Sunday, February 25, 2018

Penjelasan tentang Bidah

Hasil gambar untuk bidahKetika Nabi shallallahu alaihi wa sallam mengatakan bahwa setiap perkara baru adalah bid'ah dan setiap bid'ah itu dholaalah (sesat), tetapi ada sebagian orang mengatakan ada bid'ah hasanah.

Berkata Syekh Shaleh Al Fauzan Hafidzahullah:

الرسول صلى الله عليه وسلم : كل بدعة صلالة. و انت تقول توجد بدعة حسنة !؟

Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda: SETIAP BID'AH ITU SESAT. Dan kamu mengatakan ada BID'AH HASANAH (bid'ah yang baik). Fathul Majid 08-06-1438.

Mereka para ahlul bid'ah mengatakan bahwa ada bid'ah hasanah, dengan dalil perkataan Umar Bin Khattab radhiyallahu anhu tentang shalat tarawih.

Padahal perkataan Umar Bin Khattab radhiyallahu anhu ini hanya dari segi bahasa. Karena tarawih berjamaah bukan perkara baru, yang tadinya tidak ada, kemudian diadakan. Shalat tarawih berjamaah sudah ada sejak zaman Nabi shallallahu alaihi wa sallam, lantas diteruskan oleh para sahabat, dimana mereka ada yang shalat tarawih berjamaah, ada juga yang sendiri-sendiri di masjid, makanya Umar Bin Khattab radhiyallahu anhu berinisiatif untuk menyatukan shalat tarawih dalam satu imam.

عَنْ عَبْدِ الرَّحْمَنِ بْنِ عَبْدٍ الْقَارِيِّ أَنَّهُ قَالَ خَرَجْتُ مَعَ عُمَرَ بْنِ الْخَطَّابِ فِي رَمَضَانَ إِلَى الْمَسْجِدِ فَإِذَا النَّاسُ أَوْزَاعٌ مُتَفَرِّقُونَ يُصَلِّي الرَّجُلُ لِنَفْسِهِ, وَيُصَلِّي الرَّجُلُ فَيُصَلِّي بِصَلَاتِهِ الرَّهْطُ. فَقَالَ عُمَرُ: وَاللَّهِ إِنِّي لَأَرَانِي لَوْ جَمَعْتُ هَؤُلَاءِ عَلَى قَارِئٍ وَاحِدٍ لَكَانَ أَمْثَلَ, فَجَمَعَهُمْ عَلَى أُبَيِّ بْنِ كَعْبٍ. قَالَ: ثُمَّ خَرَجْتُ مَعَهُ لَيْلَةً أُخْرَى وَالنَّاسُ يُصَلُّونَ بِصَلَاةِ قَارِئِهِمْ, فَقَالَ عُمَرُ: نِعْمَتِ الْبِدْعَةُ هَذِهِ, وَالَّتِي تَنَامُونَ عَنْهَا أَفْضَلُ مِنْ الَّتِي تَقُومُونَ, يَعْنِي آخِرَ اللَّيْلِ وَكَانَ النَّاسُ يَقُومُونَ أَوَّلَهُ

Dari Abdurrahman bin Abdil Qaary katanya; aku keluar bersama Umar bin Khatthab di bulan Ramadhan menuju masjid (Nabawi). Sesampainya di sana, ternyata orang-orang sedang shalat secara terpencar; ada orang yang shalat sendirian dan ada pula yang menjadi imam bagi sejumlah orang. Maka Umar berkata: “Menurutku kalau mereka kukumpulkan pada satu imam akan lebih baik…” maka ia pun mengumpulkan mereka –dalam satu jama’ah– dengan diimami oleh Ubay bin Ka’ab. Kemudian aku keluar lagi bersamanya di malam yang lain, dan ketika itu orang-orang sedang shalat bersama imam mereka, maka Umar berkata, “SEBAIK-BAIK BID'AH ADALAH INI, akan tetapi saat dimana mereka tidur lebih baik dari pada saat dimana mereka shalat”, maksudnya akhir malam lebih baik untuk shalat karena saat itu mereka shalatnya di awal malam. Imam Malik-Al Muwaththa.

Berkata Ibnu Taymiyah rahimahullah:

وهذه تسمية لغوية لا تسمية شرعية، وذلك أن البدعة في اللغة تعم كل ما فعل ابتداء من غير مثال سابق

Dan bid'ah disini yang dimaksud adalah bid'ah secara bahasa bukan secara syariah, dan sesungguhnya bid'ah di dalam segi  bahasa mencakup seluruh apa yang diperbuat  yang tidak ada contoh sebelumnya. (Iqtidha' : 2/589)

Berkata Ibnu Rajab rahimahullah:

وأما وقع في كلام السلف من استحسان بعض البدع فإنما ذلك في البدع اللغوية لا الشرعية

Dan adapun perkataan salaf yang mengaitkan hasanah dengan sebagian bid'ah, maka sesungguhnya yang dimaksud bid'ah  disitu adalah dari segi bahasa bukan dari syariah. Jami' al-Uloom, 233).

Disini kami tegaskan ulang, bahwa shalat tarawih berjamaah, sudah ada sejak Nabi shallallahu alaihi wa sallam, jadi bukan perkara baru dalam agama, bukan BID'AH DHOLAALAH, tetapi bid'ah hasanah dari segi bahasa, bukan dari segi syariat.

Ini dalil tentang Nabi shallallahu alaihi wa sallam shalat tarawih berjamaah.

عَنْ عَائِشَةَ ، أُمِّ الْمُؤْمِنِينَ ، رَضِيَ اللَّهُ عَنْهَا ، أَنَّ رَسُولَ اللهِ صلى الله عليه وسلم صَلَّى ذَاتَ لَيْلَةٍ فِي الْمَسْجِدِ فَصَلَّى بِصَلاَتِهِ نَاسٌ ثُمَّ صَلَّى مِنَ الْقَابِلَةِ فَكَثُرَ النَّاسُ ثُمَّ اجْتَمَعُوا مِنَ اللَّيْلَةِ الثَّالِثَةِ ، أَوِ الرَّابِعَةِ فَلَمْ يَخْرُجْ إِلَيْهِمْ رَسُولُ اللهِ صلى الله عليه وسلم فَلَمَّا أَصْبَحَ قَالَ قَدْ رَأَيْتُ الَّذِي صَنَعْتُمْ وَلَمْ يَمْنَعْنِي مِنَ الْخُرُوجِ إِلَيْكُمْ إِلاَّ أَنِّي خَشِيتُ أَنْ تُفْرَضَ عَلَيْكُمْ ، وَذَلِكَ فِي رَمَضَانَ.  (رواه البخاري).

Dari Aisyah radhiyallahu ‘anha, bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pada suatu malam shalat di masjid, lalu banyak sahabat yang mengikuti shalat di belakang Beliau, kemudian pada malam kedua, beliau shalat lagi dan sahabat semakin banyak, kemudian pada malam ketiga atau keempat para sahabat sudah berkumpul, namun Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak keluar menemui mereka. Maka tatkala waktu shubuh tiba, Beliau bersabda: “Sungguh aku mengetahui apa yang kalian lakukan, tiada sesuatu pun yang menghalangiku untuk keluar (shalat) berama kalian, melainkan aku khawatir shalat ini difardhukan atas kalian.” Dan ini terjadi pada bulan Ramadhan. (HR. Bukhori dan Muslim). 

Dan juga shalat tarawih berjamaah merupakan sunnah khulafaur rasyidin, sunnah yang perlu diikuti, bukan bid'ah. Karena para sahabat radhiyallahu anhum di zaman Umar Bin Khattab tidak ada yang mengingkari perintah Umar tentang shalat tarawih berjamaah dengan satu imam, berarti ini ijma para sahabat. Inilah sunnah yang harus kita ikuti, sunnah Rasulullah dan sunnah khulafaur rasyidin.

Nabi shallallâhu ‘alaihi wa sallam bersabda:

أُوصِيكُمْ بِتَقْوَى اللَّهِ وَالسَّمْعِ وَالطَّاعَةِ وَإِنْ عَبْدًا حَبَشِيًّا فَإِنَّهُ مَنْ يَعِشْ مِنْكُمْ بَعْدِى فَسَيَرَى اخْتِلاَفًا كَثِيرًا فَعَلَيْكُمْ بِسُنَّتِى وَسُنَّةِ الْخُلَفَاءِ الْمَهْدِيِّينَ الرَّاشِدِينَ تَمَسَّكُوا بِهَا وَعَضُّوا عَلَيْهَا بِالنَّوَاجِذِ وَإِيَّاكُمْ وَمُحْدَثَاتِ الأُمُورِ فَإِنَّ كُلَّ مُحْدَثَةٍ بِدْعَةٌ وَكُلَّ بِدْعَةٍ ضَلاَلَةٌ ».

"Aku wasiatkan kepada kalian untuk bertakwa kepada Allah, tetap mendengar dan ta’at walaupun yang memimpin kalian adalah budak Habsyi. Karena barangsiapa yang hidup di antara kalian setelahku, maka dia akan melihat perselisihan yang banyak. Oleh karena itu, kalian wajib berpegang pada sunnahku dan sunnah al-Khulafâ’ al-Muhtadîn ar-Râsyidîn yang mendapatkan petunjuk. Berpegang teguhlah dengannya dan gigitlah ia dengan gigi geraham kalian (maksudnya peganglah dengan teguh). Hati-hatilah dengan perkara yang diada-adakan karena setiap perkara yang diada-adakan adalah bid’ah dan setiap bid’ah adalah sesat.” (HR. Abu Dawud dan Tirmidzi,  dari Irbadh bin Sariyah. Berkata Syaikh al-Albani Hadits Shahih)

Kesimpulannya, BID'AH HASANAH menurut perkataan Umar, adalah dari segi bahasa, bukan dari segi syariat, karena tarawih berjamaah di masjid, bukan perkara baru, karena sudah diamalkan oleh Nabi shallallahu alaihi wa sallam dan para sahabat.  Perkara baru dalam agama adalah BID'AH DHOLAALAH, sebagaimana yang Nabi shallallahu alaihi wa sallam sabdakan.

Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda:

صَبَّحَكُمْ وَمَسَّاكُمْ وَيَقُولُ بُعِثْتُ أَنَا وَالسَّاعَةُ كَهَاتَيْنِ وَيَقْرُنُ بَيْنَ إِصْبَعَيْهِ السَّبَّابَةِ وَالْوُسْطَى وَيَقُولُ أَمَّا بَعْدُ فَإِنَّ خَيْرَ الْحَدِيثِ كِتَابُ اللَّهِ وَخَيْرُ الْهُدَى هُدَى مُحَمَّدٍ وَشَرُّ الْأُمُورِ مُحْدَثَاتُهَا وَكُلُّ بِدْعَةٍ ضَلَالَةٌ

"Hendaklah kalian selalu waspada di waktu pagi dan petang. Aku diutus, sementara antara aku dan hari kiamat adalah seperti dua jari ini (yakni jari telunjuk dan jari tengah).” Kemudian beliau melanjutkan bersabda: “Amma ba’du. Sesungguhnya sebaik-baik perkataan adalah Kitabullah, sebaik-baik petunjuk adalah petunjuk Muhammad shallallâhu ‘alaihi wasallam. Seburuk-buruk perkara adalah perkara yang diada-adakan dan setiap bid’ah adalah sesat.” (HR. Muslim, dari Jabir bin ‘Abdillah radhiyallâhu ‘anhumâ ).

Nabi shallallâhu ‘alaihi wa sallam bersabda:

أُوصِيكُمْ بِتَقْوَى اللَّهِ وَالسَّمْعِ وَالطَّاعَةِ وَإِنْ عَبْدًا حَبَشِيًّا فَإِنَّهُ مَنْ يَعِشْ مِنْكُمْ بَعْدِى فَسَيَرَى اخْتِلاَفًا كَثِيرًا فَعَلَيْكُمْ بِسُنَّتِى وَسُنَّةِ الْخُلَفَاءِ الْمَهْدِيِّينَ الرَّاشِدِينَ تَمَسَّكُوا بِهَا وَعَضُّوا عَلَيْهَا بِالنَّوَاجِذِ وَإِيَّاكُمْ وَمُحْدَثَاتِ الأُمُورِ فَإِنَّ كُلَّ مُحْدَثَةٍ بِدْعَةٌ وَكُلَّ بِدْعَةٍ ضَلاَلَةٌ ».

"Aku wasiatkan kepada kalian untuk bertakwa kepada Allah, tetap mendengar dan ta’at walaupun yang memimpin kalian adalah budak Habsyi. Karena barangsiapa yang hidup di antara kalian setelahku, maka dia akan melihat perselisihan yang banyak. Oleh karena itu, kalian wajib berpegang pada sunnahku dan sunnah al-Khulafâ’ al-Muhtadîn ar-Râsyidîn yang mendapatkan petunjuk. Berpegang teguhlah dengannya dan gigitlah ia dengan gigi geraham kalian (maksudnya peganglah dengan teguh). Hati-hatilah dengan perkara yang diada-adakan karena setiap perkara yang diada-adakan adalah bid’ah dan setiap bid’ah adalah sesat.” (HR. Abu Dawud dan Tirmidzi,  dari Irbadh bin Sariyah. Berkata Syaikh al-Albani Hadits Shahih)

Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda:

إِنَّ أَصَدَقَ الْحَدِيثِ كِتَابُ اللهِ ، وَأَحْسَنَ الْهَدْيِ هَدْيُ مُحَمَّدٍ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ، وَشَرَّ الأُمُورِ مُحْدَثَاتُهَا وَكُلَّ مُحْدَثَةٍ بِدْعَةٌ وَكُلَّ بِدْعَةٍ ضَلاَلَةٌ وَكُلَّ ضَلاَلَةٍ فِي النَّارِ. (رواه النسائي و ابن خزيمة. قال الشيخ الألباني: صحيح).

Sesungguhnya sebenar-benar perkataan adalah kitab Allah dan sebaik-baik petunjuk adalah petunjuk Muahammad shallallahu ‘alaihi wa sallam dan sejelek-jelek urusan adalah perkara baru (dalam agama). Dan setiap perkara baru (dalam agama) adalah bid’ah, dan setiap bid’ah adalah sesat. Dan setiap kesesatan adalah di dalam neraka. (HR. An Nasai dan Ibnu Khuzaimah Dari Jabir Muhammad Abdullah radhiyallahu ‘anhu. Berkata Syekh Al Albani :Hadits Shahih).

Lantas bagaimana dengan orang-orang yang mengaiitkan ibadah yang lain selain shalat tarawih berjamaah dengan bid'ah hasanah? Ini pun perlu dalil, adakah para sahabat mengatakan amalan lain selain tarawih berjamaah dengan bid'ah hasanah.

Yang ada hanya BID'AH MAHMUDAH DAN BID'AH MADZMUMAH, sebagaimana perkataan Imam Syafii rahimahullah. jika suatu amalan bersesuaian dengan tuntunan Rasul, itu termasuk amalan terpuji (bid'ah mahmudah). Namun jika menyelisihi tuntunan, itu termasuk amalan tercela (bid'ah madzmumah).

Seperti shalat tarawih berjamaah dan  pengumpulan alquran dengan satu musaf, ini bukan bid'ah yang dholalah (sesat) karena shalat tarawih berjamaah ada asalnya dari syariat, begitu pula pengumpulan alquran jadi satu musaf, ini sunnah khulafaur rasyidin, bukan bid'ah.

Imam Syafi’i rahimahullah berkata,

البدعة بدعتان: بدعة محمودة، وبدعة مذمومة، فما وافق السنة، فهو محمود، وما خالف السنة، فهو مذموم

“Bid’ah itu ada dua macam yaitu bid’ah mahmudah (yang terpuji) dan bid’ah madzmumah (yang tercela). Jika suatu amalan bersesuaian dengan tuntunan Rasul, itu termasuk amalan terpuji. Namun jika menyelisihi tuntunan, itu termasuk amalan tercela” Abu Nu’aim dalam Al Hilyah, 9: 113.

Berkata Imam Nawawi rahimahullah:

1. ماليس من الدين : بأن كان مخالفا لقواعده ودلائله .فهو مردود :وهو البدعة الضلال.

Perbuatan baru yg bukan dari agama , yaitu perbuatan-perbuatan baru yang menyalahi kaidah-kaidah agama dan dalil-dalilnya : ini adalah tertolak dan bid’ah semacam inilah yg sesat ,

2. وماهو من الدين: بأن شهد له أصل أو أيده دليل :فهو صحيح مقبول . وهو البدعة الحسنة.

Perbuatan-perbuatan yg dari agama, yaitu perbuatan baru yg mempunyai standard ukuran hukum asal, atau di dukung oleh dalil-dalil yg menguatkan, perbuatan bid’ah semcam ini di terima dan tidak tertolak, inilah yg di sebut ” bid’ah hasanah “ (Syarah Hadits Muslim).

Bagaimana dengan perayaan maulid Nabi shallallahu alaihi wa sallam, acara tahlilan kematian 7 hari, 40 hari, 100 hari, barjanji dan lain-lain, tinggal dicek saja, ada tidak dalil tuntunan dan contoh dari Nabi shallallahu alaihi wa sallam serta amalan para sahabat, kalau ada berarti bid'ah mahmudah (bid'ah yang terpuji), kalau tidak ada berarti bid'ah madzmumah (bid'ah yang tercela)  atau bid'ah dholaalah (bid'ah yang sesat).

Imam Malik rahimahullah berkata:

مَنِ ابْتَدَعَ فِيْ اِلإِسْلاَمِ بِدْعَةً يَرَاهَا حَسَنَةً فَقَدْ زَعِمَ أَنَّ مُحَمَّدًا خَانَ الرِّسَالَةَ، لِأَنَّ اللهَ تَعَالَى يَقُوْلُ: (الْيَوْمَ أَكْمَلْتُ لَكُمْ دِيْنَكُمْ وَأَتْمَمْتُ عَلَيْكُمْ نِعْمَتِيْ وَرَضِيْتُ لَكُمُ اْلإِسْلاَمَ دِيْنًا) فَمَا لَمْ يَكُنْ يَوْمَئِذٍ دِيْنًا فَلاَيَكُنِ اْليَوْمَ دِيْنًا

"Barangsiapa mengada-adakan dalam Islam suatu BID'AH dia melihatnya sebagai suatu HASANAH  (kebaikan) maka dia telah menuduh Muhammad menghianati risalah, karena Allah telah berfirman: "Pada hari ini telah Ku sempurnakan untukmu agamamu, dan telah kucupkan nikmat-Ku kepadamu, dan telah Ku ridhoi Islam menjadi agamamu." Maka sesuatu yang bukan termasuk ajaran agama pada hari itu (saat hidup Rasul), bukan pula termasuk ajaran agama pada hari ini." (Dakwatul Kholaf Ila Thoriqis Salaf, Muhammad bin Ali bin Ahmad Bafadhl, hal.)

Abu Fadhel Majalengka

Hakekat Ajaran Sufi

Hasil gambar untuk sufiIstilah SUFI atau TASAWWUF tentu sangat dikenal dikalangan masyarakat. Istilah ini sangat diagungkan dan selalu di identikkan dengan kewalian, kezuhudan dan kesucian jiwa. Bahkan mayoritas masyarakat beranggapan bahwa seseorang tidak akan bisa mencapai hakikat taqwa tanpa melalui jalan sufi/tasawwuf. Opini ini diperkuat dengan melihat penampilan lahir yang selalu ditampakkan oleh orang-orang yang mengaku sebagai ahli tasawwuf, berupa pakaian lusuh dan usang, biji-bijian tasbih yang selalu melekat ditangan, dan bibir yang senantiasa komat-kamit melafazhkan dzikir. Semua ini semakin menambah keyakinan masyarakat (awam), bahwasanya merekalah orang-orang yang benar-benar telah mencapai derajat wali Allah 'azza wa jalla.
.
Sebelum membahas tentang hakikat sufi/tasawwuf yang sebenarnya, kami ingin mengingatkan kembali bahwa penilaian benar atau tidaknya suatu pemahaman bukan hanya dilihat dari pengakuan lisan atau penampilan lahir semata. Barometer sesuai tidaknya pemahaman tersebut, ialah menakarnya dengan Al-Qur-an dan Sunnah menurut pemahaman Salafush-Shalih.
.
Imam al-Barbahari rahimahullah dalam kitabnya Syarh as-Sunnah berkata: "Perhatikanlah dan cermatilah - semoga Allah 'azza wa jalla merahmatimu - semua orang yang menyampaikan satu ucapan/pemahaman dihadapanmu, maka jangan sekali-kali engkau terburu-buru untuk membenarkan dan mengikuti ucapan/pemahaman tersebut, sampai engkau tanyakan dan meneliti kembali, apakah ucapan/pemahaman tersebut pernah disampaikan oleh para sahabat Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam atau pernah disampaikan oleh ulama Ahlus-Sunnah? Kalau engkau mendapatkan ucapan/pemahaman tersebut sesuai dengan pemahaman sahabat Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam, maka berpegang teguhlah engkau dengan ucapan/pemahaman tersebut, dan janganlah engkau meninggalkannya dan memilih pemahaman lain, sehingga engkau akan terjerumus kedalam neraka!". (Syarh as-Sunnah, Imam al-Barbahari hlm.61)
.
LAHIRNYA AJARAN SUFI/TASAWWUF
Sufi/tasawuf sama sekali tidak dikenal pada zaman para sahabat radhiyallahu 'anhu, bahkan tidak dikenal pada zaman tiga generasi yang utama (generasi Sahabat, Tabi'in dan Tabi'it Tabi'in). Ajaran ini baru muncul sesudah masa tiga generasi ini. (Haqiqat ash-Shufiyyah, hlm.14).
Pertama kali muncul dikota Bashrah, Irak, yang dimulai dengan timbulnya sikap berlebih-lebihan dalam zuhud dan ibadah. (Majmu' al-Fatawa 11/6).
Syaikh Ihsan Ilahi Zhahir rahimahullah berkata: "Ketika kita mengamati lebih dalam ajaran-ajaran TASAWWUF klasik maupun modern, dan ucapan-ucapan mereka yang dinukil dan diriwayatkan dalam kitab-kitab tasawwuf yang dulu maupun sekarang, akan melihat suatu perbedaan yang sangat jelas antara ajaran tersebut dengan ajaran al-Qur'an dan Sunnah. Dan sama sekali, tidak pernah didapati ajaran tasawwuf ini dalam perjalanan sejarah Nabi Muhammad shallallahu 'alaihi wasallam dan para sahabat beliau radhiyallahu 'anhu yang mulia, orang-orang yang terbaik dan pilihan dari hamba-hamba Allah 'azza wa jalla. Justru sebaliknya, ajaran tasawwuf ini diambil dan dipungut dari kependetaan model Nashrani, dari kebrahmanaan model agama Hindu, peribadatan model Yahudi dan zuhud model agama Budha". (kitab at-Tasawwuf, al-Mansya' wa al-Mashdar, hlm.28 / ibid,hlm.14).
Dari keterangan yang kami nukilkan diatas, jelaslah bahwa tasawwuf adalah ajaran yang menyusup kedalam Islam. Hal ini nampak jelas pada amalan-amalan yang dilakukan oleh orang-orang ahli tasawwuf, amalan-amalan ibadah yang asing dan jauh dari petunjuk Islam.
.
AJARAN SUFI/TASAWWUF YANG MENYIMPANG DARI PETUNJUK AL-QUR'AN DAN SUNNAH.
Orang-orang sufi/tasawwuf - khususnya yang ada pada zaman sekarang - mempunyai prinsip dasar dan metode khusus dalam memahami dan menjalankan agama ini, yang sangat bertentangan dengan prinsip dan metode Ahlus-Sunnah wal-Jama'ah, dan menyimpang sangat jauh dari al-Qur'an dan Sunnah, misalnya,
> Mereka membatasi ibadah hanya pada aspek al-mahabbah(kecintaan) saja dengan menyampingkan aspek-aspek lainnya, seperti aspek al-khauf (rasa takut) dan ar-raja' (pengharapan), sebagaimana terlihat dalam ucapan beberapa orang ahli tasawwuf yang berkata, "Aku beribadah kepada Allah, bukan karena aku mengharapkan masuk surga dan juga bukan karena takut masuk neraka" (!? Keblinger)
Memang benar, al-mahabbah merupakan landasan ibadah. Akan tetapi, ibadah itu tidak hanya terbatas pada al-mahabbah saja, seperti pemahaman orang-orang ahli tasawwuf. Karena, ibadah itu memiliki banyak jenis selain al-mahabbah, misalnya: al-khauf, ar-raja', adz-dzull(penghinaan diri), al-khudu'(ketundukkan), doa dan lain-lain.
Salah seorang ulama salaf berkata: "Barangsiapa yang beribadah kepada Allah 'azza wa jalla dengan kecintaan semata, maka dia adalah seorang zindiq(kafir). Barangsiapa yang beribadah kepada Allah 'azza wa jalla dengan pengharapan semata, maka dia adalah seorang murji'ah. Barangsiapa yang beribadah kepada Allah 'azza wa jalla dengan ketakutan semata, maka dia adalah seorang Haruriyyah(Khawarij). Dan barangsiapa yang beribadah kepada Allah 'azza wa jalla dengan kecintaaan, ketakutan dan pengharapan, maka dialah seorang mukmin sejati dan muwahhid (orang yang bertauhid dengan benar)".
Oleh karena itu, Allah 'azza wa jalla memuji sifat para Nabi dan RasulNya shallallahu 'alaihi wasallam yang mereka senantiasa berdoa kepadaNya dengan perasaan takut dan berharap, dan mereka adalah orang-orang yang selalu mengharapkan RahmatNya dan takut terhadap siksaanNya.
.
> Orang-orang sufi/tasawwuf, umumnya, dalam menjalankan agama dan melaksanakan ibadah tidak berpedoman kepada Al-Qur'an dan Sunnah, tetapi pedoman mereka adalah bisikan jiwa dan perasaan mereka, serta ajaran yang digariskan oleh pimpinan-pimpinan mereka. Konkretnya dalam bentuk tarikat-tarikat bid'ah, berbagai macam dzikir dan wirid yang mereka ciptakan sendiri. Tidak jarang pula mereka mengambil pedoman dari cerita-cerita khurafat ( yang tidak jelas kebenarannya), mimpi-mimpi, bahkan hadits-hadits palsu untuk membenarkan ajaran dan keyakinan mereka.
Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah berkata: "Orang-orang sufi/tasawwuf dalam beragama dan mendekatkan diri kepada Allah 'azza wa jalla, berpegang teguh pada suatu pedoman seperti pedoman yang dipegang oleh orang-orang Nasrani. Yaitu ucapan-ucapan yang tidak jelas maknanya, dan cerita-cerita yang bersumber dari orang yang tidak dikenal kejujurannya. Kalaupun ternyata orang tersebut jujur, tetap saja dia bukan seorang(Nabi/Rasul) yang terjaga dari kesalahan. Mereka menjadikan para pemimpin dan guru-gurunya sebagai penentu/pembuat syari'at agama bagi mereka, sebagaimana orang-orang Nasrani menjadikan para pendeta dan rahib mereka sebagai penentu/pembuat syari'at agama bagi mereka".
.
> Termasuk doktrin ajaran tasawwuf ialah keharusan berpegang teguh dengan dzikir-dzikir dan wirid-wirid yang ditentukan dan diciptakan oleh guru-guru thariqat mereka. Hingga merasa cukup dengan produk dzikir-dzikir tersebut, beribadah dan mendekatkan diri kepada Allah 'azza wa jalla dengan selalu membacanya. Bahkan tidak jarang mereka mengklaim bahwa membaca dzikir-dzikir tersebut lebih utama daripada membaca Al-Qur'an dan mereka menamakannya dengan "dzikir orang-orang khusus".
Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah rahimahullah berkata: "Barangsiapa yang beranggapan bahwa kalimat Laa ilaha illallah adalah dzikirnya orang-orang umum, dan dzikirnya orang-orang khusus adalah kata tunggal (الله), serta dzikirnya orang-orang khusus yang lebih khusus adalah kata ganti (Huwa/Dia), maka dia adalah orang yang sesat dan menyesatkan".
.
> Sikap ghuluw (berlebih-lebihan), orang-orang sufi/tasawwuf terhadap orang-orang yang mereka anggap telah mencapai kedudukan "wali" atau terhadap guru-guru tariqat mereka.
.
> Termasuk doktrin ajaran sufi/tasawwuf yang sesat adalah mendekatkan diri kepada Allah 'azza wa jalla dengan nyanyian, tarian, tabuhan rebana, dan bertepuk tangan. Semua ini mereka anggap sebagai amalan ibadah kepada Allah 'azza wa jalla (?!)
Dr. Shabir Thu'aimah berkata: "Saat ini, tarian sufi/tasawwuf modern telah dipraktekkan oleh mayoritas tariqat Shufiyyah dalam pesta-pesta perayaan ulang tahun beberapa tokoh mereka. Para pengikut thariqat berkumpul untuk mendengarkan nada-nada musik, yang terkadang didendangkan oleh lebih dari dua ratus pemain musik pria dan wanita. Sedangkan para murid senior, dalam pesta ini duduk sambil mengisap berbagai jenis rokok dan para tokoh senior beserta para pengikutnya membacakan beberapa kisah khurofat (bohong) yang terjadi pada sang tokoh yang telah meninggal dunia..". (kitab ash-Shufiyyah, Mu'taqadan wa Maslakan).
.
> Juga termasuk doktrin ajaran sufi/tasawwuf yang sesat, yaitu apa yang mereka namakan sebagai suatu keadaan/tingkatan, yang jika seseorang telah mencapainya, maka ia akan bebas dari kewajiban melaksanakan syari'at Islam.
Dalam ajaran Islam, sama sekali tidak ada yang dinamakan dengan tingkatan/keadaan, yang jika seseorang telah mencapainya maka gugurlah kewajiban beribadah atasnya, sebagaimana persangkaan orang-orang sufi/tasawwuf.
-------------------
Untuk lebih jelasnya, silahkan menelaah kitab Manhajul Anbiya' fi Tazkiyatin-nufus, karya Syaikh Salim al-Hilali, yang ditulis khusus untuk menjelaskan permasalahan sufi/tasawwuf.

Kebenaran Milik Allah

Hasil gambar untuk kebenaran hanya milik allah swtKetika ada seseorang menyampaikan ini yang haq ini yang batil. Ini haram ini halal. Ini jalan ke surga ini jalan ke neraka. Ini sunnah ini bid'ah, ini kelompok sesat dan  menyimpang, dengan dalil-dalilnya dan pendapat para ulama, banyak orang membantahnya dengan mengatakan,  "Jangan merasa paling benar, jangan salah salahkan orang, kebenaran itu milik Allah."

Kata-kata itu benar adanya, memang kebenaran itu dari Allah dan milik Allah. Allah-lah yang tahu ini jalan yang benar dan ini jalan yang batil. Ini jalan yang lurus, ini jalan yang sesat. Ini jalan ke neraka, ini jalan ke surga.

Allah Ta'ala berfirman:

الْحَقُّ مِنْ رَبِّكَ فَلَا تَكُونَنَّ مِنَ الْمُمْتَرِينَ

“Kebenaran itu adalah dari Tuhanmu, sebab itu jangan sekali-kali kamu termasuk orang-orang yang ragu” (QS. al-Baqarah: 147).

Dan Allah Ta'ala berfirman :

{وَقُلِ الْحَقُّ مِنْ رَبِّكُمْ ...

Dan katakanlah, "Kebenaran itu datangnya dari Tuhanmu...(QS. Al Kahfi : 29).

Berkata Ibnu Katsir rahimahullah:

تعالى لرسوله محمد صلى الله عليه وسلم : وقل يا محمد للناس : هذا الذي جئتكم به من ربكم هو الحق الذي لا مرية فيه ولا شك

Allah Ta'ala berfirman kepada Rasul-Nya, "Hai Muhammad, katakanlah kepada manusia, bahwa apa yang engkau sampaikan kepada mereka dari Tuhan kalian adalah perkara yang hak yang tiada kebimbangan serta tiada keraguan padanya."  (Tafsir Ibnu Katsir).

Apa itu kebenaran?

Kebenaran adalah apa yang diwahyukan Allah Ta'ala kepada RasulNya berupa alquran dan as sunnah.

Allah Ta'ala berfirman:

وَأَنْزَلْنَا إِلَيْكَ الْكِتَابَ بِالْحَقِّ مُصَدِّقًا لِمَا بَيْنَ يَدَيْهِ مِنَ الْكِتَابِ وَمُهَيْمِنًا عَلَيْهِ فَاحْكُمْ بَيْنَهُمْ بِمَا أَنْزَلَ اللَّهُ وَلَا تَتَّبِعْ أَهْوَاءَهُمْ عَمَّا جَاءَكَ مِنَ الْحَقِّ ....

Dan kami telah turunkan kepadamu Al-Qur’an dengan membawa kebenaran, membenarkan apa yang sebelumnya, yaitu kitab-kitab (yang diturunkan sebelumnya) dan batu ujian terhadap kitab-kitab yang lain itu, maka putuskanlah perkara mereka menurut apa yang Allah turunkan dan janganlah kamu mengikuti hawa nafsu mereka dengan meninggalkan kebenaran yang telah datang kepadamu...(QS. Al Maidah : 48).

Berkata Ibnu Katsir rahimahullah :

 Allah Ta'ala berfirman:

{وَأَنزلْنَا إِلَيْكَ الْكِتَابَ بِالْحَقِّ}

Dan Kami telah turunkan kepadamu Al-Qur’an dengan membawa kebenaran. (QS. Al-Maidah: 48)

Yakni membawa kebenaran, tiada keraguan di dalamnya; dan bahwa Al-Qur'an itu diturunkan dari sisi Allah Ta'ala. (Tafsir Ibnu Katsir).

Tolak ukur kebenaran adalah dalil alquran dan as sunnah, bukan yang sesuai dengan hawa nafsu, bukan yang sesuai dengan akal dan perasaan, bukan karena dilakukan oleh para tokoh, bukan yang jadi kebiasaan nenek moyang dan bukan karena dilakukan orang banyak.

Berkata Syaikh Muhammad bin Shalih al-Utsaimin -rahimahullah :

الحق ما قام عليه الدليل و ليس الحق فيما عمله الناس

Kebenaran itu berdasarkan dalil dan bukanlah kebenaran itu berdasarkan apa yang dilakukan banyak manusia. (Majmu al-Fatawa 7/367)

Kaum muslimin agar berada di jalan kebenaran, di jalan yang lurus, jalan yang terang benderang, jalan yang menyampaikannya ke surga adalah berpegang teguh dengan wahyu Allah Ta'ala berupa alquran dan sunnah Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam yang shahih.

Dengan berpegang teguh kepada keduanya, tidak akan sesat selama-lamanya.

Dari Anas Bin Malik radhiyallahu anhu, dia berkata, bahwasanya Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda:

تَرَكْتُ فِيكُمْ أَمْرَيْنِ لَنْ تَضِلُّوا مَا تَمَسَّكْتُمْ بِهِمَا كِتَابَ اللَّهِ وَسُنَّةَ نَبِيِّهِ (رواه الموطأ مالك).

Aku tinggalkan dua perkara, kalian tidak akan sesat selama-lamanya selama kalian berpegang teguh dengan keduanya, yakni kitab Allah (alquran) dan sunnah NabiNya (al hadits). (HR. Imam Malik - Al Muwaththo).

Berkata As Syaikh Rabie hafidzahullah :

"دليلنا هو القرآن والسنة فمن فقدهما في أي ميدان من الميادين ضل" مرحباً يا طالب العلم ٢٤٥

"Dalil kami adalah Al Qur'an dan Sunnah, maka barangsiapa yang mengilangkan keduanya di salah satu bidang dari semua bidang (agama) maka dia sesat " ( kitab marhaban yaa thalibin ilmi: halaman 245).

Siapa Yang Paling Faham Kebenaran?

Lantas siapa yang paling paham kebenaran dan yang paling pertama kali mengamalkan kebenaran, ketika kebenaran ini pertama kali disampaikan Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam? Tentu jawabannya adalah para sahabat. Maka ikutilah sahabat, itulah jalan kebenaran, jalan yang tidak akan tersesat.

Allah Ta'ala berfirman :

وَمَنْ يُشَاقِقِ الرَّسُولَ مِنْ بَعْدِ مَا تَبَيَّنَ لَهُ الْهُدَىٰ وَيَتَّبِعْ غَيْرَ سَبِيلِ الْمُؤْمِنِينَ نُوَلِّهِ مَا تَوَلَّىٰ وَنُصْلِهِ جَهَنَّمَ ۖ وَسَاءَتْ مَصِيرًا

Dan barangsiapa yang menentang Rasul sesudah jelas kebenaran baginya, dan mengikuti jalan yang bukan jalan orang-orang mukmin, Kami biarkan ia leluasa terhadap kesesatan yang telah dikuasainya itu dan Kami masukkan ia ke dalam Jahannam, dan Jahannam itu seburuk-buruk tempat kembali. (QS. An Nisa 115).

Berkata Ibnu Katsir rahimahullah:

Allah Ta'ala berfirman:

وَمَنْ يُشاقِقِ الرَّسُولَ مِنْ بَعْدِ مَا تَبَيَّنَ لَهُ الْهُدى

Dan barang siapa yang menentang Rasul sesudah jelas kebenaran baginya. (QS. An-Nisa: 115)

Barang siapa yang menempuh jalan selain jalan syariat yang didatangkan oleh Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam, maka ia berada di suatu belahan, sedangkan syariat Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam berada di belahan yang lain. Hal tersebut dilakukannya dengan sengaja sesudah tampak jelas baginya jalan kebenaran.

Allah Ta'ala berfirman:

وَيَتَّبِعْ غَيْرَ سَبِيلِ الْمُؤْمِنِين
َ
Dan mengikuti jalan yang bukan jalan orang-orang mukmin. (An-Nisa: 115)

Makna firman ini saling berkaitan dengan apa yang digambarkan oleh firman pertama tadi. Tetapi adakalanya pelanggaran tersebut terhadap nas syariat, dan adakalanya bertentangan dengan apa yang telah disepakati oleh umat Muhammad dalam hal-hal yang telah dimaklumi kesepakatan mereka (para sahabat) secara' nyata. Karena sesungguhnya dalam kesepakatan mereka telah dipelihara dari kekeliruan, sebagai karunia Allah demi menghormati mereka dan memuliakan Nabi mereka. (Tafsir Ibnu Katsir).

Dengan dasar inilah, kita dalam berislam dan beramal ibadah mengikuti bagaimana mereka dalam berislam dan beramal ibadah. Kalau kita mengikuti mereka dengan baik, maka ridha Allah dan surganya Allah pasti didapatkan.

Allah Ta'ala berfirman :

{وَالسَّابِقُونَ الأوَّلُونَ مِنَ الْمُهَاجِرِينَ وَالأنْصَارِ وَالَّذِينَ اتَّبَعُوهُمْ بِإِحْسَانٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمْ وَرَضُوا عَنْهُ وَأَعَدَّ لَهُمْ جَنَّاتٍ تَجْرِي تَحْتَهَا الأنْهَارُ خَالِدِينَ فِيهَا أَبَدًا ذَلِكَ الْفَوْزُ الْعَظِيمُ.

Orang-orang yang terdahulu lagi yang pertama-tama (masuk Islam) di antara orang-orang Muhajirin dari Ansar dan orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik Allah rida kepada mereka dan menyediakan bagi mereka surga-surga yang mengalir sungai-sungai di dalamnya mereka kekal di dalammnya selama-lamanya, itulah kemenangan yang besar. (QS. At Taubah : 100).

Berkata Ibnu Katsir rahimahullah:

Allah Ta'ala menceritakan tentang rida-Nya kepada orang-orang yang terdahulu masuk Islam dari kalangan kaum Muhajirin, Ansar, dan orang-orang yang mengikuti jejak mereka dengan baik. Allah rida kepada mereka, untuk itu Dia menyediakan bagi mereka surga-surga yang penuh dengan kenikmatan dan kenikmatan yang kekal lagi abadi. (Tafsir Ibnu Katsir).

Kesimpulannya, kebenaran adalah apa-apa yang mencocoki dalil, mencocoki alquran dan as sunnah dengan pemahaman para sahabat, itulah jalan kebenaran, jalan keselamatan dan jalan yang mengantarkan ke surganya Allah Ta'ala.

Berkata Al-'Allamah Shaleh al-Fauzan hafizhahullah :

الحق هو ما وافق الكتاب والسنة بفهم السلف". الأجوبة المفيدة - س113

Kebenaran itu adalah apa-apa yang mencocoki al-Qur'an dan as Sunnah sesuai dengan pemahaman salaf. Al-Ajwibah al-Mufidah -pertanyaan ke 113.

Berkata Abdullah bin Mas'ud radhiyallahu anhu :

مَنْ كَانَ مَُأَسِّيًا فَلْيَتَأَسَّ بِأَصْحَابِ رَسُوْلِ اللهِ n فَإِنَّهُمْ أَبَرُّ قُلُوْبًا وَأَعْمَقُهَا عِلْمًا وَأَقَلُّهَا تَكَلُّفًا وَأَقْوَمُهَا هَدْيًا وَأَحْسَنُهَا حَالاً، قَوْمٌ اِخْتَارَهُمُ الله ُلِصُحْبَةِ نَبِيِّهِ وَإِقَامَةِ دِيْنِهِ، فَاعْرِفُوْا لَهُمْ فَضْلَهُمْ وَاتَّبِعُوْا آثاَرَهُمْ فَإِنَّهُمْ كَانُوْا عَلَى اْلهُدَى اْلمُسْتَقِيْمِ (إعلام الموقعين 4/139)

"Barangsiapa yang mengikuti seseorang hendaklah ia mengikuti para sahabat Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam karena sesungguhnya hati mereka adalah sebaik-baik hati manusia. Ilmu mereka adalah sedalam-dalam ilmu manusia. Mereka paling sedikit bebannya (tidak mengadakan urusan-urusan yang memberatkan diri), paling lurus jalan (hidup)nya dan paling baik keadaan akhlaknya. Suatu kaum yang dipilih oleh Allah untuk menjadi sahabat Nabi-Nya dan menegakkan agama-Nya, maka ketahuilah keutamaan mereka dan ikutilah atsar-atsarnya (jejak langkahnya) karena sesungguhnya mereka berada di atas jalan yang lurus." (I'lamul Muwaqi'in 4/139)

~ Ustadz Abu Fadhel Majalengka Hafidzahullah~

[Copas&PostedBy Fp Ittiba' Rasulullah ].

Apa Hukum Doa dan Dzikir secara Berjamaah?

Assalamu’alaikum ustadz semoga Allah memberkahimu.
Sekarang banyak sekali kaum muslimin berdo’a dan dzikir bersama baik itu untuk keluarganya, kaum muslimin bahkan untuk pemimpin, Adakah secara sunnah yang benar amalan-amalan tersebut, mohon dalil-dalilnya? Jazakallah.

(Abu Berikut ini saya nukilkan pertanyaan yang berkaitan dengan masalah doa dan dzikir secara berjamaah, berikut ini nukilannya:

(Hanun)

Jawab:

Wa’alaikumsalam warahmatullahi wa barakatuhu.

Berdoa bersama kalau yang dimaksud adalah satu orang berdoa sedangkan yang lain mengamini, maka ini ada 2 keadaan:
Pertama: Hal tersebut dilakukan pada amalan yang memang disyariatkan doa bersama, maka berdoa bersama dalam keadaan seperti ini disyariatkan seperti di dalam shalat Al-Istisqa’ (minta hujan), dan Qunut.

Kedua: Hal tersebut dilakukan pada amalan yang tidak ada dalilnya dilakukan doa bersama di dalamnya, seperti berdoa bersama setelah shalat fardhu, setelah majelis ilmu, setelah membaca Al-Quran dll, maka ini boleh jika dilakukan kadang-kadang dan tanpa kesengajaan, namun kalau dilakukan terus-menerus maka menjadi bid’ah.

Imam Ahmad bin Hambal pernah ditanya:

يكره أن يجتمع القوم يدعون الله سبحانه وتعالى ويرفعون أيديهم؟

“Apakah diperbolehkan sekelompok orang berkumpul, berdoa kepada Allah subhanahu wa ta’ala, dengan mengangkat tangan?”
Maka beliau mengatakan:

ما أكرهه للإخوان إذا لم يجتمعوا على عمد، إلا أن يكثروا

“Aku tidak melarangnya jika mereka tidak berkumpul dengan sengaja, kecuali kalau terlalu sering.” (Diriwayatkan oleh Al-Marwazy di dalam Masail Imam Ahmad bin Hambal wa Ishaq bin Rahuyah 9/4879)

Berkata Al-Marwazy:

وإنما معنى أن لا يكثروا: يقول: أن لا يتخذونها عادة حتى يعرفوا به

“Dan makna “jangan terlalu sering” adalah jangan menjadikannya sebagai kebiasaan, sehingga dikenal oleh manusia dengan amalan tersebut.” (Masail Imam Ahmad bin hambal wa Ishaq bin Rahuyah 9/4879).

Adapun dzikir bersama, dipimpin oleh seseorang kemudian yang lain mengikuti secara bersama-sama maka ini termasuk bid’ah, tidak ada dalilnya dan tidak diamalkan para salaf. Bahkan mereka mengingkari dzikir dengan cara seperti ini, sebagaimana dalam kisah Abdullah bin Mas’ud ketika beliau mendatangi sekelompok orang di masjid yang sedang berdzikir secara berjamaah, maka beliau mengatakan:

مَا هَذَا الَّذِي أَرَاكُمْ تَصْنَعُونَ ؟ … وَيْحَكُمْ يَا أُمَّةَ مُحَمَّدٍ ، مَا أَسْرَعَ هَلَكَتِكُمْ ، هَؤُلاَءِ صَحَابَةُ نَبِيِّكُمْ صلى الله عليه وسلم مُتَوَافِرُونَ ، وَهَذِهِ ثِيَابُهُ لَمْ تَبْلَ ، وَآنِيَتُهُ لَمْ تُكْسَرْ ، وَالَّذِي نَفْسِي فِي يَدِهِ ، إِنَّكُمْ لَعَلَى مِلَّةٍ هِيَ أَهْدَى مِنْ مِلَّةِ مُحَمَّدٍ ؟! أَوْ مُفْتَتِحُوا بَابَ ضَلاَلَةٍ ؟

“Apa yang kalian lakukan?! Celaka kalian wahai ummat Muhammad, betapa cepatnya kebinasaan kalian, para sahabat nabi kalian masih banyak, dan ini pakaian beliau juga belum rusak, perkakas beliau juga belum pecah, demi Dzat yang jiwaku ada di tangannya, kalian ini berada dia atas agama yang lebih baik dari agama Muhammad, atau kalian sedang membuka pintu kesesatan? (Diriwayatkan oleh Ad-Darimy di dalam Sunannya no. 2o4, dan dishahihkan sanadnya oleh Syeikh Al-Al-Albany di dalam Ash-Shahihah 5/12)

Berkata Asy-Syathiby rahimahullahu:

فإذا ندب الشرع مثلا إلى ذكر الله فالتزم قوم الاجتماع عليه على لسان واحد وبصوت أو في وقت معلوم مخصوص عن سائر الأوقات ـ لم يكن في ندب الشرع ما يدل على هذا التخصيص الملتزم بل فيه ما يدل على خلافه لأن التزام الأمور غير اللازمة شرعا شأنها أن تفهم التشريع وخصوصا مع من يقتدى به في مجامع الناس كالمساجد

“Jika syariat telah menganjurkan untuk dzikrullah misalnya, kemudian sekelompok orang membiasakan diri mereka berkumpul untuknya (dzikrullah) dengan satu lisan dan satu suara,atau pada waktu tertentu yang khusus maka tidak ada di dalam anjuran syariat yang menunjukkan pengkhususan ini,justru di dalamnya ada hal yang menyelisihinya, karena membiasakan perkara yang tidak lazim secara syariat akan dipahami bahwa itu adalah syariat, khususnya kalau dihadiri oleh orang yang dijadikan teladan di tempat-tempat berkumpulnya manusia seperti masjid-masjid.” (Al-I’tisham 2/190)

Wallahu a’lam.

Ustadz Abdullah Roy, Lc.

Sumber: tanyajawabagamaislam.blogspot.com

dinukil ulang dari http://konsultasisyariah.com

Saturday, February 24, 2018

Tafsir Surat Fathir ayat 32


Hasil gambar untuk amal kebaikan yang pahalanya selalu mengalirُثُمَّ أَوْرَثْنَا الْكِتَابَ الَّذِينَ اصْطَفَيْنَا مِنْ عِبَادِنَا فَمِنْهُمْ ظَالِمٌ لِنَفْسِهِ وَمِنْهُمْ مُقْتَصِدٌ وَمِنْهُمْ سَابِقٌ بِالْخَيْرَاتِ بِإِذْنِ اللَّهِ ذَلِكَ هُوَ الْفَضْلُ الْكَبِيرُ

“Kemudian kitab itu Kami wariskan kepada orang-orang yang kami pilih di antara hamba-hamba Kami, lalu di antara mereka ada yang menganiaya diri mereka sendiri, dan di antara mereka ada yang pertengahan, dan diantara mereka ada (pula) yang lebih dahulu berbuat kebaikan dengan izin Allah. Yang demikian itu adalah karunia yang amat besar.” (Fathir: 32)

Tiga golongan yang disebutkan dalam firman Allah tersebut adalah:
(1). Dzalimun linafsihi adalah orang yang menganiaya dirinya sendiri, yaitu orang yang lebih banyak kesalahannya daripada kebaikannya.

 (2). Muqtashid adalah pertengahan, yaitu orang-orang yang kebaikannya berbanding dengan kesalahannya.

(3). Sabiqun bil khairat adalah Golongan orang-orang yang lebih dahulu dalam berbuat kebaikan, yaitu orang-orang yang kebaikannya amat banyak dan amat jarang berbuat kesalahan.

Ibnu Katsir dalam tafsirnya menjelaskan tentang tiga golongan tersebut bahwa:
(1). “Dzalimun linafsihi atau orang-orang yang menganiaya diri sendiri adalah orang-orang yang meninggalkan kewajiban dan melakukan banyak maksiat.”


(2). “Muqtashid atau pertengahan adalah orang-orang yang hanya melakukan perbuatan wajib saja dan menghindarkan diri dai perbuatan maksiat, mereka meninggalkan perbuatan-perbuatan baik dan melakukan perbuatan-perbuatan makruh (tercela).”

(3). “Sabiqun bilkhairat atau orang yang lebih dahulu berbuat kebaikan adalah orang-orang yang melaksanakan kewajiban dan kebaikan-kebaikan lainnya, meninggalkan perbuatan-perbuatan yang haram dan makruh, bahkan juga meninggalkan perbuatan yang mubah.” (Tafsir Ibnu Katsir)

Orang-orang dalam golongan pertama tersebut adalah orang-orang yang tidak memperhatikan kewajiban yang harus mereka lakukan. Mereka meninggalkan dengan sengaja kewajiban-kewajiban seperti shalat, Puasa, dan kewajiban-kewajiban lain. Lebih parah lagi, mereka bukan hanya meninggalkan kewajiban, akan tetapi mereka justru melakukan perbuatan-perbuatan yang haram. Jadilah mereka orang-orang yang menganiaya diri sendiri karena meninggalkan kewajiban, dan pada saat yang sama mereka juga menganiaya diri sendiri dengan melakukan perbuatan yang diharamkan.

Golongan muqtashid, mereka merasa cukup hanya dengan melakukan kewajiban saja, sehingga meremehkan perbuatan-perbuatan baik lainnya (sunnah). Mereka mendirikan shalat wajib, melaksanakan puasa wajib, membayar shadaqah wajib (zakat), akan tetapi mereka meninggalkan shalat-shalat sunnah, puasa-puasa sunnah, dan tidak bershadaqah selain zakat. Disamping itu, meskipun mereka telah meninggalkan perbuatan-perbuatan haram, akan tetapi meraka masih melakukan perbuatan-perbuatan makruh (tercela)

Sabiqun bilkhairat, inilah golongan tertinggi. Mereka tidak berhenti dengan melaksanakan perbuatan-perbuatan yang diwajibkan. Akan tetapi mereka menambah kebaikan mereka dengan kebaikan-kebaikan lainnya (amalan-amalan sunnah). Shalat misalnya, mereka mendirikan shalat-shalat wajib dan menambah kebaikan dengan shalat-shalat sunnah rawatib, dan shalat-shalat sunnah lainnya. Begitu pula dengan puasa, mereka tidak hanya berpuasa di bulan Ramadhan, mereka juga berpuasa pada hari-hari yang di sunnahkan; Puasa ‘Arafah, ‘Asyura’, 6 hari Syawwal, shaumul bidh (tgl 13, 14, 15 bulan qamariyah), dan hari-hari lain yang disunnahkan untuk berpuasa, sampai pada puasa Daud. Demikian halnya dengan shadaqah. Orang-orang dalam golongan ini, disamping mereka meninggalkan perbuatan-perbuatan haram, mereka juga menjauhkan diri dari perbuatan yang makruh, bahkan perbuatan mubah (yang sebenarnya boleh) tetapi kurang bermanfaat juga mereka tinggalkan.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

مِنْ حُسْنِ إِسْلَامِ الْمَرْءِ تَرْكُهُ مَا لَا يَعْنِيهِ

“Di antara tanda bagusnya islam seseorang adalah meninggalkan segala yang tidak bermanfaat baginya.” (HR. At-Tirmidzi dan Ibnu Majah)

Mujahid, Al-Hasan, dan Qatadah menyebutkan tentang tiga golongan tersebut bahwa: (1). Dzalimun linafsihi (orang yang mendzalimi diri sendiri) adalah ash-habul masy’amah (golongan kiri). (2).Muqtashid (pertengahan) adalah ash-habul maimanah (golongan kanan). (3). Sabiqun bilkhairat (lebih dahulu berbuat kebaikan) adalah al-muqarrabun. (Tafsir Al-Baghawi)

وَكُنتُمْ أَزْوَاجاً ثَلَاثَةً ◌ فَأَصْحَابُ الْمَيْمَنَةِ ◌ مَا أَصْحَابُ الْمَيْمَنَةِ ◌ وَأَصْحَابُ الْمَشْأَمَةِ مَا أَصْحَابُ الْمَشْأَمَةِ ◌ وَالسَّابِقُونَ السَّابِقُونَ ◌ أُوْلَئِكَ الْمُقَرَّبُونَ ◌ فِي جَنَّاتِ النَّعِيمِ

Allah berfirman dalam surat Al-Waqi’ah: 7-12: “Dan kamu menjadi tiga golongan. Yaitu golongan kanan. Alangkah mulianya golongan kanan itu. Dan golongan kiri. Alangkah sengsaranya golongan kiri itu. Dan orang-orang yang beriman paling dahulu, Mereka Itulah yang didekatkan kepada Allah. Berada dalam jannah kenikmatan.”


Sumber: muhsyams

3 amalan yang aling disukai Allah


Hasil gambar untuk umat islam yang diusir oleh nabi kelak di hari kiamatAllah SWT menyukai manusia yang selalu berusaha untuk taqarrub ke pada-Nya,
dengan menggunakan semua kenikmatan yang diberikan, baik nikmat dhohir maupun nikmat bathin. Semua perbuatan yang dilakukannya semata-mata ditujukan untuk meraih ridha Allah.

Dalam suatu kesempatan seorang shahabat Nabi SAW yang bernama Ibnu Mas’ud ra bertanya kepada Nabi SAW: Ya Nabi SAW, amalan apa yang paling disukai Allah SWT ?
Nabi SAW menjawab, "sholat tepat pada waktunya".
Ibnu Mas'ud bertanya lagi, "kemudian apa lagi ?".
Rasulillah SAW menjawab
"berbakti kepada orang tua".
Ibnu mas'ud bertanya lagi, "kemudian apa lagi ya Rasulillah ?".
Rasulillah SAW menjawab
"Berjihad di jalan Allah".
Hadist diriwayatkan oleh mutafaqalaih.
Sekarang Mari membahasnya satu- persatu

1. Shalat tepat pada waktunya

Perintah menegakkan shalat di sebut dalam lebih dari 10 ayat dalam al-Qur’an.
Menegakan shalat tepat pada waktunya terutama shalat lima waktu.
“shalat adalah tiang agama” demikian yang disampaikan nabi dalam hadist yang lain.
jika amalan wajib yang lain diperintahkan melalui kitab2 allah dengan lantaran malaikat jibril, tidak dengan shalat, shalat adalah perintanh langsung yang di sampaikan kepada nabi muhammad saw, dalam peristiwa di angkatnya beliau menghadap rabbnya, yang kita peringati sebagai malam isra' mi'raj.
lebih kuat mana kah perintah melalui lantaran dengan perintah langsung?
Tentu kuatan perintah langsung kan?
Begitu pentingnya shalat, hingga amal pertama yang akan dihisab di hari akhir nanti adalah shalat.
Menegakkan shalat tepat pada waktunya, itulah amalan manusia yang paling disukai Allah SWT. Allah SWT berfirman dalam salah satu ayat yang artinya “sesungguhnya shalat itu dapat mencegah pada perbuatan keji dan munkar”.
Setelah shalat wajib, ada shalat malam atau tahajjud juga merupakan shalat yang dianjurkan untuk selalu dilaksanakan. Nabi SAW sendiri menghidupkan malam dengan melakukan shalat.

2. Berbakti kepada kedua orang tua

Orang tua menempati kedudukan yang tinggi.
Ridha Allah kepada seorang hamba juga bergantung pada ridha kedua orang tuanya.
Sekaya apapun, sepintar apapun, serta apapun keadaan hamba, ingatlah apa yang telah dicapai itu juga berkat dukungan dan doa kedua orang tua.
Manusia terlahir di dunia berkat campur tangan kedua orang tuanya.
Dan sebaliknya Allah SWT sangat tidak menyukai orang yang berlaku kasar kepada orang tua.
Orang tua kita menduduki tempat ketiga yang harus kita hormati setelah Allah SWT dan RasulNya.

3. Berjihad di jalan Allah

Berjihad dalam makna yang seluas-luasnya.
Ada pemahaman keliru yang sengaja dibiarkan dalam mengartikan kata jihad.
Jihad hanya dipahami sebagai berperang mengangkat senjata melawan orang-orang kafir yang memusuhi islam.
Padahal jihad adalah berjuang dengan segala kemampuan untuk menegakkan ajaran agama.
dan berperang melawan hawa nafsu yang senantiasa mengajak dalam keburukan dan kemaksiatan. Agar mau dan mudah diajak berbuat baik.
Sekali lagi jihad jangan dipahami sebagai berperang saja.
Allah SWT menyuruh kita untuk berjihad dengan menggunakan harta dan jiwa kita.
Jihad dengan apa yang kita miliki baik berupa ilmu, harta dan apapun yang ada pada diri kita.
Jika kita sudah berumah tangga, mencari nafkah dengan jalan yang halal untuk keluarga kita juga termasuk bentuk jihad dijalan Allah.

Allah SWT menyukai orang-orang yang selalu berjihad dijalan-Nya.

Demikian 3 amalan yang paling disukai oleh Allah SWT, shalat tepat pada waktunya, berbakti kepada orang tua dan berjihad dijalan Allah.
semoga kita mendapat pertolongan allah swt agar diberi kemudahan dalam menjalankan semuan perintah dan menjauhi semua larangannya, dan akhirnya kita menjadi orang yang sukses dunia dan akhirat.. Amiin ya robbal'alamin..
  

semoga bermanfaa

Umat Islam Yang Diusir Oleh Nabi Kelak Di Hari Kiamat

Sahabat Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu mengisahkan: pada suatu hari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mendatangi kuburan, lalu beliau mengucapkan salam:

السَّلَامُ عَلَيْكُمْ دَارَ قَوْمٍ مُؤْمِنِينَ، وَإِنَّا إِنْ شَاءَ اللهُ بِكُمْ لَاحِقُونَ

Hasil gambar untuk umat islam yang diusir oleh nabi kelak di hari kiamatSemoga keselamatan senantiasa menyertai kalian wahai penghuni kuburan dari kaum mukminin, dan kami insya Allah pasti akan menyusul kalian“.
Selanjutnya beliau bersabda: “aku sangat berharap untuk dapat melihat saudara-saudaraku“.
Mendengar ucapan ini, para sahabat keheranan, sehingga mereka bertanya: “bukankah kami adalah saudara-saudaramu wahai Rasulullah?”. Rasulullah menjawab :

أَنْتُمْ أَصْحَابِي وَإِخْوَانُنَا الَّذِينَ لَمْ يَأْتُوا بَعْدُ

Kalian adalah sahabat-sahabatku, sedangkan saudara-saudaraku adalah ummatku yang akan datang kelak“.
Kembali para sahabat bertanya: “wahai rasulullah, bagaimana engkau dapat mengenali ummatmu yang sampai saat ini belum terlahir?“. Beliau menjawab:

أَرَأَيْتَ لَوْ أَنَّ رَجُلًا لَهُ خَيْلٌ غُرٌّ مُحَجَّلَةٌ بَيْنَ ظَهْرَيْ خَيْلٍ دُهْمٍ بُهْمٍ أَلَا يَعْرِفُ خَيْلَهُ

Menurut pendapat kalian, andai ada orang yang memiliki kuda yang di dahi dan ujung-ujung kakinya berwarna putih dan kuda itu berada di tengah-tengah kuda-kuda lainnya yang berwarna hitam legam, tidakkah orang itu dapat mengenali kudanya?
Para sahabat menjawab : “tentu saja orang itu dengan mudah mengenali kudanya“. Maka Rasulullah menimpali jawaban mereka dengan bersabda:

فَإِنَّهُمْ يَأْتُونَ غُرًّا مُحَجَّلِينَ مِنَ الْوُضُوءِ، وَأَنَا فَرَطُهُمْ عَلَى الْحَوْضِ أَلَا لَيُذَادَنَّ رِجَالٌ عَنْ حَوْضِي كَمَا يُذَادُ الْبَعِيرُ الضَّالُّ

Sejatinya ummatku pada hari qiyamat akan datang dalam kondisi wajah dan ujung-ujung tangan dan kakinya bersinar pertanda mereka berwudlu semasa hidupnya di dunia“.

Aku akan menanti ummatku di pinggir telagaku di alam mahsyar. Dan ketahuilah bahwa akan ada dari ummatku yang diusir oleh Malaikat, sebagaimana seekor onta yang tersesat dari pemiliknya dan mendatangi tempat minum milik orang lain, sehingga iapun diusir. Melihat sebagian orang yang memiliki tanda-tanda pernah berwudlu, maka aku memanggil mereka: “kemarilah“. Namun para Malaikat yang mengusir mereka berkata:

فَيُقَالُ: إِنَّهُمْ قَدْ بَدَّلُوا بَعْدَكَ

sejatinya mereka sepeninggalmu telah merubah-rubah ajaranmu“.
Mendapat penjelasan semacam ini, maka aku (Rasulullah) berkata :

سُحْقًا سُحْقًا لِمَنْ بَدَّلَ بَعْدِي

menjauhlah, menjauhlah wahai orang-orang yang sepeninggalku merubah-rubah ajaranku” (diriwayatkan oleh Al Bukhari dan Muslim).

Anda tidak ingin bernasib seperti mereka? Tentu jawabannya: tidak.
Karena itu, mari kita menjaga kemurnian ajaran beliau dan mengamalkannya dengan seutuhnya tanpa ditambah atau dikurangi. Ya Allah jadikanlah kami orang-orang yang mendapat syafaat Nabi Muhammad shallallahu alaihi wa sallam pada hari kiyamat kelak. Amiin.
Penulis: Ustadz DR. Muhammad Arifin Baderi, Lc., MA.