Sunday, May 13, 2018

Benarkah Orang Meninggal Bisa Menemui Keluarganya?

Hasil gambar untuk padang pasir terbesar di duniaPertanyaan:

Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarokatuh.

Beberapa waktu yang lalu ada salah seorang ustadz muda yang meninggal yang beritanya diblow up di media massa, kebetulan sehari setelah sang ustad meninggal saya membaca disebuah media yang menceritakan bahwa ustadz tersebut kembali kerumah menemui ibu dan keluarganya, hal tersebut dinyatakan dengan pernyataan ibunya ketika akan sholat tahajud anaknya yang sudah meninggal menemui, hal tersebut dibuktikan dengan parfum yang biasa dipake sang ustadz tiba tiba tercium diruangan tersebut padahal tidak ada yang memakai parfum tersebut, begitu menurut pengakuan ibunya, pertanyaannya, apakah hal tersebut benar, bahwa orang sudah meninggal bisa menemui orang yang masih hidup seperti cerita diatas, adakah dalil yang bisa menerangkannya.

Jazakallahu Khoiron

Dari : A. Althaf

Jawaban:

Wa alaikumus salam warahmatullahi wabarokatuh.

Bismillah was shalatu was salamu ‘ala rasulillah, amma ba’du,
Hubungan Ruh dengan orang yang hidup ada tiga:

= > Pertama, pertemuan ruh orang yang telah meninggal dengan ruh orang yang masih hidup di alam mimpi

Para ulama menegaskan bahwa hal ini bisa terjadi. Ruh orang yang telah meninggal bisa berjumpa dengan ruh orang yang masih hidup dalam mimpi.

Berikut beberapa keterangan mereka,

1. Tafsir firman Allah di surat Az-Zumar ayat 42.

Allah berfirman,

اللَّهُ يَتَوَفَّى الْأَنْفُسَ حِينَ مَوْتِهَا وَالَّتِي لَمْ تَمُتْ فِي مَنَامِهَا فَيُمْسِكُ الَّتِي قَضَى عَلَيْهَا الْمَوْتَ وَيُرْسِلُ الْأُخْرَى إِلَى أَجَلٍ مُسَمًّى إِنَّ فِي ذَلِكَ لَآيَاتٍ لِقَوْمٍ يَتَفَكَّرُونَ

“Allah memegang jiwa (orang) ketika matinya dan (memegang) ruh (orang) yang belum mati di waktu tidurnya; Maka Dia tahanlah ruh (orang) yang telah Dia tetapkan kematiannya dan Dia melepaskan ruh yang lain sampai waktu yang ditetapkan. Sesungguhnya pada yang demikian itu terdapat tanda- tanda kekuasaan Allah bagi kaum yang berfikir.” (QS. Az-Zumar : 42)

Ada dua pendapat ahli tafsir tentang ayat ini. Salah satunya, bahwa ruh orang yang ditahan adalah ruh orang yang sudah meninggal, sehingga dia tidak bisa kembali ke jasadnya di dunia. Sedangkan ruh orang yang dilepas adalah ruh orang yang tidur. (Ar-Ruh, Ibnul Qoyim, hlm. 31).

Diriwayatkan dari Said bin Jubair, dari Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhuma, beliau menjelaskan tafsir ayat tersebut,

إِنَّ أَرْوَاحَ الْأَحْيَاءِ وَالْأَمْوَاتِ تَلْتَقِي فِي الْمَنَامِ فَتَتَعَارَفُ مَا شَاءَ اللَّهُ مِنْهَا، فَإِذَا أَرَادَ جَمِيعُهَا الرُّجُوعَ إِلَى الْأَجْسَادِ أَمْسَكَ اللَّهُ أَرْوَاحَ الْأَمْوَاتِ عِنْدَهُ، وَأَرْسَلَ أَرْوَاحَ الْأَحْيَاءِ إِلَى أَجْسَادِهَا

Sesungguhnya ruh orang yang hidup dan ruh orang mati bertemu dalam mimpi. Mereka saling mengenal sesuai yang Allah kehendaki. Ketika masing-masing hendak kembali ke jasadnya, Allah menahan ruh orang yang sudah mati di sisi-Nya, dan Allah melepaskan ruh orang yang masih hidup ke jasadnya. (Tafsir At-Thabari 21/298, Al-Qurthubi 15/260, An-Nasafi 4/56, Zadul Masir Ibnul Jauzi 4/20, dan beberapa tafsir lainnya).

2. Kejadian nyata yang dialami para sahabat

Kejadian ini pernah dialami seorang sahabat yang dijamin masuk surga karena kerendahan hatinya. Sahabat Tsabit bin Qois radhiyallahu ‘anhu. Peristiwa ini terjadi ketika perang Yamamah, menyerang nabi palsu Musailamah Al-Kadzab di zaman Abu Bakr. Dalam peperangan itu, Tsabit termasuk sahabat yang mati syahid. Ketika itu, Tsabit memakai baju besi yang bernilai harganya.

Sampai akhirnya lewatlah seseorang dan menemukan jasad Tsabit. Orang ini mengambil baju besi Tsabit dan membawanya pulang. Setelah peristiwa ini, ada salah seorang mukmin bermimpi, dia didatangi Tsabin bin Qois. Tsabit berpesan kepada si Mukmin dalam mimpi itu:

“Saya wasiatkan kepada kamu, dan jangan kamu katakan, ‘Ini hanya mimpi kalut’ kemudian kamu tidak mempedulikannya. Ketika saya mati, ada seseorang yang melewati jenazahku dan mengambil baju besiku. Tinggalnya di paling pojok sana. Di kemahnya ada kuda yang dia gunakan membantu kegiatannya. Dia meletakkan wadah di atas baju besiku, dan diatasnya ada pelana. Datangi Khalid bin Walid, minta beliau untuk menugaskan orang agar mengambil baju besiku. Dan jika kamu bertemu Khalifah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam (yaitu Abu Bakr), sampaikan bahwa saya punya tanggungan utang sekian dan punya piutang macet sekian. Sementara budakku fulan, statusnya merdeka. Sekali lagi jangan kamu katakan, ‘Ini hanya mimpi kalut’ kemudian kamu tidak mempedulikannya.”

Setelah bangun, orang inipun menemui Khalid bin Walid radhiyallahu ‘anhu dan menyampaikan kisah mimpinya bertemu Tsabit. Sang panglima, Khalid bin Walid mengutus beberapa orang untuk mengambil baju besi itu, dia memperhatikan kemah yang paling ujung, ternyata ada seekor kuda yang disiapkan. Mereka melihat isi kemah, ternyata tidak ada orangnya. Merekapun masuk, dan langsung menggeser pelana. Ternyata di bawahnya ada wadah. Kemudian mereka mengangkat wadah itu, ketemulah baju besi itu. Merekapun membawa baju besi itu menghadap Khalid bin Walid.

Setelah sampai Madinah, orang itu penyampaikan mimpinya kepada Khalifah Abu Bakr As-Shiddiq radhiyallahu ‘anhu, dan beliau membolehkan untuk melaksanakan wasiat Tsabit. Para sahabat mengatakan, “Kami tidak pernah mengetahui ada seorangpun yang wasiatnya dilaksanakan, padahal baru disampaikan setelah orangnya meninggal, selain wasiat Tsabit bin Qais. (HR. Al-Baihaqi dalam Dalail An-Nubuwah 2638 dan Al-Bushiri dalam Al-Ittihaf 3010)

Kasus semacam ini juga terjadi pada beberapa ulama. Kisah-kisah mereka banyak disebutkan Ibnul Qoyim dalam bukunya Ar-Ruh (hlm. 30 – 48). Salah satunya adalah kisah sahabat tsabit bin Qois di atas.

= > Kedua, Allah memperlihatkan keadaan keluarga yang masih hidup kepada beberapa orang yang telah meninggal.

Para ulama menegaskan bahwa mayit bisa mendengar suara orang yang berada di dunia dalam kondisi tertentu. Sebagaimana disebutkan dalam beberapa hadis, diantaranya,

1. Hadis dari Anas bin Malik, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

إن العبد إذا وضع في قبره، وتولى عنه أصحابه، إنه ليسمع قرع نعالهم..

“Sesungguhnya seorang hamba ketika telah diletakkan di kuburan dan ditinggal pulang orang yang mengantarkannya, dia bisa mendengar suara sandal mereka…” (HR. Muslim 2874)

2. Hadis dari Abu Thalhah, bahwa setelah belalu 3 hari pasca-perang Badr, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mendatangi tempat pertempuran bersama para sahabat dan memasukkan mayit orang musyrik ke dalam satu lubang. Selanjutnya beliau bersabda,

يا أبا جهل بن هشام، يا أمية بن خلف، يا عتبة بن ربيعة، يا شيبة بن ربيعة، أليس قد وجدتم ما وعد ربكم حقاً؟ فإني قد وجدت ما وعدني ربي حقاً

Wahai Abu Jahl bin Hisyam, wahai Umayah bin Khalaf, wahai Uthbah bin Rabi’ah, wahai Syaibah bin Rabi’ah, apakah kalian telah mendapatkan kenyataan dari apa yang dijanjikan Rab kalian? Sungguh aku telah mendapatkan kenyataan dari apa yang dijanjikan Rabku.

Spontan Umar bertanya,

“Ya, Rasulullah, bagaimana mereka bisa mendengar? Bagaimana mereka bisa menjawab? Padahal mereka sudah jadi bangkai.”

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab,

والذي نفسي بيده! ما أنتم بأسمع لما أقول منهم، ولكنهم لا يقدرون أن يجيبوا

Demi Allah yang jiwaku berada di tangan-Nya. Kalian tidak lebih mendengar dari apa yang aku ucapkan dari pada mereka. Namun mereka tidak bisa menjawab. (HR. Bukhari 3976)
Apakah Kasus Semacam Ini Berlaku Umum?

Ulama berbeda pendapat apakah kasus semacam ini berlaku untuk semua keadaan. Dalam arti mayit bisa mendengar dan mengetahui semua keadaan orang yang masih hidup.

Sebagian menegaskan bahwa mayit mengetahui keadaan keluarganya dengan izin Allah, dan dia di alam kubur. Syaikhul Islam Ibn Taimiyah, Ibnul Qoyim menyebutkan bahwa terdapat berbagai riwayat dari para ulama masa silam yang menjelaskan bahwa mayit mengetahui keadaan keluarganya. Dia merasa senang ketika keluarganya dalam kondisi baik, dan dia merasa sedih ketika keluarganya dalam kondisi tidak baik.

Mereka yang menegaskan bahwa mayit mengetahui keadaan keluarganya, berdalil dengan hadis dari Anas. Namun hadis statusnya lemah, karena ada perawi yang tidak disebutkan namanya. (Majma’ Zawaid, 2/329).

Dalam riwayat lain dari Abu Ayyub, diriwayatkan Thabrani dalam Mu’jam Al-Kabir, namun dalam sanadnya terdapat perawi bernama Maslamah bin Ali Al-Khusyani, dan dia perawi dhaif. Maslamah bin Ali orang syam, perawi yang lemah, dan matruk (ditinggalkan). Sebagaimana dijelaskan dalam Mizan I’tidal (4/109). Ringkasnya, hadis dalam masalah ini tidak shahih.

Adapun Atsar yang disebutkan Ibnul Qoyim dalam Ar-Ruh, dinukil dari kitab Al-Qubur karya Ibnu Abi Ad-Dunya. Dan atsar-atsar ini dinilai bermasalah.

(Multaqa Ahlulhadits, 52691).

Syaikh Abdurrahman bin Nashir Al-Barrak mengatakan

والميت كذلك لا يعلم بشيء من أحوالهم لأنه غائب عنهم في نعيم أو عذاب ، ولكن قد يُطلع الله بعض الموتى على بعض أحوال أهله ولكن دون تحديد. وقد جاءت آثار لا يعتمد عليها بأن الأموات قد يعرفون أشياء من أحوال أهلهم

Demikian pula mayit, dia tidak mengetahui keadaan keluarganya, karena dia tidak ada di tengah-tengah mereka. Mereka sibuk dalam kenikmatan atau adzab. Hanya saja, terkadang Allah tampakkan kepada beberapa mayit sebagian keadaan keluarganya, namun ini tanpa batasan waktu tertentu. Terdapat beberapa atsar (riwayat dari para ulama) tentang hal ini yang belum bisa dijadikan dalil (karena perllu dilakukan penelitian ulang) yang menyebutkan bahwa mayit terkadang mengetahui keadaan keluarganya. (Fatwa Islam, 13183).

Mengingat keterangan semacam ini belum jelas, sebagian ulama menasehatkan agar tidak kita tidak disibukkan dengan pembahasan semacam ini. Karena tidak memberikan banyak manfaat. Yang lebih penting, kita berusaha menunaikan semua yang menjadi tanggungan mayit, seperti utang, nadzar, fidyah, wasiat, dan semacamnya. Sehingga tidak ada beban baginya yang tidak ditunaikan. Kemudian kita berusaha menjadi hamba yang baik, bertaqwa kepada Allah, baik jenazah bisa mengetahui keadaan kita, atau tidak.

Nasehat semacam ini pernah disampaikan Imam Ibnu Utsaimin. Ketika beliau ditanya, apakah mayit bisa mengetahui kondisi keluarga ataukah tidak?

أما السؤال وهو: معرفة الميت ما يصنعه أهله في الدنيا؟ فإنني لا أعلم في ذلك أثراً صحيحاً يعتمد عليه.
وعلى أية حال فلا نرى نفعا في البحث عن هذا الأمر، والذي ينفعك أنك إذا كنت كذبت فالواجب عليك التوبة إلى الله، والتوبة تمحو ما قبلها، …. ، والانشغال بقبول التوبة، وإصلاح النفس بدلا من الانشغال بمعرفة الميت بهذا الأمر.

Adapun pertanyaan, apakah mayit mengetahui apa yang dilakukan keluarganya di dunia? Saya tidak mengetahui atsar (riwayat) yang shahih yang bisa dijadikan dalil. Namun apapun itu, saya berpendapat tidak ada banyak manfaat untuk melakukan pembahasan masalah ini. Pelajaran yang bermanfaat bagi anda, bahwa jika anda mendustakan hal itu maka anda wajib bertaubat kepada Allah. Dan taubat bisa menghapus dosa sebelumnya. … dan hendaknya anda sibukkan diri agar diterima taubatnya, dan memperbaiki diri, dari pada menyibukkan diri dengan mengetahui keadaan mayit semacam ini.

(Fatawa Syabakah Islamiyah, no. 192755)

= > Ketiga, ruh orang yang meninggal mendatangi keluarganya di alam nyata

Sebagian orang berkeyakinan bahwa ruh orang yang meninggal akan kembali ke keluarganya selama 40 hari. Terlebih setelah peristiwa meninnggalnya salah satu dai di indonesia, disusul dengan cerita sebagian keluarganya yang merasakan kehadiran ruh sang dai. Akhirnya banyak orang semakin yakin dengan aqidah ini. Padahal semuanya diyakini tanpa dasar dan dalil yang tegas.

Ada beberapa catatan yang menunjukkan bahwa keyakinan ini adalah keyakinan yang menyimpang dan bertentangan dengan Al-Quran dan sunah,

1. Allah mengingkari permintaan orang mati untuk dikembalikan ke dunia

حَتَّى إِذَا جَاءَ أَحَدَهُمُ الْمَوْتُ قَالَ رَبِّ ارْجِعُونِ ( ) لَعَلِّي أَعْمَلُ صَالِحًا فِيمَا تَرَكْتُ كَلَّا إِنَّهَا كَلِمَةٌ هُوَ قَائِلُهَا وَمِنْ وَرَائِهِمْ بَرْزَخٌ إِلَى يَوْمِ يُبْعَثُونَ

(Demikianlah Keadaan orang-orang kafir itu), hingga apabila datang kematian kepada seseorang dari mereka, Dia berkata: “Ya Tuhanku kembalikanlah aku (ke dunia), ( ) agar aku bisa berbuat amal yang saleh yang telah aku tinggalkan. sekali-kali tidak. Sesungguhnya itu adalah Perkataan yang dia ucapkan saja. dan di hadapan mereka ada dinding sampal hari mereka dibangkitkan. (QS. Al-Mukminun: 99 – 100)

Allah mengabarkan bagaimana orang kafir menyesali hidupnya. Mereka berharap agar dikembalikan ke dunia di detik-detik menghadapi kematian. Sehingga mereka mendapat tambahan usia untuk memperbaiki dirinya. Namun itu hanya ucapan lisan, yang sama sekali tidak bermanfaat baginya. Kemudian Allah menyatakan bahwa setelah mereka mati akan ada barzakh, dinding pemisah antara dirinya dengan kehidupan dunia. Mereka yang sudah memasuki barzakh, tidak akan lagi bisa keluar darinya. (Tafsir As-Sa’di, hlm. 559).

2. Ruh mereka berada di alam yang lain, alam kubur, yang berbeda dengan alam dunia

Pada surat Al-Mukminun di atas, Allah telah menegaskan bahwa ada barzakh (dinding pemisah) antara orang yang telah meninggal dan kehidupan dunia. Dan itu terjadi sejak mereka meninggal dunia. Selanjutnya masing-masing sudah sibuk dengan balasan yang Allah berikan kepada mereka. Ruh orang baik, berada di tempat yang baik, sebaliknya, ruh orang jelek berada di tempat yang jelek.

Dalam sebuah riwayat, seorang tabiin bernama Masruq pernah bertanya kepada sahabat Ibnu Mas’ud radhiyallahu ‘anhu, tentang tafsir firman Allah,

وَلَا تَحْسَبَنَّ الَّذِينَ قُتِلُوا فِي سَبِيلِ اللَّهِ أَمْوَاتًا بَلْ أَحْيَاءٌ عِنْدَ رَبِّهِمْ يُرْزَقُونَ

Janganlah kamu mengira bahwa orang-orang yang gugur di jalan Allah itu mati; bahkan mereka itu hidup disisi Tuhannya dengan mendapat rezki. (QS. Ali Imran: 169)

Ibnu Mas’ud menjawab, “Saya pernah tanyakan hal ini kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, dan beliau menjawab,

أرواحهم في جوف طير خضر لها قناديل معلقة بالعرش تسرح من الجنة حيث شاءت ثم تأوي إلى تلك القناديل فاطلع إليهم ربهم اطلاعة ، فقال : هل تشتهون شيئا ؟ قالوا : أي شيء نشتهي ونحن نسرح من الجنة حيث شئنا . ففعل ذلك بهم ثلاث مرات ، فلما رأوا أنهم لن يُترَكوا من أن يَسألوا قالوا : يا رب نريد أن ترد أرواحنا في أجسادنا حتى نقتل في سبيلك مرة أخرى ، فلما رأى أن ليس لهم حاجة تُركوا

“Ruh-ruh mereka di perut burung hijau. Burung ini memiliki sarang yang tergantung di bawah ‘Arsy. Mereka bisa terbang kemanapun di surga yang mereka inginkan. Kemudian mereka kembali ke sarangnya. Kemudian Allah memperhatikan mereka, dan berfirman: ‘Apakah kalian menginginkan sesuatu?’ Mereka menjawab: ‘Apa lagi yang kami inginkan, sementara kami bisa terbang di surga ke manapun yang kami inginkan.’ Namun Allah selalu menanyai mereka 3 kali. Sehingga ketika mereka merasa akan selalu ditanya, mereka meminta: ‘Ya Allah, kami ingin Engkau mengembalikan ruh kami di jasad kami, sehingga kami bisa berperang di jalan-Mu untuk kedua kalinya.’ Ketika Allah melihat mereka sudah tidak membutuhkan apapun lagi, mereka ditinggalkan.” (HR. Muslim no. 1887)

Kemudian disebutkan dalam riwayat dari Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhuma, bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

لما أُصِيب إخوانكم بأُحُد جعل الله أرواحهم في جوف طير خضر تَرِد أنهار الجنة تأكل من ثمارها وتأوي إلى قناديل من ذهب معلقة في ظل العرش ، فلما وجدوا طيب مأكلهم ومشربهم ومَقِيلهم قالوا : من يُبلِّغ إخواننا عنّـا أنا أحياء في الجنة نُرزق لئلا يزهدوا في الجهاد ولا ينكلوا عند الحرب ، فقال الله سبحانه أنا أبلغهم عنكم . قال فأنزل الله : ( ولا تحسبن الذين قتلوا في سبيل الله )

Ketika saudara kalian meninggal di perang Uhud, Allah menjadikan ruh mereka di perut burung hijau. Mendatangi sungai surga, makan buah surga, dan beristirahat di sarang dari emas, menggantung di bawah ‘Arsy. Ketika mereka merasakan lezatnya makanan, minuman, dan tempat istirahat, mereka mengatakan: ‘Siapa yang bisa memberi tahu kepada saudara-saudara muslim lainnya tentang kabar kami bahwa kami hidup di surga, dan kami mendapat rizki. Agar mereka tidak menghindari jihad dan tidak pengecut ketika perang. Lalu Allah menjawab: ‘Aku yang akan sampaikan kabar kalian kepada mereka.’ Kemudian Allah menurunkan firman-Nya: “Janganlah kamu mengira bahwa orang-orang yang gugur di jalan Allah itu mati; bahkan mereka itu hidup disisi Tuhannya…”

(HR. Abu Daud 2520 dan dinilai hasan oleh Al-Albani)

Demikian pula ruh orang yang jahat. Mereka mendapat hukuman dari Allah sesuai dengan kemaksiatan yang mereka lakukan. Keterangan selengkapnya tentang ini, bisa anda simak di artikel: https://konsultasisyariah.com/tempat-roh-setelah-kematian/

Jika ruh itu bisa kembali dan tinggal bersama keluarganya selama rentang tertentu, tentu yang paling layak mendapatkan keadaan ini adalah ruh para nabi, para sahabat, atau para syuhada yang meninggal di medan jihad. Sementara hadis-hadis di atas merupakan bukti bahwa hal itu tidak terjadi. Allah tempatkan ruh mereka di surga, dan terpisah sepenuhnya dengan alam dunia.

Syaikh Abdurrahman bin Nashir Al-Barrak pernah ditanya, benarkan ruh orang yang meninggal akan kembali ke keluarganya dan bisa melihat semua keadaan keluarganya selama 40 hari?

Jawaban beliau,

الإنسان إذا مات يغيب عن هذه الحياة ويصير إلى عالم آخر ، ولا تعود روحه إلى أهله ولا يشعرون بشيء عنه ، وما ذكر من عودة الروح لمدة أربعين يوما فهي من الخرافات التي لا أصل لها ، والميت كذلك لا يعلم بشيء من أحوالهم لأنه غائب عنهم في نعيم أو عذاب

Seseorang setelah meninggal, dia menghilang dari kehidupan dunia ini, dan berpindah ke alam akhirat. Dan ruhnya tidak kembali ke keluarganya, dan tidak mengetahui semua keadaan keluarganya. Kabar yang menyebutkan bahwa ruh kembali ke keluarga selama 40 hari adalah khurafat, yang sama sekali tidak memiliki dalil. Demikian pula mayit, dia tidak mengetahui keadaan keluarganya, karena dia tidak ada di tengah-tengah mereka. Mereka sibuk dalam kenikmatan atau adzab. (Fatwa Islam, 13183).
Kembalikan Kepada Dalil!

Prinsip ini jangan sampai lepas dari lubuk hati kita. Apapun yang kita dengar, siapapun yang menyampaikan, kembalikan keterangan itu kepada dalil. Tidak semua keterangan yang disampaikan dai benar adanya. Mereka yang punya dalil, itulah yang menjadi pegangan. Karena informasi tentang syariat, apalagi terkait keyakinan baru boleh kita terima ketika ada dasar pijakannya. Mengingat semua harus dipertanggung jawabkan di hadapan Allah. Sebagaimana yang Allah tegaskan,

وَلَا تَقْفُ مَا لَيْسَ لَكَ بِهِ عِلْمٌ إِنَّ السَّمْعَ وَالْبَصَرَ وَالْفُؤَادَ كُلُّ أُولَئِكَ كَانَ عَنْهُ مَسْئُولًا

Janganlah kamu mengikuti sesuatu yang kamu tidak mempunyai pengetahuan tentangnya. Sesungguhnya pendengaran, penglihatan dan hati, semuanya itu akan diminta pertanggungan jawabnya. (QS. Al-Isra’: 36).

Semoga Allah menyelamatkan kita dari setiap keyakinan yang menyimpang.

Dijawab oleh ustadz Ammi Nur Baits (Dewan Pembina www.KonsultasiSyariah.com)

Read more https://konsultasisyariah.com/17708-orang-meninggal-datang-menemui-keluarganya.html

Saturday, May 12, 2018

KEDUDUKAN ORANG YANG MENGAMALKAN SUNNAH DAN PELAKU BID’AH

Hasil gambar untuk padang pasirOleh
Syaikh Dr Said bin Ali bin Wahf Al-Qahthani

Kedudukan Orang Yang Mengamalkan Sunnah
Orang yang mengamalkan sunnah hatinya akan hidup, jiawanya akan bersinar. Allah Subhanahu wa Ta’ala menyebutkan kehidupan dan cahaya dalam kitabNya dalam banyak kesempatan dan menjadikannya sebagai sifat orang beriman. Karena hati yang hidup dan bercahaya itu adalah yang mengerti tentang Allah, selalu tunduk kepadaNya dan memahamiNya, pasrah dalam bertauhid kepadaNya, serta selalu mengikuti ajaran Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam yang diutusNya.

Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam sendiri selalu memohon kepada Allah untuk menciptakan cahaya baginya dalam hatinya, dalam pendengarannnya, dalam penglihatannya, dalam lisannya, dari atas, dari bawah, dari kanan, dari kiri, dari belakang dan dari depan. Beliau memohon agar diri beliau dijadikan cahaya, dan diciptakan pula cahaya pada kulit dalam dan kulit luar beliau, pada darah beliau, pada tulang beliau dan pada darah beliau. Beliau memohon cahaya untu diri beliau, untuk tubuh beliau, untuk panca indera beliau lahir maupun batin, dan untuk enam arah yang mengungkungi beliau.

Seorang mukmin pada dirinya terdapat cahaya dan dapat mengeluarkan cahaya, ucapannya cahaya dan amal perbuatannya adalah cahaya. Cahaya itu dengan kadarnya, akan tampak pada diri pemiliknya di hari Kiamat nanti. Cahaya itu akan berjalan di hadapannya dan dari arah kanannya. Ada orang yang cahayanya seperti matahari, yang lain seperti bintang, ada pula yang cahayanya seperti pokok kurma yang tinggi, yang lain seperi orang yang berdiri, ada pula yang lebih rendah daripada itu. Bahkan ada yang diberikan cahaya pada ujung jempol kakinya saja, terkadang bersinar dan terkadang padam. Demikian juga halnya dengan cahaya iman dan ittibanya kepada Rasul Shallallahu ‘alaihi wa sallam di dunia ini. Cahaya tiu sendiri akan tampak oleh pandangan mata dan secara kongkrit pada hari itu. [1]

CIRI-CIRI AHLUS SUNNAH
Ciri-ciri Ahlus Sunnah itu banyak, semua tanda itu dapat diketahui oleh orang yang berakal. Dianatar tanda tersebut adalah.

    Berpegang teguh pada Kitabullah dan Sunnah Rasul Shallallahu ‘alaihi wa sallam serta menjaganya dengan erat.
    Mengambil hukum dari Kitabullah dan Sunnah Rasul Shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam perkara fundamental dan persoalan praktis.
    Kecintaan mereka terhadap sesama Ahlus Sunnah dan orang-orang yang berpegang teguh pada sunnah, serta kebencian mereka tehadap ahli bid’ah.
    Tidak merasa gundah gulana karena sedikitnya orang yang mengikuti jalan Sunnah. Karena kebenaran adalah barang hilang bagi seorang mukmin sehingga harus diambil meskipun orang banyak menyelisihinya.
    Kejujuran dalam ucapan dan perbuatan dengan menerapkan secara benar petunjuk Kitabullah dan Sunnah Rasul.
    Meneladani Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam yang akhlaknya adalah Al-Qur’an itu sendiri. [2]

KEDUDUKAN PELAKU BID’AH
Ahli bid’ah itu hatinya mati dan gelap. Allah telah menjadikan kematian dan kegelapan sebagai sifat bagi orang yang keluar dari keimanan. Hati yang mati dan gelap itu tidak akan dapat memikirkan Allah, tidak akan dapat tunduk pada ajaran Rasulullah.

Oleh sebab itu, Allah menggambarkan bentuk orang semacam itu sebagai orang mati, bukan orang yang masih hidup, dan bahwa mereka berada dalam kegelapan mendalam sehingga mereka tak mampu keluar dari kegelapan itu. Itulah sebabnya kenapa kegelapan itu menguasai diri mereka sepanjang hidup mereka. Hati mereka menjadi gelap, melihat kebenaran itu seperti kebatilan dan melihat kebatilan seperti kebenaran. Amal perbuatan mereka juga gelap, ucapan mereka juga gelap, kondisi mereka seluruhnya juga gelap, bahkan kuburan mereka juga penuh dengan kegelapan. Ketika cahaya diabgi-bagikan pada hari Kiamat nanti sebelum di titian (jisr) untuk menyebranginya, mereka tetap saja dalam kegelapan. Tempat kembali mereka juga Neraka yang gelap. Kegelapan itu adalah tempat di mana Allah menciptakan makhlukNya pertama kali.

Barangsiapa yang Allah kehendaki kebahagian baginya, maka Allah akan keluarkan dari kegelapan itu menuju cahaya. Sementara orang yang Allah kehendaki baginya kecelakaan, maka Allah akan tinggalkannya dalam kegelapan tersebut. [3]

[Disalin dari kitab Nurus Sunnah wa Zhulumatul Bid;ah Fi Dhauil Kitabi was Sunnah, edisi Indonesia Mengupas Sunnah, Membedah Bid’ah, hal. 13-18 Darul Haq]
_______
Footnote.
[1]. Ijtima’ Aljuyusy Al-Islamiyah oleh Ibnul Qayyim II : 38-41, dengan sedikit perubahan.
[2]. Lihat Aqidah As-Salaf dan Ashabul Hadits oleh Al-Imam Abu Utsman Ismail bin Abdurrahman Ash-Shabuni hal. 147. Dan juga Tanbih Ulil Abshar Ilaa Kamaliddien wa Maa Fii Bida’i Minal Akhthaar oleh Doktor Shalih bin Saad As-Suahimi hal.264
[3]. Ijtima’ Aljuyusy Al-Islamiyah oleh Ibnul Qayyim II : 39-40 dengan sedikit perubahan

Sumber:https://almanhaj.or.id/2268-kedudukan-orang-yang-mengamalkan-sunnah-dan-pelaku-bidah.html

AMALAN LENYAP TANPA SADAR

Hasil gambar untuk terhapus amalan https://t.me/CintaTauhid

Seorang yang beramal saleh, bisa jadi amalannya terhapus tanpa ia sadari. Mengerikan bukan? Amat sangat mengerikan. Lalu apa sebabnya? Jawabnya ada pada penjelasan Syaikh Masyhur hafizhahullah berikut ini. Silakan dibaca. Semoga bermanfaat.

*السؤال السادس: قال البخاري في صحيح باب خوف المؤمن من أن يحبط عمله وهو لا يشعر.*

*Pertanyaan keenam: Bukhari berkata di (kitab) Shahih-nya: Bab: Ketakutan Mukmin Dari Terhapusnya Amalan Tanpa Ia Sadari.* (Apa maksudnya?-pen)

الجواب: ورد عن ابن مسعود قال: *كنا نفعل المعصية وكانت المعصية علينا كالجبال، قال أما أحدكم اليوم فيعمل المعصية فكأنها ذبابة سقطت على أنفه ففعل بها هكذا،* هذا ابن مسعود يقول للتابعين.

Jawabnya: Ada riwayat dari Ibnu Mas'ud, ia berkata: "Dahulu kami bermaksiat, kami memandang maksiat itu seperti gunung-gunung besar.  Adapun seorang dari kalian sekarang, ia berbuat maksiat seakan-akan kemaksiatan itu seperti seekor lalat yang menempel di hidungnya, lalu ia mengusirnya (diremehkan-pen)." Kalimat ini Ibnu Mas'ud sampaikan kepada generasi Tabi'in.

أما حالنا فبعض الناس يفعل المعصية وهو لعله يظن أنه يعبد الله.

Adapun keadaan kita, sebagian orang berbuat maksiat, namun bisa jadi ia mengira sudah benar ibadahnya kepada Allah.

امرأة تقول لي مرة: ارقِنِ يا شيخ، وكنت في محل تسوق، فنظرت اليها فوجدتها تلبس من اسوء اللباس.

Suatu waktu ada seorang wanita berkata kepadaku: "Wahai Syaikh, tolong ruqyah aku." Saat itu aku sedang berada di pertokoan. Aku melihatnya, ia mengenakan pakaian yang sangat tidak baik (tidak berhijab syar'i-pen).

قلت لها: يا أختي رقياي لك لا تنفعك وأنت تلبسين هذا اللباس.

Aku katakan kepadanya: "Saudariku, ruqyahku tidak akan bermanfaat bagimu kalau engkau berpakaian seperti ini."

قالت: الشيطان لابسني من أجل يخلعني الحجاب.

Ia berkata: "Setan telah membisikiku agar aku melepas hijab ini."

قلت لها: أي حجاب، الحجاب هذا، أعوذ بالله من الشيطان الرجيم، هذا *مسخ،* والنبي عليه السلام أخبرنا عن المسخ في آخر الزمان، وقال أهل العلم *المسخ* يبدأ من الداخل، ثم يقوى يقوى يقوى حتى يخرج للخارج.

Aku bertanya: "Hijab yang mana? Pakaianmu sekarang ini menurutmu hijab?! Aku berlindung kepada Allah dari godaan setan yang terkutuk. Ini namanya *perubahan*. Dan Nabi shallallahu alaihi wa sallam telah mengabarkan kepada kita tentang adanya perubahan di akhir zaman. Ulama menjelaskan bahwa perubahan dimulai dari dalam diri. Kemudian ia menguat, menguat dan terus menguat hingga tampaklah di luar perubahan tersebut.

*فمن حقر ما عظم الله وعظم ما حقر الله، ومن حلل ما حرم الله وحرم ما أحل الله فهذا ممسوخ.*

Maka, siapa yang meremehkan apa yang Allah agungkan dan mengagungkan apa yang Allah remehkan, atau siapa yang menghalalkan apa yang Allah haramkan dan mengharamkan apa yang Allah halalkan, maka orang tersebut korban perubahan.

لكن هذا *ممسوخ* من أين؟ من الداخل، وإذا بقي على هذا *المسخ* ويبقى جريئا على هذا الحال يصبح *المسخ* للخارج.

Namun, ia menjadi korban perubahan dari mana? Dari dalam diri. Apabila perubahan tersebut ada pada dirinya, lalu ia semakin berani, maka perubahan tersebut akhirnya akan keluar (ditampakkan).

فالذي يحبط العمل المعاصي، وعدم طاعة الله عز وجل ورسوله، قال تعالى: *{ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا أَطِيعُوا اللَّهَ وَأَطِيعُوا الرَّسُولَ وَلَا تُبْطِلُوا أَعْمَالَكُمْ} [محمد : 33].*

Jadi, yang dapat menghapuskan amalan adalah berbagai kemaksiatan dan ketidaktaatan kepada Allah azza wa jalla dan Rasul-Nya shallallahu alaihi wa sallam. Allah berfirman: _"Wahai orang-orang yang beriman, taatlah kepada Allah, taatlah kepada Rasul, dan janganlah kalian merusak amalan-amalan kalian."_ (QS. Muhammad: 33)

هذه آية مرعبة مزلزلة، هذه الآية تدل على أن الذي لا يثبت على طاعة الله وطاعة رسوله يحبط عمله.

Ini ayat yang menakutkan dan membuat goncang. Ayat ini menunjukkan bahwa seorang yang tidak teguh dalam ketaatan kepada Allah dan Rasul-Nya shallallahu alaihi wa sallam amalannya dapat terhapus.

لذا فالمعاصي تحبط الاعمال، ولا سيما معاصي الخلوة، وكلنا نذكر *حديث ثوبان* عند ابن ماجه والبزار وغيرهما، يأتي الإنسان يوم القيامة بحسنات مثل جبال تهامة ثم تصبح هباءا منثورا، تُحبط هذه الحسنات، فلما سئل النبي - صلى الله عليه وسلم

- عن ذلك، قال: *إنهم كانوا إذا خلوا بمحارم الله انتهكوها،* ففي الخلوة ينتهك محارم الله.

Oleh karena itu, kemaksiatan-kemaksiatan dapat menghapuskan amalan. Terutama kemaksiatan yang dikerjakan dikala sendiri. Kita semua ingat hadis Tsauban radhiyallahu 'anhu yang diriwayatkan oleh Ibnu Majah, al-Bazzar dan yang lain, (bahwa) pada hari kiamat datang seorang dengan membawa kebaikan-kebaikan sebesar gunung Tihamah, kemudian menjadi bagaikan debu yang beterbangan. Kebaikan-kebaikan tersebut lenyap. Ketika Nabi shallallahu alaihi wa sallam ditanya tentang itu beliau menjawab: _"Sesungguhnya mereka itu, apabila menyendiri mereka menerjang hal-hal yang diharamkan Allah."_ Ternyata ketika menyendiri ia melakukan apa yang diharamkan Allah.

و *العُجب* يُبطل العمل أيضا، و *الرياء* يُبطل العمل، والمعاصي بالجملة من مُحبطات الأعمال.

(Selain di atas-pen) 'Ujub (bangga terhadap diri-pen) juga dapat menghapuskan amalan. Riya' (beribadah dengan niat mendapatkan pujian manusia-pen) pun dapat menghapuskan amalan. Secara umum, kemaksiatan-kemaksiatan dapat menghapuskan amalan.

ولذا السلف الصالح كانوا إذا عملوا الصالحات يخافون، قال تعالى: *{وَالَّذِينَ يُؤْتُونَ مَا آتَوا وَّقُلُوبُهُمْ وَجِلَةٌ أَنَّهُمْ إِلَىٰ رَبِّهِمْ رَاجِعُونَ} [المؤمنون : 60]*

Oleh karena itu, generasi salafus saleh dahulu, apabila beramal saleh mereka merasa takut/khawatir. Allah berfirman: _"Dan orang-orang yang memberikan apa yang mereka berikan sementara hati mereka penuh rasa takut (karena mereka tahu) bahwa sesungguhnya mereka akan kembali kepada Rabb mereka."_ (QS. al-Mukminun: 60)

*هو يأتي بالطاعات، ويأتي بالعبادات، ويقرأ القرآن، ويأتي بالأذكار، وقلبه وجل.*

Ia mengerjakan ketaatan-ketaatan. Ia melakukan ibadah-ibadah. Ia membaca al-Quran, berzikir, namun hatinya merasa takut.

ما معنى *وقلوبهم وجلة؟* خائفة. خائفه مما؟ من أن لا يقبل العمل.

Apa arti _"Sementara hati mereka *wajilah.*?_ (Yakni) takut. Takut dari apa? Takut amalannya tidak diterima.

ولذا الإنسان يعيش في هذه الحياة *بين الخوف والرجاء،* لا ينقطع رجاؤه وأيضا لا ييأس، لكن لا يميل للرجاء ويترك الخوف.

Oleh karena itu, seseorang dalam kehidupan ini berada di antara *rasa takut dan rasa harap.* Tidak boleh terputus rasa harapnya. Tidak boleh juga ia berputus asa. Tidak boleh ia cenderung kepada rasa harap, tapi meninggalkan rasa takut.

فالعبد المؤمن في قلبه خوف ورجاء.

Kesimpulannya, seorang hamba yang beriman di hatinya ada rasa takut dan rasa harap.

وإذا كَبُر واحتفت به القرائن التي تقربه من الله ودنى أجله وظهرت مخايل علامات الموت، فيحسن بالعبد أن يوسع الرجاء لقول النبي - صل الله عليه وسلم -: *لا يموتن أحدكم إلا وهو يحسن الظن بالله*.

Apabila ia sudah tua, sudah terkumpul padanya tanda-tanda dekatnya kepada Allah, ajalnya kian dekat, dan sudah tampak tanda-tanda dekatnya kematian, sebaiknya ia lebih menguatkan rasa harap. Sebab Nabi shallallahu alaihi wa sallam bersabda: _"Janganlah seorang dari kalian meninggal dunia melainkan dalam keadaan berprasangka baik kepada Allah."_

*فاذا أدركت رجل من أقاربك ممن لهم حقوق عليك مثل الوالد والعم الخ، ورأيت مخايل الموت قريبه منه وهو في مرض الوفاة، فوسع رجاؤه بالله، وذكره بأعماله الصالحة.*

Maka apabila engkau mendapati seorang dari kerabatmu, yang memiliki hak yang harus engkau tunaikan, seperti ayah, paman, dll., dan engkau melihat tanda-tanda kematiannya sudah dekat, ia pun dalam keadaan sakit, maka ingatkanlah dirinya agar menguatkan rasa harap kepada Allah. Ingatkanlah pula ia agar memperbanyak amal saleh.

*وأما الشاب فيحسن به أن يغلب خوفه على رجائه حتى لا يطمع برحمة الله وحتى لا يهجم على محارم الله وحتى يبقى بعيدا عن محارم الله عز وجل.* والله تعالى أعلم.

Adapun seorang yang masih muda, sebaiknya ia lebih menguatkan rasa takut dari pada rasa harap, agar ia tidak berlebihan berharap rahmat Allah, tidak menerjang apa-apa yang diharamkan Allah, dan tetap jauh dari apa yang diharamkan Allah tersebut. Allahu a'lam.

Sumber: http://t.me/meshhoor

🇲🇨 Divisi Bahasa Indonesia
🇸🇦 ICC DAMMAM KSA

✒ Editor : Admin AsySyamil.com

♻ Raih amal shalih dengan menyebarkan kiriman ini , semoga bermanfaat.
Jazakumullahu khoiron.

 •═══════◎❅◎❦۩❁۩❦◎❅◎═══════•
📜◎❅ *CHANNEL CINTA TAUHID* ❅◎📜
🌐 Telegram : https://t.me/CintaTauhid
🔄 https://t.me/MuliaDenganSunnah
🛰 Android app : https://goo.gl/ozGo2Q
🌍 Website : https://asysyamil.com
💠️ FB : http://bit.ly/2DrcIQn
📱 WA : 081381173870 Admin

Ini Dalilnya (10): Terapi Intensif bagi Pelaku Bid’ah

Sebagai pelengkap, rasanya kurang pas kalau kita bicara panjang lebar tentang bid’ah namun tidak memberikan solusi bagi mereka yang telah lama ‘mengidap’ penyakit yang satu ini. Karenanya, kami berusaha untuk menawarkan beberapa terapi yang diharapkan mampu membantu ‘kesembuhan’ mereka.

Terapi pertama: Kenali penyakitnya terlebih dahulu

Seperti layaknya penyakit, sebelum seorang dokter bisa menentukan obat apa yang cocok untuknya, terlebih dahulu ia harus mengadakan diagnosa. Ia harus mengumpulkan informasi sebanyak-banyaknya tentang penyakit yang diderita si pasien, baru kemudian menentukan terapi apa yang cocok untuknya.

Demikian pula bid’ah, ia tak ubahnya seperti penyakit yang menggerogoti agama seseorang. Kalau orang tersebut tidak merasa dirinya sakit, bagaimana ia akan berobat? Oleh karena itu, berikut ini kami sebutkan beberapa pengaruh buruk bid’ah terhadap agama seseorang, mudah-mudahan dengan menyadarinya, seseorang akan lebih waspada terhadap bahaya bid’ah dan berusaha sekuat tenaga untuk membasminya [1].

a. Amalan yang tercampuri bid’ah tidak akan diterima Allah

Beberapa bid’ah memang sangat buruk dampaknya, seperti bid’ahnya faham qadariyyah. Diriwayatkan dalam Shahih Muslim bahwa salah seorang tabi’in yang bernama Yahya bin Ya’mar menceritakan, bahwa yang pertama kali menyoal masalah takdir di Basrah ialah Ma’bad Al Juhany. Ia menuturkan: Ketika itu, aku bersama Humaid bin Abdirrahman Al Himyari hendak berangkat menunaikan haji atau umrah. Maka kukatakan kepadanya: “Andai saja kita berjumpa dengan salah seorang sahabat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, kemudian kita tanyai dia tentang orang-orang qadariyyah itu…”. Lalu tiba-tiba kami berpapasan dengan Ibnu ‘Umar radhiyallahu ‘anhuma, maka segeralah kami mengapitnya dari sebelah kiri dan kanan. Saat itu nampaknya temanku ingin agar aku yang memulai pembicaraan, maka kukatakan kepada Ibnu ‘Umar:

“Hai Abu Abdirrahman, sesungguhnya di daerah kami muncul sekelompok orang yang pandai membaca Al Qur’an, dan mendalami berbagai ilmu… akan tetapi mereka mendakwakan bahwa takdir Allah itu tidak ada, dan bahwa segala sesuatu terjadi dengan sendirinya (tanpa ada ketentuan terlebih dahulu -pen)”

Setelah mendengar uraian tadi, Ibnu Umar radhiallahu’anhuma menjawab:

“Kalau kamu bertemu dengan mereka, sampaikan bahwa aku berlepas diri dari mereka dan mereka pun berlepas diri dariku… kabarkan bahwa Ibnu Umar bersumpah kalau pun ada di antara mereka yang menginfakkan emas sebesar gunung Uhud, niscaya Allah tak akan menerima infaknya sampai ia beriman kepada takdir…”

Kemudian Ibnu Umar radhiallahu’anhuma mengutip hadits dari ayahnya yang bercerita tentang kedatangan Malaikat Jibril dalam sosok orang yang tak dikenal, lalu menanyakan kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam tentang makna Islam, Iman dan Ihsan (H.R. Muslim no 8).

b. Pelaku bid’ah tak akan mendapat perlindungan Allah,  namun diserahkan pada dirinya sendiri

Imam Asy Syathiby mengatakan: “Allah mengutus Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam sebagai rahmatan lil ‘aalamin; Sedangkan kita, sebelum diutusnya beliau, tidaklah mengenal manakah jalan kebenaran itu. Kita tidak mengerti tentang apa-apa yang baik bagi urusan dunia melainkan sedikit, apalagi urusan akhirat, maka sedikitpun kita tak tahu. Sampai Allah mengutus Nabi-Nya shallallahu ‘alaihi wa sallam untuk mencabut semua keraguan dalam dada, dan mengangkat semua perselisihan diantara manusia.

Ketika seorang pelaku bid’ah meninggalkan karunia Allah dan pemberian-Nya yang sedemikian besar, lantas menganggap dirinya cukup faham akan apa yang baik baginya atau bagi dunianya, padahal Allah tidak menyebutkan satu dalil pun tentangnya; maka bagaimana mungkin orang semacam ini layak mendapat perlindungan Allah dan naungan rahmat-Nya, sedangkan ia telah melepaskan tangannya dari tali Allah dan menyerahkannya pada dirinya sendiri?! Sungguh, orang semacam ini amat layak untuk dijauhkan dari rahmat Allah. Bukankah Allah Ta’ala berfirman :

وَاعْتَصِمُوا بِحَبْلِ اللَّهِ جَمِيعًا وَلَا تَفَرَّقُوا

 “Berpegang teguhlah kalian semuanya kepada tali Allah, dan janganlah berpecah-belah…” (Ali ‘Imran: 103),

setelah sebelumnya Ia berfirman:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ

 “Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kalian kepada Allah dengan sebenar-benar takwa…” (Aali ‘Imran: 102).

Seakan Allah ingin mengisyaratkan bahwa takwa yang sesungguhnya ialah dengan berpegang teguh dengan tali Allah, dan semua yang diluar itu adalah perpecahan, karenanya Allah mengatakan: “janganlah berpecah”. Sedangkan perpecahan merupakan karakter terburuk setiap pelaku bid’ah, karena ia meninggalkan aturan Allah dan memisahkan diri dari jama’ah kaum muslimin.

c. Pelaku bid’ah adalah orang yang dilaknat menurut syari’at

Dalilnya ialah sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam yang berbunyi,

مَنْ أَحْدَثَ فِيهَا حَدَثًا أَوْ آوَى مُحْدِثًا فَعَلَيْهِ لَعْنَةُ اللَّهِ وَالْمَلَائِكَةِ وَالنَّاسِ أَجْمَعِينَ (متفق عليه)

“Barangsiapa berbuat bid’ah di dalamnya (Madinah), atau melindungi pelaku bid’ah, maka baginya laknat Allah, para malaikat, dan manusia seluruhnya” (Muttafaq ‘Alaih).[2]

 

d. Bid’ah semakin menjauhkan pelakunya dari Allah Ta’ala

Sebagaimana yang diriwayatkan dari Ayyub As Sikhtiyani -salah seorang tokoh tabi’in- bahwa beliau mengatakan:

مَا ازْدَادَ صَاحِبُ بِدْعَةٍ اِجْتِهَاداً، إِلاَّ ازْدَادَ مِنَ اللهِ بُعْداً {حلية الأولياء – (ج 1 / ص 392)}

“Semakin giat pelaku bid’ah dalam beribadah, semakin jauh pula ia dari Allah” (Hilyatul Auliya’, 1/392). Apa yang dikatakan oleh tokoh tabi’in di atas, kebenarannya didukung oleh hadits Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam ketika menyifati orang-orang Khawarij:

يَخْرُجُ فِيكُمْ قَوْمٌ تَحْقِرُونَ صَلَاتَكُمْ مَعَ صَلَاتِهِمْ وَصِيَامَكُمْ مَعَ صِيَامِهِمْ وَعَمَلَكُمْ مَعَ عَمَلِهِمْ وَيَقْرَءُونَ الْقُرْآنَ لَا يُجَاوِزُ حَنَاجِرَهُمْ يَمْرُقُونَ مِنْ الدِّينِ كَمَا يَمْرُقُ السَّهْمُ مِنْ الرَّمِيَّةِ … الحديث (متفق عليه)

“Akan muncul diantara kalian suatu kaum yang kalian akan meremehkan shalat kalian (para sahabat), puasa kalian, dan amal  kalian di samping shalat mereka, puasa mereka, dan amal mereka. Mereka rajin membaca Al Qur’an akan tetapi (pengaruhnya) tidak melampaui tenggorokan mereka. Mereka keluar dari Islam seperti anak panah yang keluar menembus sasarannya” (Muttafaq Alaih).[3]

Perhatikan, bagaimana mulanya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menyifati mereka sebagai kaum yang amat giat beribadah, lalu menjelaskan betapa jauhnya mereka dari Allah.[4]

e. Bid’ah mencegah pelakunya dari mendapat syafa’at Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam

Sebagaimana yang disebutkan dalam hadits shahih yang berbunyi:

أَلَا وَإِنَّ أَوَّلَ الْخَلَائِقِ يُكْسَى يَوْمَ الْقِيَامَةِ إِبْرَاهِيمُ عَلَيْهِ السَّلَام أَلَا وَإِنَّهُ سَيُجَاءُ بِرِجَالٍ مِنْ أُمَّتِي فَيُؤْخَذُ بِهِمْ ذَاتَ الشِّمَالِ فَأَقُولُ يَا رَبِّ أَصْحَابِي فَيُقَالُ إِنَّكَ لَا تَدْرِي مَا أَحْدَثُوا بَعْدَكَ (متفق عليه)

“Sesungguhnya manusia pertama yang diberi pakaian pada hari kiamat ialah Ibrahim ‘alaihis salam. Ingatlah, bahwa nanti akan ada sekelompok umatku yang dihalau ke sebelah kiri… maka kutanyakan: “Ya Rabbi… mereka adalah sahabatku [5])?”, akan tetapi jawabannya ialah: “Kamu tidak tahu akan apa yang mereka ada-adakan sepeninggalmu…” (Muttafaq ‘Alaih).[6])

 f. Pelaku bid’ah ikut menanggung dosa orang yang mengikutinya hingga hari kiamat

Dasarnya ialah firman Allah Ta’ala:

لِيَحْمِلُوا أَوْزَارَهُمْ كَامِلَةً يَوْمَ الْقِيَامَةِ وَمِنْ أَوْزَارِ الَّذِينَ يُضِلُّونَهُمْ بِغَيْرِ عِلْمٍ أَلَا سَاءَ مَا يَزِرُونَ

“Agar mereka memikul dosa-dosa mereka seluruhnya pada hari kiamat, dan sebahagian dari dosa-dosa orang yang mereka sesatkan yang tidak mengetahui sedikitpun (bahwa mereka disesatkan). Ingatlah, amat buruklah dosa yang mereka pikul itu” (QS. An Nahl: 25).

Sebagaimana dalam hadits shahih Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda yang maknanya, “Barangsiapa mengajarkan ajaran jelek, maka ia akan memikul dosanya dan dosa orang yang mengamalkan ajarannya…” [7].

g. Pelaku bid’ah sangat sulit untuk bertaubat

Dalilnya ialah sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam yang berbunyi,

إِنَّ اللهَ حَجَزَ التَّوْبَةَ عَنْ كُلِّ صَاحِبِ بِدْعَةٍ (رواه أبو الشيخ والطبراني والبيهقي وغيرهم)

“Sesungguhnya Allah mencegah setiap pelaku bid’ah dari taubat” (H.R Abu Syaikh, At Thabrani, Al Baihaqy dan lainnya).[8]

Demikian pula yang disebutkan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam tentang perpecahan umat beliau, yang diantaranya beliau mengatakan:

إِنَّ أَهْلَ الْكِتَابَيْنِ افْتَرَقُوا فِي دِينِهِمْ عَلَى ثِنْتَيْنِ وَسَبْعِينَ مِلَّةً وَإِنَّ هَذِهِ الْأُمَّةَ سَتَفْتَرِقُ عَلَى ثَلَاثٍ وَسَبْعِينَ مِلَّةً يَعْنِي الْأَهْوَاءَ كُلُّهَا فِي النَّارِ إِلَّا وَاحِدَةً وَهِيَ الْجَمَاعَةُ وَإِنَّهُ سَيَخْرُجُ فِي أُمَّتِي أَقْوَامٌ تَجَارَى بِهِمْ تِلْكَ الْأَهْوَاءُ كَمَا يَتَجَارَى الْكَلْبُ بِصَاحِبِهِ لَا يَبْقَى مِنْهُ عِرْقٌ وَلَا مَفْصِلٌ إِلَّا دَخَلَهُ وَاللَّهِ يَا مَعْشَرَ الْعَرَبِ لَئِنْ لَمْ تَقُومُوا بِمَا جَاءَ بِهِ نَبِيُّكُمْ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لَغَيْرُكُمْ مِنْ النَّاسِ أَحْرَى أَنْ لَا يَقُومَ بِهِ (رواه أبو داود وأحمد وغيرهما بسند حسن).

“Sesungguhnya ahli kitab telah berpecah menjadi 72 firqah; dan sesungguhnya umat ini akan berpecah menjadi 73 millah -maksudnya ajaran yang mengikuti bid’ah dan hawa nafsu,- mereka semua berada di Neraka kecuali satu, yaitu Al Jama’ah. Nanti akan muncul pada umatku sekelompok orang yang kerasukan bid’ah dan hawa nafsu sebagaimana anjing kerasukan rabies, tak tersisa satu pun dari urat dan sendinya melainkan telah kerasukan. Hai sekalian bangsa Arab, demi Allah… kalau kalian saja tidak mau melaksanakan ajaran Nabimu, maka orang lain akan lebih tidak mau lagi” (H.R. Abu Dawud, Ahmad dan lainnya).[9]

 h. Pelaku bid’ah dijauhkan dari telaga Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pada hari kiamat

Sebagaimana yang disebutkan dalam hadits Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, katanya,

أَنَا فَرَطُهُمْ عَلَى الْحَوْضِ أَلَا لَيُذَادَنَّ رِجَالٌ عَنْ حَوْضِي كَمَا يُذَادُ الْبَعِيرُ الضَّالُّ أُنَادِيهِمْ أَلَا هَلُمَّ فَيُقَالُ إِنَّهُمْ قَدْ بَدَّلُوا بَعْدَكَ فَأَقُولُ سُحْقًا سُحْقًا (رواه مسلم وابن ماجه وأحمد)

“Aku akan mendahului kalian menuju telaga… sungguh, akan ada beberapa orang yang dihalau dari telagaku sebagaimana dihalaunya onta yang kesasar. Aku memanggil mereka: “Hai datanglah kemari…!” namun dikatakan kepadaku: “Mereka telah mengganti-ganti (ajaranmu) sepeninggalmu…” maka kataku: “Menjauhlah sana… menjauhlah sana (kalau begitu)” (H.R Muslim, Ibnu Majah dan Ahmad).[10]

i. Pelaku bid’ah dikhawatirkan terjerumus ke dalam kekafiran

Sebab itulah para ulama dari dahulu sampai sekarang senantiasa berbeda pendapat tentang kafir-tidaknya sejumlah firqah ahlul bid’ah, seperti khawarij, qadariyyah dan yang lainnya. Hal ini didukung oleh dhahir ayat yang berbunyi:

إِنَّ الَّذِينَ فَرَّقُوا دِينَهُمْ وَكَانُوا شِيَعًا لَسْتَ مِنْهُمْ فِي شَيْءٍ إِنَّمَا أَمْرُهُمْ إِلَى اللَّهِ ثُمَّ يُنَبِّئُهُمْ بِمَا كَانُوا يَفْعَلُونَ

Sesungguhnya orang-orang yang memecah belah agamanya dan mereka (terpecah) menjadi beberapa golongan, tidak ada sedikitpun tanggung jawabmu terhadap mereka (QS. Al An’am: 159).

Diantara mereka ada yang jelas-jelas mengkafirkan firqah bid’ah tertentu seperti batiniyyah dan yang lainnya. Jika ada ulama yang berselisih tentang suatu perkara, apakah ia dihukumi kafir atau tidak? Tentunya setiap orang yang berakal akan merinding untuk ditempatkan di persimpangan yang sarat marabahaya seperti ini. Siapa yang rela kalau ada orang yang mengatakan kepadanya: “Sesungguhnya para ulama berselisih pendapat mengenaimu; apakah kamu telah kafir, atau sekedar sesat?” Atau yang mengatakan: “Sesungguhnya ada sebagian ulama yang mengkafirkan kamu dan menganggap darahmu halal…?!” tentunya tak seorang pun mau dikatakan seperti itu.[11]

 

j. Pelaku bid’ah dikhawatirkan akan mati dalam keadaan suu’ul khatimah

Wajar saja, karena seorang pelaku bid’ah sama dengan orang yang bermaksiat kepada Allah, dan siapa pun yang bersikukuh dengan maksiatnya perlu dicemaskan kalau-kalau ia mati dalam keadaan itu.

Bahkan disamping melanggar larangan Allah, seorang pelaku bid’ah seakan ingin mengoreksi syari’at dengan pendapatnya pribadi. Ia tak puas menerima syari’at begitu saja demi meraih yang dia inginkan. Ia justeru meyakini bahwa maksiat yang dilakukan adalah ketaatan, mengapa? Karena ia menganggap baik apa yang dianggap jelek oleh syari’at, yaitu bid’ah. Tentunya orang yang seperti ini keadaannya, sangat dikhawatirkan akan mati dalam keadaan suu’ul khatimah.[12]

k. Wajah pelaku bid’ah akan menghitam di hari kiamat

Dalilnya ialah firman Allah Ta’ala yang berbunyi,

يَوْمَ تَبْيَضُّ وُجُوهٌ وَتَسْوَدُّ وُجُوهٌ

“Pada hari yang di waktu itu ada muka yang putih berseri, dan ada pula yang hitam muram…” (Ali ‘Imran: 106).

Ibnu ‘Abbas radhiyallahu ‘anhuma menafsirkan ayat ini dengan mengatakan,

يَعْنِي: يَوْمَ الْقِيَامَةَ، حِيْنَ تَبْيَضُّ وُجُوْهُ أَهْلِ السُّنَّةِ وَالْجَمَاعَةِ، وَتَسْوَدُّ وُجُوْهُ أَهْلِ الْبِدْعَةِ وَالُفُرُقَةِ {تفسير ابن كثير – (ج 2 / ص 92)}

“Yaitu hari kiamat… ketika wajah ahlussunnah wal jama’ah putih berseri, sedangkan wajah ahlul bid’ah wal furqah hitam legam”[13]

 

Terapi kedua: Sibukkan diri dengan mengamalkan sunnah

Ketahuilah wahai saudaraku… tidaklah seseorang melakukan bid’ah melainkan pasti saat itu juga ia meninggalkan sunnah. Agama ini ibarat cawan yang penuh terisi air, kalau seseorang memasukkan secuil benda asing kedalamnya, pastilah ada air yang tertumpah sesuai kadar benda yang masuk tadi… demikian pula Islam. Allah Ta’ala berfirman yang artinya: “Pada hari ini telah kusempurnakan bagimu agamamu, dan telah kucukupkan nikmat-Ku atasmu, dan telah kuridhai Islam sebagai agamamu” (QS. Al Ma’idah: 3).

Baca dan pelajarilah Shahih Bukhari, dan Shahih Muslim… niscaya kita akan mendapatkan ribuan sunnah yang selama ini belum pernah kita lakukan.

Mengapa sebagian kaum muslimin justeru menyibukkan diri dengan membaca buku-buku mujarrobat, ratib, burdah, barzanji dan sejenisnya yang sarat dengan penyimpangan dalam masalah tauhid; namun meninggalkan wirid pagi dan sore dan sunnah-sunnah lain yang diajarkan baginda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam? Bukankah ini namanya mengorek-korek sampah demi mencari tempe basi, dan meninggalkan hidangan lezat yang siap disantap?

Sungguh, seandainya kita menyibukkan diri dengan mengamalkan semua sunnah yang ada, niscaya kita tidak akan berhasil mengamalkan seluruhnya dalam dua puluh empat jam… lantas, untuk apa membuat “ibadah model baru” yang hanya menambah beban hidup kita? Renungkanlah kembali nasehat Ibnu Mas’ud radhiyallahu ‘anhu yang tercantum dalam mukaddimah buku ini (hal 15).

 

Terapi ketiga: sadarlah bahwa Allah tidak membutuhkan amal kita

Ketahuilah wahai saudaraku, sesungguhnya amalan yang kita lakukan -betapa pun besarnya- adalah bagi diri kita sendiri. Allah Ta’ala sama sekali tidak butuh terhadap amal kita. Biarpun manusia sedunia ini kafir semuanya, toh Allah Ta’ala tetaplah penguasa tunggal alam semesta…. Di sana masih ada jutaan, bahkan milyaran makhluk yang taat menyembah kepada-Nya. Para malaikat yang memenuhi angkasa raya… ikan-ikan di lautan… semut-semut dalam liangnya, bahkan setiap benda yang ada di langit maupun di bumi semuanya bertasbih kepada-Nya. Sebagaimana ayat:

يُسَبِّحُ لِلَّهِ مَا فِي السَّمَاوَاتِ وَماَ فِي الأَرضِ لَهُ الْمُلْكُ وَلَهُ الحَمدُ وَهُوَ عَلَى كُلِّ شَيءٍ قَدِيرٌ (التغابن: 1)

“Apa yang ada di langit dan apa yang ada di bumi (senantiasa) bertasbih kepada Allah; hanya Allah lah yang mempunyai semua kerajaan dan semua pujian, dan Dia Maha Kuasa atas segala sesuatu.” (QS. At Taghaabun: 1)

Ingatlah bahwa Allah Ta’ala berfirman:

Langit yang tujuh, bumi, dan semua yang ada di dalamnya bertasbih kepada Allah. Dan tak ada suatupun melainkan bertasbih dengan memuji-Nya, tetapi kamu sekalian tidak mengerti tasbih mereka. Sesungguhnya Dia adalah Maha Penyantun lagi Maha Pengampun” (Al Isra’: 44).

Dalam sebuah hadits disebutkan:

عَنْ حَكِيْمِ بْنِ حِزَامٍ  قَالَ: بَيْنَمَا رَسُوْلُ اللهِ  فِي أَصْحَابِهِ إِذْ قَالَ لَهُمْ: أَتَسْمَعُونَ مَا أَسْمَعُ ؟ قَالُوْا : مَا نَسْمَعُ مِنْ شَيْءٍ ، قَالَ: إِنِّي لَأَسْمَعُ أَطِيْطَ السَّمَاءِ وَمَا تُلاَمُ أَنْ تَئِطَّ وَمَا فِيْهَا مَوْضِعُ شِبْرٍ إِلاَّ وَعَلَيْهِ مَلَكٌ سَاجِدٌ أَوْ قَائِمٌ (رواه الطحاوي في مشكل الآثار والطيراني في الكبير بإسناد على شرط مسلم)

Dari Hakiem bin Hizam radhiyallahu ‘anhu, katanya: Ketika Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam sedang bersama sahabatnya, beliau berkata: “Adakah kalian mendengar apa yang kudengar?” mereka menjawab: “Kami tak mendengar apa-apa…” lalu lanjut beliau: “Aku benar-benar mendengar suara berat yang ditimbulkan langit… dan wajar memang kalau dia merasa berat, karena tak tersisa sejengkal pun ruangan di sana melainkan ada malaikat yang sedang sujud atau berdiri” [14]).

Ingatlah ketika Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam meriwayatkan dari Allah Ta’ala, bahwa Dia berfirman dalam sebuah hadits qudsi:

يَا عِبَادِي إِنَّكُمْ لَنْ تَبْلُغُوا ضَرِّي فَتَضُرُّونِي وَلَنْ تَبْلُغُوا نَفْعِي فَتَنْفَعُونِي يَا عِبَادِي لَوْ أَنَّ أَوَّلَكُمْ وَآخِرَكُمْ وَإِنْسَكُمْ وَجِنَّكُمْ كَانُوا عَلَى أَتْقَى قَلْبِ رَجُلٍ وَاحِدٍ مِنْكُمْ مَا زَادَ ذَلِكَ فِي مُلْكِي شَيْئًا يَا عِبَادِي لَوْ أَنَّ أَوَّلَكُمْ وَآخِرَكُمْ وَإِنْسَكُمْ وَجِنَّكُمْ كَانُوا عَلَى أَفْجَرِ قَلْبِ رَجُلٍ وَاحِدٍ مَا نَقَصَ ذَلِكَ مِنْ مُلْكِي شَيْئًا (رواه مسلم)

“Wahai hamba-Ku, kalian tak akan mampu mencelakai-Ku maupun memberi manfaat kepada-Ku… wahai hamba-Ku, kalaulah kalian seluruhnya sejak dari yang pertama hingga terakhir, baik dari jin maupun manusia; semuanya memiliki hati yang paling takwa, niscaya itu tak menambah kekuasaan-Ku sedikit pun… dan seandainya kalian seluruhnya sejak dari yang pertama hingga terakhir, dari jin dan manusia; semuanya memiliki hati paling bejat, niscaya itu tak mengurangi kekuasaan-Ku sedikit pun…” (H.R. Muslim no 2577).

Lihatlah… alangkah tidak berartinya manusia di sisi Allah. Alangkah sia-sianya amal yang selama ini kita lakukan dengan susah payah kalau sampai Allah tak sudi menerimanya. Kalau amal shalih saja belum tentu diterima oleh-Nya, maka bagaimana dengan bid’ah? Adakah Allah Ta’ala menaruh minat sedikit pun kepadanya? Renungkanlah baik-baik masalah ini, kemudian mari kita koreksi amal kita masing-masing.

Terakhir: mintalah kepada Allah Ta’ala agar senantiasa membimbing kita

Terapi ini tak kalah penting dari pendahulunya. Apalah artinya usaha kita yang mati-matian kalau tidak mendapat bimbingan Allah Ta’ala? Mintalah selalu kepada-Nya agar Dia menunjukkan kepada kita mana yang bid’ah dan mana yang sunnah. Hadirkanlah selalu hati kita tatkala membaca firman Allah:

اهْدِنَا الصِّرَاطَ الْمُسْتَقِيمَ

 “Tunjukkanlah kami jalan yang lurus”

Bersimpuhlah di hadapan-Nya pada sepertiga malam terakhir… teteskanlah airmata kita di haribaan-Nya, mudah-mudahan Dia mencurahkan sebagian rahmat-Nya untuk kita. Keluhkanlah segala gundah gulana kepada-Nya… karena Dia lah yang menguasai hati hamba-Nya, dan Dia lah yang membolak-balikkan hati mereka… mintalah kepada-Nya agar hati kita selalu berada di jalan yang diridhai-Nya. Simaklah apa yang diriwayatkan oleh Ummul mukminin Ummu Salamah radhiyallahu ‘anha,

كَانَ أَكْثَرُ دُعَائِهِ يَا مُقَلِّبَ الْقُلُوبِ ثَبِّتْ قَلْبِي عَلَى دِينِكَ قَالَتْ فَقُلْتُ يَا رَسُولَ اللَّهِ مَا أَكْثَرَ دُعَاءَكَ يَا مُقَلِّبَ الْقُلُوبِ ثَبِّتْ قَلْبِي عَلَى دِينِكَ قَالَ يَا أُمَّ سَلَمَةَ إِنَّهُ لَيْسَ آدَمِيٌّ إِلَّا وَقَلْبُهُ بَيْنَ أُصْبُعَيْنِ مِنْ أَصَابِعِ اللَّهِ فَمَنْ شَاءَ أَقَامَ وَمَنْ شَاءَ أَزَاغَ (رواه الترمذي وقَالَ هَذَا حَدِيثٌ حَسَنٌ)

Doa yang paling sering dibaca Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam ialah: (يَا مُقَلِّبَ الْقُلُوبِ ثَبِّتْ قَلْبِي عَلَى دِينِكَ) “Wahai Dzat yang membolak-balikkan hati, tetapkanlah hatiku diatas agama-Mu”. Aku pun bertanya kepadanya: “Ya Rasulullah, alangkah seringnya engkau memanjatkan doa ini…” maka jawab beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam: “Hai Ummu Salamah, tak ada seorang anak Adam pun melainkan hatinya berada diantara dua jemari Allah Ta’ala. Orang yang Dia kehendaki akan dijadikan-Nya istiqamah (lurus), atau justeru dibiarkan sesat” (H.R. Tirmidzi, dan beliau menghasankannya).[15])

 

-bersambung insya Allah-

Penulis: Ustadz Abu Hudzaifah Al Atsary, Lc

Mahasiswa Magister ‘Ulumul Hadits wad Dirosah Islamiyah Univ. Islam Madinah

Artikel www.muslim.or.id

 

 

[1]  Disadur dari Mukhtasar Al I’tisham, hal 31-39, oleh Imam Asy Syathiby. Ikhtisar Sayyid ‘Alawi Abdul Qadir Assaqqaf –hafidhahullaah-.

[2]) H.R. Bukhari no 1870, 7306 dan Muslim no 1366, dari Sayyidina ‘Ali bin Abi Thalib dan Anas bin Malik.

[3]) H.R. Bukhari no 5058, 6931, dan Mulim no 1064 dari sahabat Abu Sa’id Al Khudry. Lafazh hadits diatas kami ambilkan dari hadits Bukhari no 5058.

[4]) Lihat: Mukhtasar Al I’tisham hal 33, oleh Imam Asy Syathiby. Ikhtisar oleh Sayyid ‘Alawi Abdul Qadir Assaqqaf.

[5]) Makna dari ‘sahabatku’ di sini bukanlah para sahabat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, akan tetapi orang-orang yang menyertai Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam hal keyakinan (Islam). Karenanya hadits ini tidak bisa dijadikan dalil bahwa para sahabat berpaling (murtad) dari Islam sepeninggal Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, sebagaimana keyakinan orang-orang syi’ah rafidhah yang terkutuk itu. Jadi kata ashaab disini ialah seperti yang diungkapkan oleh ulama-ulama belakangan ketika menukil pendapat orang yang semadzhab dengan mereka dengan menagatakan: (وقال أصحابنا كذا…) yang artinya: Orang-orang yang semadzhab dengan kami mengatakan begini dan begitu…

[6]) H.R. Bukhari no 6526, 4625, 4626, 4740, 3349 dan Muslim no 2860, dari sahabat ‘Abdullah bin ‘Abbas.

[7])  H.R. Muslim no 1017, dari sahabat Jarir bin Abdillah secara ringkas.

[8] H.R. Abu Syaikh dalam Tarikh Ashbahan, At Thabrani dalam Al Mu’jamul Ausath, Al Baihaqy dalam Syu’abul Iman dan lainnya. Hadits ini dinyatakan shahih oleh Sayyid ‘Alawi Assaqqaf dalam Mukhtasar Al I’tisham hal 35. Dishahihkan pula oleh Al Albani dalam Silsilah Ash Shahihah no 1620.

[9]  H.R. Abu Dawud no 4597, Ahmad dalam Musnadnya (4/102) no 17061 dari sahabat Mu’awiyah bin Abi Sufyan. Hadits ini dinyatakan shahih lighairihi oleh Syaikh Al Albani dalam Dhilalul Jannah, 1/2, hadits no 1&2. Perhatian: kalimat yang bercetak miring di atas hanya terdapat pada riwayat Ahmad, dan nampaknya ia merupakan perkataan Mu’awiyah yang tersisipkan dalam hadits, karena disebutkan bahwa beliau menyampaikan hadits tadi di waktu haji selepas shalat dhuhur (lihat Musnad Imam Ahmad 4/102). Jadi beliau mengatakan kata-kata tadi dalam kapasitasnya sebagai khalifah saat itu, wallaahu a’lam -pen.

[10]  H.R. Muslim no 249, Ibnu Majah no 4306, dan Ahmad dalam Musnadnya (2/300, 408) hadits no 7980, 8865 dan 9281. Hadits ini juga dishahihkan oleh Al Albani dalam Shahih wa Dha’if  Sunan Ibnu Majah, hadits no 4306.

[11]  Lihat: Mukhtasar Al I’tisham, hal 38.

[12]  Ibid, hal 38.

[13] Tafsir Ibnu Katsier, 2/92. Oleh Abul Fida’ Ibnu Katsier, tahqiq: DR. Sami Muhammad Salamah, cet.2, th. 1420/1999, Daarut Taybah.

[14]) H.R. Ath Thahawy dalam Syarh Musykilil Aatsar 7/337, hadits no 5319 dan Ath Thabrany dalam Al Mu’jamul Kabir, dengan sanad yang shahih sesuai syarat Muslim. Lihat: Silsilah Ash Shahihah hadits no 852.

[15]) H.R. Tirmidzi no 3522, dan Ahmad (6/302, 315) dan dihasankan pula oleh Al Albani dalam Silsilah Ash Shahihah hadits no 2091. Diriwayatkan pula oleh Ibnu Majah dari Anas bin Malik, dan Ahmad dari Aisyah.

Thursday, May 10, 2018

WASIAT NABI SHALLALLAHU ALAIHI WA SALLAM UNTUK MENUNTUT ILMU, MEMBERSIHKAN HATI, DAN ZUHUD DI DUNIA

Oleh
Al-Ustadz Yazid bin Abdul Qadir Jawas

نَضَّرَ اللهُ امْرَأً سَمِعَ مِنَّا حَدِيْثًا فَحَفِظَهُ حَتَّى يُبَلِّغَهُ غَيْرَهُ ؛ فَإِنَّهُ رُبَّ حَامِلِ فِقْهٍ لَيْسَ بِفَقِيْهٍ ، وَرُبَّ حَامِلِ فِقْهٍ إِلَـى مَنْ هُوَ أَفْقَهُ مِنْهُ ، ثَلَاثُ خِصَالٍ لَا يُغِلُّ عَلَيْهِنَّ قَلْبُ مُسْلِمٍ أَبَدًا : إِخْلَاصُ الْعَمَلِ لِلهِ، وَمُنَاصَحَةُ وُلَاةِ الْأَمْرِ ، وَلُزُوْمُ الْـجَمَاعَةِ ؛ فَإِنَّ دَعْوَتَهُمْ تُـحِيْطُ مِنْ وَرَائِهِمْ. وَقَالَ : مَنْ كَانَ هَمُّهُ الْآخِرَةَ ؛ جَـمَعَ اللهُ شَمْلَهُ، وَجَعَلَ غِنَاهُ فِـيْ قَلْبِه ِ، وَأَتَتْهُ الدُّنْيَا وَهِيَ رَاغِمَةٌ، وَمَنْ كَانَتْ نِيَّـتُهُ الدُّنْيَا ؛ فَرَّقَ اللهُ عَلَيْهِ ضَيْعَتَهُ ، وَجَعَلَ فَقْرَهُ بَيْنَ عَيْنَيْهِ، وَلَمْ يَأْتِهِ مِنَ الدُّنْيَا إِلَّا مَا كُتِبَ لَهُ.

Semoga Allâh memberikan cahaya pada wajah orang yang mendengarkan sebuah hadits kami, lalu ia menghafalnya dan menyampaikannya ke orang lain. Banyak orang yang membawa fiqih namun ia tidak memahami. Dan banyak orang yang menerangkan fiqih kepada orang yang lebih faham darinya. Ada tiga hal yang dengannya hati seorang muslim akan bersih (dari khianat, dengki, dan keburukan) yaitu beramal dengan ikhlas karena Allâh Azza wa Jalla , menasihati ulil amri (penguasa) dan berpegang teguh pada jamâ’ah kaum Muslimin, karena do’a mereka meliputi dari belakang mereka.” 

Beliau bersabda, “Barangsiapa yang keinginannya adalah negeri akhirat, maka Allâh akan mengumpulkan kekuatannya, menjadikan hatinya kaya dan dunia akan mendatanginya dalam keadaan hina. Namun barangsiapa yang niatnya mencari dunia, Allâh akan mencerai-beraikan urusan dunianya, menjadikan kefakiran di pelupuk matanya, dan dunia yang berhasil diraih hanyalah apa yang telah ditetapkan baginya.

TAKHRIJ HADITS
Hadits ini shahîh, diriwayatkan oleh banyak Shahabat Radhiyallahu anhum. Hadits yang disebutkan di sini diriwayatkan oleh para Imam ahli hadits, di antaranya :

1. Imam Ahmad dalam Musnadnya (V/183)
2. Imam ad-Dârimi (I/75)
3. Imam Ibnu Hibbân (no. 72 dan 73–Mawâriduzh Zham’ân).
4. Imam Ibnu ‘Abdil Barr dalam Jâmi’ Bayânil ‘Ilmi wa Fadhlihi (I/175-176, no. 184).

Lafazh ini milik Imam Ahmad, dari ‘Abdurrahman bin Aban bin ‘Utsman dari bapaknya dari Zaid bin Tsâbit Radhiyallahu anhu.

Hadits ini dishahihkan oleh al-Hâfizh Ibnu Hajar al-‘Asqalâni. Imam al-Munawi rahimahullah mengatakan, “al-Hâfizh Ibnu Hajar al-‘Asqalani dalam Takhrîjul Mukhtashar (Mukhtashar Ibni Hajib) bahwa hadits Zaid bin Tsabit ini shahih.”[1] Dishahihkan juga oleh Syaikh Muhammad Nashiruddin al-Albani rahimahullah dalam Silsilah al-Ahâdîts ash-Shahîhah (no. 404).

Derajat hadits ini mutawâtir. Diriwayatkan lebih dari 20 shahabat, : ‘Abdullâh bin Mas’ûd, Zaid bin Tsâbit, Jubair bin Muth’im, Anas bin Mâlik, an-Nu’mân bin Basyîr, Abu Sa’id al-Khudri, ‘Abdullah bin ‘Umar, Basyîr bin Sa’d, Mu’âdz bin Jabal, Abu Hurairah, Abud Darda’, ‘Abdullah bin ‘Abbâs, Abu Qarshafah, Rabi’ah bin ‘Utsman, Jabir bin ‘Abdillah, Zaid bin Khalid al-Juhani, ‘Aisyah, Sa’d bin Abi Waqqâsh Radhiyallahu anhum.

Hadits ini mutawâtir. Disebutkan oleh as-Suyuthi dalam kitabnya, Qathful Azhâr al-Mutanâtsirah fil Akhbâril Mutawâtirah..

Hadits ini mutawâtir, disampaikan oleh Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam di Masjid al-Khâ’if wilayah Mina dihadapan puluhan ribu Shahabat.

SYARAH HADITS
1. Perintah Untuk Menuntut Ilmu Syar’i

نَضَّرَ اللهُ امْرَأً سَمِعَ مِنَّا حَدِيْثًا فَحَفِظَهُ حَتَّى يُبَلِّغَهُ غَيْرَهُ

Semoga Allâh memberikan cahaya pada wajah orang yang mendengarkan sebuah hadits dari kami, lalu menghafalkannya sehingga bisa menyampaikannya kepada orang lain.

• Semoga Allâh Azza wa Jalla Memberikan Cahaya
Tentang lafazh hadits ini, ada sebagian Ulama membacanya takhfîf (tanpa tasydîd ) dan sebagian lainnya membaca dengan tasydîd. Keduanya benar, sebagaimana penjelasan Syaikh ‘Abdul Muhsin al-‘Abbâd.

Maksud dari naddhara[2] adalah wajahnya berseri-seri, sebagaimana yang Allâh Subhanahu wa Ta’ala sebutkan dalam firman-Nya, yang artinya, “Wajah-wajah (orang mukmin) pada hari itu berseri-seri. Mereka memandang Rabb-nya.” [al-Qiyâmah/75: 22-23]

Ada yang mengartikan naddhara dengan nudhrah (nikmat). Maksudnya, diberikan nikmat oleh Allâh Azza wa Jalla . Ada juga yang mengartikan naddhara dengan kecukupan. Maksudnya, diberikan kecukupan oleh Allâh Azza wa Jalla .

Makna sabda Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam ini adalah :
Pertama, semoga Allâh Subhanahu wa Ta’ala memberikan cahaya dan mengindahkan wajah orang yang mendengar sabda Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam [3].

Kedua, Allâh Azza wa Jalla akan mengantarkan orang tersebut kepada kenikmatan Surga. Maksud-nya, orang-orang yang mendengarkan hadits-hadits Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam , maka Allâh Azza wa Jalla akan membimbingnya kepada kenikmatan Surga pada hari Kiamat. Allâh Azza wa Jalla berfirman, yang artinya, “Kamu dapat mengetahui kesenangan hidup yang penuh kenikmatan dari wajah mereka.” [al-Muthaffifîn/83:24]

Juga firman-Nya :

فَوَقَاهُمُ اللَّهُ شَرَّ ذَٰلِكَ الْيَوْمِ وَلَقَّاهُمْ نَضْرَةً وَسُرُورًا

“Maka Allâh melindungi mereka dari kesusahan hari itu, dan memberikan kepada mereka keceriaan dan kegembiraan.” [Al-Insân/76:11]

Ini adalah do’a Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam buat orang-orang yang benar-benar mendengarkan Sunnah Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam , memahaminya, mengamalkannya dan mendakwahkannya. Orang-orang itu akan memperoleh dua keutamaan, yaitu diberi keindahan wajah dan dibimbing untuk meraih kenikmatan Surga.

• Mempelajari Hadits Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam
Lafazh atau kata hadîtsan dalam sabda Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam di atas, maksudnya yaitu hadits yang sah dari Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam . Hadits adalah semua yang disandarkan kepada Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam , baik berupa sifat, perkataan, perbuatan, maupun taqrîr (persetujuan).

Kemudian sabda Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam , yang artinya ,“ …lalu ia menghafalnya)…” maksudnya anjuran bagi kita untuk menghafal hadits-hadits Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam .

Di antara sebab terjaganya sunnah-sunnah Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam di tengah kaum Muslimin adalah adanya orang-orang yang menghafalnya. Para Ulama terdahulu sangat giat dan bersemangat dalam menghafal hadits-hadits Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam , sehingga di antara mereka ada yang menghafal ratusan ribu hadits beserta sanadnya.

Kata “menghafal” ini mencakup hafal di luar kepala, atau bisa juga dengan ia mencatatnya. Sebab, mencatat adalah jalan untuk menghafal. Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam memerintahkan untuk menulis ilmu, beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :

قَيِّدُوا الْعِلْمَ بِالْكِتَابِ

Ikatlah ilmu itu dengan tulisan! [4]

Dengan adanya orang-orang yang menghafal dan mencatat hadits-hadits Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam , maka Sunnah Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam terjaga.

Dalam riwayat lain, Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “… فَوَعَاهَا… (lalu ia memahaminya).” artinya, tidak sekedar menghafal, tetapi juga harus memahami.

Kemudian sabda Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam , “…حَتَّى يُبَلِّغَهُ غَيْرَهُ… (sehingga ia bisa menyampaikan kepada yang lainnya)…” artinya, ilmu-ilmu yang sudah ia hafal, ia fahami, dan ia amalkan, juga harus disampaikan kepada yang lainnya. Menyampaikan ilmu syar’i kepada orang lain memiliki keutamaan yang sangat besar. Ketika Hajjatul Wadaa’, Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :

فَلِيُبَلِّغِ الشَّاهِدُ مِنْكُمُ الْغَائِبَ

Hendaklah orang yang menyaksikan (hadir/ mendengar) di antara kalian menyampaikannya kepada yang tidak hadir[5]

• Keutamaan Ilmu Syar’i
Seandainya ilmu itu tidak memiliki keutamaan selain yang disebutkan dalam hadits di muka, tentu itu sudah cukup untuk menunjukkan kemuliaan ilmu. Karena, Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam mendo’akan orang yang mendengar sabda beliau, menampungnya, menghafalnya, menjaganya serta menyampaikannya. Berdasarkan hadits ini, kita bias memahami empat tingkatan ilmu :

Pertama, yaitu mendengar dan menyimak ilmu dari sumbernya. Sumber ilmu adalah al-Qur’ân dan hadits Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam . dan termasuk dalam hal ini adalah menelaah kitab para Ulama yang bersumber dari wahyu Allâh Azza wa Jalla .

Kedua, yaitu berusaha memahami dan meresapi kandungannya, supaya ilmu tersebut benar-benar tetap di hati dan tidak hilang. Menetap di dalam hati seperti sesuatu yang ditampung dalam wadah yang tidak mungkin bisa keluar, atau kaksana unta yang terkekang tali, sehingga tidak bisa lari kemana-kemana.
Ketiga, yaitu berkomitmen untuk menjaganya agar tidak hilang, dengan berusaha maksimal untuk menghafalnya.

Keempat, yaitu menyampaikan dan menyebarkannya kepada ummat agar ilmu itu membuahkan hasil.

Barangsiapa melakukan keempat tingkatan di atas, berarti ia termasuk orang yang dido’akan Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam agar di karunia keindahan, baik keindahan fisik atau psikis. Sungguh, kecerahan wajah merupakan pengaruh iman, kebahagiaan batin dan kegembiraan hati.

Allâh Subhanahua wa Ta’ala berfirman, yang artinya, “Maka Allâh melindungi mereka dari kesusahan hari itu, dan memberikan kepada mereka keceriaan dan kegembiraan.” [al-Insân/76:11]

Allâh Azza wa Jalla juga berfirman :

تَعْرِفُ فِي وُجُوهِهِمْ نَضْرَةَ النَّعِيمِ

Kamu dapat mengetahui kesenangan hidup mereka yang penuh kenikmatan dari wajah mereka. [ al-Muthaffifiin/83:24]

Jadi, wajah ceria dan berseri-seri yang dimiliki oleh orang yang mendengar sunnah Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam, lalu memahaminya, menghafal, menjaga (hafalannya) lalu menyampaikannya adalah pengaruh dari manisnya (iman), kecerahan, dan kebahagiaan hati dan jiwanya.[6]

2. Ilmu Fiqih dan Pembawanya.

فَإِنَّهُ رُبَّ حَامِلِ فِقْهٍ لَيْسَ بِفَقِيْهٍ ، وَرُبَّ حَامِلِ فِقْهٍ إِلَى مَنْ هُوَ أَفْقَهُ مِنْهُ

Banyak orang yang membawa fiqih namun ia tidak memahami. Dan banyak orang yang menerangkan fiqih kepada orang yang lebih faham darinya

Dalam hadits ini dijelaskan bahwa banyak orang yang membawa hadits-hadits Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam , akan tetapi ia tidak bisa memahaminya dengan baik; Ada juga yang membawa fiqih kepada orang yang lebih faham (lebih faqîh). Ada orang yang didiberitahu tentang ilmu namun ia lebih faham daripada orang yang memberitahukannya. Namun, bagaimanapun keadaannya, orang yang menyampaikan ayat-ayat al-Qur’ân, hadits-hadits Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam , maupun ilmu-ilmu syar’i lainnya, tetap mendapatkan pahala sebagai orang yang menyebarkan ilmu.

3. Perintah Untuk Membersihkan Hati

ثَلَاثُ خِصَالٍ لَا يُغِلُّ عَلَيْهِنَّ قَلْبُ مُسْلِمٍ أَبَدًا : إِخْلَاصُ الْعَمَلِ لِلهِ ، وَمُنَاصَحَةُ وُلَاةِ الْأَمْرِ وَلُزُوْمُ الْـجَمَاعَةِ ؛ فَإِنَّ دَعْوَتَهُمْ تُحِيْطُ مِنْ وَرَائِهِمْ

Ada tiga hal yang dengannya hati seorang muslim akan bersih (dari khianat, dengki dan keburukan), yaitu: (pertama) beramal dengan ikhlas karena Allâh, (kedua) menasihati ulil amri (penguasa), dan (ketiga) berpegang teguh pada jama’ah kaum Muslimin, karena do’a mereka meliputi dari belakang mereka.

• Membersihkan Hati
Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :

ثَلَاثُ خِصَالٍ لَا يُغِلُّ عَلَيْهِنَّ قَلْبُ مُسْلِمٍ أَبَدًا…

Ada tiga hal yang dengannya hati seorang muslim akan bersih selamanya…

Kalimat يغل , jika dibaca yughillu, yang artinya khianat, maka maksudnya adalah, “Hati seorang Muslim tidak akan berkhianat selama-lamanya jika dia berada dalam tiga hal…”. Sedangkan jika dibaca yaghillu atau yughallu, yang artinya hasad (dengki)[7] , maka maksud hadits di atas adalah, “Hati seorang Muslim tidak dihinggapi hasad (dengki) selama-lamanya jika ia berada dalam tiga hal…”

Jadi, hati seorang Muslim itu bersih dari sikap khianat, hasad (dengki), dan keburukan selama-lamanya apabila ia mengerjakan tiga hal ini. Imam Ibnul Atsir rahimahullah mengatakan, “Tiga perkara ini akan membuat hati seorang Muslim menjadi baik. Barangsiapa yang berpegang dengan tiga hal ini, maka hatinya bersih dari khianat, dengki, dan keburukan.”

a. Amalan Pertama: Beramal Ikhlas Karena Allâh Azza wa Jalla
Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :

…إِخْلَاصُ الْعَمَلِ لِلهِ…

“… melakukan suatu amalan dengan ikhlas karena Allâh…”

Ikhlas adalah masalah yang penting dan utama. Amalan seseorang tidak ada artinya tanpa adanya keikhlasan, sebagaimana dijelaskan dalam banyak ayat al-Qur’ân dan hadits Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam .

Di antaranya, Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :

إِنَّمَا الْأَعْمَالُ بِالنِّيَّاتِ وَإِنَّمَا لِكُلِّ امْرِئٍ مَا نَوَى …

Sesungguhnya amal-amal itu (sah) dengan niat dan sesungguhnya (balasan amal) seseorang itu tergantung niatnya…[8]

Ikhlas adalah perkara yang berat, namun wajib bagi kita untuk terus berusaha berlaku ikhlas. Karena ikhlas syarat diterimanya suatu ibadah. Imam Sufyân ats-Tsauri rahimahullah berkata, “Tidaklah aku mengobati sesuatu yang lebih berat daripada mengobati niatku, sebab ia senantiasa berbolak-balik pada diriku.”

Demikian juga yang disampaikan oleh Imam Ibnu Qayyim al-Jauziyyah rahimahullah , beliau berkata, “Tidak akan berkumpul dalam hati seorang Mukmin antara ikhlas di hati dengan keinginan untuk dipuji (disanjung) dan mengharapkan sesuatu dari manusia. Sebagaimana antara air dan api tidak mungkin menyatu …”[9]

Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

قَالَ اللهُ تَعَالَى: أَنَا أَغْنَى الشُّرَكَاءِ عَنِ الشِّرْكِ ، مَنْ عَمِلَ عَمَلًا أَشْرَكَ فِيْهِ مَعِـيْ غَيْرِيْ تَرَكْتُهُ وَشِرْكَهُ.

Allâh Subhanahu wa Ta’ala berfirman, ‘Aku tidak butuh kepada semua sekutu. Barangsiapa yang beramal dengan mempersekutukan Aku dengan yang lain, maka Aku biarkan dia bersama sekutunya.’”[10]

Kita diperintahkan untuk senantiasa ikhlas dalam setiap amal ibadah kita. Orang-orang yang benar-benar ikhlas, maka dosa-dosanya akan diampuni. Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah rahimahullah mengatakan, “Suatu amal yang dilakukan dengan dasar keikhlasan dan ibadah yang sempurna kepada Allâh, maka Allâh akan mengampuni dosa-dosa besarnya dengan sebab keikhlasan tersebut. Seperti dalam hadits al-bithâqah[11] (kartu yang bertuliskan لَا إِلَـهَ إِلَّا اللهُ –Pen.) yang ditimbang dengan 99 dosa di salah satu timbangan. Maka, yang lebih berat adalah al-bithâqah tersebut. [12]

Orang yang ikhlas akan selalu Allâh teguhkan, luruskan dan bersihkan hatinya. Sebaliknya, apabila ia tidak ikhlas kepada Allâh Azza wa Jalla , maka ia tidak akan tetap dan tidak istiqamah di atas kebenaran.

b. Amalan Kedua: Menasihati Ulil Amri (Penguasa Kaum Muslimin)
Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

…وَمُنَاصَحَةُ وُلَاةِ الْأَمْرِ …

“…dan menasihati ulil amri (penguasa)…”

Agama Islam adalah agama nasehat. Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam,

اَلدِّيْنُ النَّصِيْحَةُ، (×3) قَالُوْا: لِمَنْ يَا رَسُوْلَ اللهِ؟ قَالَ: ِللهِ، وَلِكِتَابِهِ، وَلِرَسُوْلِهِ، وَِلأَئِمَّةِ الْمُسْلِمِيْنَ أَوْ لِلْمُؤْمِنِيْنَ، وَعَامَّتِهِمْ.

“Agama itu nasihat (3x). Para Sahabat g bertanya, ‘Untuk siapa, wahai Rasûlullâh?’ Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab: ‘Untuk Allâh, Kitab-Nya, Rasul-Nya, Imam kaum Muslimin atau Mukminin, dan bagi kaum Muslimin pada umumnya.”[13]

Islam menganjurkan ummatnya untuk menasihati para Imam dan penguasa dengan cara terbaik, sebagaimana yang telah dijelaskan oleh para ulama Ahlus Sunnah wal Jamâ’ah.

Menasihati penguasa kaum muslimin, maksudnya yaitu kita menginginkan kebaikan buat para penguasa. Kita ingin supaya mereka berlaku baik, adil dan lurus. Kita tidak boleh keluar (memisahkan diri) dari mereka, tidak boleh menghujat mereka serta tidak boleh memberontak.

Imam Ibnush Shalâh rahimahullah mengatakan bahwa maksud dari menasihati para penguasa kaum muslimin adalah mendatangi mereka lalu menasihati mereka dengan kata-kata yang baik. Dan ini tugas para Ulama.

Menasihati penguasa bukan dengan cara orasi di mimbar, atau dengan demonstrasi di jalan-jalan, atau dengan meghujat mereka. Semua cara ini tidak dibenarkan dalam syari’at Islam. Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :

مَنْ أَرَادَ أَنْ يَنْصَحَ لِذِي سُلْطَانٍ فَلاَ يُبْدِهِ عَلاَنِيَةً، وَلَكِنْ يَأْخُذْ بِيَدِهِ فَيَخْلُوْبِهِ، فَإِنْ قَبِلَ مِنْهُ فَذَاكَ وَإِلَّا كَانَ قَدْ أَدَّى الَّذِي عَلَيْهِ.

Barangsiapa ingin menasihati penguasa, janganlah ia menampakkannya terang-terangan. Hendaklah ia pegang tangannya lalu menyendiri dengannya. Jika penguasa itu mau mendengar nasihat itu, maka itu yang terbaik dan bila si penguasa itu enggan menerima), maka sungguh ia telah melaksanakan kewajibannya.[14]

Sikap Ahlus Sunnah wal Jamâ’ah yang mentaati penguasa kaum Muslimin serta menasihati mereka dengan cara yang baik akan menimbulkan rasa aman.

Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam memerintahkan umatnya agar tetap taat dan patuh kepada penguasa kaum muslimin selama mereka tidak memerintahkan kepada perbuatan mungkar. Dengan sikap seperti ini, sifat hasad (dengki) akan sirna dari hati kaum Muslimin dan akan tercipta suasana damai nan indah. Kita harus menyadari bahwa para penguasa, para Ulama, dan rakyat, masing-masing memiliki tugas dan kewajiban. Jika tugas dan kewajiban mereka tumpang tindih maka akan sangat berpotensi menimbulkan kekacauan dan keruwetan.

Bahkan, syari’at Islam mengajarkan supaya rakyat mendo’akan kebaikan buat penguasa. Salah seorang salaf mengatakan :

لَوْ كَانَ لَنَا دَعْوَةٌ مُسْتَجَابَةٌ لَـجَعَلْنَاهَا لِلسُّلْطَانِ

Seandainya kami memiliki do’a mustajab (maqbûl), tentu telah kami gunakan untuk mendo’akan penguasa.

Sebab, baiknya penguasa berarti baik pula keadaan rakyat dan begitu pula sebaliknya. Penguasa adalah cerminan keadaan rakyatnya. Apabila rakyatnya baik, maka penguasanya pun baik; dan jika rakyatnya jelek, maka penguasanya pun jelek.

Imam Ibnu Qayyim al-Jauziyyah rahimahullah mengatakan, “Renungilah hikmah Allâh Azza wa Jalla yang telah menjadikan (perbuatan) para raja, pemimpin, dan pengayom masyarakat serupa dengan perbuatan masyarakat. Bahkan amal perbuatan mereka seakan-akan tercermin pada (prilaku) pemimpin mereka. Jika masyarakat istiqomah, maka penguasa mereka juga akan istiqâmah (lurus). Jika mereka adil, maka penguasa pun berlaku terhadap mereka. Namun jika mereka zhalim, maka akan zhalim pula penguasa dan pemimpin mereka. Jika tipu muslihat tersebar di tengah mereka, maka demikian pula yang terjadi pada pemimpin mereka. Jika mereka enggan mengeluarkan atau menunaikan apa yang menjadi hak Allâh Azza wa Jalla , maka para penguasa dan pemimpin mereka pun akan enggan memberikan hak-hak rakyat yang ada pada mereka. Dan jika dalam muamalah mereka mengambil sesuatu yang bukan hak mereka dari orang-orang yang lemah, maka para penguasa pun akan berlaku demikian dan akan membebankan kepada mereka berbagai kewajiban.

Setiap yang mereka ambil dari orang-orang lemah, maka akan diambil pula oleh para penguasa itu dari diri mereka dengan paksa. Dengan demikian amal perbuatan mereka tercermin pada amal perbuatan penguasa dan pemimpin mereka.

Dan bukanlah hikmah ilahiyyah, seseorang diangkat untuk memimpin orang-orang jahat lagi keji kecuali orang-orang yang serupa dengan mereka. Ketika kaum Muslimin pada kurun-kurun pertama merupakan kaum terbaik, maka para pemimpin mereka seperti itu pula. Dan ketika masyarakat mulai tercemari, maka pemimpin mereka pun mulai tercemari. Demikianlah (seterusnya), hikmah Allâh Azza wa Jalla menolak jika kita di zaman ini dipimpin oleh orang-orang seperti Mu’âwiyah dan ‘Umar bin ‘Abdul ‘Aziz, apalagi orang-orang seperti Abu Bakar dan ‘Umar. Pemimpin kita sesuai dengan keadaan kita. Dan pemimpin orang-orang sebelum kita pun sesuai dengan kondisi mereka. Masing-masing dari kedua hal tersebut merupakan konsekwensi dan tuntutan hikmah Allâh Azza wa Jalla .”[15]

Apabila keadaan kita masih jauh dari kebaikan, maka jangan bermimpi akan mendapatkan pemimpin seperti ‘Umar bin ‘Abdul ‘Aziz atau seperti Mu’awiyyah, apalagi seperti Abu Bakar ash-Shiddiq atau ‘Umar bin al-Khaththab radhiyallahu anhum. Syari’at Islam mengajarkan apabila kita ingin mendapatkan pemimpin atau penguasa yang baik, maka hendaklah kita memperbaiki keadaan diri-diri kita terlebih dahulu, sebagaimana firman Allâh Azza wa Jalla , yang artinya, “….Sesungguhnya Allâh tidak mengubah keadaan suatu kaum sebelum mereka mengubah keadaan diri mereka sendiri…” [ar-Ra’d/13:11]

Dan perlu diingat, untuk mendapatkan pemimpin yang baik harus bersabar dan yakin, sebagaimana firman Allâh Subhanahu wa Ta’ala , yang artinya, “Dan Kami jadikan di antara mereka itu pemimpin-pemimpin yang memberi petunjuk dengan perintah Kami selama mereka sabar. Mereka meyakini ayat-ayat Kami.” [as-Sajdah/32:24]

Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam telah mengabarkan tentang kedatangan penguasa-penguasa yang berbuat zhalim kepada rakyatnya dan hanya mengutamakan diri-diri mereka. Namun meski demikian, Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam tetap memerintahkan untuk bersabar, walaupun para penguasa itu memukuli dan menyiksa. Islam tidak pernah mengajarkan demonstrasi dan pemberontakan!

c. Amalan Ketiga: Berpegang Teguh Pada Jamâ’ah Kaum Muslimin
Nabi j bersabda,

…وَلُزُوْمُ الْـجَمَاعَةِ ؛ فَإِنَّ دَعْوَتَهُمْ تُـحِيْطُ مِنْ وَرَائِهِمْ

“…dan berpegang teguh pada jama’ah kaum Muslimin, karena do’a mereka meliputi dari belakang mereka.”

Jamâ’ah memiliki beberapa makna, diantaranya yaitu :

Pertama, para Shahabat Nabi Radhiyallahu anhum . Makna ini berdasarkan sabda Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam :

وَإِنَّ هَذِهِ الْمِلَّةَ سَتَفْتَرِقُ عَلَى ثَلَاثٍ وَسَبْعِيْنَ : ثِنْتَان وَسَبْعُوْنَ فِـي النَّارِ ، وَوَاحِدَةٌ فِـي الْـجَنَّةِ، وَهِيَ الْـجَمَاعَةُ.

Sesungguhnya (umat) agama ini (Islam) akan berpecah belah menjadi 73 (tujuh puluh tiga) golongan, 72 golongan di neraka dan satu golongan di surga, yaitu al-Jamâ’ah.”[16]

Dalam riwayat lain disebutkan bahwa makna al-jamâ’ah dalam hadits ini adalah :

… مَا أَنَا عَلَيْهِ وَأَصْحَابِـيْ

(Yaitu) jalan yang aku (Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam ) tempuh bersama para shahabat-ku.[17]

Kedua, al-haqq (kebenaran). Makna ini sebagaimana ucapan Shahabat ‘Abdullah bin Mas’ud Radhiyallahu anhu,

اَلْـجَمَاعَةُ مَا وَافَقَ الْـحَقَّ وَإِنْ كُنْتَ وَحْدَكَ
al-Jama’ah adalah apa yang sesuai dengan al-haqq (kebenaran) meskipun engkau seorang diri[18]

Ketiga, maknanya adalah bersatu dengan kedaulatan mayoritas kaum Muslimin yang dipimpin oleh Ulil Amri (penguasa). Oleh karenanya, dilarang memberontak kepada penguasa kaum Muslimin.

Perlu diperhatikan bahwa tidak boleh memalingkan maksud hadits ini menjadi jama’ah-jama’ah bai’at yang ada pada sebagian kaum Muslimin sekarang ini. Jamâ’ah-jamâ’ah yang mewajibkan anggotanya berbai’at kepada imam mereka, serta mengkafirkan orang-orang yang berada di luar kelompok mereka. Pemahaman seperti ini adalah pemahaman yang sesat dan menyesatkan.

Selanjutnya, Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

فَإِنَّ دَعْوَتَهُمْ تُـحِيْطُ مِنْ وَرَائِهِمْ
… karena sesungguhnya do’a mereka meliputi dari belakang mereka.

Maksudnya, apabila pemimpin dan rakyatnya sudah mentauhidkan Allâh Subhanahu wa Ta’ala lalu masing-masing mereka berdo’a kepada Allâh, maka do’a mereka ini mustajab (maqbul). Bahkan, do’a kaum Muslimin yang lemah bisa menyebabkan pertolongan Allâh Azza wa Jalla datang. Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :

هَلْ تُنْصَرُوْنَ وَتُرْزَقُوْنَ إلَّا بِضُعَفَائِكُمْ

Allâh tidak menolong dan melimpahkan rizki kepada kalian kecuali dengan sebab orang-orang lemah di antara kalian.

Dalam riwayat lain disebutkan,

إِنَّمَا يَنْصُرُ اللهُ هَذِهِ الْأُمَّةَ بِضَعِيْفِهَا بِدَعْوَتِهِمْ وَصَلَاتِهِمْ وَإِخْلَاصِهِمْ

Sesungguhnya Allâh menolong ummat ini dengan sebab do’a, shalat dan keikhlasan kaum Muslimin yang lemah

Do’a kaum Muslimin mengelilingi mereka, oleh karena itu diwajibkan bagi kita untuk bersama jamâ’ah kaum Muslimin supaya kita mendapatkan do’a-do’a mereka.

4. Wasiat Untuk Bersikap Zuhud di Dunia

مَنْ كَانَ هَمُّهُ الْآخِرَةَ ؛ جَمَعَ اللهُ شَمْلَهُ، وَجَعَلَ غِنَاهُ فِـيْ قَلْبِهِ ، وَأَتَتْهُ الدُّنْيَا وَهِيَ رَاغِمَةٌ

Barangsiapa keinginannya adalah negeri akhirat, maka Allâh akan menyatukan kekuatannya, menjadikannya kaya hati, dan dunia akan mendatanginya dalam keadaan hina.

Dalam hadits ini dijelaskan bahwa apabila seseorang menjadikan akhirat sebagai tujuan hidupnya, maka Allâh akan membereskan urusannya. Oleh karena itu, para Nabi dan Rasul , juga para Shahabat Radhiyallahu anhum menjadikan akhirat sebagai tujuan hidup mereka.

Dan Allâh Azza wa Jalla mengecam orang yang lebih mengutamakan dunia daripada akhirat. Allâh Azza wa Jalla berfirman, yang artinya, «Sedangkan kamu (orang-orang kafir) memilih kehidupan dunia, padahal kehidupan akhirat itu lebih baik dan lebih kekal.” [al-A’lâ/87:16-17]

Oleh karena itu, Allâh dan Rasul-Nya Shallallahu ‘alaihi wa salam memerintahkan kita untuk memusatkan perhatian dalam hidup ini pada urusan akhirat. Artinya, kita harus berpikir, apakah yang kita kerjakan di dunia ini bermanfaat bagi kita nanti di akhirat serta dapat menyelamatkan kita dari neraka ? Ini bukan berarti kita meninggalkan urusan dunia dan enggan mencari nafkah. Menjadikan akhirat sebagai tujuan tidak menafikan usaha mencari nafkah di dunia. Para Nabi dan Rasul menjadikan akhirat sebagai tujuan hidupnya akan tetapi mereka tetap bekerja mencari nafkah. Ada yang menjadi tukang kayu, ada yang menggembala, ada yang menjadi raja, ada juga yang menjadi pedagang. Bahkan, Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak mau bergantung kepada manusia hingga beliau menggadaikan baju besinya kepada seorang Yahudi dan masih tergadai sampai beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam wafat.

Kita harus menjadikan as-salafusshalih sebagai teladan dalam memahami dan mempraktekkan agama ini. di antara yaitu menjadikan akhirat sebagai tujuan dalam setiap perbuatan kita. Sehingga dalam mengerjakan amal-amal ketaatan, seperti shalat, zakat, puasa, haji, ‘umrah, sedekah, berdakwah dan lain sebagainya, tidak lain hanyalah untuk mengharapkan pahala surga dan supaya dijauhkan dari siksa neraka. Oleh karena itu, ketika Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam memerintahkan para wanita supaya bersedekah, beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam mengingatkan tentang siksa neraka. Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

يَا مَعْشَرَ النِّسَاءِ تَصَدَّقْنَ وَلَوْ مِنْ حُلِيِـّكُنَّ ، فَإِنَّكُنَّ أَكْثَرُ أَهْلِ جَهَنَّمَ يَوْمَ الْقِيَامَةِ

Wahai kaum wanita, bershadaqahlah! Meskipun dengan perhiasan kalian. Sesungguhnya pada hari Kiamat, kalian adalah penghuni neraka Jahannam yang paling banyak.[21]

Maksudnya, Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam menyuruh bersedekah supaya masuk surga dan dijauhkan dari siksa neraka.

Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam juga bersabda :

اِتَّقُوا النَّارَ وَلَوْ بِشِقِّ تَمْرَةٍ ، فَإِنْ لَمْ يَكُنْ فَبِكَلِمَةٍ طَيِّبَةٍ

Lindungilah diri kalian dari neraka meskipun dengan (menyedekahkan) sebutir kurma. Jika tidak ada maka dengan kata-kata yang baik.[22]

Inilah hakikat zuhud, yaitu meninggalkan segala yang tidak bermanfaat di akhirat.

Apabila seseorang menyikapi hidupnya seperti ini, maka Allâh Azza wa Jalla akan menjadikan dunia datang kepadanya dalam keadaan hina, artinya rizkinya mudah. Allâh Azza wa Jalla berfirman, yang artinya, “Barangsiapa bertakwa kepada Allâh niscaya Dia akan membukakan jalan keluar baginya, dan Dia memberinya rezeki dari arah yang tidak disangka-sangkanya.” [ath-Thalâq/65:2-3]

5. Wasiat Supaya Tidak Tamak Kepada Dunia

وَمَنْ كَانَتْ نِيَّتُهُ الدُّنْيَا ؛ فَرَّقَ اللهُ عَلَيْهِ ضَيْعَتَهُ ، وَجَعَلَ فَقْرَهُ بَيْنَ عَيْنَيْهِ، وَلَمْ يَأْتِهِ مِنَ الدُّنْيَا إِلَّا مَا كُتِبَ لَهُ

Barangsiapa niatnya mencari dunia, Allâh akan menjadikan urusan dunianya berantakan, menjadikan kefakiran di pelupuk matanya, dan ia hanya bisa meraih apa yang telah ditetapkan baginya.

Allâh Azza wa Jalla dan Rasul-Nya Shallallahu ‘alaihi wa sallam mencela sikap tamak terhadap dunia. Bahkan, Allâh Azza wa Jalla sangat merendahkan kedudukan dunia dalam banyak ayat al-Qur’ân. Allâh Azza wa Jalla berfirman :

وَمَا الْحَيَاةُ الدُّنْيَا إِلَّا مَتَاعُ الْغُرُورِ

“…Kehidupan dunia hanyalah kesenangan yang memperdaya.” [Ali ‘Imrân/3:185]

Apabila seseorang menjadikan dunia sebagai tujuan hidupnya dan mengesampingkan akhirat, maka Allâh Azza wa Jalla akan menjadikan urusan dunianya berantakan, serba sulit, serta menjadikan hidupnya dalam kegelisahan. Dan Allâh Azza wa Jalla menjadikan kefakiran di pelupuk matanya, selalu dihantui kemiskinan atau tidak pernah merasa cukup dengan rizki yang Allâh Azza wa Jalla karuniakan kepadanya.

Dunia yang berhasil ia raih hanya sebatas apa yang telah ditetapkan baginya, meskipun ia telah bekerja keras pada seluruh waktunya dengan mengorbankan kewajiban beribadah kepada Allâh, mengorbankan hak-hak isteri, anak-anak, keluarga, orang tua, dan lainnya

Cinta kepada dunia adalah sumber semua kejelekan, oleh karenanya tidak boleh menjadikan dunia sebagai tujuan hidup. Allâh Azza wa Jalla berfirman, yang artinya : Barangsiapa menghendaki kehidupan dunia dan perhiasannya, pasti Kami berikan (balasan) penuh atas pekerjaan mereka di dunia (dengan sempurna) dan mereka di dunia tidak akan dirugikan. Itulah orang-orang yang tidak memperoleh (sesuatu) di akhirat kecuali neraka, dan sia-sialah di sana apa yang telah mereka usahakan (di dunia) dan terhapuslah apa yang telah mereka kerjakan.” [Hûd/11:15-16]

Juga firman Allâh Subhanahu wa Ta’ala , yang artinya, “Barangsiapa menghendaki keuntungan di akhirat akan Kami tambahkan keuntungan itu baginya, dan barangsiapa menghendaki keuntungan di dunia Kami berikan kepadanya sebagian darinya (keun-tungan dunia), tetapi dia tidak akan mendapat bagian di akhirat.” [ Asy-Syûrâ/42:20]

Dunia ini dilaknat oleh Allâh dan dilaknat apa yang ada di dalamnya, oleh karena itu jangan jadikan dunia sebagai tujuan. Imam Ibnul Qayyim rahimahullah mengatakan, “Cinta dunia adalah sumber semua kejelekan dan pokok semua kesalahan.”

Apabila ditanyakan, “Mengapa itu bisa terjadi?” Maka Imam Ibnul Qayyim menjawab :
a. orang yang cinta dunia akan mengagungkan dunia, padahal dunia itu hina. Bahkan Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam menggambarkan bahwa dunia itu lebih jelek daripada bangkai kambing yang cacat.
b. Dunia dan isinya ini dilaknat oleh Allâh, kecuali yang dicintai oleh-Nya. Sehingga orang yang cinta dunia akan terus-menerus mendapatkan fitnah.
c. Orang yang cinta dunia akan menjadikan dunia itu sebagai tujuan, padahal dunia ini hanyalah wasilah (perantara) untuk menuju akhirat.[23]

Oleh karena itu, sebagai seorang Muslim, selama hidup di dunia harus selalu mengerjakan amal-amal kebaikan dan beribadah kepada Allâh Ta’ala dalam rangka mempersiapkan diri-diri kita di kehidupan akhirat yang kekal.

• FAEDAH-FAEDAH HADITS
Ada beberapa faedah yang dapat kita petik dari hadits yang mulia ini, di antaranya:
1. Dianjurkan untuk menuntut ilmu syar’i.
Menuntut ilmu syar’i hukumnya adalah wajib, berdasarkan sabda Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam , yang artinya, “Menuntut ilmu itu wajib atas setiap muslim.”[24]
2. Dianjurkan untuk mempelajari hadits-hadits Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam .
3. Dianjurkan untuk menyebarkan ilmu.
4. Hadits ini menunjukkan kemuliaan dan keutamaan ash-hâbul hadîts.
5. Dianjurkan untuk menulis dan menghafalkan hadits.
6. Balasan tergantung dari jenisnya amal.
7. Seorang rawi hadits hendaknya menyampaikan menurut apa yang ia dengar.
8. Keutamaan para Shahabat yang mulia Radhiyallahu anhum .
9. Do’a Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam buat orang yang mendengar Sunnah, yang menghafalnya, dan yang menyampaikannya.
10. Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam menamakan sabda-sabda beliau sebagai hadits.
11. Bahwa khabar ahad termasuk hujjah dan wajib diamalkan.
12. Bahwa asas dari setiap kebaikan, yaitu mendengarkan dengan baik.
13. Dianjurkan untuk memperhatikan hadits, baik secara riwayat[25] maupun secara dirayah[26] .
14. Dianjurkan untuk memahami (mendalami) agama dengan sungguh-sungguh.
15. Terkadang ada orang yang belakangan itu lebih faqih dari orang yang terdahulu, namun ini sedikit.
16. Adanya perbedaan manusia dalam memahami agama.
17. Hadits sebagai sumber untuk memahami fiqih.
18. Manusia terbagi menjadi hafizh dan faqih.
19. Diwajibkan untuk ikhlas dalam beramal.
20. Peringatan tentang bahaya syirik, riya’ dan sum’ah.
21. Dianjurkan untuk menasihati ulil amri (penguasa) dengan cara yang syar’i.
22. Diperintahkan untuk berpegang kepada jamâ’ah.
23. Dilarang memisahkan diri dari jamâ’ah kaum muslimin.
24. Dilarang berlaku khianat, dengki, dan iri.
25. Dianjurkan mendo’akan kaum Muslimin.
26. Seorang Muslim tidak boleh menjadikan dunia sebagai tujuannya.
27. Dianjurkan bagi seorang Muslim untuk men-jadikan akhirat sebagai tujuannya.
28. Ancaman bagi orang yang menjadikan dunia sebagai tujuan.
29. Iman kepada qadha’ dan qadar.
30. Di antara nikmat Allâh yang terbesar yaitu menuntut ilmu syar’i
31. Musibah yang paling besar bagi seseorang yaitu ketika dunia dijadikan tujuan dan kefakiran di pelupuk matanya.
32. Luasnya rahmat Allâh Azza wa Jalla bagi orang-orang yang menjadikan akhirat sebagai tujuan.
33. Rizki itu berada di tangan Allâh Subhanahu wa Ta’ala . Allah k memberikannya kepada yang Allâh kehendaki saja.
34. Di antara sebab terbesar meraih dunia adalah dengan menjadikan akhirat sebagai tujuan.[27]
Wallaahu a’lam.

[Disalin dari majalah As-Sunnah Edisi 01/Tahun XV/1432H/2011. Diterbitkan Yayasan Lajnah Istiqomah Surakarta, Jl. Solo – Purwodadi Km.8 Selokaton Gondangrejo Solo 57183 Telp. 0271-858197 Fax 0271-858196]
_______
Footnote
[1]. Lihat Faidhul Qadîr Syarh Jâmi’ish Shaghîr (VI/370).
[2]. Dalam riwayat-riwayat lain – karena riwayat hadits ini banyak– ada yang berbunyi : نَضَّرَهُ امْرَأً…atau نَضَّرَ اللهُ عَبْدًا…
[3]. Sebagaimana perkataan ar-Râmahurmuzi dalam kitabnya, al-Muhadditsul Fâshil bainar Râwi wal Wâ’ii. Dinukil dari Dirâsatul Hadîts “Nadharallaahumra-an”, karya Syaikh ‘Abdul Muhsin al-‘Abbad al-Badr hafizhahullah.
[4]. Hadits hasan: Diriwayatkan oleh Ibnu ‘Abdil Barr dalam Jâmi’ Bayânil ‘Ilmi wa Fadhlih (I/306, no. 395), dari Anas bin Malik Radhiyallahu anhu. Lihat takhrij lengkapnya dalam kitab Silsilah ash-Shahiihah (no. 2026).
[5]. Shahih: HR. al-Bukhâri (no. 67) dan Muslim (no. 1679 (30)), dari Abu Bakrah Radhiyallahu anhu
[6]. Miftâh Dâris Sa’âdah (I/275-276) karya Ibnul Qayyim rahimahullah . Lihat juga al-‘Ilmu Fadhluhu wa Syarafuhu min Durari Kalâmil Imam Ibnul Qayyim rahimahullah (hlm. 70-72) ta’liq Syaikh ‘Ali bin Hasan al-Halabi, dengan sedikit tambahan.
[7]. Sebagaimana firman Allâh Subhanahu wa Ta’ala dalam al-Hasyr/59: 10
[8]. HR. al-Bukhâri (no. 1) dan Muslim (no. 1907).
[9]. Fawâ’idul Fawâ’id libnil Qayyim (hlm. 421), diringkas oleh Syaikh ‘Ali Hasan al-Halabi.
[10]. HR. Muslim (no. 2985) dan Ibnu Majah (no. 4202), dari Abu Hurairah Radhiyallahu anhu.
[11]. HR. at-Tirmidzi (no. 2639), Ibnu Mâjah (no. 4300), Ahmad (II/213), dan al-Hâkim (I/6, 529). at-Tirmidzi berkata, “Hadits ini hasan gharib.” Dishahihkan oleh Syaikh al-Albani dalam Silsilah al-Ahâdîts ash-Shahîhah (no. 135).
[12]. Minhajus Sunnah an-Nabawiyyah (VI/218-220), Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah t, tahqiq DR. Muhammad Rasyad Salim.
[13]. HR. Muslim (no. 55 (95)), Abu Dâwud (no. 4944), an-Nasâ’i (VII/156-157), Ibnu Hibbân (Ta’lîqatul Hisân ‘ala Shahih Ibni Hibbân no. 4555), Ahmad (IV/102-103), al-Baihaqi (VIII/163), dan lafazh ini milik Ibnu Hibban dan Ahmad, dari Abu Ruqayyah Tamim bin ‘Aus ad-Dâri Radhiyallahu anhu .
[14]. HR. Ibnu Abi ‘Ashim dalam as-Sunnah (II/507-508, bab Kaifa Nashîhatur Ra’iyyah lil Wulât, no. 1096, 1097, 1098), Ahmad (III/403-404) dan al-Hakim (III/290) dari ‘Iyadh bin GhunmRadhiyallahu anhu.
[15]. Miftâh Dâris Sa’âdah (II/177-178), Imam Ibnul Qayyim, tahqiq Syaikh ‘Ali bin Hasan bin ‘Ali al-Halabi.
[16]. Shahih: HR. Abu Dâwud (no. 4597), Ahmad (IV/102), al-Hâkim (I/128), ad-Dârimi (II/241), al-Âjurri dalam as-Asyari’ah, al-Lalika-i dalam Syarh Ushûl I’tiqâd Ahlis Sunnah wal Jamâ’ah (I/113 no. 150). Lihat Silsilah al-Ahâdîts ash-Shahîhah (no. 203-204).
[17]. Hasan: HR. at-Tirmidzi, no. 2641 dan al-Hakim (I/129) dari ‘Abdullah bin ‘Amr Radhiyallahu anuhma. Lihat Dar-ul Irtiyâb ‘an Hadîts mâ Ana ‘alaihi wa Ash-hâbii oleh Syaikh Salim bin ‘Ied al-Hilali, cet. Darur Rayah, th. 1410 H.
[18]. Al-Bâ’its ‘alâ Inkâril Bida’ wal Hawâdits hlm. 91-92, tahqiq oleh Syaikh Masyhur bin Hasan Salman dan Syarah Ushûlil I’tiqâd karya al-Lalika-i (no. 160).
[19]. HR. al-Bukhâri (no. 2896).
[20]. HR. an-Nasâ’i (VI/45).
[21]. Shahih: HR. at-Tirmidzi, no. 635, Ahmad (I/425, 433), al-Hâkim (IV/603), dan Ibnu Hibbân (no. 4234-at-Ta’lîqâtul Hisân) dari Zainab, istri Ibnu Mas’ud Radhiyallahu anhuma .
[22]. Muttafaq ‘alaih: HR. al-Bukhari (no. 1413, dan lain-lain) dan Muslim (no. 1016 (68)) dari ‘Adi bin Hatim Radhiyallahu anhu .
[23]. Diringkas dari ‘Uddatush Shâbiirîn, oleh Imam Ibnul Qayyim. Lihat buku penulis, Manhâj Ahlus Sunnah wal Jamâ’ah dalam Tazkiyatun Nufûs (hlm. 109-113).
[24]. Shahih: HR. Ibnu Mâjah (no. 224), dari Anas bin Malik Radhiyallahu anhu . Lihat Shahiih al-Jaami’ish Shaghiir (no. 3913). Diriwayatkan pula oleh Imam-imam ahli hadits lainnya dari beberapa Shahabat seperti ‘Ali, Ibnu ‘Abbâs, Ibnu ‘Umar, Ibnu Mas’ud, Abu Sa’id al-Khudri, dan al-Husain bin ‘Ali Radhiyallahu anhum.
[25]. Ilmu yang mempelajari tentang apa yang berasal dari Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam , berupa ucapan, perbuatan, taqrir, dan sifat beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam .
[27]. Disebut juga ‘Ilmu Mushthalah Hadits, yaitu ilmu yang mempelajari sanad dan rawi-rawi hadits.
[27]. Diringkas dari Dirâsâtul Hadîts “Nadharallâhumra-an”, karya Syaikh ‘Abdul Muhsin al-‘Abbad al-Badr.