Saturday, January 5, 2019

Faedah Surat Qaaf, Setiap Yang Terucap Akan Masuk Catatan Amal

Hasil gambar untuk padang pasir
Segala puji bagi Allah, Rabb semesta alam. Shalawat dan salam kepada Nabi kita Muhammad, keluarga dan sahabatnya.

Sebuah ayat yang menarik sekali untuk dikaji yang berisi pelajaran agar kita pintar-pintar menjaga lisan. Ayat tersebut terdapat dalam surat Qaaf tepatnya ayat 18.

Allah Ta’ala berfirman,

ู…َุง ูŠَู„ْูِุธُ ู…ِู†ْ ู‚َูˆْู„ٍ ุฅِู„َّุง ู„َุฏَูŠْู‡ِ ุฑَู‚ِูŠุจٌ ุนَุชِูŠุฏٌ

“Tiada suatu ucapan pun yang diucapkannya melainkan ada di dekatnya Malaikat Pengawas yang selalu hadir” (QS. Qaaf: 18)

Ucapan yang dimaksudkan dalam ayat ini adalah yang diucapkan oleh manusia, keturunan Adam. Ucapan tersebut dicatat oleh malaikat yang sifatnya roqib dan ‘atid yaitu senantiasa dekat dan tidak pernah lepas dari seorang hamba. Malaikat tersebut tidak akan membiarkan satu kalimat dan satu gerakan melainkan ia akan mencatatnya. Hal ini sebagaimana firman Allah Ta’ala,

ูˆَุฅِู†َّ ุนَู„َูŠْูƒُู…ْ ู„َุญَุงูِุธِูŠู†َ (10) ูƒِุฑَุงู…ًุง ูƒَุงุชِุจِูŠู†َ (11) ูŠَุนْู„َู…ُูˆู†َ ู…َุง ุชَูْุนَู„ُูˆู†َ (12)

“Padahal sesungguhnya bagi kamu ada (malaikat-malaikat) yang mengawasi (pekerjaanmu), yang mulia (di sisi Allah) dan mencatat (pekerjaan-pekerjaanmu itu), mereka mengetahui apa yang kamu kerjakan.” (QS. Al Infithar: 10-12)

Apakah semua perkataan akan dicatat? Apakah hanya yang bernilai pahala dan dosa saja yang dicatat? Ataukah perkataan yang bernilai netral pun dicatat?

Tentang masalah ini para ulama ada dua pendapat. Ada ulama yang mengatakan bahwa yang dicatat hanyalah yang bernilai pahala dan dosa. Namun jika kita melihat dari tekstual ayat, yang dimaksud ucapan dalam ayat tersebut adalah ucapan apa saja, sampai-sampai ucapan yang mubah sekalipun. Akan tetapi, untuk masalah manakah yang kena hukuman, tentu saja amalan yang dinilai berpahala dan dinilai dosa.

Sebagian ulama yang berpendapat bahwa semua ucapan yang bernilai netral (tidak bernilai pahala atau dosa) akan masuk dalam lembaran catatan amalan, sampai-sampai punya sikap yang cukup hati-hati dengan lisannya. Cobalah kita saksikan bagaimana kisah dari Imam Ahmad ketika beliau merintih sakit.

Imam Ahmad pernah didatangi oleh seseorang dan beliau dalam keadaan sakit. Kemudian beliau merintih kala itu. Lalu ada yang berkata kepadanya (yaitu Thowus, seorang tabi’in yang terkenal), “Sesungguhnya rintihan sakit juga dicatat (oleh malaikat).” Setelah mendengar nasehat itu, Imam Ahmad langsung diam, dan beliau tidak merintih lagi. Beliau takut jika merintih sakit, rintihannya tersebut akan dicatat oleh malaikat.

Coba bayangkan bahwa perbuatan yang asalnya wajar-wajar saja ketika sakit, Imam Ahmad pun tidak ingin melakukannya karena beliau takut perbuatannya tadi walaupun dirasa ringan masuk dalam catatan malaikat. Oleh karena itu, beliau rahimahullah pun menahan lisannya. Barangkali saja rintihan tersebut dicatat dan malah dinilai sebagai dosa nantinya. Barangkali rintihan tersebut ada karena bentuk tidak sabar.

Mampukah kita selalu memperhatikan lisan?

Sungguh nasehat yang amat bagus dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam yang seharusnya kita bisa resapi dalam-dalam dan selalu mengingatnya.

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

ุฅِู†َّ ุงู„ْุนَุจْุฏَ ู„َูŠَุชَูƒَู„َّู…ُ ุจِุงู„ْูƒَู„ِู…َุฉِ ู…َุง ูŠَุชَุจَูŠَّู†ُ ู…َุง ูِูŠู‡َุง ูŠَู‡ْูˆِู‰ ุจِู‡َุง ูِู‰ ุงู„ู†َّุงุฑِ ุฃَุจْุนَุฏَ ู…َุง ุจَูŠْู†َ ุงู„ْู…َุดْุฑِู‚ِ ูˆَุงู„ْู…َุบْุฑِุจِ

“Sesungguhnya ada seorang hamba yang berbicara dengan suatu perkataan yang tidak dipikirkan bahayanya terlebih dahulu, sehingga membuatnya dilempar ke neraka dengan jarak yang lebih jauh dari pada jarak antara timur dan barat.” (HR. Muslim no. 2988)

Intinya, penting sekali memperhatikan lisan sebelum berucap. An Nawawi rahimahullah menyampaikan dalam kitabnya Riyadhush Sholihin nasehat yang amat bagus, “Ketahuilah bahwa sepatutnya setiap orang yang telah dibebani berbagai kewajiban untuk menahan lisannya dalam setiap ucapan kecuali ucapan yang jelas maslahatnya. Jika suatu ucapan sama saja antara maslahat dan bahayanya, maka menahan lisan untuk tidak berbicara ketika itu serasa lebih baik. Karena boleh saja perkataan yang asalnya mubah beralih menjadi haram atau makruh. Inilah yang seringkali terjadi dalam keseharian. Jalan selamat adalah kita menahan lisan dalam kondisi itu.”

Jika lisan ini benar-benar dijaga, maka anggota tubuh lainnya pun akan baik. Karena lisan adalah interpretasi dari apa yang ada dalam hati dan hati adalah tanda baik seluruh amalan lainnya. Dari Abu Sa’id Al Khudri, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

ุฅِุฐَุง ุฃَุตْุจَุญَ ุงุจْู†ُ ุขุฏَู…َ ูَุฅِู†َّ ุงู„ุฃَุนْุถَุงุกَ ูƒُู„َّู‡َุง ุชُูƒَูِّุฑُ ุงู„ู„ِّุณَุงู†َ ูَุชَู‚ُูˆู„ُ ุงุชَّู‚ِ ุงู„ู„َّู‡َ ูِูŠู†َุง ูَุฅِู†َّู…َุง ู†َุญْู†ُ ุจِูƒَ ูَุฅِู†ِ ุงุณْุชَู‚َู…ْุชَ ุงุณْุชَู‚َู…ْู†َุง ูˆَุฅِู†ِ ุงุนْูˆَุฌَุฌْุชَ ุงุนْูˆَุฌَุฌْู†َุง

“Bila manusia berada di waktu pagi, seluruh anggota badan akan patuh pada lisan. Lalu anggota badan tersebut berkata pada lisan: Takutlah pada Allah bersama kami, kami bergantung padamu. Bila engkau lurus kami pun akan lurus dan bila engkau bengkok (menyimpang) kami pun akan seperti itu.” (HR. Tirmidzi no. 2407. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini hasan). Hadits ini pertanda bahwa jika lisan itu baik, maka anggota tubuh lainnya pun akan ikut baik.

 

Semoga yang singkat ini dari kajian tafsir surat Qaaf bermanfaat. Ya Allah, tolonglah kami untuk selalu menjaga lisan kami ini agar tidak terjerumus dalam kesalahan.

Alhamdulillahilladzi bi ni’matihi tatimmush sholihaat.

 

Referensi:

Bahjatun Nazhirin Syarh Riyadhish Sholihin, Salim bin ‘Ied Al Hilali, Dar Ibnil Jauzi, cetakan pertama, 1430 H.

Liqo’ Al Bab Al Maftuh, Syaikh Muhammad bin Sholih Al Utsaimin, kaset no. 11

Shahih Tafsir Ibnu Katsir, Syaikh Musthofa Al ‘Adawi, Darul Fawaid dan Dar Ibni Rajab, 4/278.

 

Faedah Tafsir di Malam Kelima Ramadhan, 14 Agustus 2010 di Panggang-Gunung Kidul

Penulis: Muhammad Abduh Tuasikal

Artikel www.rumaysho.com

Baca Selengkapnya : https://rumaysho.com/1200-faedah-surat-qaaf-setiap-yang-terucap-akan-masuk-catatan-amal.html

SAKARATUL MAUT, DETIK-DETIK YANG MENEGANGKAN LAGI MENYAKITKAN[1]

Hasil gambar untuk padang pasir bromoOleh : Dr Muhammad bin Abdul Aziz bin Ahmad Al’Ali

Kematian akan menghadang setiap manusia. Proses tercabutnya nyawa manusia akan diawali dengan detik-detik menegangkan lagi menyakitkan. Peristiwa ini dikenal sebagai sakaratul maut.

Ibnu Abi Ad-Dunya rahimahullah meriwayatkan dari Syaddad bin Aus Radhiyallahu ‘anhu, ia berkata: “Kematian adalah kengerian yang paling dahsyat di dunia dan akhirat bagi orang yang beriman. Kematian lebih menyakitkan dari goresan gergaji, sayatan gunting, panasnya air mendidih di bejana. Seandainya ada mayat yang dibangkitkan dan menceritakan kepada penduduk dunia tentang sakitnya kematian, niscaya penghuni dunia tidak akan nyaman dengan hidupnya dan tidak nyenyak dalam tidurnya”[2].

Di antara dalil yang menegaskan terjadinya proses sakaratul maut yang mengiringi perpisahan jasad dengan ruhnya, firman Allah:

ูˆَุฌَุขุกَุชْ ุณَูƒْุฑَุฉُ ุงู„ْู…َูˆْุชِ ุจِุงู„ْุญَู‚ِّ ุฐَู„ِูƒَ ู…َุงูƒُู†ุชَ ู…ِู†ْู‡ُ ุชَุญِูŠุฏُ

“Dan datanglah sakaratul maut dengan sebenar-benarnya. Itulah yang kamu selalu lari darinya”. [Qaaf: 19]

Maksud sakaratul maut adalah kedahsyatan, tekanan, dan himpitan kekuatan kematian yang mengalahkan manusia dan menguasai akal sehatnya. Makna bil haq (perkara yang benar) adalah perkara akhirat, sehingga manusia sadar, yakin dan mengetahuinya. Ada yang berpendapat al haq adalah hakikat keimanan sehingga maknanya menjadi telah tiba sakaratul maut dengan kematian[3].

Juga ayat:

ูƒَู„ุข ุฅِุฐَุง ุจَู„َุบَุชِ ุงู„ุชَّุฑَุงู‚ِูŠَ {26} ูˆَู‚ِูŠู„َ ู…َู†ْ ุฑَุงู‚ٍ {27} ูˆَุธَู†َّ ุฃَู†َّู‡ُ ุงู„ْูِุฑَุงู‚ُ {28} ูˆَุงู„ْุชَูَّุชِ ุงู„ุณَّุงู‚ُ ุจِุงู„ุณَّุงู‚ِ {29} ุฅِู„َู‰ ุฑَุจِّูƒَ ูŠَูˆْู…َุฆِุฐٍ ุงู„ْู…َุณَุงู‚ُ

“Sekali-kali jangan. Apabila nafas (seseorang) telah (mendesak) sampai kerongkongan. Dan dikatakan (kepadanya): “Siapakah yang dapat menyembuhkan”. Dan dia yakin bahwa sesungguhnya itulah waktu perpisahan. Dan bertaut betis (kiri) dengan betis (kanan). Dan kepada Rabbmulah pada hari itu kamu dihalau”. [Al Qiyamah: 26-30]

Syaikh Sa’di menjelaskan: “Allah mengingatkan para hamba-Nya dengan keadan orang yang akan tercabut nyawanya, bahwa ketika ruh sampai pada taraqi yaitu tulang-tulang yang meliputi ujung leher (kerongkongan), maka pada saat itulah penderitaan mulai berat, (ia) mencari segala sarana yang dianggap menyebabkan kesembuhan atau kenyamanan. Karena itu Allah berfiman: “Dan dikatakan (kepadanya): “Siapakah yang akan menyembuhkan?” artinya siapa yang akan meruqyahnya dari kata ruqyah. Pasalnya, mereka telah kehilangan segala terapi umum yang mereka pikirkan, sehingga mereka bergantung sekali pada terapi ilahi. Namun qadha dan qadar jika datang dan tiba, maka tidak dapat ditolak. Dan dia yakin bahwa sesungguhnya itulah waktu perpisahan dengan dunia. Dan bertaut betis (kiri) dengan betis (kanan), maksudnya kesengsaraan jadi satu dan berkumpul. Urusan menjadi berbahaya, penderitaan semakin sulit, nyawa diharapkan keluar dari badan yang telah ia huni dan masih bersamanya. Maka dihalau menuju Allah Ta’ala untuk dibalasi amalannya, dan mengakui perbuatannya. Peringatan yang Allah sebutkan ini akan dapat mendorong hati-hati untuk bergegas menuju keselamatannya, dan menahannya dari perkara yang menjadi kebinasaannya. Tetapi, orang yang menantang, orang yang tidak mendapat manfaat dari ayat-ayat, senantiasa berbuat sesat dan kekufuran dan penentangan”.[4]

Sedangkan beberapa hadits Nabi yang menguatkan fenomena sakaratul maut:
Imam Bukhari meriwayatkan dari ‘Aisyah Radhiyallahu ‘anhuma, ia bercerita (menjelang ajal menjemput Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam)

ุฅِู†َّ ุฑَุณُูˆู„َ ุงู„ู„َّู‡ِ ุตَู„َّู‰ ุงู„ู„َّู‡ُ ุนَู„َูŠْู‡ِ ูˆَุณَู„َّู…َ ูƒَุงู†َ ุจَูŠْู†َ ูŠَุฏَูŠْู‡ِ ุฑَูƒْูˆَุฉٌ ุฃَูˆْ ุนُู„ْุจَุฉٌ ูِูŠู‡َุง ู…َุงุกٌ ูَุฌَุนَู„َ ูŠُุฏْุฎِู„ُ ูŠَุฏَูŠْู‡ِ ูِูŠ ุงู„ْู…َุงุกِ ูَูŠَู…ْุณَุญُ ุจِู‡ِู…َุง ูˆَุฌْู‡َู‡ُ ูˆَูŠَู‚ُูˆู„ُ ู„َุง ุฅِู„َู‡َ ุฅِู„َّุง ุงู„ู„َّู‡ُ ุฅِู†َّ ู„ِู„ْู…َูˆْุชِ ุณَูƒَุฑَุงุชٍ ุซُู…َّ ู†َุตَุจَ ูŠَุฏَู‡ُ ูَุฌَุนَู„َ ูŠَู‚ُูˆู„ُ ูِูŠ ุฃุฎุฑุฌู‡ ุงู„ุจุฎุงุฑูŠ ูƒ ุงู„ุฑู‚ุงู‚ ุจุงุจ ุณูƒุฑุงุช ุงู„ู…ูˆุช ูˆ ููŠ ุงู„ู…ุบุงุฒูŠ ุจุงุจ ู…ุฑุถ ุงู„ู†ุจูŠ ูˆูˆูุงุชู‡. ุงู„ุฑَّูِูŠู‚ِ ุงู„ْุฃَุนْู„َู‰ ุญَุชَّู‰ ู‚ُุจِุถَ ูˆَู…َุงู„َุชْ

“Bahwa di hadapan Rasulullah ada satu bejana kecil dari kulit yang berisi air. Beliau memasukkan tangan ke dalamnya dan membasuh muka dengannya seraya berkata: “Laa Ilaaha Illa Allah. Sesungguhnya kematian memiliki sakaratul maut”. Dan beliau menegakkan tangannya dan berkata: “Menuju Rafiqil A’la”. Sampai akhirnya nyawa beliau tercabut dan tangannya melemas”[5]

Dari Anas Radhiyallahu anhu, berkata:

ุนَู†ْ ุฃَู†َุณٍ ู‚َุงู„َ ู„َู…َّุง ุซَู‚ُู„َ ุงู„ู†َّุจِูŠُّ ุตَู„َّู‰ ุงู„ู„َّู‡ُ ุนَู„َูŠْู‡ِ ูˆَุณَู„َّู…َ ุฌَุนَู„َ ูŠَุชَุบَุดَّุงู‡ُ ูَู‚َุงู„َุชْ ูَุงุทِู…َุฉُ ุนَู„َูŠْู‡َุง ุงู„ุณَّู„َุงู… ูˆَุง ุฃุฎุฑุฌู‡ ุงู„ุจุฎุงุฑูŠ ููŠ ุงู„ู…ุบุงุฒูŠ ุจุงุจ ู…ุฑุถ ุงู„ู†ุจูŠ ูˆูˆูุงุชู‡.ุงู„ูŠَูˆْู…ِ َุฑْุจَ ุฃَุจَุงู‡ُ ูَู‚َุงู„َ ู„َู‡َุง ู„َูŠْุณَ ุนَู„َู‰ ุฃَุจِูŠูƒِ ูƒَุฑْุจٌ ุจَุนْุฏَ

“Tatkala kondisi Nabi makin memburuk, Fathimah berkata: “Alangkah berat penderitaanmu ayahku”. Beliau menjawab: “Tidak ada penderitaan atas ayahmu setelah hari ini…[al hadits]” [6]

Dalam riwayat Tirmidzi dengan, ‘Aisyah menceritakan:

ุนَู†ْ ุนَุงุฆِุดَุฉَ ู‚َุงู„َุชْ ู…َุง ุฃَุบْุจِุทُ ุฃَุญَุฏًุง ุจِู‡َูˆْู†ِ ู…َูˆْุชٍ ุจَุนْุฏَ ุงู„َّุฐِูŠ ุฑَุฃَูŠْุชُ ู…ِู†ْ ุดِุฏَّุฉِ ู…َูˆْุชِ ุฑَุณُูˆู„ِ ุงู„ู„َّู‡ِ ุตَู„َّู‰ ุงู„ู„َّู‡ُ ุนَู„َูŠْู‡ِ ูˆَุณَู„َّู…َ ุฃุฎุฑุฌู‡ ุงู„ุชุฑู…ุฐูŠ ูƒ ุงู„ุฌู†ุงุฆุฒ ุจุงุจ ู…ุง ุฌุงุก ููŠ ุงู„ุชุดุฏูŠุฏ ุนู†ุฏ ุงู„ู…ูˆุช ูˆุตุญุญู‡ ุงู„ุฃู„ุจุงู†ูŠ

“Aku tidak iri kepada siapapun atas kemudahan kematian(nya), sesudah aku melihat kepedihan kematian pada Rasulullah”.[7]

Dan penderitaan yang terjadi selama pencabutan nyawa akan dialami setiap makhluk. Dalil penguatnya, keumuman firman Allah: “Setiap jiwa akan merasakan mati”. (Ali ‘Imran: 185). Dan sabda Nabi: “Sesungguhnya kematian ada kepedihannya”. Namun tingkat kepedihan setiap orang berbeda-beda. [8]

KABAR GEMBIRA UNTUK ORANG-ORANG YANG BERIMAN.
Orang yang beriman, ruhnya akan lepas dengan mudah dan ringan. Malaikat yang mendatangi orang yang beriman untuk mengambil nyawanya dengan kesan yang baik lagi menggembirakan. Dalilnya, hadits Al Bara` bin ‘Azib Radhiyallahu ‘anhu bahwa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata tentang proses kematian seorang mukmin:

ุฅِู†َّ ุงู„ْุนَุจْุฏَ ุงู„ْู…ُุคْู…ِู†َ ุฅِุฐَุง ูƒَุงู†َ ูِูŠ ุงู†ْู‚ِุทَุงุนٍ ู…ِู†ْ ุงู„ุฏُّู†ْูŠَุง ูˆَุฅِู‚ْุจَุงู„ٍ ู…ِู†ْ ุงู„ْุขุฎِุฑَุฉِ ู†َุฒَู„َ ุฅِู„َูŠْู‡ِ ู…َู„َุงุฆِูƒَุฉٌ ู…ِู†ْ ุงู„ุณَّู…َุงุกِ ุจِูŠุถُ ุงู„ْูˆُุฌُูˆู‡ِ ูƒَุฃَู†َّ ูˆُุฌُูˆู‡َู‡ُู…ْ ุงู„ุดَّู…ْุณُ ู…َุนَู‡ُู…ْ ูƒَูَู†ٌ ู…ِู†ْ ุฃَูƒْูَุงู†ِ ุงู„ْุฌَู†َّุฉِ ูˆَุญَู†ُูˆุทٌ ู…ِู†ْ ุญَู†ُูˆุทِ ุงู„ْุฌَู†َّุฉِ ุญَุชَّู‰ ูŠَุฌْู„ِุณُูˆุง ู…ِู†ْู‡ُ ู…َุฏَّ ุงู„ْุจَุตَุฑِ ุซُู…َّ ูŠَุฌِูŠุกُ ู…َู„َูƒُ ุงู„ْู…َูˆْุชِ ุนَู„َูŠْู‡ِ ุงู„ุณَّู„َุงู… ุญَุชَّู‰ ูŠَุฌْู„ِุณَ ุนِู†ْุฏَ ุฑَุฃْุณِู‡ِ ูَูŠَู‚ُูˆู„ُ ุฃَูŠَّุชُู‡َุง ุงู„ู†َّูْุณُ ุงู„ุทَّูŠِّุจَุฉُ ุงุฎْุฑُุฌِูŠ ุฅِู„َู‰ ู…َุบْูِุฑَุฉٍ ู…ِู†ْ ุงู„ู„َّู‡ِ ูˆَุฑِุถْูˆَุงู†ٍ ู‚َุงู„َ ูَุชَุฎْุฑُุฌُ ุชَุณِูŠู„ُ ูƒَู…َุง ุชَุณِูŠู„ُ ุงู„ْู‚َุทْุฑَุฉُ ู…ِู†ْ ูِูŠ ุงู„ุณِّู‚َุงุกِ ูَูŠَุฃْุฎُุฐُู‡َุง ูَุฅِุฐَุง ุฃَุฎَุฐَู‡َุง ู„َู…ْ ูŠَุฏَุนُูˆู‡َุง ูِูŠ ูŠَุฏِู‡ِ ุทَุฑْูَุฉَ ุนَูŠْู†ٍ ุญَุชَّู‰ ูŠَุฃْุฎُุฐُูˆู‡َุง ูَูŠَุฌْุนَู„ُูˆู‡َุง ูِูŠ ุฐَู„ِูƒَ ุงู„ْูƒَูَู†ِ ูˆَูِูŠ ุฐَู„ِูƒَ ุงู„ْุญَู†ُูˆุทِ ูˆَูŠَุฎْุฑُุฌُ ู…ِู†ْู‡َุง ูƒَุฃَุทْูŠَุจِ ู†َูْุญَุฉِ ู…ِุณْูƒٍ ูˆُุฌِุฏَุชْ ุนَู„َู‰ ูˆَุฌْู‡ِ ุงู„ْุฃَุฑْุถِ

“Seorang hamba mukmin, jika telah berpisah dengan dunia, menyongsong akhirat, maka malaikat akan mendatanginya dari langit, dengan wajah yang putih. Rona muka mereka layaknya sinar matahari. Mereka membawa kafan dari syurga, serta hanuth (wewangian) dari syurga. Mereka duduk di sampingnya sejauh mata memandang. Berikutnya, malaikat maut hadir dan duduk di dekat kepalanya sembari berkata: “Wahai jiwa yang baik –dalam riwayat- jiwa yang tenang keluarlah menuju ampunan Allah dan keridhaannya”. Ruhnya keluar bagaikan aliran cucuran air dari mulut kantong kulit. Setelah keluar ruhnya, maka setiap malaikat maut mengambilnya. Jika telah diambil, para malaikat lainnya tidak membiarkannya di tangannya (malaikat maut) sejenak saja, untuk mereka ambil dan diletakkan di kafan dan hanuth tadi. Dari jenazah, semerbak aroma misk terwangi yang ada di bumi..”[al hadits].[9]

Malaikat memberi kabar gembira kepada insan mukmin dengan ampunan dengan ridla Allah untuknya. Secara tegas dalam kitab-Nya, Allah menyatakan bahwa para malaikat menghampiri orang-orang yang beriman, dengan mengatakan janganlah takut dan sedih serta membawa berita gembira tentang syurga. Allah berfirman:

ุฅِู†َّ ุงู„َّุฐِูŠู†َ ู‚َุงู„ُูˆุง ุฑَุจُّู†َุง ุงู„ู„ู‡ُ ุซُู…َّ ุงุณْุชَู‚َุงู…ُูˆุง ุชَุชَู†َุฒَّู„ُ ุนَู„َูŠْู‡ِู…ُ ุงู„ْู…َู„ุงَุฆِูƒَุฉُ ุฃَู„ุขุชَุฎَุงูُูˆุง ูˆَู„ุงَุชَุญْุฒَู†ُูˆุง ูˆَุฃَุจْุดِุฑُูˆุง ุจِุงู„ْุฌَู†َّุฉِ ุงู„َّุชِูŠ ูƒُู†ุชُู…ْ ุชُูˆุนَุฏُูˆู†َ {30} ู†َุญْู†ُ ุฃَูˆْู„ِูŠَุงุคُูƒُู…ْ ูِูŠ ุงู„ْุญَูŠَุงุฉِ ุงู„ุฏُّู†ْูŠَุง ูˆَูِูŠ ุงْู„ุฃَุฎِุฑَุฉِ ูˆَู„َูƒُู…ْ ูِูŠู‡َุง ู…َุงุชَุดْุชَู‡ِูŠ ุฃَู†ูُุณُูƒُู…ْ ูˆَู„َูƒُู…ْ ูِูŠู‡َุง ู…َุงุชَุฏَّุนُูˆู†َ

“Sesungguhnya orang-orang yang berkata: “Rabb kami adalah Allah kemudian mereka beristiqomah, maka para malaikat turun kepada mereka (sembari berkata):” Janganlah kamu bersedih dan bergembiralah kamu dengan (memperoleh) syurga yang telah dijanjikan Allah kepadamu. Kamilah pelindung-pelindungmu di dunia dan akhirat di dalamnya kamu memperoleh apa yang kamu inginkan dan memperoleh (pula) di dalamnya apa yang kamu minta. Sebagai hidangan (bagimu) dari Rabb Yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang”. [Fushshilat: 30]

Ibnu Katsir mengatakan: “Sesungguhnya orang-orang yang ikhlas dalam amalannya untuk Allah semata dan mengamalkan ketaatan-Nya berdasarkan syariat Allah niscaya para malaikat akan menghampiri mereka tatkala kematian menyongsong mereka dengan berkata “janganlah kalian takut atas amalan yang kalian persembahkan untuk akhirat dan jangan bersedih atas perkara dunia yang akan kalian tinggalkan, baik itu anak, istri, harta atau agama sebab kami akan mewakili kalian dalam perkara itu. Mereka (para malaikat) memberi kabar gembira berupa sirnanya kejelekan dan turunnya kebaikan”.

Kemudian Ibnu Katsir menukil perkataan Zaid bin Aslam: “Kabar gembira akan terjadi pada saat kematian, di alam kubur, dan pada hari Kebangkitan”. Dan mengomentarinya dengan: “Tafsiran ini menghimpun seluruh tafsiran, sebuah tafsiran yang bagus sekali dan memang demikian kenyataannya”.

Firman-Nya: “Kamilah pelindung-pelindungmu di dunia dan akhirat maksudnya para malaikat berkata kepada orang-orang beriman ketika akan tercabut nyawanya, kami adalah kawan-kawan kalian di dunia, dengan meluruskan, memberi kemudahan dan menjaga kalian atas perintah Allah, demikian juga kami bersama kalian di akhirat, dengan menenangkan keterasinganmu di alam kubur, di tiupan sangkakala dan kami akan mengamankan kalian pada hari Kebangkitan, Penghimpunan, kami akan membalasi kalian dengan shirathal mustaqim dan mengantarkan kalian menuju kenikmatan syurga”.[10]

Dalam ayat lain, Allah mengabarkan kondisi kematian orang mukmin dalam keadaan baik dengan firman-Nya:

ุงู„َّุฐِูŠู†َ ุชَุชَูˆَูَّุงู‡ُู…ُ ุงู„ْู…َู„ุงَุฆِูƒَุฉُ ุทَูŠِّุจِูŠู†َ ูŠَู‚ُูˆู„ُูˆู†َ ุณَู„ุงَู…ٌ ุนَู„َูŠْูƒُู…ُ ุงุฏْุฎُู„ُูˆุง ุงู„ْุฌَู†َّุฉَ ุจِู…َุง ูƒُู†ุชُู…ْ ุชَุนْู…َู„ُูˆู†َ

“(Yaitu) orang-orang yang diwafatkan dalam keadaan baik oleh para malaikat dengan mengatakan (kepada mereka): “Salamun ‘alaikum (keselamatan sejahtera bagimu)”, masuklah ke dalam syurga itu disebabkan apa yang telah kamu kerjakan”. [An Nahl: 32]
.
Syaikh Asy Syinqithi mengatakan: “Dalam ayat ini, Allah menyebutkan bahwa orang yang bertakwa, yang melaksanakan perintah Rabb mereka dan menjauhi larangan-Nya akan diwafatkan para malaikat yaitu dengan mencabut nyawa-nyawa mereka dalam keadaan thayyibin (baik), yakni bersih dari syirik dan maksiat, (ini) menurut tafsiran yang paling shahih, (juga) memberi kabar gembira berupa syurga dan menyambangi mereka mereka dengan salam…[11]

MENGAPA RASULULLAH SHALLALLAHU ‘ALAIHI WA SALLAM MENDERITA SAAT SAKARATUL MAUT?
Kondisi umum proses pencabutan nyawa seorang mukmin mudah lagi ringan. Namun kadang-kadang derita sakarul maut juga mendera sebagian orang sholeh. Tujuannya untuk menghapus dosa-dosa dan juga mengangkat kedudukannya. Sebagaimana yang dialami Rasulullah. Beliau Shallallallahu ‘alaihi wa sallam merasakan pedihnya sakaratul maut seperti diungkapkan Bukhari dalam hadits ‘Aisyah di atas.

Ibnu Hajar mengatakan: “Dalam hadits tersebut, kesengsaran (dalam) sakaratul maut bukan petunjuk atas kehinaan martabat (seseorang). Dalam konteks orang yang beriman bisa untuk menambah kebaikannya atau menghapus kesalahan-kesalahannya”[12]

Menurut Al Qurthubi dahsyatnya kematian dan sakaratul maut yang menimpa para nabi, maka mengandung manfaat :

Pertama : Supaya orang-orang mengetahui kadar sakitnya kematian dan ia (sakaratul maut) tidak kasat mata. Kadang ada seseorang melihat orang lain yang akan meninggal. Tidak ada gerakan atau keguncangan. Terlihat ruh keluar dengan mudah. Sehingga ia berfikir, perkara ini (sakaratul maut) ringan. Ia tidak mengetahui apa yang terjadi pada mayat (sebenarnya). Tatkala para nabi, mengabarkan tentang dahsyatnya penderitaan dalam kematian, kendati mereka mulia di sisi Allah, dan kemudahannya untuk sebagian mereka, maka orang akan yakin dengan kepedihan kematian yang akan ia rasakan dan dihadapi mayit secara mutlak, berdasarkan kabar dari para nabi yang jujur kecuali orang yang mati syahid.

Kedua : Mungkin akan terbetik di benak sebagian orang, mereka adalah para kekasih Allah dan para nabi dan rasul-Nya, mengapa mengalami kesengsaraan yang berat ini?. Padahal Allah mampu meringankannya bagi mereka?. Jawabnya, bahwa orang yang paling berat ujiannya di dunia adalah para nabi kemudian orang yang menyerupai mereka dan orang yang semakin mirip dengan mereka seperti dikatakan Nabi kita. Hadits ini dikeluarkan Bukhari dan lainnya. Allah ingin menguji mereka untuk melengkapi keutamaan dan peningkatan derajat mereka di sisi-Nya. Ini bukan sebuah aib bagi mereka juga bukan bentuk siksaan. Allah menginginkan menutup hidup mereka dengan penderitaan ini meski mampu meringankan dan mengurangi (kadar penderitaan) mereka dengan tujuan mengangkat kedudukan mereka dan memperbesar pahala-pahala mereka sebelum meninggal. Tapi bukan berarti Allah mempersulit proses kematian mereka melebihi kepedihan orang-orang yang bermaksiat. Sebab (kepedihan) ini adalah hukuman bagi mereka dan sanksi untuk kejahatan mereka. Maka tidak bisa disamakan”.[13]

KABAR BURUK DARI PARA MALAIKAT KEPADA ORANG-ORANG KAFIR.
Sedangkan orang kafir, maka ruhnya akan keluar dengan susah payah, ia tersiksa dengannya. Nabi menceritakan kondisi sakaratul maut orang kafir atau orang yang jahat dengan sabdanya:

“Sesungguhnya hamba yang kafir -dalam riwayat lain- yang jahat jika akan telah berpisah dengan dunia, menyongsong akhirat, maka malaikat-malaikat yang kasar akan dari langit dengan wajah yang buruk dengan membawa dari neraka. Mereka duduk sepanjang mata memandang. Kemudian malaikat maut hadir dan duduk di atas kepalanya dan berkata: “Wahai jiwa yang keji keluarlah engkau menuju kemurkaan Allah dan kemarahan-Nya”. Maka ia mencabut (ruhnya) layaknya mencabut saffud (penggerek yang) banyak mata besinya dari bulu wol yang basah. [14]

Secara ekspilisit, Al Quran telah menjelaskan bahwa para malaikat akan memberi kabar buruk kepada orang kafir dengan siksa. Allah berfirman: ”

ูˆَู„َูˆْ ุชَุฑَู‰ٰ ุฅِุฐِ ุงู„ุธَّุงู„ِู…ُูˆู†َ ูِูŠ ุบَู…َุฑَุงุชِ ุงู„ْู…َูˆْุชِ ูˆَุงู„ْู…َู„َุงุฆِูƒَุฉُ ุจَุงุณِุทُูˆ ุฃَูŠْุฏِูŠู‡ِู…ْ ุฃَุฎْุฑِุฌُูˆุง ุฃَู†ْูُุณَูƒُู…ُ ۖ ุงู„ْูŠَูˆْู…َ ุชُุฌْุฒَูˆْู†َ ุนَุฐَุงุจَ ุงู„ْู‡ُูˆู†ِ ุจِู…َุง ูƒُู†ْุชُู…ْ ุชَู‚ُูˆู„ُูˆู†َ ุนَู„َู‰ ุงู„ู„َّู‡ِ ุบَูŠْุฑَ ุงู„ْุญَู‚ِّ ูˆَูƒُู†ْุชُู…ْ ุนَู†ْ ุขูŠَุงุชِู‡ِ ุชَุณْุชَูƒْุจِุฑُูˆู†َ

“Alangkah dahsyatnya sekiranya kamu melihat di waktu orang-orang yang zhalim (berada) dalam tekanan-tekanan sakaratul maut, sedang para malaikat mumukul dengan tangannya, (Sambil berkata): “Keluarkan nyawamu”. Di hari ini kamu dibalas dengan siksaan yang sangat menghinakan, karena kamu selalu mengatakan terhadap Allah (perkataan) yang tidak benar dan (karena) kamu selalu menyombongkan diri terhadap ayat-ayatnya”. [Al An’am: 93]

Maksudnya, para malaikat membentangkan tangan-tangannya untuk memukuli dan menyiksa sampai nyawa mereka keluar dari badan. Karena itu, para malaikat mengatakan: “Keluarkan nyawamu”. Pasalnya, orang kafir yang sudah datang ajalnya, malaikat akan memberi kabar buruk kepadanya yang berbentuk azab, siksa, belenggu, dan rantai, neraka jahim, air mendidih dan kemurkaan Ar Rahman (Allah). Maka nyawanya bercerai-berai dalam jasadnya, tidak mau taat dan enggan untuk keluar.

Para malaikat memukulimya supaya nyawanya keluar dari tubuhnya. Seketika itu, malaikat mengatakan: “Di hari ini kamu dibalas dengan siksaan yang sangat menghinakan, karena kamu selalu mengatakan terhadap Allah (perkataan) yang tidak benar dan (karena) kamu selalu menyombongkan diri terhadap ayat-ayatnya”.. artinya pada hari ini, kalian akan dihinakan dengan penghinaan yang tidak terukur karena mendustakan Allah dan (lantaran) kecongkakan kalian dalam mengikuti ayat-ayat-Nya dan tunduk kepaada para rasul-Nya.

Saat detik-detik kematian datang, orang kafir mintai dikembalikan agar bisa masuk Islam. Sedangkan orang yang jahat mohon dikembalikan ke dunia untuk bertaubat, dan beramal sholeh. Namun sudah tentu, permintaan mereka tidak akan terkabulkan. Allah berfirman:

ุญَุชَّู‰ ุฅِุฐَุง ุฌَุขุกَ ุฃَุญَุฏَู‡ُู…ُ ุงู„ْู…َูˆْุชَ ู‚َุงู„َ ุฑَุจِّ ุงุฑْุฌِุนُูˆู†ِ {99} ู„َุนَู„ِّูŠ ุฃَุนْู…َู„ُ ุตَุงู„ِุญًุง ูِูŠู…َุง ุชَุฑَูƒْุชُ ูƒَู„ุข ุฅِู†َّู‡َุง ูƒَู„ِู…َุฉٌ ู‡ُูˆَ ู‚َุขุฆِู„ُู‡َุง ูˆَู…ِู† ูˆَุฑَุขุฆِู‡ِู… ุจَุฑْุฒَุฎٌ ุฅِู„َู‰ ูŠَูˆْู…ِ ูŠُุจْุนَุซُูˆู†َ

“(Demikianlah keadaan orang-orang kafir), hingga apabila datang kematian kepada seseorang dari mereka, dia berkata: “Ya Rabbi kembalikan aku ke dunia. Agar aku berbuat amal sholeh terhadap yang telah aku tinggalkan. Sekali-kali tidak. Sesungguhnya itu adalah perkataan yang diucapkannya saja. Dan di hadapan mereka ada dinding sampai hari mereka dibangkitkan”. [Al Mukminun: 99-100]

Setiap orang yang teledor di dunia ini, baik dengan kekufuran maupun perbuatan maksiat lainnya akan dilanda gulungan penyesalan, dan akan meminta dikembalikan ke dunia meski sejenak saja, untuk menjadi orang yang insan muslim yang sholeh. Namun kesempatan untuk itu sudah hilang, tidak mungkin disusul lagi. Jadi, persiapan harus dilakukan sejak dini dengan tetap memohon agar kita semua diwafatkan dalam keadaan memegang agama Allah. Wallahu a’lamu bishshawab. Washallallahu ‘ala Muhamaad wa ‘ala alihi ajmain.

[Disalin dari majalah As-Sunnah Edisi 12/Tahun VIII/1426H/2005. Diterbitkan Yayasan Lajnah Istiqomah Surakarta, Jl. Solo – Purwodadi Km.8 Selokaton Gondangrejo Solo 57183 Telp. 0271-761016]
_______
Footnote
[1]. Diadaptasi oleh M. Ashim dari kitab Ahwalu Al Muhtazhir (Dirasah Naqdiyyah) karya Dr. Muhammad bin ‘Abdul ‘Aziz bin Ahmad Al ‘Ali, dosen fakultas Ushuluddin di Riyadh. Majalah Jam’iah Islamiyah edisi 124 tahun XXXVI -1424 H.
[2]. Al Maut hlm. 69
[3]. Lihat Jami’u Al Bayan Fii Tafsiri Al Quran (26/100-101) dan Fathul Qadir (5/75).
[4]. Taisir Al Karimi Ar Rahman Fi Tafsiri Kalami Al Mannan hlm. 833.
[5]. HR. Bukhari kitab Riqaq bab sakaratul maut (6510) dan kitab Maghazi bab sakit dan wafatnya Nabi (4446).
[6]. HR. Bukhari kitab Maghazi bab sakit dan wafatnya Nabi (4446).
[7]. HR. Tirmidzi kitab Janaiz bab penderitaan dalam kematian (979). Lihat Shahih Sunan Tirmidzi (1/502 no: 979).
[8]. At Tadzkirah Fi Ahwali Al Mauta Wa umuri Al Akhirah (1/50-51).
[9]. HR. Ahmad (4/2876, 295, 296) dan Abu Dawud kitab Sunnah bab pertanyaan di alam kubur dan siksanya (4753).
[10]. Tafsiru Al Quranil ‘Azhim (4/100-101).
[11]. Adhwaul Bayan (3/266).
[12]. Fathul Bari Syarhu Shahihil Bukhari (11/363).
[13]. At Tadzkirah Fi Ahwali Al Mauta Wa umuri Al Akhirah (1/48-50) dengan diringkas
[14]. HR. HR. Ahmad (4/2876, 295, 296) dan Abu Dawud kitab Sunnah bab pertanyaan di alam kubur dan siksanya (4753).

Read more https://almanhaj.or.id/2570-sakaratul-maut-detik-detik-yang-menegangkan-dan-menyakitkan.html

Friday, January 4, 2019

PELAJARAN PENTING UCAPAN “INSYA ALLAH” DARI KISAH TIGA NABI

Hasil gambar untuk insya allahDi Tulis Oleh Al Ustadz Abu Utsman Kharisman

Ucapan Insya Allah arti secara bahasa adalah: “jika Allah menghendaki”.

Seorang muslim mengucapkan ucapan ini ketika berjanji atau berencana mengerjakan suatu hal di waktu yang akan datang. Ia mengucapkan InsyaAllah karena ia tidak tahu apakah hal yang akan dikerjakannya itu akan benar-benar terjadi atau tidak. Karena semua hal terjadi atau tidak terjadi adalah atas kehendak Allah, berdasarkan taqdir Allah. Ucapan InsyaAllah juga mengandung doa isti’anah (minta pertolongan) kepada Allah agar dimudahkan mengerjakan suatu hal itu.

Ada beberapa contoh kejadian yang pernah dialami oleh para Nabi, ketika mereka tidak mengucapkan InsyaAllah dalam mengucapkan sesuatu yang akan terjadi atau menjanjikan sesuatu, Allah tegur mereka. Sebaliknya, saat mereka mengucapkan InsyaAllah, Allah beri mereka kemudahan dan hasil akhir yang baik.
Dan adapula kejadian saat seorang Nabi mengucapkan InsyaAllah, namun dengan takdir Allah sesuatu itu tidak terjadi.

Contoh pertama: kejadian yang dialami Nabi Sulaiman alaihissalaam.
Nabi Sulaiman pernah bersumpah, bahwa dalam satu malam beliau akan menggilir (untuk berhubungan badan) dengan sekian puluh istrinya (sebagian riwayat menyatakan 100 atau 99, sebagian lagi 90, sebagian lagi menyatakan 70, sebagian lagi menyatakan 60), dan hasilnya semua istri itu akan melahirkan anak-anak tangguh menjadi pasukan yang akan berjihad di jalan Allah. Satu Malaikat mengingatkan agar beliau mengucapkan InsyaAllah. Namun, qoddarallah Nabi Sulaiman tidak mengucapkannya. Hingga akhirnya ketika Nabi Sulaiman melakukan hal itu ternyata yang hamil hanya satu istri dan itupun melahirkan setengah manusia. Hal ini disebutkan dalam riwayat al-Bukhari dan Muslim.

ู‚َุงู„َ ุณُู„َูŠْู…َุงู†ُ ุจْู†ُ ุฏَุงูˆُุฏَ ุนَู„َูŠْู‡ِู…َุง ุงู„ุณَّู„َุงู… ู„َุฃَุทُูˆูَู†َّ ุงู„ู„َّูŠْู„َุฉَ ุจِู…ِุงุฆَุฉِ ุงู…ْุฑَุฃَุฉٍ ุชَู„ِุฏُ ูƒُู„ُّ ุงู…ْุฑَุฃَุฉٍ ุบُู„َุงู…ًุง ูŠُู‚َุงุชِู„ُ ูِูŠ ุณَุจِูŠู„ِ ุงู„ู„َّู‡ِ ูَู‚َุงู„َ ู„َู‡ُ ุงู„ْู…َู„َูƒُ ู‚ُู„ْ ุฅِู†ْ ุดَุงุกَ ุงู„ู„َّู‡ُ ูَู„َู…ْ ูŠَู‚ُู„ْ ูˆَู†َุณِูŠَ ูَุฃَุทَุงูَ ุจِู‡ِู†َّ ูˆَู„َู…ْ ุชَู„ِุฏْ ู…ِู†ْู‡ُู†َّ ุฅِู„َّุง ุงู…ْุฑَุฃَุฉٌ ู†ِุตْูَ ุฅِู†ْุณَุงู†ٍ ู‚َุงู„َ ุงู„ู†َّุจِูŠُّ ุตَู„َّู‰ ุงู„ู„َّู‡ُ ุนَู„َูŠْู‡ِ ูˆَุณَู„َّู…َ ู„َูˆْ ู‚َุงู„َ ุฅِู†ْ ุดَุงุกَ ุงู„ู„َّู‡ُ ู„َู…ْ ูŠَุญْู†َุซْ ูˆَูƒَุงู†َ ุฃَุฑْุฌَู‰ ู„ِุญَุงุฌَุชِู‡ِ

Sulaiman bin Dawud alaihimassalaam berkata: Sungguh aku akan berkeliling (menggilir) 100 istriku malam ini, sehingga tiap wanita akan melahirkan anak yang akan berjihad di jalan Allah. Kemudian satu Malaikat mengucapkan kepada beliau: Ucapkan Insya Allah. Tapi Nabi Sulaiman tidak mengucapkan dan lupa. Kemudian beliau berkeliling pada istri-istrinya, hasil selanjutnya tidak ada yang melahirkan anak kecuali satu orang wanita yang melahirkan setengah manusia. Nabi Muhammad shollallahu alaihi wasallam bersabda: Kalau Nabi Sulaiman mengucapkan Insya Allah, niscaya beliau tidak melanggar sumpahnya, dan lebih diharapkan hajatnya terpenuhi (H.R al-Bukhari dan Muslim dari Abu Hurairah, lafadz hadits sesuai riwayat al-Bukhari).

Dalam hadits ini terkandung beberapa faidah penting bahwa ucapan InsyaAllah jika disebutkan dalam sumpah, kemudian ternyata tidak tercapai, maka orang itu tidak dianggap melanggar sumpah. Faidah berikutnya, ucapan InsyaAllah adalah memudahkan agar hajat terpenuhi.

Karena itu Allah berikan bimbingan adab kepada Nabi Muhammad shollallahu alaihi wasallam agar janganlah beliau mengucapkan: Aku akan melakukan ini besok. Dengan memastikan. Kecuali jika beliau mengucapkan InsyaAllah.

ูˆَู„َุง ุชَู‚ُูˆู„َู†َّ ู„ِุดَูŠْุกٍ ุฅِู†ِّูŠ ูَุงุนِู„ٌ ุฐَู„ِูƒَ ุบَุฏًุง (23) ุฅِู„َّุง ุฃَู†ْ ูŠَุดَุงุกَ ุงู„ู„َّู‡ُ ูˆَุงุฐْูƒُุฑْ ุฑَุจَّูƒَ ุฅِุฐَุง ู†َุณِูŠุชَ ูˆَู‚ُู„ْ ุนَุณَู‰ ุฃَู†ْ ูŠَู‡ْุฏِูŠَู†ِ ุฑَุจِّูŠ ู„ِุฃَู‚ْุฑَุจَ ู…ِู†ْ ู‡َุฐَุง ุฑَุดَุฏًุง (24)

Dan janganlah sekali-kali engkau mengucapkan : Sesungguhnya aku akan melakukan hal itu besok. Kecuali (dengan mengucapkan) InsyaAllah. Dan ingatlah Tuhanmu ketika engkau lupa. Dan Ucapkanlah: Semoga Tuhanku memberikan petunjuk pada jalan terdekat menuju hidayah (Q.S al-Kahfi ayat 23-24).

al-Hafidz Ibnu Katsir rahimahullah menyatakan: Ini adalah petunjuk dari Allah kepada Rasul-Nya –semoga sholawat Allah dan keselamatan dari Allah kepada beliau- kepada adab. Yaitu jika beliau telah memiliki tekad untuk mengerjakan sesuatu di masa yang akan datang, hendaknya mengembalikan hal itu kepada Masyi-ah (Kehendak) Allah Azza Wa Jalla, Yang Maha Mengetahui perkara yang ghaib. Yang Maha Mengetahui apa yang telah terjadi, apa yang sedang/akan terjadi, dan apa yang tidak terjadi, bagaimana kalau terjadi (Tafsir Ibn Katsir)

Contoh Kedua: kejadian yang terjadi pada Nabi Ismail.

Saat beliau diberitahukan oleh ayahnya bahwa ayahnya mendapat wahyu melalui mimpi untuk menyembelih beliau, Nabi Ismail menyatakan:

ูŠَุง ุฃَุจَุชِ ุงูْุนَู„ْ ู…َุง ุชُุคْู…َุฑُ ุณَุชَุฌِุฏُู†ِูŠ ุฅِู†ْ ุดَุงุกَ ุงู„ู„َّู‡ُ ู…ِู†َ ุงู„ุตَّุงุจِุฑِูŠู†َ

Wahai ayahku, lakukanlah apa yang diperintahkan kepadamu, niscaya engkau akan dapati aku InsyaAllah termasuk orang-orang yang sabar (Q.S as-Shooffaat 102)

Nabi Ismail pasrah kepada Allah dan menyatakan: InsyaAllah engkau akan dapati aku termasuk orang yang sabar. Akibatnya, Allah beri hasil akhir yang baik. Beliau tidak jadi menjadi obyek yang disembelih. Namun diganti dengan kambing.

Contoh Ketiga: kejadian yang terjadi pada Nabi Musa.

Saat bertemu Khidhr, Nabi Musa ingin mengambil ilmu darinya. Nabi Musa juga berjanji dengan mengucapkan InsyaAllah bahwa beliau akan berusaha sabar tidak akan bertanya-tanya tentang apa yang dilakukan Khidhr, namun qoddarollah hal itu tidak tercapai.

ู‚َุงู„َ ุณَุชَุฌِุฏُู†ِูŠ ุฅِู†ْ ุดَุงุกَ ุงู„ู„َّู‡ُ ุตَุงุจِุฑًุง ูˆَู„َุง ุฃَุนْุตِูŠ ู„َูƒَ ุฃَู…ْุฑًุง

Nabi Musa berkata : Engkau akan mendapati aku insyaAllah sebagai orang yang sabar dan tidak akan bermaksiat terhadap perintahmu (Q.S al-Kahfi ayat 69)

Namun di akhir kisah, ternyata Nabi Musa tidak bisa bersabar hingga 3 kali. Kemudian Khidhr menyatakan:

ุฐَู„ِูƒَ ุชَุฃْูˆِูŠู„ُ ู…َุง ู„َู…ْ ุชَุณْุทِุนْ ุนَู„َูŠْู‡ِ ุตَุจْุฑًุง

Demikianlah penjelasan dari hal-hal yang engkau tidak mampu bersikap sabar (Q.S al-Kahfi ayat 82)

Ini menunjukkan bahwa atas takdir Allah kadangkala meski seorang sudah berupaya dan sebelumnya mengucapkan InsyaAllah, tidak terjadi yang diharapkannya. Namun, ia harus yakin bahwa segala yang ditakdirkan Allah adalah baik untuknya.

Dari 3 kisah Nabi di atas, kita bisa mengambil faidah, bahwa hendaknya jika akan berjanji kita mengucapkan InsyaAllah dengan harapan Allah akan menolong kita mendapatkan yang diinginkan. Namun jika ada teman kita yang mengucapkan InsyaAllah dalam janjinya kemudian tidak terpenuhi, kita berhusnudzdzhon bahwa itu memang atas takdir Allah dan ia telah berusaha memenuhinya. Dan ucapan InsyaAllah tidak pantas untuk dijadikan tameng oleh seorang muslim guna bermalas-malasan atau sudah ada niatan untuk menyelisihinya. Baarakallaahu fiikum.

sumber :https://salafy.or.id/blog/2015/05/04/pelajaran-penting-ucapan-insya-allah-dari-kisah-tiga-nabi/

Sahabat Terbaik

Hasil gambar untuk amal sholeh
ุงู„ุณู„ุงู… ุนู„ูŠูƒู… ูˆุฑุญู…ุฉ ุงู„ู„ู‡ ูˆุจุฑูƒุงุชู‡

Sahabat Terbaik Seorang Muslim
Bismillah. Washshalatu wassalamu ‘ala Rasulillah. Amma ba’du.

Saudariku yang dirahmati Allah, pernahkah engkau memiliki teman karib? Sahabat akrab, yang senantiasa berbagi suka dan duka denganmu dalam meniti kehidupan? Siapakah dia? Mungkin engkau akan menjawab, “Ya, ibu dan ayahku.” Atau mungkin, “Ya, dia adalah suamiku.” Atau mungkin juga engkau akan berkata, “Ya, dia adalah fulanah, fulanah dan fulanah”.

Namun, tahukah engkau siapa sesungguhnya sahabatmu yang terbaik? yang akan membawa kebaikan bagimu di dunia ini, bahkan setelah engkau wafat? Syaikh ‘Abdurrazzaq bin ‘Abdul Muhsin Al Badr hafizhahullahu menjelaskan, “Sesungguhnya sahabat dan teman terbaik bagi seseorang adalah amalan shalih yang dia lakukan. Tidak ada yang ikut masuk bersamanya ke dalam kuburnya kecuali sahabat yang satu ini.

Al Bazzar meriwayatkan dalam musnadnya dan Al Baihaqi dalam Syu’abul Iman, dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, beliau bersabda,

ู…َุซَู„ُ ุงุจْู†ِ ุขุฏَู…َ ูˆَู…َุงู„ِู‡ِ ูˆَุนَู…َู„ِู‡ِ ู…َุซَู„ُ ุฑَุฌُู„ٍ ู„َู‡ُ ุซَู„َุงุซَุฉُ ุฃَุฎِู„َّุงุกَ, ู‚َุงู„َ ู„َู‡ُ ุฃَุญَุฏُู‡ُู…ْ: ุฃَู†َุง ู…َุนَูƒَ ู…َุง ุฏُู…ْุชَ ุญَูŠًّุง, ูَุฅِุฐَุง ู…ُุชَّ ูَู„َุณْุชَ ู…ِู†ِّูŠ ูˆَู„َุง ุฃَู†َุง ู…ِู†ْูƒَ, ูَุฐَู„ِูƒَ ู…َุงู„ُู‡ُ, ูˆَู‚َุงู„َ ุงู„ْุขุฎَุฑُ: ุฃَู†َุง ู…َุนَูƒَ, ูَุฅِุฐَุง ุจَู„َุบْุชَ ุฅِู„َู‰ ู‚َุจْุฑِูƒَ ูَู„َุณْุชَ ู…ِู†ِّูŠ ูˆَู„َุณْุชُ ู„َูƒَ, ูَุฐَู„ِูƒَ ูˆَู„َุฏُู‡ُ، ูˆَู‚َุงู„َ ุงู„ْุขุฎَุฑُ: ุฃَู†َุง ู…َุนَูƒَ ุญَูŠًّุง ูˆَู…َูŠِّุชًุง ูَุฐَู„ِูƒَ ุนَู…َู„ُู‡ُ

“Permisalan hubungan antara anak Adam dengan harta dan amalnya sebagaimana seseorang yang memiliki 3 orang kekasih. Salah satunya berkata kepadanya, ‘Aku bersama engkau selama engkau hidup. Maka jika engkau telah wafat, engkau bukan bagian dariku dan akupun bukan bagian darimu; itulah hartanya.’ Dan yang kedua berkata, ‘Aku bersama engkau. Maka jika engkau telah masuk ke dalam kuburmu, engkau bukan bagian dariku dan aku bukanlah milikmu lagi; dan itulah anaknya. Dan yang ketiga berkata, ‘Aku bersama engkau selama engkau hidup dan setelah matimu; itulah amalannya‘”[1]

Ibnul Qayyim rahimahullahu menukil dalam kitabnya Raudhatul Muhibbin, dari seorang yang bijak, bahwasanya beliau ditanya, “’Sahabat seperti apakah yang paling baik?’. Ia menjawab, ‘Amal shalih.’ Amalan shalih selalu berbuat baik kepada pemiliknya. Dan barangsiapa yang menyia-nyiakan amal shalihnya, dia akan sangat menyesal.” [2]

Dan suatu amalan tidaklah disebut shalih, sampai ia memenuhi dua kriteria; ikhlas dilakukan karena Allah Ta’ala semata dan sesuai dengan tuntunan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman dalam Kitab-Nya yang agung,

ูˆَู…َุง ุฃُู…ِุฑُูˆุง ุฅِู„َّุง ู„ِูŠَุนْุจُุฏُูˆุง ุงู„ู„َّู‡َ ู…ُุฎْู„ِุตِูŠู†َ ู„َู‡ُ ุงู„ุฏِّูŠู†َ ุญُู†َูَุงุกَ ูˆَูŠُู‚ِูŠู…ُูˆุง ุงู„ุตَّู„َุงุฉَ ูˆَูŠُุคْุชُูˆุง ุงู„ุฒَّูƒَุงุฉَ ูˆَุฐَٰู„ِูƒَ ุฏِูŠู†ُ ุงู„ْู‚َูŠِّู…َุฉِ

“Dan tidaklah mereka diperintah kecuali agar mereka beribadah kepada Allah dengan mengikhlaskan agama kepada-Nya dalam keadaan hanif, mendirikan sholat, dan menunaikan zakat; itulah agama yang lurus.” (QS. Al-Bayyinah: 5)

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

ู…َู†ْ ุนَู…ِู„َ ุนَู…َู„ุงً ู„َูŠْุณَ ุนَู„َูŠْู‡ِ ุงَู…ْุฑُู†ุง ูَู‡ُูˆَ ุฑَุฏٌ

“Barangsiapa yang beramal dengan suatu amalan yang tidak ada tuntunannya dari kami, maka amalan itu tertolak.” (HR Muslim).[3]

Dua syarat amal soleh di atas, telah Allah sebutkan dalam firman-Nya,

ุงู„َّุฐِูŠ ุฎَู„َู‚َ ุงู„ْู…َูˆْุชَ ูˆَุงู„ْุญَูŠَุงุฉَ ู„ِูŠَุจْู„ُูˆَูƒُู…ْ ุฃَูŠُّูƒُู…ْ ุฃَุญْุณَู†ُ ุนَู…َู„ًุง ูˆَู‡ُูˆَ ุงู„ْุนَุฒِูŠุฒُ ุงู„ْุบَูُูˆุฑُ

“Yang telah menciptakan kematian dan kehidupan untuk menguji kalian, siapa diantara kalian yang paling baik amalannya. Dan Ia Maha Agung lagi Maha Pengampun.” (QS. Al-Mulk: 2)

Fudhail bin Iyadh rahimahullahu menerangkan ayat di atas dengan mengatakan, “Arti ‘yang paling baik amalannya’ adalah yang paling ikhlas dan paling sesuai tuntunan. Sesungguhnya jika amalan itu ikhlas namun tidak sesuai tuntunan, maka tidak akan diterima. Dan jika amalan itu benar namun tidak ikhlas, juga tidak akan diterima, sampai amalan tersebut ikhlas dan sesuai tuntunan. Adapun ikhlasnya, yaitu jika amal tersebut dikerjakan hanya untuk Allah ‘Azza wa Jalla semata dan benarnya, jika amal tersebut sesuai dengan sunnah.” [3]

Semoga Allah Ta’ala, Rabb yang Maha Mendengar dan Maha Mampu Mengabulkan do’a setiap hamba-Nya, menjadikan setiap amalan kita adalah amal yang shalih, sehingga jadilah ia sahabat terbaik kita selamanya.

Wabillaahittaufiiq.


Penyusun: Ummu Qonita Ika Kartika

Murojaah: Ustadz Ammi Nur Baits

Baca selengkapnya https://muslimah.or.id/6576-sahabat-terbaik-seorang-muslim.html

๐Ÿ”ฅ *Menjaga yang wajib pasti masuk surga...*

Hasil gambar untuk surga firdaus✍Allah berfirman,

ูˆَู‚ُู„ِ ุงุนْู…َู„ُูˆุง ูَุณَูŠَุฑَู‰ ุงู„ู„َّู‡ُ ุนَู…َู„َูƒُู…ْ ูˆَุฑَุณُูˆู„ُู‡ُ ูˆَุงู„ْู…ُุคْู…ِู†ُูˆู†َ ูۖˆَุณَุชُุฑَุฏُّูˆู†َ ุฅِู„َู‰ٰ ุนَุงู„ِู…ِ ุงู„ْุบَูŠْุจِ ูˆَุงู„ุดَّู‡َุงุฏَุฉِ ูَูŠُู†َุจِّุฆُูƒُู…ْ ุจِู…َุง ูƒُู†ْุชُู…ْ ุชَุนْู…َู„ُูˆู†َ
"Dan katakanlah: "Bekerjalah kamu, maka Allah dan Rasul-Nya serta orang-orang mu'min akan melihat pekerjaanmu itu, dan kamu akan dikembalikan kepada (Allah) Yang Mengetahui akan yang ghaib dan yang nyata, lalu diberitakan-Nya kepada kamu apa yang telah kamu kerjakan"."(At-Taubah: 105)

Tidak ada amalan yang lebih dicintai Allah selain amalan yang wajib.
Sebagaimana hadits tentang Wali-wali Allah,
Nabi ุตู„ู‰ ุงู„ู„ู‡ ุนู„ูŠู‡ ูˆุณู„ู… bersabda,

ุฅِู†َّ ุงู„ู„َّู‡َ ู‚َุงู„َ ู…َู†ْ ุนَุงุฏَู‰ ู„ِู‰ ูˆَู„ِูŠًّุง ูَู‚َุฏْ ุขุฐَู†ْุชُู‡ُ ุจِุงู„ْุญَุฑْุจِ ، ูˆَู…َุง ุชَู‚َุฑَّุจَ ุฅِู„َู‰َّ ุนَุจْุฏِู‰ ุจِุดَู‰ْุกٍ ุฃَุญَุจَّ ุฅِู„َู‰َّ ู…ِู…َّุง ุงูْุชَุฑَุถْุชُ ุนَู„َูŠْู‡ِ ، ูˆَู…َุง ูŠَุฒَุงู„ُ ุนَุจْุฏِู‰ ูŠَุชَู‚َุฑَّุจُ ุฅِู„َู‰َّ ุจِุงู„ู†َّูˆَุงูِู„ِ ุญَุชَّู‰ ุฃُุญِุจَّู‡ُ ، ูَุฅِุฐَุง ุฃَุญْุจَุจْุชُู‡ُ ูƒُู†ْุชُ ุณَู…ْุนَู‡ُ ุงู„َّุฐِู‰ ูŠَุณْู…َุนُ ุจِู‡ِ ، ูˆَุจَุตَุฑَู‡ُ ุงู„َّุฐِู‰ ูŠُุจْุตِุฑُ ุจِู‡ِ ، ูˆَูŠَุฏَู‡ُ ุงู„َّุชِู‰ ูŠَุจْุทُุดُ ุจِู‡َุง ูˆَุฑِุฌْู„َู‡ُ ุงู„َّุชِู‰ ูŠَู…ْุดِู‰ ุจِู‡َุง ، ูˆَุฅِู†ْ ุณَุฃَู„َู†ِู‰ ู„ุฃُุนْุทِูŠَู†َّู‡ُ ، ูˆَู„َุฆِู†ِ ุงุณْุชَุนَุงุฐَู†ِู‰ ู„ุฃُุนِูŠุฐَู†َّู‡ُ

“Allah berfirman: Barangsiapa memerangi wali (kekasih)-Ku, maka Aku akan memeranginya. Hamba-Ku senantiasa mendekatkan diri pada-Ku dengan amalan wajib yang Kucintai. Hamba-Ku senantiasa mendekatkan diri pada-Ku dengan amalan-amalan sunnah sehingga Aku mencintainya. Jika Aku telah mencintainya, maka Aku akan memberi petunjuk pada pendengaran yang ia gunakan untuk mendengar, memberi petunjuk pada penglihatannya yang ia gunakan untuk melihat, memberi petunjuk pada tangannya yang ia gunakan untuk memegang, memberi petunjuk pada kakinya yang ia gunakan untuk berjalan. Jika ia memohon sesuatu kepada-Ku, pasti Aku mengabulkannya dan jika ia memohon perlindungan, pasti Aku akan melindunginya.” (HR. Bukhari, 2506)

Dan amalan wajib merupakan syarat mutlak,  modal seorang hamba masuk surga.

Dari Jabir bin Abdullah Al Anshary ุฑَุถِูŠَ ุงู„ู„ู‡ُ ุนَู†ْู‡ُู…َุง berkata,

ุฃَู†َّ ุฑَุฌُู„ุงً ุณَุฃَู„َ ุฑَุณُูˆْู„َ ุงู„ู„ู‡ِ ุตَู„َّู‰ ุงู„ู„ู‡ُ ุนَู„َูŠْู‡ِ ูˆَุณَู„َّู…َ ูَู‚َุงู„َ : ุฃَุฑَุฃَูŠْุชَ ุฅِุฐَุง ุตَู„َّูŠْุชُ ุงْู„ู…َูƒْุชُูˆْุจَุงุชِ، ูˆَุตُู…ْุชُ ุฑَู…َุถَุงู†َ، ูˆَุฃَุญْู„َู„ْุชُ ุงู„ْุญَู„ุงَู„َ، ูˆَุญَุฑَّู…ْุช ุงู„ْุญَุฑَุงู…َ، ูˆَู„َู…ْ ุฃَุฒِุฏْ ุนَู„َู‰ ุฐَู„ِูƒَ ุดَูŠْุฆุงً، ุฃَุฃَุฏْุฎُู„ُ ุงู„ْุฌَู†َّุฉَ ؟ ู‚َุงู„َ : ู†َุนَู…ْ .

"Bahwa seseorang pernah bertanya kepada Rasulullah dengan berkata, “Bagaimana pendapatmu jika saya melaksanakan shalat yang wajib, berpuasa Ramadhan, menghalalkan yang halal dan mengharamkan yang haram, lalu saya tidak menambah lagi sedikit pun, apakah saya akan masuk surga?” Beliau menjawab, Ya.” (HR. Muslim).

Imam Al-Haramain berkata bahwa para ulama berkata, Allah mengkhususkan Nabinya shallallahu ‘alaihi wa sallam dengan mewajibkan sesuatu menunjukkan besarnya pahalanya. Pahala amalan wajib tentu lebih besar daripada pahala amalan sunnah. (Al-Asybah wa An-Nazhair, hlm. 324)

Dan diantara amalan wajib yang menjadi penentu keselamatan di Hari Kiamat adalah sholat.

Nabi ุตَู„َّู‰ ุงู„ู„ู‡ُ ุนَู„َูŠْู‡ِ ูˆَุณَู„َّู…َ bersabda,

ุฅู†َّ ุฃَูˆَّู„َ ู…َุง ูŠُุญَุงุณَุจُ ุจِู‡ِ ุงู„ุนَุจْุฏُ ูŠَูˆْู…َ ุงู„ู‚ِูŠَุงู…َุฉِ ู…ِู†ْ ุนَู…َู„ِู‡ِ ุตَู„ุงَุชُู‡ُ ، ูَุฅู†ْ ุตَู„ُุญَุชْ ، ูَู‚َุฏْ ุฃูْู„َุญَ ูˆุฃَู†ْุฌَุญَ ، ูˆَุฅู†ْ ูَุณَุฏَุชْ ، ูَู‚َุฏْ ุฎَุงุจَ ูˆَุฎَุณِุฑَ
“Sesungguhnya amal yang pertama kali dihisab pada seorang hamba pada hari kiamat adalah shalatnya. Maka, jika shalatnya baik, sungguh ia telah beruntung dan berhasil. Dan jika shalatnya rusak, sungguh ia telah gagal dan rugi." (HR. Tirmidzi, 413 dan An-Nasa’i, 466 dishohihkan Al-Albany)

Rasulullah ุตู„ู‰ ุงู„ู„ู‡ ุนู„ูŠู‡ ูˆุณู„ู… bersabda:

ุฎَู…ْุณُ ุตَู„َูˆَุงุชٍ ูƒَุชَุจَู‡ُู†َّ ุงู„ู„ู‡ُ ุนَู„َู‰ ุงู„ْุนِุจَุงุฏِ ، ู…َู†ْ ุฃَุชَู‰ٰ ุจِู‡ِู†َّ ู„َู…ْ ูŠُุถَูŠِّุนْ ู…ِู†ْู‡ُู†َّ ุดَูŠْุฆًุง ุงุณْุชِุฎْูَุงูًุง ุจِุญَู‚ِّู‡ِู†َّ ؛ ูƒَุงู†َ ู„َู‡ُ ุนِู†ْุฏَ ุงู„ู„ู‡ِ ุนَู‡ْุฏٌ ุฃَู†ْ ูŠُุฏْุฎِู„َู‡ُ ุงู„ْู€ุฌَู†َّู€ุฉَ ، ูˆَู…َู†ْ ู„َู…ْ ูŠَุฃْุชِ ุจِู‡ِู†َّ ، ูَู„َูŠْุณَ ู„َู‡ُ ุนِู†ْุฏَ ุงู„ู„ู‡ِ ุนَู‡ْุฏٌ ، ุฅِู†ْ ุดَุงุกَ ุนَุฐَّุจَู‡ُ ، ูˆَุฅِู†ْ ุดَุงุกَ ุบَูَุฑَ ู„َู‡ُ.

"Lima shalat yang Allรขh wajibkan atas hamba-Nya. Barangsiapa mengerjakannya dan tidak menyia-nyiakannya sedikit pun karena menganggap enteng, maka ia memiliki perjanjian dengan Allรขh untuk memasukkan dia ke surga. Dan barangsiapa tidak mengerjakannya, maka !dia tidak memiliki perjanjian dengan Allรขh. Jika Allรขh berkehendak, maka Dia mengadzabnya dan jika Dia berkehendak Dia mengampuninya."(HR Abi Dawud, 1276 dishohihkan Al-Albany)

๐Ÿ“ŒHendaknya semamgat menjalankan dan menjaga amalan yang fardhu lebih dikuatkan.

Dan yang utama lagi dari yang fardhu adalah kewajiban untuk tholabul ilmi.

Wallahu a'lam

๐ŸƒAbu Yusuf Masruhin Sahal, Lc

       ✏๐Ÿ“š✒.๐Ÿ’ง...

Larangan Memuji Orang Dihadapannya

Hasil gambar untuk memuji orang
๐Ÿ‘คUstadz Maududi Abdullah Lc

Memuji Orang Lain di Hadapannya Sama dengan Menyembelihnya

Dari Abu Bakrah, ia menceritakan bahwa ada seorang pria yang disebutkan di hadapan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, lalu seorang hadirin memuji orang tersebut. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam lalu bersabda,
.

ูˆูŠุญูƒ ู‚ุทุนุช ุนู†ู‚ ุตุงุญุจูƒ، (ูŠู‚ูˆู„ู‡ ู…ุฑุงุฑุงً)، ุฅู† ูƒุงู† ุฃุญุฏูƒู… ู…ุงุฏุญุงً ู„ุง ู…ุญุงู„ุฉ، ูู„ูŠู‚ู„: ุฃุญุณِุจَ ูƒุฐุง ูˆูƒุฐุง- ุฅู† ูƒุงู† ูŠุฑู‰ ุฃู†ู‡ ูƒุฐู„ูƒ – ูˆุญุณูŠุจู‡ ุงู„ู„ู‡، ูˆู„ุง ูŠุฒูƒูŠ ุนู„ู‰ ุงู„ู„ู‡ ุฃุญุฏุงً

.
“Celaka engkau, engkau telah memotong leher temanmu (berulang kali beliau mengucapkan perkataan itu). Jika salah seorang di antara kalian terpaksa/harus memuji, maka ucapkanlah, ”’Saya kira si fulan demikian kondisinya.” -Jika dia menganggapnya demikian-. Adapun yang mengetahui kondisi sebenarnya adalah Allah dan  janganlah mensucikan seorang di hadapan Allah.” (Shahih): [Bukhari: 52-Kitab Asy Syahadat, 16-Bab Idza Dzakaro Rojulun Rojulan]

Abu Musa berkata, “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mendengar seorang pria berlebih-lebihan dalam memuji seorang. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam lalu bersabda,

.
ุฃู‡ْู„َูƒْุชُู…- ุฃูˆ ู‚ุทุนุชู… ุธู‡ุฑَ – ุงู„ุฑุฌู„

.

”Kalian telah membinasakan atau mematahkan punggung orang itu.”(Shahih): [Bukhari: 78-Kitab Al Adab, 54-Bab Maa Yukrohu Minat Tamaduh. Muslim: 53-Kitab Az Zuhd, hal. 67]

Dari Ibrahim At Taimiy dari ayahnya, ia berkata, “Kami duduk bersama Umar [ibnul Khaththab radliallahu ‘anhu]. Lalu ada seorang pria memuji orang lain yang berada di hadapannya. Umar lalu berkata,

.

ุนู‚ุฑุช ุงู„ุฑุฌู„، ุนู‚ุฑูƒ ุงู„ู„ู‡

.

“Engkau telah menyembelih orang itu, semoga Allah menyembelihmu.”(Hasan secara sanad)

’Umar berkata,

.
ุงู„ู…ุฏุญ ุฐุจุญ

.

“Pujian itu adalah penyembelihan.”(Shahih secara sanad)

Muhammad (guru imam Bukhari-ed) berkata,

.

ูŠุนู†ูŠ ุฅุฐุง ู‚ุจู„ู‡ุง

.

“(Hal itu berlaku) apabila ia senang akan pujian yang diberikan kepadanya.”

๐Ÿ“Muslimah.or.id
Instagram @mukmin_sunnah

.
.
#pujian #laranganmemuji
#mukminsunnah #erwinsyahalmaidanie

Wednesday, December 26, 2018

BERITA DAN BAHAYANYA

Hasil gambar untuk beritaOleh : DR Abdul Azhim Al Badawi

Dalam kehidupan sehari-hari, kita sering mendengar desas-desus yang tidak jelas asal-usulnya. Kadang dari suatu peristiwa kecil, tetapi dalam pemberitaannya, peristiwa itu begitu besar atau sebaliknya. Terkadang juga berita itu menyangkut kehormatan seorang muslim. Bahkan tidak jarang, sebuah rumah tangga menjadi retak, hanya karena sebuah berita yang belum tentu benar. Bagaimanakah sikap kita terhadap berita yang bersumber dari orang yang belum kita ketahui kejujurannya?

Dalam naskah berikut ini, penulis menjelaskan kepada kita, bagaimana seharusnya sikap seorang muslim terhadap berita-berita yang belum jelas kebenarannya itu.

Allah berfirman,

ูŠَุงุฃَูŠُّู‡َุง ุงู„َّุฐِูŠู†َ ุกَุงู…َู†ُูˆุง ุฅِู† ุฌَุขุกَูƒُู…ْ ูَุงุณِู‚ُُ ุจِู†َุจَุฅٍ ูَุชَุจَูŠَّู†ُูˆุง ุฃَู† ุชُุตِูŠุจُูˆุง ู‚َูˆْู…ًุง ุจِุฌَู‡َุงู„َุฉٍ ูَุชُุตْุจِุญُูˆุง ุนَู„َู‰ ู…َุงูَุนَู„ْุชُู…ْ ู†َุงุฏِู…ِูŠู†َ

“Hai orang-orang yang beriman, jika datang kepadamu orang fasik membawa suatu berita, maka periksalah dengan teliti, agar kamu tidak menimpakan suatu musibah kepada suatu kaum tanpa mengetahui keadaannya yang menyebabkan kamu menyesal atas perbuatanmu itu”. [Al Hujurat : 6].

Dalam ayat ini, Allah melarang hamba-hambanya yang beriman berjalan mengikut desas-desus. Allah menyuruh kaum mukminin memastikan kebenaran berita yang sampai kepada mereka. Tidak semua berita yang dicuplikkan itu benar, dan juga tidak semua berita yang terucapkan itu sesuai dengan fakta. (Ingatlah, pent.), musuh-musuh kalian senantiasa mencari kesempatan untuk menguasai kalian. Maka wajib atas kalian untuk selalu waspada, hingga kalian bisa mengetahui orang yang hendak menebarkan berita yang tidak benar.

Allah berfirman,

ูŠَุงุฃَูŠُّู‡َุง ุงู„َّุฐِูŠู†َ ุกَุงู…َู†ُูˆุง ุฅِู† ุฌَุขุกَูƒُู…ْ ูَุงุณِู‚ُُ ุจِู†َุจَุฅٍ ูَุชَุจَูŠَّู†ُูˆุง

“Hai orang-orang yang beriman, jika datang kepadamu orang fasik membawa suatu berita, maka periksalah dengan teliti”

Maksudnya, janganlah kalian menerima (begitu saja) berita dari orang fasik, sampai kalian mengadakan pemeriksaan, penelitian dan mendapatkan bukti kebenaran berita itu.

(Dalam ayat ini) Allah memberitahukan, bahwa orang-orang fasik itu pada dasarnya (jika berbicara) dia dusta, akan tetapi kadang ia juga benar. Karenanya, berita yang disampaikan tidak boleh diterima dan juga tidak ditolak begitu saja, kecuali setelah diteliti. Jika benar sesuai dengan bukti, maka diterima dan jika tidak, maka ditolak.

Kemudian Allah menyebutkan illat (sebab) perintah untuk meneliti dan larangan untuk mengikuti berita-berita tersebut.

Allah berfirman.

ุฃَู† ุชُุตِูŠุจُูˆุง ู‚َูˆْู…ًุง ุจِุฌَู‡َุงู„َุฉٍ

“Agar kamu tidak menimpakan suatu musibah kepada suatu kaum tanpa mengetahui keadaannya”.

Kemudian nampak bagi kamu kesalahanmu dan kebersihan mereka.

ูَุชُุตْุจِุญُูˆุง ุนَู„َู‰ ู…َุงูَุนَู„ْุชُู…ْ ู†َุงุฏِู…ِูŠู†َ

“Yang menyebabkan kamu menyesal atas perbuatanmu itu” [Al Hujurat : 6]

Terutama jika berita tersebut bisa menyebabkan punggungmu terkena cambuk. Misalnya, jika masalah yang kalian bicarakan bisa mengkibatkan hukum had, seperti qadzaf (menuduh) dan yang sejenisnya.

Sungguh, betapa semua kaum muslimin memerlukan ayat ini, untuk mereka baca, renungi, lalu beradab dengan adab yang ada padanya. Betapa banyak fitnah yang terjadi akibat berita bohong yang disebarkan orang fasiq yang jahat! Betapa banyak darah yang tertumpah, jiwa yang terbunuh, harta yang terampas, kehormatan yang terkoyakkan, akibat berita yang tidak benar!Berita yang dibuat oleh para musuh Islam dan musuh umat ini. Dengan berita itu, mereka hendak menghancurkan persatuan umat ini, mencabik-cabiknya dan mengobarkan api permusuhan diantara umat Islam.

Betapa banyak dua saudara berpisah disebabkan berita bohong! Betapa banyak suami-istri berpisah karena berita yang tidak benar! Betapa banyak kabilah-kabilah, dan kelompok-kelompok saling memerangi, karena terpicu berita bohong!

Allah Azza wa Jalla Yang Maha Lembut dan Maha Mengetahui, telah meletakkan satu kaidah bagi umat ini untuk memelihara mereka dari perpecahan, dan membentengi mereka dari pertikaian, juga untuk memelihara mereka dari api fitnah.

Akan tetapi sangat disayangkan, tidak ada satu pun masyarakat muslim yang bebas dari orang-orang munafiq yang memendam kedengkian. Mereka tidak senang melihat kaum muslimin menjadi masyarakat yang bersatu dan bersaudara, dimana orang yang paling rendah diantara mereka dijamin bisa berusaha dengan aman, dan apabila orang akar rumput itu mengeluh, maka orang yang di tampuk kepemimpinan juga akan mengeluh.

Wajib atas kaum muslimin untuk waspada dan mewaspadai musuh-musuh mereka. Dan hendaklah kaum muslimin mengetahui, bahwa para musuh mereka tidak pernah tidur (tidak pernah berhenti) membuat rencana dan tipu daya terhadap kaum muslimin. Maka wajiblah atas mereka untuk senantiasa waspada, sehingga bisa mengetahui sumber kebencian, dan bagaimana rasa saling bermusuhan dikobarkan oleh para musuh.

Sesungguhnya keberadaan orang-orang munafiq di tengah kaum muslimin dapat menimbulkan bahaya yang sangat besar. Akan tetapi yang lebih berbahaya, ialah keberadaan orang-orang mukmin berhati baik yang selalu menerima berita yang dibawakan orang-orang munafiq. Mereka membuka telinga lebar-lebar mendengarkan semua ucapan orang munafiq, lalu mereka berkata dan bertindak sesuai berita itu. Mereka tidak peduli dengan bencana yang ditimpakan kepada kaum muslimin akibat mengekor orang munafiq.

Al Qur’an telah mencatatkan buat kita satu bencana yang pernah menimpa kaum muslimin, akibat dari sebagian kaum muslimin yang mengekor kepada orang-orang munafiq yang dengki, sehingga bisa mengambil pelajaran dari pengalaman orang-orang sebelum kita.

Kalau kalian mau, bacalah Surat An Nur dan renungilah ayat-ayat penuh barakah yang Allah ucapkan tentang kebersihan Ummul Mukminin ‘Aisyah Radhiyallahu anhuma dari tuduhan kaum munafiq. Kemudian sebagian kaum muslimin yang jujur ikut-ikutan menuduh tanpa meneliti bukti-buktinya.

Allah berfirman.

ุฅِู†َّ ุงู„َّุฐِูŠู†َ ุฌَุขุกُูˆุง ุจِุงْู„ุฅِูْูƒِ ุนُุตْุจَุฉٌ ู…ِّู†ูƒُู…ْ ู„ุงَุชَุญْุณَุจُูˆู‡ُ ุดَุฑًّุง ู„َّูƒُู… ุจَู„ْ ู‡ُูˆَ ุฎَูŠْุฑٌ ู„َّูƒُู…ْ ู„ِูƒُู„ِّ ุงู…ْุฑِุฆٍ ู…ِّู†ْู‡ُู… ู…َّุงุงูƒْุชَุณَุจَ ู…ِู†َ ุงْู„ุฅِุซْู…ِ ูˆَุงู„َّุฐِูŠ ุชَูˆَู„َّู‰ ูƒِุจْุฑَู‡ُ ู…ِู†ْู‡ُู…ْ ู„َู‡ُ ุนَุฐَุงุจٌ ุนَุธِูŠู…ٌ

“Sesungguhnya orang-orang yang membawa ifki adalah dari golongan kamu juga.Janganlah kamu kira berita bohong itu buruk bagi kamu, bahkan ia adalah baik bagi kamu.Tiap-tiap seseorang dari mereka mendapat balasan dari dosa yang dikerjakannya, dan barangsiapa diantara mereka yang mengambil bahagian yang terbesar dalam penyiaran berita bohong itu, baginya adzab yang besar”. [An Nur : 11].

Ifki maksudnya ialah berita bohong. Dan ini merupakan kebohongan yang paling jelek.

ู„ุงَุชَุญْุณَุจُูˆู‡ُ ุดَุฑًّุง ู„َّูƒُู… ุจَู„ْ ู‡ُูˆَ ุฎَูŠْุฑٌ ู„َّูƒُู…ْ

“Janganlah kamu kira berita bohong itu buruk bagi kamu, bahkan ia adalah baik bagi kamu”. [An Nur : 11].

Tidak semua perkara-perkara itu bisa dinilai hanya dengan zhahirnya saja. Karena terkadang kebaikan atau nikmat itu datang dalam satu bentuk yang kelihatannya menyusahkan. Diantara kebaikan (yang dijanjikan Allah buat keluarga Abu Bakar), ialah Allah menyebut mereka di malail a’la. Dan Allah menurunkan beberapa ayat yang bisa dibaca mengenai keadaan kalian (keluarga Abu Bakar Radhiyallahu ‘anhu).

Dengan turunnya ayat ini, maka hilanglah mendung dan tersingkaplah kegelapan itu. Lenyap sudah gunung kepedihan yang bertengger dalam kalbu Ummul Mukminin ‘Aisyah Radhiyallahu ‘anha, suaminya, yaitu Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam dan bapaknya. Sebagaimana juga hilangnya kepedihan sang penuduh, yaitu seorang shahabat yang jujur Shafwan bin Mu’atthil.

Kemudian ayat selanjutnya mengajarkan kepada kaum mukminin, bagaimana menyikapi berita.

Allah berfirman.

ู„َّูˆْู„ุข ุฅِุฐْ ุณَู…ِุนْุชُู…ُูˆู‡ُ ุธَู†َّ ุงู„ْู…ُุคْู…ِู†ُูˆู†َ ูˆَุงู„ْู…ُูˆْู…ِู†َุงุชُ ุจِุฃَู†ูُุณِู‡ِู…ْ ุฎَูŠْุฑًุง ูˆَู‚َุงู„ُูˆุง ู‡َุฐَุข ุฅِูْูƒٌ ู…ُّุจِูŠู†ٌ

“Mengapa di waktu kamu mendengar berita bohong itu, orang-orang mu’minin dan mu’minat tidak bersangka baik terhadap diri mereka sendiri, dan (mengapa tidak) berkata:”Ini adalah suatu berita bohong yang nyata.” [An Nur : 12].

Wahai kaum msulimin, inilah langkah pertama yang harus engkau lakukan, jika ada berita buruk tentang saudaramu, yaitu berhusnuhan (berperasangka baik) kepada dirimu. Jika engkau sudah husnuzhan kepada dirimu, maka selanjutnya kamu wajib husnuzhan kepada saudaramu dan (meyakini) kebersihannya dari cela yang disampaikan. Dan engkau katakan,

ุณُุจْุญَุงู†َูƒَ ู‡َุฐَุง ุจُู‡ْุชَุงู†ٌ ุนَุธِูŠู…ٌ

“Maha Suci Engkau (Allah) , ini merupakan kedustaan yang besar”. [An Nur : 16].

Inilah yang dilakukan oleh sebagian shahabat Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam, ketika sampai berita kepada mereka tentang Ummul Mukminin.

Diceritakan dari Abu Ayyub, bahwa istrinya berkata,“Wahai Abu Ayyub, tidakkah engkau dengar apa yang dikatakan banyak orang tentang Aisyah?” Abu Ayyub menjawab,“Ya. Itu adalah berita bohong. Apakah engkau melakukan perbuatan itu (zina), hai Ummu Ayyub? Ummu Ayyub menjawab,“Tidak. Demi Allah, saya tidak melakukan perbuatan itu.” Abu Ayyub berkata,“Demi Allah, A’isyah itu lebih baik dibanding kamu.”

Kemudian Allah berfirman.

ู„َّูˆْู„ุงَ ุฌَุขุกُูˆุนَู„َูŠْู‡ِ ุจِุฃَุฑْุจَุนَุฉِ ุดُู‡َุฏَุขุกَ ูَุฅِุฐْ ู„َู…ْ ูŠَุฃْุชُูˆุง ุจِุงู„ุดُّู‡َุฏَุขุกِ ูَุฃُูˆْู„َุฆِูƒَ ุนِู†ุฏَ ุงู„ู„ู‡ِ ู‡ُู…ُ ุงู„ْูƒَุงุฐِุจُูˆู†َ

“Mengapa mereka (yang menuduh itu) tidak mendatangkan empat orang saksi atas berita bohong itu. Oleh karena mereka tidak mendatangkan saksi-saksi, maka mereka itulah pada sisi Allah orang-orang yang dusta”. [An Nur : 13].

Inilah langkah yang kedua, jika ada berita tentang saudaranya. Langkah pertama, mencari dalil yang bersifat bathin, maksudnya berhusnuzhan kepada saudaranya. Langkah kedua mencari bukti nyata.

ูŠَุงุฃَูŠُّู‡َุง ุงู„َّุฐِูŠู†َ ุกَุงู…َู†ُูˆุง ุฅِู† ุฌَุขุกَูƒُู…ْ ูَุงุณِู‚ُُ ุจِู†َุจَุฅٍ ูَุชَุจَูŠَّู†ُูˆุง

“Hai orang-orang yang beriman, jika datang kepadamu orang fasik membawa suatu berita, maka periksalah dengan teliti”. [Al Hujurat : 6].

Maksudnya mintalah bukti kebenaran suatu berita dari si pembawa berita. Jika ia bisa mendatangkan buktinya, maka terimalah. Jika ia tidak bisa membuktikan, maka tolaklah berita itu di depannya; karena ia seorang pendusta. Dan cegahlah masyarakat agar tidak menyampaikan berita bohong yang tidak ada dasarnya sama sekali. Dengan demikian, berita itu akan mati dan terkubur di dalam dada pembawanya ketika kehilangan orang-orang yang mau mengambil dan menerimanya.

Seperti inilah Al Qur’an mendidik umatnya. Namun sangat disayangkan, banyak kaum muslimin yang tidak konsisten dengan pendidikan ini. Sehingga jika ada seorang munafik yang menyebarkan berita bohong, maka berita itu akan segera tersebar di masyarakat dan diucapkan oleh banyak lidah, tanpa mengecek dan meniliti kebenarannya. Dalam hal ini Allah berfirman.

ุฅِุฐْ ุชَู„َู‚َّูˆْู†َู‡ُ ุจِุฃَู„ْุณِู†َุชِูƒُู…ْ ูˆَุชَู‚ُูˆู„ُูˆู†َ ุจِุฃَูْูˆَุงู‡ِูƒُู… ٌ

“(Ingatlah) di waktu kamu menerima berita bohong itu dari mulut ke mulut”.[An Nur : 15].

Pada dasarnya ucapan itu diterima dengan telinga, bukan dengan lisan. Akan tetapi Allah ungkapkan tentang cepatnya berita itu tersebar di tengah masyarakat. Seakan-akan kata-kata itu keluar dari mulut ke mulut tanpa melalui telinga, dilanjutkan ke hati yang memikirkan apa yang didengar, selanjutnya memutuskan boleh atau tidak berita itu disebar luaskan.

ูˆَุชَู‚ُูˆู„ُูˆู†َ ุจِุฃَูْูˆَุงู‡ِูƒُู… ู…َّุงู„َูŠْุณَ ู„َูƒُู… ุจِู‡ِ ุนِู„ْู…ٌ ูˆَุชَุญْุณَุจُูˆู†َู‡ُ ู‡َูŠِّู†ًุง ูˆَู‡ُูˆَ ุนِู†ุฏَ ุงู„ู„ู‡ِ ุนَุธِูŠู…ٌ

“Kamu katakan dengan mulutmu apa yang tidak kamu ketahui sedikit juga, dan kamu menganggapnya suatu yang ringan saja.Padahal dia pada sisi Allah adalah besar”. [An Nur : 15].

Allah mendidik kaum mukminin dengan adab ini. Mengajarkan kepada mereka cara menghadapi berita serta cara memberantasnya, sehingga tidak tersebar di masyarakat. Setelah itu Allah mengingatkan kaum mukminin, agar tidak membicarakan sesuatu yang tidak mereka diketahui. Allah juga mengingatkan mereka, agar tidak mengekor kepada para pendusta penebar berita bohong.

Allah berfirman.

ูŠَุนِุธُูƒُู…ُ ุงู„ู„ู‡ُ ุฃَู† ุชَุนُูˆุฏُูˆุง ู„ِู…ِุซْู„ِู‡ِ ุฃَุจَุฏًุง ุฅِู† ูƒُู†ุชُู… ู…ُّุคْู…ِู†ِูŠู†َ

“Allah memperingatkan kamu agar (jangan) kembali memperbuat yang seperti itu selama-lamanya, jika kamu orang-orang yang beriman”. [An Nur : 17].

Kemudian Allah menjelaskan, mengekor kepada para pendusta memiliki arti mengikuti langkah-langkah syetan. Allah berfirman.

ูŠَุงุฃَูŠُّู‡َุง ุงู„َّุฐِูŠู†َ ุกَุงู…َู†ُูˆุง ู„ุงَุชَุชَّุจِุนُูˆุง ุฎُุทُูˆَุงุชِ ุงู„ุดَّูŠْุทَุงู†ِ ูˆَู…َู† ูŠَุชَّุจِุนْ ุฎُุทُูˆَุงุชِ ุงู„ุดَّูŠْุทَุงู†ِ ูَุฅِู†َّู‡ُ ูŠَุฃْู…ُุฑُ ุจِุงู„ْูَุญْุดَุขุกِ ูˆَุงู„ْู…ُู†ูƒَุฑِ ูˆَู„َูˆْู„ุงَ ูَุถْู„ُ ุงู„ู„ู‡ِ ุนَู„َูŠْูƒُู…ْ ูˆَุฑَุญْู…َุชُู‡ُ ู…َุงุฒَูƒَู‰ ู…ِู†ูƒُู… ู…ِّู†ْ ุฃَุญَุฏٍ ุฃَุจَุฏًุง ูˆَู„َูƒِู†َّ ุงู„ู„ู‡َ ูŠُุฒَูƒِّูŠ ู…َู† ูŠَุดَุขุกُ ูˆَุงู„ู„ู‡ُ ุณَู…ِูŠุนٌ ุนَู„ِูŠู…ُُ

“Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengikuti langkah-langkah syetan. Barangsiapa yang mengikuti langkah-langkah syetan, maka sesungguhnya syetan itu menyuruh mengerjakan perbuatan yang keji dan yang mungkar”. [An Nur : 21].

Dalam ayat selanjutnya Allah menerangkan, lisan dan semua anggota badan lainnya akan memberikan kesaksian atas seorang hamba pada hari kiamat.

Allah berfirman.

ุฅِู†َّ ุงู„َّุฐِูŠู†َ ูŠَุฑْู…ُูˆู†َ ุงู„ْู…ُุญْุตَู†َุงุชِ ุงู„ْุบَุงูِู„ุงَุชِ ุงู„ْู…ُุคْู…ِู†َุงุชِ ู„ُุนِู†ُูˆุง ูِูŠ ุงู„ุฏُّู†ْูŠَุง ูˆَุงْู„ุฃَุฎِุฑَุฉِ ูˆَู„َู‡ُู…ْ ุนَุฐَุงุจٌ ุนَุธِูŠู…ٌ . ูŠَูˆْู…َ ุชَุดْู‡َุฏُ ุนَู„َูŠْู‡ِู…ْ ุฃَู„ْุณِู†َุชُู‡ُู…ْ ูˆَุฃَูŠْุฏِูŠู‡ِู…ْ ูˆَุฃَุฑْุฌُู„ُู‡ُู…ْ ุจِู…َุง ูƒَุงู†ُูˆุง ูŠَุนْู…َู„ُูˆู†َ . ูŠَูˆْู…َุฆِุฐٍ ูŠُูˆَูِّูŠู‡ِู…ُ ุงู„ู„ู‡ُ ุฏِูŠู†َู‡ُู…ُ ุงู„ْุญَู‚َّ ูˆَูŠَุนْู„َู…ُูˆู†َ ุฃَู†َّ ุงู„ู„ู‡َ ู‡ُูˆَ ุงู„ْุญَู‚ُّ ุงู„ْู…ُุจِูŠู†ُ

“Sesungguhnya orang-orang yang menuduh wanita-wanita yang baik-baik, yang lengah lagi beriman (berbuat zina), mereka kena la’nat di dunia dan akhirat, dan bagi mereka adzab yang besar, pada hari (ketika) lidah, tangan dan kaki mereka menjadi saksi atas mereka terhadap apa yang dahulu mereka kerjakan. Pada hari itu, Allah akan memberi mereka balasan yang setimpal menurut semestinya, dan tahulah mereka, bahwa Allah-lah Yang Benar, lagi Yang menjelaskan (segala sesuatu menurut hakikat yang sebenarnya)”. [An Nur 23-25].

Wahai para penebar desas-desus! Wahai para pembuat kedustaan! Hai orang yang tidak senang melihat orang mukmin saling mencintai sehingga dipisahkan! Hai orang yang tidak suka melihat kaum mukmin aman! Hai para pencari aib orang yang baik! Tahanlah lidahmu, karena sesungguhnya kamu akan diminta pertanggungjawaban kata-kata yang engkau ucapkan.

Allah berfirman.

ู…َّุงูŠَู„ْูِุธُ ู…ِู† ู‚َูˆْู„ٍ ุฅِู„ุงَّ ู„َุฏَูŠْู‡ِ ุฑَู‚ِูŠุจٌ ุนَุชِูŠุฏٌ

“Tiada suatu ucapanpun yang diucapkan, melainkan ada di dekatnya Malaikat pengawas yang selalu hadir”. [Qaf : 18].

Tahanlah lidahmu! Jauhilah perbuatan bohong dan janganlah menebarkan desas-desus! Janganlah menuduh kaum muslimin tanpa bukti, dan janganlah berburuk sangka kepada mereka! Seakan-akan aku dengan engkau, wahai saudaraku, berada pada hari kiamat; hari kerugian dan hari penyesalan. Sementara para seterumu merebutmu. Yang ini mengatakan “engkau telah menzhalimiku”, yang lain mengatakan “engkau telah menfitnahku”, yang lain lagi mengatakan, “engkau telah melecehkanku”, yang lain mengatakan “engkau telah menggunjingku”. Sementara engkau tidak mampu menghadapi mereka. Engkau mengharap kepada Rabb-mu agar menyelamatkanmu dari mereka, namun tiba-tiba engkau mendengar.

ุงู„ْูŠَูˆْู…َ ุชُุฌْุฒَูŠ ูƒُู„ُّ ู†َูْุณٍ ุจِู…َุง ูƒَุณَุจَุชْ ู„ุงَุธُู„ْู…َ ุงู„ْูŠَูˆْู…َ ุฅِู†َّ ุงู„ู„ู‡َ ุณَุฑِูŠุนُ ุงู„ْุญِุณَุงุจِ

“Pada hari ini tiap-tiap jiwa diberi balasan dengan apa yang diusahakannya. Tidak ada yang dirugikan pada hari ini. Sesungguhnya Allah amat cepat hisabnya”. [Al Mukmin : 17].

Lalu engkaupun menjadi yakin dengan neraka. Engkau ingat firman Allah.

ูˆَู„ุงَุชَุญْุณَุจَู†َّ ุงู„ู„ู‡َ ุบَุงูِู„ุงً ุนَู…َّุง ูŠَุนْู…َู„ُ ุงู„ุธَّุงู„ِู…ُูˆู†َ ุฅِู†َّู…َุง ูŠُุคَุฎِّุฑُู‡ُู…ْ ู„ِูŠَูˆْู…ٍ ุชَุดْุฎَุตُ ูِูŠู‡ِ ุงْู„ุฃَุจْุตَุงุฑُ

“Dan janganlah sekali-kali kamu (Muhammad) mengira, bahwa Allah lalai dari apa yang diperbuat oleh orang-orang yang dzalim. Sesungguhnya Allah memberi tangguh kepada mereka sampai hari yang pada waktu itu mata (mereka) terbelalak” [Ibrahim : 42].

Kita berlindung kepada Allah dari kehinaan. Dan semoga Allah memberikan taufik dan hidayahNya.

[Diterjemahkan dari majalah Al Ashalah, edisi 34 tahun ke VI]

[Disalin dari majalah As-Sunnah Edisi 06/Tahun VII/1424H/2003. Diterbitkan Yayasan Lajnah Istiqomah Surakarta, Jl. Solo – Purwodadi Km.8 Selokaton Gondangrejo Solo 57183 Telp. 0271-761016]

Read more https://almanhaj.or.id/2634-berita-dan-bahayanya.html