firman-Nya ta’ala : ‘mereka itu dilaknati Allah dan dilaknati (pula) oleh semua (makhluk) yang dapat melaknati’. Tentang ayat ini, Qataadah dan Ar-Rabii’ berkata : ‘Maksud dari kata al-laa’inuun adalah para malaikat dan orang-orang beriman. Ibnu ‘Athiyyah berkata : ‘Maknanya ini adalah jelas sesuai dengan maksud kalimat” [Al-Jaami’ li-Ahkaamil-Qur’aan, 2/479-483 tahqiq : Dr. ‘Abdullah bin ‘Abdil-Muhsin At-Turkiy; Muassasah Ar-Risalah, Cet. 1/1427 – dengan peringkasan].
Asy-Syaikh Ahmad Syaakir rahimahullah berkata :

هذا وعيد شديد لمن كتم ما جاءت به الرسل من الدلالات البينة على المقاصد الصحيحة والهدى النافع للقلوب، من بعد ما بينه الله تعالى لعباده في كتبه التي أنزلها على رسله. قال أبو العالية : نزلتْ في أهل الكتاب، كتموا صفة محمد صلى الله عليه وسلم. ثم أخبر أنهم يلعنهم كلّ شيء على صنيعهم ذلك، فكما أن العالم يستغفر له كل شيء حتى الحوت في الماء والطير في الهواء - فهؤلاء بخلاف العلماء، فيلعنهم اللهُ ويلعنهم اللاعنون.......وجاء في هذه الآية أن كاتم العلم يلعنه الله والملائكة والناس أجمعون. واللاعنون ؤيضاًَ، وهم كل فصيح وأعجمي، إما بلسان المقال أو الحال، أو لو كان له عقل، أو يوم القيامة. والله أعلم. ثم استثى الله تعالى من هؤلاء من تاب إليه فقال : "إلا الذيين تابوا وأصلحوا وبيّنوا" أي : رجعوا عما كانوا فيه وأصلحوا أعمالهم وبينوا الناس ما كانوا كتموه. "فأولئك أتوب عليهم وأنَ التوّاب الرحيم". وفي هذا دلالة على أنّ الداعية إلى كفر أو بدعة أذا تاب إلى الله تاب الله عليه......
 
“Ini merupakan peringatan yang keras bagi orang yang menyembunyikan apa saja yang diturunkan dengannya para Rasul, berupa ajaran dan petunjuk yang bermanfaat bagi hati, setelah Allah ta’ala terangkan kepada hamba-hamba-Nya sebagaimana tercantum dalam kitab-kitab yang diturunkan kepada para rasul-Nya.  Abul-‘Aaliyyah berkata : ‘Ayat ini diturunkan kepada Ahli Kitab yang menyembunyikan sifat Muhammad shallallaahu ‘alaihi wa sallam. Kemudian Allah pun mengkhabarkan bahwasanya mereka dilaknat oleh segala sesuatu atas perbuatan yang mereka lakukan. Sebagaimana para ulama dimintakan ampun oleh segala sesuatu termasuk ikan yang di air dan burung yang terbang di udara; maka keadaan mereka kebalikan dari para ulama tersebut – yang Allah melaknatnya dan segala sesuatu yang bisa melaknat pun melaknatnya.

Dan dalam ayat ini juga diterangkan bahwasannya orang yang menyembunyikan ilmu akan dilaknat oleh Allah, para malaikat, dan seluruh manusia. Kemudian Allah ta’ala mengecualikan dari mereka siapa saja yang bertaubat kepada-Nya. Allah berfirman : ‘kecuali mereka yang telah taubat dan mengadakan perbaikan dan menerangkan (kebenaran)’ ; yaitu mereka kembali pada kebenaran, memperbaiki amal-amal mereka, serta menerangkan kepada manusia tentang apa yang telah mereka sembunyikan sebelumnya. Firman Allah : ‘maka terhadap mereka itu Aku menerima taubatnya dan Akulah Yang Maha Penerima taubat lagi Maha Penyayang’ – dalam ayat ini terdapat pentunjuk bahwa orang yang mengajak pada kekufuran dan kebid’ahan apabila bertaubat kepada Allah, maka Dia akan menerima taubatnya.…. [‘Umdatut-Tafsiir, 1/279-280].

عن أبي هريرة قال : إن الناس يقولون أكثر أبو هريرة، ولولا آيتان في كتاب الله ما حدثت حديثا، ثم يتلو: {إن الذين يكتمون ما أنزلنا من البينات - إلى قوله - الرحيم}.......
Dari Abu Hurairah, ia berkata : “Orang-orang berkata : ‘Abu Hurairah terlalu banyak meriwayatkan hadits’. Jika saja bukan karena dua ayat dalam Kitabullah, niscaya aku tidak akan meriwayatkan hadits”. Kemudian ia (Abu Hurairah) membaca firman Allah : ‘Sesungguhnya orang-orang yang menyembunyikan apa yang telah Kami turunkan berupa keterangan-keterangan (yang jelas) dan petunjuk, setelah Kami menerangkannya kepada manusia dalam Al-Kitab, mereka itu dilaknati Allah dan dilaknati (pula) oleh semua (makhluk) yang dapat melaknati, kecuali mereka yang telah taubat dan mengadakan perbaikan dan menerangkan (kebenaran), maka terhadap mereka itu Aku menerima tobatnya dan Akulah Yang Maha Penerima taubat lagi Maha Penyayang’ (QS. Al-Baqarah : 159-160)…..” [Diriwayatkan oleh Al-Bukhaariy no. 118].
Al-Haafidh Ibnu Hajar rahimahullah saat mengomentari hadits di atas berkata :
ومعناه: لولا أن الله ذم الكاتمين للعلم ما حدث أصلا، لكن لما كان الكتمان حراما وجب الإظهار، فلهذا حصلت الكثرة لكثرة ما عنده.
“Dan makna dari perkataan ‘jika saja bukan karena dua ayat’ adalah : Jikalau bukan karena Allah mencela orang-orang yang menyembunyikan ilmu, aku tidak akan meriwayatkan hadits sama sekali. Namun karena menyembunyikan ilmu itu adalah diharamkan dan harus disampaikan, maka ia pun banyak meriwayatkan karena banyak hadits yang ia miliki” [Fathul-Baariy, 1/214].
عن أبي هريرة أن رسول الله صلى الله عليه وسلم قال مثل الذي يتعلم العلم ثم لا يحدث به كمثل الذي يكنز الكنز فلا ينفق منه
Dari Abu Hurairah : Bahwasannya Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda : “Perumpamaan orang yang mempelajari ilmu kemudian tidak menyampaikannya adalah seperti orang yang menyimpan harta namun tidak menafkahkannya darinya (membayarkan zakatnya)” [Diriwayatkan oleh Ath-Thabaraniy dalam Al-Ausath no. 689; shahih – lihat Ash-Shahiihah no. 3479].
عبد الله بن عمرو : أن رسول الله صلى الله عليه وسلم قال من كتم علما ألجمه الله يوم القيامة بلجام من نار
Dari ‘Abdullah bin ‘Amr : Bahwasannya Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam pernah bersabda : “Barangsiapa yang menyembunyikan ilmu, niscaya Allah akan mengikatnya dengan tali kekang dari api neraka di hari kiamat kelak” [Diriwayatkan oleh Ibnu Hibbaan no. 96, Al-Haakim 1/102, dan Al-Khathiib dalam Taariikh Baghdaad 5/38-39; hasan].
عن أبي هريرة قال : قال رسول اللّه صلى اللّه عليه وسلم: "من سئل عن علمٍ فكتمه ألجمه اللّه بلجام من نارٍ يوم القيامة".
Dari Abu Hurairah, ia berkata : Telah bersabda Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam : “Barangsiapa yang ditanya tentang satu ilmu lalu menyembunyikannya, niscaya Allah akan mengikatnya dengan tali kekang dari api neraka di hari kiamat kelak” [Diriwayatkan oleh Abu Dawud no. 3658, At-Tirmidziy no. 2649, Ath-Thayalisiy no. 2534, Ibnu Abi Syaibah 9/55, Ahmad 2/263 & 305 & 344 & 353 & 499 & 508, Ibnu Maajah no. 261, Ibnu Hibbaan no. 95, Al-Haakim 1/101, Al-Baghawiy no. 140, dan yang lainnya; shahih].
Al-Munawiy rahimahullah berkata :
فالحديث خرج على مشاكلة العقوبة للدنب وذلك لأنه سبحانه أخذ الميثاق على الذين أوتوا الكتاب ليبيننه للناس ولا يكتمونه. وفيه حث على تعليم العلم لأن تعلم العلم إنما هو لنشره ودعوة الخلق إلى الحق والكاتم يزاول إبطال هذه الحكمة وهو بعيد عن الحكيم المتقن ولهذا كان جزاؤه أن يلجم تشبيهاً له بالحيوان الذي سخر ومنع من قصد ما يريده فإن العالم شأنه دعاء الناس إلى الحق وإرشادهم إلى الصراط المستقيم
“Hadits tersebut berisi sanksi hukum atas sebuah dosa, karena Allah subhaanahu wa ta’ala telah mengambil perjanjian terhadap kaum yang diberikan Al-Kitab (Ahli Kitab) agar menerangkannya kepada manusia dan tidak menyembunyikannya. Padanya juga terdapat anjuran untuk mengajarkan ilmu, sebab menuntut ilmu bertujuan untuk menyebarkannya dan mengajak manusia kepada kebenaran. Adapun orang yang menyembunyikan ilmu pada hakekatnya telah membatalkan hikmah ini. Ia sangat jauh dari sifat bijaksana dan mutqin (kokoh dalam ilmu). Oleh karena itu, balasan baginya adalah dikekang sebagaimana hewan kekangan yang dipaksa dan dicegah dari apa yang dikehendakinya. Sesungguhnya kedudukan seorang ‘aalim (ulama) adalah mengajak manusia kepada kebenaran dan membimbing mereka kepada jalan yang lurus” [Faidlul-Qadiir, no. 8732].
Al-Khaththaabiy rahimahullah berkata :
هذا في العلم الذي يلزمه تعليمهُ إياه، ويتعين فرضه عليه، كمن رأى كافراً يريد الإسلام يقول : علمني، ما الإسلام ؟ وكمن يرى رجلاً حديث عهد بالإسلام، لا يُحسن الصلاة، وقد حضر وقتها، يقول : علمني كيف أصلي، وكمن جاء مستقياً في حلال و حرام يقول : أفتوني، وأرشدوني، فإنه يلزم في هذه الأمور أن لا يمنعوا الجواب، فمن فعل كان آثماً مُستحقاً للوعيد، وليس كذلك الأمر في نوافل العلم التي لا ضرورة بالناس إلى معرفتها، والله أعلم.
“Ini berlaku pada ilmu yang harus diajarkan kepada orang lain yang hukumnya fardlu ‘ain. Seperti halnya seorang yang melihat orang kafir yang ingin masuk Islam dan berkata : ‘Ajarkanlah aku, apa itu Islam ?’. Juga seperti orang yang baru saja masuk Islam yang tidak bagus shalatnya. Saat waktu shalat tiba, ia berkata : ‘Ajarkanlah aku, bagaimana aku melakukan shalat’. Juga seperti seseorang yang datang meminta fatwa dalam perkara halal dan haram. Ia berkata : ‘Berikanlah aku fatwa dan bimbinglah aku’. Barangsiapa yang menemui perkara-perkara seperti ini, hendaklah ia tidak menahan jawaban. Barangsiapa yang menahan jawaban, maka ia berdosa dan layak mendapatkan ancaman. Namun tidak demikian halnya dalam perkara ilmu yang disunnahkan dimana manusia tidak wajib mengetahuinya (yaitu tidak wajib memberi jawaban). Wallaahu a’lam [Syarhus-Sunnah oleh Al-Baghawiy, 1/302, tahqiq Syu’aib Al-Arna’uth & Muhammad Zuhair Syaawisy; Al-Maktab Al-Islaamiy, Cet. 2/1403].
Asy-Syaikh Ahmad Syaakir rahimahullah berkata :

تبليغُ العلم واجبٌُ، لا يجوزُ كتمانه، ولكنهم خصصوا ذلك بأهله، وأجازوا كتمانه عمن يكون مستعمداً لأخذه، وعمن يصر على الخطأ بعد إخباره بالصواب.
سُئل بعضُ العلماء عن شيء [من] العلم ؟ فلم يُجبْ، فقال السائل : أما سَمعتَ حديث : ((من علم العلماً فكتمه ألجم يوم القيامة بلجامٍ من نار)) ؟ فقال : اترك اللجام واذهب ! فإن جاء من يفقه وكتمتُه فَلْيُلْجمنيْ به.
 
“Menyampaikan ilmu adalah wajib, tidak diperbolehkan untuk menyembunyikannya. Akan tetapi hal itu dikhususkan bagi ahlinya (benar-benar menguasainya), dan diperbolehkan orang yang belum menguasai atau sering keliru untuk menyembunyikannya.
 
Sebagian ulama pernah ditanya tentang satu perkara ilmu, namun ia tidak menjawabnya. Maka orang yang bertanya itu berkata : ‘Bukankah engkau telah mendengar hadits : ‘Barangsiapa yang mengetahui satu ilmu namun menyembunyikannya, niscaya ia akan diikat dengan tali kekang dari api neraka di hari kiamat kelak’ ?’. Maka ulama tersebut menjawab : ‘Tinggalkanlah tali kekang dan pergilah !. Apabila ada orang yang mengetahui ilmu ini dan kemudian aku menyembunyikannya, maka ikatlah aku dengan tali kekang ini !” [Al-Ba’iitsul-Hatsiits, hal. 440, ta’liq : Al-Albaaniy; Maktabah Al-Ma’aarif, Cet. 1/1417].
 
Memang benar yang dikatakan oleh Asy-Syaikh Ahmad Syaakir rahimahullah. Walaupun menyampaikan ilmu itu wajib, maka itu hanya dibebankan pada mereka mampu, berilmu, dan benar-benar menguasai pokok persoalan yang hendak disampaikan/ditanyakan. Jangan sampai seseorang berfatwa dan berbicara mengenai agama Allah tanpa landasan ilmu, padahal Allah ta’ala telah berfirman :

قُلْ إِنَّمَا حَرَّمَ رَبِّيَ الْفَوَاحِشَ مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ وَالإثْمَ وَالْبَغْيَ بِغَيْرِ الْحَقِّ وَأَنْ تُشْرِكُوا بِاللَّهِ مَا لَمْ يُنَزِّلْ بِهِ سُلْطَانًا وَأَنْ تَقُولُوا عَلَى اللَّهِ مَا لا تَعْلَمُونَ
 
“Katakanlah: "Tuhanku hanya mengharamkan perbuatan yang keji, baik yang nampak atau pun yang tersembunyi, dan perbuatan dosa, melanggar hak manusia tanpa alasan yang benar, (mengharamkan) mempersekutukan Allah dengan sesuatu yang Allah tidak menurunkan hujah untuk itu dan (mengharamkan) mengada-adakan terhadap Allah apa yang tidak kamu ketahui" [QS. Al-A’raaf : 33].


[1]      Dari ‘Abdullah bin ‘Umar radliyallaahu ‘anhumaa :
أن اليهود جاؤوا إلى رسول الله صلى الله عليه وسلم، فذكروا له أن رجلا منهم وامرأة زنيا، فقال لهم رسول الله صلى الله عليه وسلم: (ما تجدون في التوراة في شأن الرجم). فقالوا: نفضحهم ويجلدون، فقال عبد الله بن سلام: كذبتم، إن فيها الرجم، فأتوا بالتوراة فنشروها، فوضع أحدهم يده على آية الرجم، فقرأ ما قبلها وما بعدها، فقال له عبد الله بن سلام: ارفع يدك، فرفع يده فإذا فيها آية الرجم، فقالوا: صدق يا محمد، فيها آية الرجم، فأمر بهما رسول الله صلى الله عليه وسلم فرجما،....
 
Bahwasannya orang-orang Yahudi mendatangi Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam untuk memberitahukan ada seorang laki-laki telah berzina dengan seorang perempuan di kalangan mereka. Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam bertanya kepada mereka : “Apa yang kalian dapati tentang hukum rajam di dalam kitab Taurat ?”. Mereka menjawab : “Hukuman pezina di dalam Taurat adalah dengan diumumkan dan dicambuk”. ‘Abdullah bin Sallaam berkata : “Kalian berdusta, karena dalam Taurat terdapat hukuman rajam (bagi pezina yang telah menikah)”. 

Mereka kemudian mengambil Taurat dan membukanya. Lalu salah seorang dari mereka menutupkan tangannya pada bagian ayat yang berisi hukuman rajam, sehingga dia hanya membaca ayat sebelumnya dan sesudahnya. Melihat itu ‘Abdullah bin Sallaam berkata : “Angkat tanganmu”. Maka dia pun mengangkat tangannya dan ternyata memang ada ayat tentang hukuman rajam di dalam Taurat. Mereka berkata : “Wahai Muhammad, memang benar, di dalam Taurat terdapat ayat tentang rajam”. Maka Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam memerintahkan untuk merajam keduanya…” [Diriwayatkan oleh Al-Bukhariy no. 3635 dan Muslim no. 1699].

Wallaahu a’lam bish-shawwaab.
Semoga risalah kecil ini ada manfaatnya.
[http://abul-jauzaa.blogspot.com].

ILMU HARUS DENGAN AMAL LALU UCAPAN

Hasil gambar untuk lilin Dari Jundub bin Abdullah al-Azadiy radliyallahu anhu, dari Rosulullah Shallallahu alaihi wa sallam bersabda,

مَثَلُ اْلعَالِمِ الَّذِى يُعَلِّمُ النَّاسَ اْلخَيْرَ وَ يَنْسَى نَفْسَهُ كَمَثَلِ السِّرَاجِ يُضِيْءُ لِلنَّاسِ وَ يَحْرِقُ نَفْسَهُ

“Perumpamaan seorang alim (berilmu) yang mengajarkan kebaikan kepada umat manusia dan melupakan dirinya sendiri adalah laksana sebatang lilin yang menerangi orang lain namun ia membakar dirinya sendiri”. [HR al-Khathib al-Baghdadiy, al-Bazzar dan ath-Thabraniy dari Jundub bin Abdullah radliyallahu anhu. Berkata asy-Syaikh al-Albaniy: Shahih].  [1]

Faidah hadits,

1. Rosulullah Shallallahu alaihi wa sallam menetapkan akan adanya orang alim yaitu orang yang berilmu.

Allah Azza wa Jalla  memuliakan orang-orang yang berilmu dan setiap muslimpun wajib menghormati mereka sesuai dengan batas-batas syar’iy. Hal ini sebagaimana dalil-dalil berikut,

يَرْفَعِ اللهُ الَّذِينَ ءَامَنُوْا مِنكُم وَ الَّذِينَ أُوتُوا اْلعِلْمَ دَرَجَاتٍ وَ اللهُ بِمَا تَعْمَلُونَ خَبِيرٌ

 “Niscaya Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu beberapa derajat. Dan Allah Maha mengetahui apa yang kalian kerjakan. [QS al-Mujadilah/ 58/ 11].

قُلْ هَلْ يَسْتَوِى الَّذِينَ يَعْلَمُونَ وَ الَّذِينَ لَا يَعْلَمُونَ إِنَّمَا يَتَذَكَّرُ أُولُوا اْلأَلْبَابِ

Katakanlah, “Apakah sama orang-orang yang mengetahui dengan orang-orang yang tidak mengetahui?” Sesungguhnya orang yang berakallah yang dapat menerima pelajaran. [QS az-Zumar/ 39: 9].

Dua ayat di atas menjelaskan bahwa Allah ta’ala memuliakan orang mukmin yang memiliki ilmu dengan mengangkat mereka beberapa derajat kemuliaan dan membedakan mereka dengan orang-orang yang tidak berilmu dengan perbedaan yang terang.

Dari Ubadah bin ash-Shamit berkata, Rosulullah Shallallahu alaihi wa sallam bersabda,

لَيْسَ مِنْ أُمَّتِى مَنْ لَمْ يُجِلَّ كَبِيْرَنَا وَ يَرْحَمْ صَغِيْرَنَا وَ يَعْرِفْ لِعَالِمِنَا (حَقَّهُ)

“Bukan termasuk umatku, orang yang tidak menghormati orang yang lebih tua dari kami, tidak menyayangi orang yang lebih muda dari kami dan tidak mengenal (hak) orang yang berilmu dari kami”. [HR Ahmad: V/ 323, ath-Thabraniy dan al-Hakim: 429 dengan lafazh ‘Bukan termasuk golongan kami’. Berkata asy-Syaikh al-Albaniy: Hasan]. [2]

Begitu pula Rosulullah Shallallahu alaihi wa sallam telah mengancam orang yang tidak mau memuliakan orang yang berimu di antara mereka dengan tidak memasukkannya ke dalam golongan umatnya. Memuliakan orang berilmu diantaranya adalah dengan memberikan haknya sebagai pembimbing, penashihat, pengajar dan pemberi fatwa dan sebagainya dalam urusan-urusan agama kepada mereka. Tidak menghina, mengejek atau mengolok-oloknya dimanapun ia berada. Tidak membuat kegaduhan dikala ia sedang memberikan pengajaran dan taushiyah. Mendebatnya dengan penuh semangat lantaran ingin meruntuhkan kehormatannya. Mencari segala aib dan kekurangannya lalu mengghibahnya karena ingin menghilangkan kemuliaannya. Dan lain sebagainya.

2. Kewajiban orang berilmu adalah mengajarkan berbagai kebaikan kepada umat manusia dengan hujjah yang terang.

Dari Abu Hurairah radliyallahu anhu bahwa Rosulullah Shallallahu alaihi wa sallam bersabda,

            مَثَلُ الَّذِى يَتَعَلَّمُ اْلعِلْمَ ثُمَّ لَا يُحَدِّثُ بِهِ كَمَثَلِ الَّذِى يَكْنِزُ اْلكَنْزَ فَلاَ يُنْفِقُ مِنْهُ

            “Perumpamaan orang yang menuntut ilmu lalu ia tidak mau menyampaikannya adalah seperti orang yang menimbun harta namun ia tidak mau menginfakkan sebahagian darinya”. [HR ath-Thabraniy di dalam al-Awsath dan Ibnu Abdil Barr. Berkata asy-Syaikh al-Albaniy: Shahih]. [3]

Dari Abdullah bin Umar radliyallahu anhuma berkata, Rosulullah Shallallahu alaihi wa sallam bersabda,

      عِلْمٌ لَا يُقَالُ بِهِ كَكَنْزٍ لَا يُنْفَقُ مِنْهُ

            “Ilmu yang tidak disampaikan (kepada orang lain) itu sama seperti simpanan (harta) yang tidak diinfakkan”. [HR Ibnu Asakir dan Ibnu Abdul Barr. Berkata asy-Syaikh al-Albaniy: Shahih]. [4]

Dari Abu Hurairah dari Nabi Shallallahu alaihi wa sallam bersabda,

      مَا مِنْ رَجُلٍ يَحْفَظُ عِلْمًا فَيَكْتُمُهُ إِلَّا أُتِيَ بِهِ يَوْمَ اْلقِيَامَةِ مُلْجَمًا بِلِجَامٍ مِنَ النَّارِ

            “Tidaklah seseorang yang menghafal ilmu lalu ia menyembunyikannya melainkan akan didatangkan  pada hari kiamat dalam keadaan diberi tanda dengan tanda dari api neraka”. [HR Ibnu Majah: 261. Berkata asy-Syaikh al-Albaniy: Hasan]. [5]

Dari Hasan Al-Bashriy rahimahullah berkata, “Sungguh aku mempelajari satu bab dari ilmu lalu aku mengajarkannya kepada seorang muslim di jalan Allah (yaitu mempelajari dan mengajarkannya karena Allah semata) lebih aku cintai daripada aku mempunyai dunia seluruhnya”. [6]

Jika seseorang telah memiliki ilmu dengan baik dan benar sesuai dengan syar’iy yaitu tidak menyelisihi alqur’an dan hadits-hadits shahih dengan pemahaman ulama salafus shalih, maka hendaknya ia mengamalkan ilmu-ilmunya tersebut sebatas kemampuannya sebelum menyampaikannya kepada orang lain.

Lalu jika ia telah mengamalkannya, ia mesti menyampaikan ilmu yang ia ketahui itu kepada orang lain dalam rangka mencari keridloan Allah Subhanahu wa ta’ala dan melaksanakan perintah Rosulullah Shallallahu alaihi wa sallam.

Orang yang memiliki ilmu namun ia tidak mau menyampaikannya kepada orang lain itu seperti orang yang memiliki harta yang tidak mau menginfakkan sebahagian hartanya. Allah Subhanahu wa ta’ala kelak akan mencapnya pada hari kiamat dengan sebuah tanda dari api neraka. Ma’adzallah.

3. Hendaknya orang alim tersebut untuk mengamalkan apa yang diajarkan sebelum mengajarkannya kepada orang lain.

Dari Ibnu Mas’ud radliyallahu anhu dari Nabi Shallallahu alaihi wa sallam bersabda,

لاَ تَزُوْلُ قَدَمَا ابْنِ آدَمَ يَوْمَ اْلقِيَامَةِ مِنْ  عِنْدِ  رَبِّهِ  حَتىَّ يُسْأَلَ عَنْ خَمْسٍ: عَنْ عُمْرِهِ فِيْمَا أَفْنَاهُ وَ عَنْ شَبَابِهِ فِيْمَا أَبْلاَهُ وَ عَنْ  مَالِهِ  مِنْ أَيْنَ اكْتَسَبَهُ وَ فِيْمَا أَنْفَقَهُ وَ مَا ذَا عَمِلَ فِيْمَا عَلِمَ

“Kedua kaki anak Adam tidak akan beranjak pada hari kiamat dari sisi Rabb-nya sehingga ditanya tentang lima perkara; tentang umur pada apa ia habiskan, kepemudaannya pada apa ia hancurkan, hartanya dari mana ia peroleh dan kemana ia belanjakan dan apa yang telah ia kerjakan pada apa yang telah ia ketahui. [HR at-Turmudziy: 2416, Abu Ya’la, ath-Thabraniy, Ibnu ‘Adiy dan Ibnu Asakir. Berkata asy-Syaikh al-Albaniy: Hasan ]. [7]

Dari Abu Barzah al-Aslamiy berkata, telah bersabda Rosulullah Shallallahu alaihi wa sallam,

لاَ تَزُوْلُ قَدَمَا عَبْدٍ حَتىَّ يُسْأَلَ  عَنْ  عُمْرِهِ  فِيْمَا أَفْنَاهُ وَ عَنْ عِلْمِهِ فِيْمَا فَعَلَ وَ عَنْ مَالِهِ مِنْ أَيْنَ اكْتَسَبَهُ وَ فِيْمَا أَنْفَقَهُ وَ عَنْ جِسْمِهِ فِيْمَا أَبْلاَهُ

“Kedua kaki hamba tidak akan bergeser hingga ditanya tentang; umurnya pada apa dia habiskan, ilmunya pada apa yang ia amalkan, hartanya darimana dia usahakan dan kemana dia belanjakan dan tubuhnya pada apa ia hancurkan”. [HR at-Turmudziy: 2417 dan ad-Darimiy: I/ 131. Berkata asy-Syaikh al-Albaniy: shahih]. [8]

Dalil-dalil diatas menjelaskan bahawasanya pada hari kiamat nanti setiap manusia akan ditanya tentang ilmu yang pernah ia dapatkan di dalam kehidupan dunia. Ilmu tersebut adalah ilmu yang berkaitan dengan masalah-masalah agama dan akhirat   . Yakni dengan ilmunya, seseorang akan dimintai pertanggungjawaban, apakah ilmu-ilmunya tersebut sudah ia amalkan atau tidak?. Jika ia telah mengamalkan apa yang telah ia ketahui maka selamatlah ia darinya, tetapi jika ia abaikan maka rugi dan sengsaralah ia pada hari kiamat.

Sehingga Abu ad-Darda radliyallahu anhu berkata, “Sesungguhnya yang paling aku khawatirkan dari apa yang mengkhawatirkanku adalah apabila aku telah bergantung dari hisab, akan dikatakan kepadaku, “Sungguh engkau telah mengetahui (berilmu), maka apakah engkau telah mengamalkan apa yang telah engkau ketahui itu?”. [9]

Dalam lain riwayat ia berkata, “Hanyalah yang kukhawatirkan dari Rabbku pada hari kiamat adalah ketika Ia memanggilku di tengah pemimpin para Makhluk. Lalu Rabbku berkata kepadaku, “Wahai Uwaimir!”. Aku menjawab, “Labbaika (Aku penuhi panggilan-Mu) wahai Rabb”.  Lalu Allah berfirman, “Apakah engkau telah mengerjakan apa yang engkau telah ketahui?”. [Atsar riwayat al-Baihaqiy, ad-Darimiy: I/ 82 dan Ibnu Abdil Barr. Berkata asy-Syaikh al-Albaniy: Shahih]. [10]

Berkata Ibnu Mas’ud radliyallahu anhu, “Belajarlah kalian, belajarlah kalian. Apabila kalian telah berilmu maka beramallah!”. [11]

Berkata al-Fudloil bin Iyadl rahimahullah, “Senantiasa orang yang berilmu itu masih bodoh dengan apa yang ia ketahui sehingga ia beramal dengannya. Apabila ia telah beramal dengannya maka ia menjadi orang yang berilmu”. [12]

Katanya lagi, “Hanyalah yang diinginkan dari ilmu itu adalah amal. Dan ilmu itu adalah dalilnya amal”. [13]

Katanya lagi, “Wajib bagi manusia untuk mempelajari (ilmu). Apabila mereka telah berilmu maka wajiblah bagi mereka untuk beramal”. [14]

Jadi setiap orang itu mesti berilmu terlebih dahulu sebelum beramal dan berujar. Jika ia beramal tanpa ilmu maka akan sesat dan rusak segala amalnya. Lalu jika ia berujar tanpa ilmu maka akan menimbulkan penyesatan dan pengrusakan.

Berkata Umar bin Abdul Aziz rahimahullah,

مَنْ عَبَدَ اللهَ بِجَهْلٍ أَفْسَدَ أَكْثَرَ مِمَّا يُصْلِحُ

“Barangsiapa beribadah kepada Allah dengan kebodohan, dia telah membuat kerusakan lebih banyak daripada membuat kebaikan”. [15]

Oleh sebab itu al-Imam al-Bukhoriy membuat suatu bab tentang keutamaan ilmu atas ucapan dan perbuatan,

اْلعِلْمُ قَبْلَ اْلقَوْلِ وَ اْلعَمَلِ

            “Ilmu itu sebelum perkataan dan perbuatan”. [16]

4. Adanya larangan di dalam menyampaikan ilmu namun si penyampainya sendiri tidak (mau) mengamalkannya.

      يَا أَيُّهَا الَّذِينَ ءَامَنُوا لِمَ تَقُولُونَ مَا لَا تَفْعَلُونَ كَبُرَ مَقْتًا عِندَ اللهِ أَن تَقُولُوا مَا لَا تَفْعَلُونَ

 “Wahai orang-orang yang beriman, mengapa kalian mengatakan sesuatu yang tidak kalian kerjakan?. Amat besar kemurkaan di sisi Allah bahwa kalian mengatakan apa-apa yang tidak kalian kerjakan”. [QS ash-Shaff/ 61: 2-3].

Ayat di atas menegaskan teguran Allah Azza wa Jalla kepada orang mukmin yang suka mengatakan, menyampaikan dan mengajak orang lain kepada suatu amalan, namun ia sendiri tidak mau mengamalkannya.

Siapapun orang yang mengucapkan sesuatu ajakan namun ia enggan untuk mengamalkannya maka Allah Subhanahu wa ta’ala akan murka kepadanya, memasukkannya ke dalam neraka dalam keadaan ususnya terburai keluar dan lidah dan mulutnya digunting dengan gunting neraka. Na’udzu billah min dzalik.

Dari Usamah bin Zaid radliyallahu anhu, bahwasanya ia mendengar Rosulullah Shallallahu alaihi wa sallam bersabda,

يُجَاءُ بِالرَّجُلِ يَوْمَ اْلقِيَامَةِ فَيُلْقَى فَى النَّارِ فَتَنْدَلِقُ أَقْتَابُهُ فَيَدُوْرُ بِهَا كَمَا يَدُوْرُ اْلحِمَارُ بِرَحَاهُ فَيَجْتَمِعُ أَهْلُ النَّارِ عَلَيْهِ فَيَقُوْلُوْنَ: يَا فُلَانُ مَا شَأْنُكَ؟ أَلَسْتَ كُنْتَ تَأْمُرُ بِاْلمـَعْرُوْفِ وَ تَنْهَى عَنِ اْلمـُنْكَرِ؟ فَيَقُوْلُ: :ُنْتُ آمُرُكُمْ بِاْلمـَعْرُوْفِ وَ لَا آتِيْهِ وَ أَنْهَاكُمْ عَنِ اْلمـُنْكَرِ وَ آتِيْهِ

            “Pada hari kiamat nanti, akan dibawa seorang lelaki lalu dicampakkan ke dalam neraka. Maka terburailah ususnya di dalam neraka, lalu ia berputar-putar seperti seekor keledai berputar-putar mengelilingi batu penggilingan. Maka penghuni nerakan berkumpul mendekatinya dan bertanya, “Wahai Fulan, mengapa engkau seperti ini?, bukankah dahulu engkau yang suka menyuruh kami kepada perbuatan ma’ruf dan melarang kami dari perbuatan mungkar?”. Maka ia menjawab, “Dahulu aku menyuruh kalian kepada perbuatan ma’ruf tetapi aku sendiri tidak melaksanakannya dan melarang kalian dari perbuatan mungkar namun aku sendiri melakukannya”.  [HR al-Bukhoriy: 3267, Muslim: 2989 dan Ahmad: V/ 205, 207, 209. Berkata asy-Syaikh al-Albaniy: Shahih]. [17]

Diriwayatkan dari Anas bin Malik berkata, Rosulullah Shallallahu alaihi wa sallam bersabda,

      رَأَيْتُ لَيْلَةَ أُسْرِيَ بِى رِجَالاً تُقْرَضُ شِفَاهُهُمْ بِمَقَارِيْضَ مِنْ نَارٍ فَقُلْتُ: مَنْ هَؤُلَاءِ يَا جِبْرِيْلُ؟ قَالَ: اْلخُطَبَاءُ مِنْ أَمَّتِكَ يَأْمُرُوْنَ النَّاسَ بِاْلبِرِّ وَ يَنْسَوْنَ أَنْفُسَهُمْ وَ هُمْ يَتْلُوْنَ اْلكِتَابَ أَفَلَا يَعْقِلُوْنَ؟

            “Pada malam isra’, aku melihat beberapa orang digunting mulut mereka dengan gunting neraka. Aku bertanya, “Siapakah mereka itu, wahai Jibril?”. Malaikat Jibril menjawab, “Mereka itu adalah para khatib dari umatmu, mereka menyuruh manusia kepada kebaikan namun mereka melupakan diri mereka sendiri, sedangkan mereka membaca kita (alqur’an). Tidakkah mereka berfikir?”. [HR Ahmad: III/ 120, 180, 231, 239, Ibnu Hibban, Ibnu Abi Syaibah, Abu Nu’aim dan selainnya. Berkata asy-Syaikh al-Albaniy: Shahih]. [18]

5. Rosulullah Shallallahu alaihi wa sallam telah memisalkannya dengan sebatang lilin yang memberi penerangan kepada orang lain namun ia sendiri menghancurkan dirinya sendiri.

Terkadang Allah ta’ala dan Rosulullah Shallallahu alaihi wa sallam di dalam menjelaskan sesuatu hal, membuat beberapa permisalan agar dapat dipahami oleh umat manusia, khususnya umat Islam. Permisalan-permisalan yang dibuat oleh Allah Azza wa Jalla dan Rosulullah Shallallahu alaihi wa sallam banyak terdapat faidah dan pengajaran bagi orang yang memiliki hati, membuka mata dan mengarahkan pendengaran kepadanya.

Permisalan yang dibuat oleh Rosulullah Shallallahu alaihi wa sallam di atas adalah lilin, sebuah benda yang dapat menjadi penerang bagi orang di sekitarnya jika dinyalakan, namun ketika itu ia membinasakan dirinya sendiri yakni lilin itu akan hancur perlahan-lahan dimakan api.

       وَ تِلْكَ اْلأَمْثَالُ نَضْرِبُهَا لِلنَّاسِ لَعَلَّهُمْ يَتَفَكَّرُونَ

Dan perumpamaan-perumpamaan itu Kami buat untuk manusia supaya mereka berfikir. [QS al-Hasyr/ 59: 21

وَ تِلْكَ اْلأَمْثَالُ نَضْرِبُهَا لِلنَّاسِ وَ مَا يَعْقِلُهَا إِلَّا اْلعَالِمُونَ

Dan perumpamaan-perumpamaan ini Kami buat untuk manusia, dan tiada yang memahaminya kecuali orang-orang yang berilmu. [QS al-Ankabut/ 29: 43].

6. Mudah-mudahan Allah ta’ala menjauhkan kita dari perilaku yang buruk tersebut.

Dengan gambaran dalil-dalil dan penjelasannya di atas hendaknya kita selalu memohon kepada Allah Subhanahu wa ta’ala agar dijauhkan dari perilaku dan sifat seperti itu. Di antaranya, dengan meminta perlindungan kepada Allah ta’ala dari ilmu yang tidak bermanfaat yakni dari ilmu yang baik lagi benar tapi tidak bermanfaat buat diri pemiliknya lantaran tidak mengubah keadaannya menjadi lebih baik dan benar. Dan juga memohon kepada Allah Azza wa Jalla agar menjadikan semua ilmu yang telah diberikan kepada kita menjadi bermanfaat dan agar Allah ta’ala juga melimpahkan ilmu yang bermanfaat buat kita. Aamiin yaa Mujiibas Saailiin…

Dari Zaid bin Arqom berkata, “Aku tidak akan berkata kepada kalian kecuali sebagaimana Rosulullah Shallallahu alaihi wa sallam bersabda. Beliau pernah bersabda,

اَللَّهُمَّ إِنِّى أَعُوْذُ بِكَ مِنْ عِلْمٍ لَا يَنْفَعُ وَ مِنْ قَلْبٍ لَا يَخْشَعُ وَ مِنْ نَفْسٍ لَا تَشْبَعُ وَ مِنْ دَعْوَةٍ لَا يُسْتَجَابُ لَهَا

“Ya Allah, sesungguhnya aku berlindung kepada-Mu dari ilmu yang tidak bermanfaat, hati yang tidak khusyu’, jiwa yang tidak pernah kenyang dan doa yang tidak dikabulkan”. [HR Muslim: 2722 dan an-Nasa’iy: VIII/ 260, 285. Berkata asy-Syaikh al-Albaniy: Shahih]. [19]

Dari Abu Hurairah radliyallahu anhu berkata, adalah Rosulullah Shallallahu alaihi wa sallam berdoa,

اَللَّهُمَّ انْفَعْنِى بِمَا عَلَّمْتَنِى وَ عَلِّمْنِى مَا يَنْفَعُنِى وَ زِدْنِى عِلْمًا وَ اْلحَمْدُ لِلَّهِ عَلَى كُلِّ حَالٍ وَ أَعُوْذُ بِاللهِ مِنْ عَذَابِ النَّارِ

“Ya Allah, berilah manfaat kepadaku terhadap apa yang Engkau ajarkan kepadaku dan ajarkanlah aku  dengan apa yang akan memberi manfaat kepadaku. Tambahkanlah ilmu kepadaku, segala puji bagi Allah atas segala keadaan dan aku berlindung kepada Allah dari adzab neraka”. [HR Ibnu Majah: 251, 3833 dan at-Turmudziy. Berkata asy-Syaikh al-Albaniy: Shahih]. [20]

Semoga bermanfaat untukku, keluarga, kerabat dan para shahabatku serta kaum muslimin seluruhnya. Wallahu a’lam bi ash-Showab.

[1] Shahih al-Jami’ ash-Shaghir: 5831, 5837, Shahih at-Targhib wa at-Tarhib: 126, 127 dan iqtidlo’ al-Ilmi al-Amal: 70, 71

[2] Shahih al-Jami’ ash-Shaghir: 5443 dan Shahih at-Targhib wa at-Tarhib: 96.

[3] Shahih al-Jami’ ash-Shaghir: 5835 dan Misykah al-Mashobih: 280.

[4] Shahih al-Jami’ ash-Shaghir: 4023 dan Shahih at-Targhib wa at-Tarhib: 118.

[5] Shahih Sunan Ibni Majah: 210, Shahih al-Jami’ ash-Shaghir: 5713 dan Shahih at-Targhib wa at-Tarhib: 116.

[6] Al-Majmu’ Syar-h Al-Muhadzdzab: I/ 21, karya Al-Imam An-Nawawiy.

[7] Shahih Sunan at-Turmudziy: 1969, Shahih al-Jami’ ash-Shaghir: 7299 dan Silsilah al-Ahadits ash-Shahihah: 946.

[8] Shahih Sunan at-Turmudziy: 1970 dan Shahih al-Jami’ ash-Shaghir: 7300.

[9] Jami’ Bayan al-Ilmi wa fadl-lihi: 752, halaman 248 dan Iqtidlo’ al-Ilmi al-Amal: 53 halaman 41.

[10] Shahih at-Targhib wa at-Tarhib: 125.

[11] Iqtidlo’ al-Ilmi al-Amal: 10 halaman 22-23.

[12] Iqtidlo’ al-Ilmi al-Amal: 43 halaman 37.

[13] Iqtidlo’ al-Ilmi al-Amal: 44 halaman 37.

[14] Iqtidlo’ al-Ilmi al-Amal: 45 halaman 37.

[15] Majmu’ Fatawa XXV/281.

[16] Fat-h al-Bariy: I/ 159.

[17] Shahihal-Jami’ ash-Shaghir: 8022, Silsilah al-Ahadits ash-Shahihah: 292, Shahih at-Targhib wa at-Tarhib: 120 dan iqtidlo’ al-Ilmi al-Amal: 74 halaman 51-52.

[18] Shahih at-Targhib wa at-Tarhib: 121 dan Silsilah al-Ahadits ash-Shahihah: 291.

[19] Shahih Sunan an-Nasa’iy: 5044, 5011 dan Shahih al-Jami’ ash-Shaghir: 1286.

[20] Shahih Sunan Ibni Majah: 203, 3091, Shahih Sunan at-Turmudziy: 2845 dan Misykah al-Mashobih: 3493.

sumber : https://cintakajiansunnah.wordpress.com/tag/keharusan-menyampaikan-ilmu/

Hadits-Hadits Tentang Bid’ah

Hasil gambar untuk pemandangan yang sangat indahBanyak kaum muslimin yang masih meremehkan masalah bid’ah. Hal itu bisa jadi karena minimnya pengetahuan mereka tentang dalil-dalil syar’i. Padahal andaikan mereka mengetahui betapa banyak hadits Nabi Shallallahu’alaihi Wasallam yang membicarakan dan mencela bid’ah, mereka akan menyadari betapa Nabi Shallallahu’alaihi Wasallam sangat sering membahasnya dan sangat mewanti-wanti umat beliau agar tidak terjerumus pada bid’ah. Jadi, lisan yang mencela bid’ah dan mewanti-wanti umat dari bid’ah adalah lisan Nabi Shallallahu’alaihi Wasallam sendiri.

Hadits 1
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

مَنْ أَحْدَثَ فِى أَمْرِنَا هَذَا مَا لَيْسَ مِنْهُ فَهُوَ رَدٌّ

“Barangsiapa membuat suatu perkara baru dalam urusan kami ini (urusan agama) yang tidak ada asalnya, maka perkara tersebut tertolak” (HR. Bukhari no. 2697 dan Muslim no. 1718)

Hadits 2
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

مَنْ عَمِلَ عَمَلاً لَيْسَ عَلَيْهِ أَمْرُنَا فَهُوَ رَدٌّ

“Barangsiapa melakukan suatu amalan yang bukan berasal dari kami, maka amalan tersebut tertolak” (HR. Muslim no. 1718)

Hadits 3
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam setiap memulai khutbah biasanya beliau mengucapkan,

أَمَّا بَعْدُ فَإِنَّ خَيْرَ الْحَدِيثِ كِتَابُ اللَّهِ وَخَيْرُ الْهُدَى هُدَى مُحَمَّدٍ وَشَرُّ الأُمُورِ مُحْدَثَاتُهَا وَكُلُّ بِدْعَةٍ ضَلاَلَةٌ

“Amma ba’du. Sesungguhnya sebaik-baik perkataan adalah kitabullah dan sebaik-baik petunjuk adalah petunjuk Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam. Sejelek-jelek perkara adalah (perkara agama) yang diada-adakan, setiap (perkara agama) yang diada-adakan itu adalah bid’ah, setiap bid’ah adalah kesesatan” (HR. Muslim no. 867)

Dalam riwayat An Nasa’i,

مَنْ يَهْدِ اللَّهُ فَلا مُضِلَّ لَهُ ، وَمَنْ يُضْلِلْ فَلا هَادِيَ لَهُ ، إِنَّ أَصَدَقَ الْحَدِيثِ كِتَابُ اللَّهِ ، وَأَحْسَنَ الْهَدْيِ هَدْيُ مُحَمَّدٍ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ، وَشَرَّ الأُمُورِ مُحْدَثَاتُهَا ، وَكُلَّ مُحْدَثَةٍ بِدْعَةٌ ، وَكُلَّ بِدْعَةٍ ضَلالَةٌ ، وَكُلَّ ضَلالَةٍ فِي النَّارِ

“Barangsiapa yang diberi petunjuk oleh Allah maka tidak ada yang bisa menyesatkannya. Dan yang disesatkan oleh Allah tidak ada yang bisa memberi petunjuk padanya. Sesungguhnya sebenar-benar perkataan adalah Kitabullah dan sebaik-baik petunjuk adalah petunjuk Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam. Sejelek-jelek perkara adalah (perkara agama) yang diada-adakan, setiap (perkara agama) yang diada-adakan itu adalah bid’ah, setiap bid’ah adalah kesesatan dan setiap kesesatan tempatnya di neraka” (HR. An Nasa’i no. 1578, dishahihkan oleh Al Albani dalam Shahih wa Dha’if Sunan An Nasa’i)

Hadits 4
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

أُوصِيكُمْ بِتَقْوَى اللَّهِ وَالسَّمْعِ وَالطَّاعَةِ وَإِنْ عَبْدًا حَبَشِيًّا فَإِنَّهُ مَنْ يَعِشْ مِنْكُمْ بَعْدِى فَسَيَرَى اخْتِلاَفًا كَثِيرًا فَعَلَيْكُمْ بِسُنَّتِى وَسُنَّةِ الْخُلَفَاءِ الْمَهْدِيِّينَ الرَّاشِدِينَ تَمَسَّكُوا بِهَا وَعَضُّوا عَلَيْهَا بِالنَّوَاجِذِ وَإِيَّاكُمْ وَمُحْدَثَاتِ الأُمُورِ فَإِنَّ كُلَّ مُحْدَثَةٍ بِدْعَةٌ وَكُلَّ بِدْعَةٍ ضَلاَلَةٌ

“Aku wasiatkan kepada kalian untuk bertakwa kepada Allah, tetap mendengar dan ta’at kepada pemimpin walaupun yang memimpin kalian adalah seorang budak dari Habasyah. Karena barangsiapa di antara kalian yang hidup sepeninggalku nanti, dia akan melihat perselisihan yang banyak. Maka wajib bagi kalian untuk berpegang pada sunnah-ku dan sunnah Khulafa’ur Rasyidin yang mereka itu telah diberi petunjuk. Berpegang teguhlah dengannya dan gigitlah ia dengan gigi geraham kalian. Jauhilah dengan perkara (agama) yang diada-adakan karena setiap perkara (agama) yang diada-adakan adalah bid’ah dan setiap bid’ah adalah kesesatan” (HR. At Tirmidzi no. 2676. ia berkata: “hadits ini hasan shahih”)

Hadits 5
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

إِنَ اللهَ حَجَبَ التَّوْبَةَ عَنْ كُلِّ صَاحِبِ بِدْعَةٍ حَتَّى يَدَعْ بِدْعَتَهُ

“Sungguh Allah menghalangi taubat dari setiap pelaku bid’ah sampai ia meninggalkan bid’ahnya”  (HR. Ath Thabrani dalam Al Ausath no.4334. Dishahihkan oleh Al Albani dalam Shahih At Targhib wa At Tarhib no. 54)

Hadits 6
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

أَنَا فَرَطُكُمْ عَلَى الْحَوْضِ ، لَيُرْفَعَنَّ إِلَىَّ رِجَالٌ مِنْكُمْ حَتَّى إِذَا أَهْوَيْتُ لأُنَاوِلَهُمُ اخْتُلِجُوا دُونِى فَأَقُولُ أَىْ رَبِّ أَصْحَابِى . يَقُولُ لاَ تَدْرِى مَا أَحْدَثُوا بَعْدَكَ

“Aku akan mendahului kalian di al haudh (telaga). Lalu ditampakkan di hadapanku beberapa orang di antara kalian. Ketika aku akan mengambilkan (minuman) untuk mereka dari al haudh, mereka dijauhkan dariku. Aku lantas berkata, ‘Wahai Rabbku, ini adalah umatku’. Allah berfirman, ‘Engkau tidak tahu (bid’ah) yang mereka ada-adakan sepeninggalmu’ “ (HR. Bukhari no. 6576, 7049).

Dalam riwayat lain dikatakan,

إِنَّهُمْ مِنِّى . فَيُقَالُ إِنَّكَ لاَ تَدْرِى مَا بَدَّلُوا بَعْدَكَ فَأَقُولُ سُحْقًا سُحْقًا لِمَنْ بَدَّلَ بَعْدِى

“(Wahai Rabb), sungguh mereka bagian dari pengikutku. Lalu Allah berfirman, ‘Sungguh engkau tidak tahu bahwa sepeninggalmu mereka telah mengganti ajaranmu”. Kemudian Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mengatakan, “Celaka, celaka bagi orang yang telah mengganti ajaranku sesudahku”(HR. Bukhari no. 7050).

Al’Aini ketika menjelaskan hadits ini beliau berkata: “Hadits-hadits yang menjelaskan orang-orang yang demikian yaitu yang dikenal oleh Nabi sebagai umatnya namun ada penghalang antara mereka dan Nabi, dikarenakan yang mereka ada-adakan setelah Nabi wafat. Ini menunjukkan setiap orang mengada-adakan suatu perkara dalam agama yang tidak diridhai Allah itu tidak termasuk jama’ah kaum muslimin. Seluruh ahlul bid’ah itu adalah orang-orang yang gemar mengganti (ajaran agama) dan mengada-ada, juga orang-orang zhalim dan ahli maksiat, mereka bertentangan dengan al haq. Orang-orang yang melakukan itu semua yaitu mengganti (ajaran agama) dan mengada-ada apa yang tidak ada ajarannya dalam Islam termasuk dalam bahasan hadits ini” (Umdatul Qari, 6/10)

Hadits 7
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

انَّهُ سَيَلِي أَمْرَكُمْ مِنْ بَعْدِي رِجَالٌ يُطْفِئُونَ السُّنَّةَ ، وَيُحْدِثُونَ بِدْعَةً ، وَيُؤَخِّرُونَ الصَّلَاةَ عَنْ مَوَاقِيتِهَا ” ، قَالَ ابْنُ مَسْعُودٍ : يَا رَسُولَ اللَّهِ ، كَيْفَ بِي إِذَا أَدْرَكْتُهُمْ ؟ قَالَ : ” لَيْسَ يَا ابْنَ أُمِّ عَبْدٍ طَاعَةٌ لِمَنْ عَصَى اللَّهَ ” ، قَالَهَا ثَلَاثَ مَرَّاتٍ

“Sungguh diantara perkara yang akan datang pada kalian sepeninggalku nanti, yaitu akan ada orang (pemimpin) yang mematikan sunnah dan membuat bid’ah. Mereka juga mengakhirkan shalat dari waktu sebenarnya’. Ibnu Mas’ud lalu bertanya: ‘apa yang mesti kami perbuat jika kami menemui mereka?’. Nabi bersabda: ‘Wahai anak Adam, tidak ada ketaatan pada orang yang bermaksiat pada Allah'”. Beliau mengatakannya 3 kali. (HR. Ahmad no.3659, Ibnu Majah no.2860. Dishahihkan Al Albani dalam Silsilah Ahadits Shahihah, 2864)

Hadits 8
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

إِنَّهُ مَنْ أَحْيَا سُنَّةً مِنْ سُنَّتِي قَدْ أُمِيتَتْ بَعْدِي فَإِنَّ لَهُ مِنَ الْأَجْرِ مِثْلَ مَنْ عَمِلَ بِهَا مِنْ غَيْرِ أَنْ يَنْقُصَ مِنْ أُجُورِهِمْ شَيْئًا ، وَمَنِ ابْتَدَعَ بِدْعَةَ ضَلَالَةٍ لَا يَرْضَاهَا اللَّهَ وَرَسُولَهُ كَانَ عَلَيْهِ مِثْلُ آثَامِ مَنْ عَمِلَ بِهَا لَا يَنْقُصُ ذَلِكَ مِنْ أَوْزَارِ النَّاسِ شَيْئًا

“Barangsiapa yang sepeninggalku menghidupkan sebuah sunnah yang aku ajarkan, maka ia akan mendapatkan pahala semisal dengan pahala orang-orang yang melakukannya tanpa mengurangi pahala mereka sedikitpun. Barangsiapa yang membuat sebuah bid’ah dhalalah yang tidak diridhai oleh Allah dan Rasul-Nya, maka ia akan mendapatkan dosa semisal dengan dosa orang-orang yang melakukannya tanpa mengurangi dosa mereka sedikitpun” (HR. Tirmidzi no.2677, ia berkata: “Hadits ini hasan”)

Hadits 9
Hadits dari Hudzaifah Ibnul Yaman, ia berkata:

يا رسولَ اللهِ ! إنا كنا بشرٌ . فجاء اللهُ بخيرٍ . فنحن فيه . فهل من وراءِ هذا الخيرِ شرٌّ ؟ قال ( نعم ) قلتُ : هل من وراءِ ذلك الشرِّ خيرٌ ؟ قال ( نعم ) قلتُ : فهل من وراءِ ذلك الخيرِ شرٌّ ؟ قال ( نعم ) قلتُ : كيف ؟ قال ( يكون بعدي أئمةٌ لا يهتدون بهدايَ ، ولا يستنُّون بسُنَّتي . وسيقوم فيهم رجالٌ قلوبُهم قلوبُ الشياطينِ في جُثمانِ إنسٍ ) قال قلتُ : كيف أصنعُ ؟ يا رسولَ اللهِ ! إن أدركت ُذلك ؟ قال ( تسمعُ وتطيع للأميرِ . وإن ضَرَب ظهرَك . وأخذ مالَك . فاسمعْ وأطعْ )

“Wahai Rasulullah, dulu kami orang biasa. Lalu Allah mendatangkan kami kebaikan (berupa Islam), dan kami sekarang berada dalam keislaman. Apakah setelah semua ini akan datang kejelekan? Nabi bersabda: ‘Ya’. Apakah setelah itu akan datang kebaikan? Nabi bersabda: ‘Ya’. Apakah setelah itu akan datang kejelekan? Nabi bersabda: ‘Ya’. Aku bertanya: ‘Apa itu?’. Nabi bersabda: ‘akan datang para pemimpin yang tidak berpegang pada petunjukku dan tidak berpegang pada sunnahku. Akan hidup diantara mereka orang-orang yang hatinya adalah hati setan namun berjasad manusia’. Aku bertanya: ‘Apa yang mesti kami perbuat wahai Rasulullah jika mendapati mereka?’. Nabi bersabda: ‘Tetaplah mendengar dan taat kepada penguasa, walau mereka memukul punggungmu atau mengambil hartamu, tetaplah mendengar dan taat’” (HR. Muslim no.1847)

Tidak berpegang pada sunnah Nabi dalam beragama artinya ia berpegang pada sunnah-sunnah yang berasal dari selain Allah dan Rasul-Nya, yang merupakan kebid’ahan.

Hadits 10
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

أَوَّلُ مَنْ يُغَيِّرُ سُنَّتِي رَجُلٌ مِنْ بَنِي أُمَيَّةَ

“Orang yang akan pertama kali mengubah-ubah sunnahku berasal dari Bani Umayyah” (HR. Ibnu Abi Ashim dalam Al Awa’il, no.61, dishahihkan Al Albani dalam Silsilah Ash Shahihah 1749)

Dalam hadits ini Nabi mengabarkan bahwa akan ada orang yang mengubah-ubah sunnah beliau. Sunnah Nabi yang diubah-ubah ini adalah kebid’ahan.

Hadits 11
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

جَاءَ ثَلَاثَةُ رَهْطٍ إِلَى بُيُوتِ أَزْوَاجِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَسْأَلُونَ عَنْ عِبَادَةِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ، فَلَمَّا أُخْبِرُوا كَأَنَّهُمْ تَقَالُّوهَا ، فَقَالُوا : وَأَيْنَ نَحْنُ مِنَ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَدْ غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ وَمَا تَأَخَّرَ ؟ قَالَ أَحَدُهُمْ : أَمَّا أَنَا ، فَإِنِّي أُصَلِّي اللَّيْلَ أَبَدًا ، وَقَالَ آخَرُ : أَنَا أَصُومُ الدَّهْرَ وَلَا أُفْطِرُ ، وَقَالَ آخَرُ : أَنَا أَعْتَزِلُ النِّسَاءَ فَلَا أَتَزَوَّجُ أَبَدًا ، فَجَاءَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِلَيْهِمْ ، فَقَالَ : ” أَنْتُمُ الَّذِينَ قُلْتُمْ كَذَا وَكَذَا ، أَمَا وَاللَّهِ إِنِّي لَأَخْشَاكُمْ لِلَّهِ وَأَتْقَاكُمْ لَهُ لَكِنِّي أَصُومُ وَأُفْطِرُ ، وَأُصَلِّي وَأَرْقُدُ ، وَأَتَزَوَّجُ النِّسَاءَ ، فَمَنْ رَغِبَ عَنْ سُنَّتِي فَلَيْسَ مِنِّي

“Ada tiga orang mendatangi rumah istri-istri Nabi shallallahu’alaihi wasallam dan bertanya tentang ibadah Nabi shallallahu’alaihi wasallam. ٍSetelah diberitakan kepada mereka, sepertinya mereka merasa hal itu masih sedikit bagi mereka. Mereka berkata, “Ibadah kita tak ada apa-apanya dibanding Rasulullah shallallahu’alaihi wasallam, bukankah beliau sudah diampuni dosa-dosanya yang telah lalu dan juga yang akan datang?” Salah seorang dari mereka berkata, “Sungguh, aku akan shalat malam selama-lamanya” (tanpa tidur). Kemudian yang lain berkata, “Kalau aku, sungguh aku akan berpuasa Dahr (setahun penuh) dan aku tidak akan berbuka”. Dan yang lain lagi berkata, “Aku akan menjauhi wanita dan tidak akan menikah selama-lamanya”. Kemudian datanglah Rasulullah shallallahu’alaihi wasallam kepada mereka seraya bertanya: “Kalian berkata begini dan begitu. Ada pun aku, demi Allah, adalah orang yang paling takut kepada Allah di antara kalian, dan juga paling bertakwa. Aku berpuasa dan juga berbuka, aku shalat dan juga tidur serta menikahi wanita. Barangsiapa yang benci sunnahku, maka bukanlah dari golonganku” (HR. Bukhari no.5063)

Dalam hadits di atas, ketiga orang tersebut berniat melakukan kebid’ahan, karena ketiganya tidak pernah diajarkan oleh Nabi. Yaitu puasa setahun penuh, shalat semalam suntuk setiap hari, kedua hal ini adalah bentuk ibadah yang bid’ah. Dan berkeyakinan bahwa dengan tidak menikah selamanya itu bisa mendatangkan pahala dan keutamaan adalah keyakinan yang bid’ah. Oleh karena itu Nabi bersabda “Barangsiapa yang benci sunnahku, maka bukanlah dari golonganku“.

Dan masih banyak lagi hadits-hadits yang membicarakan dan mencela bid’ah, namun apa yang kami nukilkan di atas sudah cukup mewakili betapa bahaya dan betapa pentingnya kita untuk waspada dari bid’ah.

Wallahu’alam.



Penulis: Yulian Purnama
Artikel Muslim.Or.Id

Larangan Terhadap Bid’ah Dalam Al Qur’an

Hasil gambar untuk pemandangan yang sangat indahAlhamdulillah washshalatu wassalaamu ‘ala nabiyyihi almukhtar min khalqihi muhammad wa ‘ala alihi wa as-habih wa man tabi’ahu ittiba-an shahihan ikhlashan.

Berbicara tentang bid’ah adalah berbicara tentang sesuatu yang membuat pusing sebagian orang. Artinya mereka begitu alergi dengan kata bid’ah. Perlu dipahami bahwa bid’ah adalah sebuah pembicaraan dalam agama seperti juga pembicaraan tentang syirik, maksiat dan lain-lain.
Bid’ah Tidak Pernah Dibahas Para Ulama?

Seorang mahasiswa LIPIA jurusan Syari’ah pernah menulis artikel dalam sebuah web yang menyatakan bahwa tidak ditemukan kata bid’ah dalam kitab fiqih yang ditulis para ulama. Ia juga merendahkan para ulama yang gencar melarang bid’ah. Ia menulis seolah-olah kata bid’ah bukanlah sebuah tema yang dibicarakan dalam Islam.

Aneh memang. Kitab-kitab yang bertebaran dalam perpustakaan LIPIA plus kemampuan berbahasa arabnya tak mampu memahami bahwa bid’ah adalah sebuah hal yang diwanti-wanti Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dalam banyak pertemuan beliau dengan para sahabat.

Semoga saja tulisan beliau tidak melecehkan ungkapan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam yang dengan kelembutannya menasehati umatnya dari bahaya bid’ah. Beliau Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

« أَمَّا بَعْدُ فَإِنَّ خَيْرَ الْحَدِيثِ كِتَابُ اللَّهِ وَخَيْرُ الْهُدَى هُدَى مُحَمَّدٍ وَشَرُّ الأُمُورِ مُحْدَثَاتُهَا وَكُلُّ بِدْعَةٍ ضَلاَلَةٌ »

“Kemudian daripada itu, sesungguhnya sebaik-baik perkataan adalah Al-Qur’an dan sebaik-baik petunjuk adalah petunjuk Muhammad, dan seburuk-buruk perkara adalah perkara-perkara yang baru dan semua bid’ah adalah kesesatan” (HR Muslim no 2042).

Dalam riwayat lain:

وَكُلُّ مُحْدَثَةٍ بِدْعَةٌ وَكُلُّ بِدْعَةٍ ضَلاَلَةٌ ، وَكُلُّ ضَلاَلَةٍ فِي النَّارِ

“Dan semua perkara yang baru adalah bid’ah dan seluruh bid’ah adalah kesesatan dan seluruh kesesatan di neraka” (HR An-Nasaai no 1578).

Benar bahwa bid’ah bukanlah bagian dari hukum taklifiyyah yang terdiri dari wajib, mandub, mubah, makruh dan haram (lihat pembagian ini dalam Mulakhhash al-Fiqhiyyah al-Muyassarah (Min Hasyiyatu ar-Raudh wa al-Murabba’ wa Manaar as-Sabiyl), hal 11).

Namun bukanlah bermakna bahwa bid’ah adalah sebuah istilah yang kosong dalam kitab para ulama. Mereka, para ulama, banyak menulis tentang bid’ah dan berbagai kaidah yang berhubungan dengan bid’ah. Mereka pula mewanti-wanti kaum muslimin untuk menjauhi bid’ah karena adalah bid’ah sebuah larangan.
Larangan Berbuat Bid’ah Tidak Ada Dalam Al Qur’an?

Ada pula sebagian penulis yang menyatakan bahwa tidak ada larangan bid’ah dalam al-Qur-an. Padahal para ulama telah banyak ber-istinbath dari sebagian ayat-ayat al-Qur-an mengenai larangan bid’ah. Allah berfirman

قُلْ يَٰٓأَيُّهَا ٱلْكَٰفِرُونَ ﴿١﴾ لَآ أَعْبُدُ مَا تَعْبُدُونَ ﴿٢﴾ وَلَآ أَنتُمْ عَٰبِدُونَ مَآ أَعْبُدُ ﴿٣﴾ وَلَآ أَنَا۠ عَابِدٌ مَّا عَبَدتُّمْ ﴿٤﴾ وَلَآ أَنتُمْ عَٰبِدُونَ مَآ أَعْبُدُ ﴿٥﴾ لَكُمْ دِينُكُمْ وَلِىَ دِينِ ﴿٦

“1). Katakanlah: Hai orang-orang kafir 2). Aku tidak akan menyembah apa yang kamu sembah 3). Dan kamu bukan penyembah Tuhan yang aku sembah 4). Dan aku tidak pernah menjadi penyembah apa yang kamu sembah 5). Dan kamu tidak pernah (pula) menjadi penyembah Tuhan yang aku sembah 6). Untukmu agamamu, dan untukkulah agamaku” (QS al-Kafirun 1-6)

Salah satu penjelasan Ibnu katsir dalam kitabnya tentang surat ini adalah:

تبرأ منهم في جميع ما هم فيه فإن العابد لا بد من معبود يعبده وعبادة يسلكها إليه فالرسول صلى الله عليه وسلم وأتباعه يعبدون الله بما شرعه ولهذا كان كلمة الإسلام لا إله إلا الله محمد رسول الله أي لا معبود إلا الله ولا طريق إليه إلا ما جاء به الرسول والمشركون يعبدون غير الله عبادة لم يأذن بها الله

“Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam berlepas diri dari segala hal yang ada pada mereka (dan apa yang mereka lakoni) karena sesungguhnya seorang hamba beribadah kepada sesuatu yang disembah dan seorang hamba pula menjalani sebuah ibadah menuju Allah. Rasul shallallahu ‘alaihi wasallam dan para pengikut beliau menyembah Allah dengan sesuatu yang memang Allah syariatkan. Inilah makna kalimat Islam yaitu tidak ada sesembahan yang berhak disembah dengan benar kecuali Allah dan bahwasanya Muhammad adalah utusan Allah. Ini bermakna bahwa tiada sesembahan yang berhak diibadahi dengan benar kecuali Allah dan pula tiada jalan yang ditempuh menuju Allah kecuali dengan segala hal yang dibawa oleh Rasulullah shallahu ‘alaihi wasallam. Orang musyrik menyembah selain Allah sebagai sebuah ibadah yang tidak Allah izinkan/syariatkan.”( Tafsir al-Qur-an al-Azhiym, jilid 4, hal 3107)

Dalam surat lain, Allah berfirman:

يسألونك عن الأهلة قل هي مواقيت للناس والحج وليس البر بأن تأتوا البيوت من ظهورها ولكن البر من اتقى وأتوا البيوت من أبوابها واتقوا الله لعلكم تفلحون

“Mereka bertanya kepadamu tentang bulan sabit. Katakanlah: “Bulan sabit itu adalah tanda-tanda waktu bagi manusia dan (bagi ibadat) haji; Dan bukanlah kebajikan memasuki rumah-rumah dari belakangnya, akan tetapi kebajikan itu ialah kebajikan orang yang bertakwa. Dan masuklah ke rumah-rumah itu dari pintu-pintunya; dan bertakwalah kepada Allah agar kamu beruntung” (QS al-Baqarah: 189.)

Salah satu ungkapan syaikh ‘Abdurrahman ibn Nashir as-Sa’diy mengenai ayat ini adalah:

وهذا كما كان الأنصار وغيرهم من العرب إذا أحرموا لم يدخلوا البيوت من أبوابها تعبدا بذلك وظنا أنه بر فأخبر تعالى ليس من البر لأن الله تعالى لم يشرعه لهم وكل من تعبد بعبادة لم يشرعها الله ورسوله فهو متعبد ببدعة وأمرهم أن يأتوا البيوت من أبوابها لما فيه من السهولة عليه التي هي قاعدة من قواعد الشرع.

“Dahulu orang Anshar dan arab lainnya, jika mereka melakukan ihram, mereka tidak memasuki rumah-rumah mereka melalui pintunya dalam rangka ibadah. Mereka menganggap bahwa hal yang mereka lakukan itu adalah sebuah kebaikan. Allah mengabarkan bahwa yang demikian itu bukanlah sebuah kebaikan karena Allah tidak mensyariatkan hal ini kepada mereka. Setiap orang yang menyembah Allah dengan sebuah ibadah yang tidak Allah dan Rasul-Nya syariatkan maka dia telah beribadah dengan sebuah kebid’ahan. (Dalam ayat ini) Allah memerintahkan mereka agar mereka memasuki rumah mereka melalui pintunya karena ini mengandung kemudahan bagi mereka yang merupakan salah satu kaidah dalam beragama.” (Lihat kitab beliau Tafsir Kariimir Rahman fiy Tafsir Kalaam al-Mannan, hal 87).

Dan masih banyak lagi ayat-ayat yang lain yang menjadi dalil terlarangnya bid’ah menurut para ulama.

 

Asrama LIPIA Jakarta, Rabu siang, 15 Shafar 1435 H/ 18 Desember 2013

____

Referensi:

    Al-Qur-an dan terjemahannya.
    Tafsiyr al-Qur-an al-Azhiym, jilid 4, hal 3107, penerbit Jami’atu Ihya-u at-Turats al-Islamiy, Kuwait
    Lihat kitab beliau Tafsir Kariimir Rahman fiy Tafsir Kalaam al-Mannan, hal 87, terbitan Dar Ibnu al-Jauziy, al-Mamlakah al-‘Arabiyyah as-Su’udiyyah.
    Mulakhhash al-Fiqhiyyah al-Muyassarah (Min Hasyiyatu ar-Raudh wa al-Murabba’ wa Manaar as-Sabiyl) karya ‘Imad ‘Ali Jum’ah, hal 11, terbitan Maktabah al-Malik Fadh, Riyadh.