Sunday, April 29, 2018

Tanda-Tanda Hari Kiamat Menurut Al-Qur’an

Hasil gambar untuk tanda tanda kiamatTanda-Tanda Hari Kiamat Menurut Al-Qur’an – Hari kiamat merupakan salah satu hari akhir yang wajib kita imani. Kiamat merupakan hari berakhirnya kehidupan diseluruh alam semesta. Peristiwa hari kiamat didahului dengan peniupan terompet sangkakala oleh malaikat isrofil sebagai tanda akan musnahnya alam semesta ini. Hari kiamat adalah hari dimana langit akan terbelah, planet-planet dan huru-haranya telah berterbangan, bintang-bintang berjatuhan, gunung-gunung hancur, matahari digulung, binatang-binatang liar telah dikumpulkan, lautan-lautan meluap, ruh-ruh dipertemukan dengan badan, neraka jahim dinyalakan, surga telah didekatkan, dan bumi diratakan.

Tanda -Tanda Hari Kiamat Menurut Al-Qur’an

Kiamat ada dua macam yakni kiamat sugra (kiamat kecil) dan kiamat kubra (kiamat besar). Kiamat sugra ialah hari kematian seseorang, sedangkan kiamat kubra ialah hari hancurnya alam semesta. Adapun tanda-tanda kiamat pada pembahasan ini ialah tanda-tanda kiamat kubra. Allah menyatakan bahwa peristiwa hari kiamat menjadi rahasia-Nya dan tak ada seorangpun yang tahu termasuk nabi dan malaikat. Rasulullah hanya memberi penjelasan tentang tanda-tanda akan datangnya hari kiamat. Tanda-tanda itu ada yang kecil dan besar. Tanda-tanda kiamat kecil muncul jika hari kiamat belum terlampau dekat. Sedangkan tanda-tanda kiamat besar muncul setelah hari kiamat amat dekat (hampir terjadi).
Tanda-Tanda Kiamat Kecil (‘Alamatus Syughra)

Tanda-tanda kiamat kecil yang nampak itu jaraknya masih jauh dari kejadian hari kiamat. Adapun tanda-tanda kiamat kecil itu sebagai berikut:

Rasulullah SAW bersabda:

“Sesungguhnya diantara tanda-tanda hari Kiamat itu yakni diangkatnya ilmu dan kebodohan nampak jelas, zina tersebar luas, khamar diminum secara leluasa, orang laki-laki pergi, orang perempuan tetap sehingga ada lima puluh wanita hanya memiliki satu anak laki-laki sebagai penuntunnya“. (HR. Bukhari & Muslim).

Penjelasan hadits tersebut dapat diketahui bahwa tanda-tanda kiamat itu diantaranya:

Diangkatnya ilmu dalam arti Allah akan menshalatkan para ulama (orang yang ahli dalam ilmu agama) dan sulit sekali mencari penggantinya. Dengan demikian, ulama yang adapun menjadi ulama yang jahl atau bodoh sehingga ulama itu akan bekerja tidak sesuai dengan disiplin ilmu yang benar. Akhirnya yang diperoleh adalah kehancuran.

Orang-orang Islam semakin bodoh, karena tidak mau belajar dan lebih terbawa oleh dunia yang semakin modern. Informasi yang masuk lewat media cetak dan elektronik tanpa filter, sehingga informasi menjadi sarana trend yang menjadi pedoman hidup. Minuman keras dianggap biasa dan zina merajalela yang sudah bukan rahasia umum lagi bagi orang-orang yang mengaku beragama Islam. Peperangan terjadi dimana-mana, pembunuhan kepada sanak sudara sering terjadi bahkan sampai detik ini.
Tanda-Tanda Kiamat Besar (‘Alamatu Kubra)

Tanda-tanda kiamat besar berarti bahwa tanda itu akan terjadi jika kejadian hari kiamat sudah dekat. Rasulullah saw. bersabda yang artinya: “Bersegeralah kalian dalam beramal (sebelum datang) enam hal yaitu munculnya dajjal, asap, binatang melata, terbitnya matahari dari sebelah barat, masalah yang umum (hari Kiamat), dan sesuatu yang khusus untuk kalian (kematian)“.

    Matahari terbit dari ufuk barat

Nabi bersabda yang artinya: “Tidak akan terjadi hari kiamat sehingga matahari terbit dari debelah barat. Maka apabila matahari terbit dari sebelah barat, lalu para manusiapun akan beriman seluruhnya. Akan tetapi kelakuan yang demikian itu disaat tidak berguna lagi keimanan seseorang yang belum pernah beriman sebelum beriman setelah kejadian tersebut atau memang berbuat kebaikan dengan keimanan yang sudah dimilikinya itu“. (HR. Bukhari, Muslim dan Abu Dawud)

    Munculnya binatang ajaib atau melata yang dapat berbicara dengan manusia

Berita ini bersumber dari QS. An-Naml ayat 82: “Dan apabila perkataan telah jatuh atas mereka, kami keluarkan binatang melata dari bumi yang akan mengatakan kepada mereka“.
Binatang melata ini keluar dari kota Mekah dekat Gunung Shafa sambil berbicara dengan kata-kata yang fasih, sedang permukaan bumi penuh dengan keadilan. Daabbatul ardhi (binatang melata) itu membawa tongkat Nabi Musa as dan cincin Nabi Sulaiman as.

    Keluarnya Imam Mahdi

Imam Mahdi termasuk dealam lingkungan ahlul bait atau keluarga Rasulullah saw., yakni putri beliau yang bernama Fatimah. Ia menyerupai Rasulullah dalam budi pekertinya namun tidak pada bentuk dan rupanya. Beliau akan menegakkan kembali sunnah-sunnah Rasulullah yang mulai banyak berubah dan menegakkan syariat Islam. Dalam hadits dikatakan bahwa ia akan berkuasa selama tujuh tahun.

    Keluarnya Dajjal

Dajjal artinya banyak dustanya atau banyak penipuannya. Dalam sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Bukhari dan Muslim disebutkan bahwa dajjal pengikutnya sebagian besar bangsa Yahudi. Ia akan membawa api dan air, maka apa yang dilihatkan air itu sebenarnya api yang membakar dan apa yang dilihat oleh orang banyak sebenarnya api itu adalah air yang dingin dan tawar. Maka barang siapa menemuinya hendaklah mengambil air tawar.

Dikala itu ia mengaku sebagai Tuhan dan berusaha keras agar seluruh umat manusia mengikuti ajakannya. Ia akan berusaha agar manusia berpaling dari agama yang benar. Selain itu, ia juga akan membuat keanehan yakni hal-hal yang luar biasa yang dipertontonkan kepada manusia. Banyak orang yang akan terpedaya oleh dajjal kecuali orang-orang mukmin yang diteguhkan hatinya oleh Allah SWT. Ia akan mati terbunuh oleh kaum mukmin dibawah pimpinan Nabi Isa as.

    Turunnya Nabi Isa as

Nabi Isa as turun di negeri Syam di menara putih dan akan keluar pada saat Dajjal sedang jaya-jayanya dan amat berkuasa sekali. Beliau yang akan membunuh dajjal dan beliau akan menjadi hakim yang adil serta menjadi pemimpin yang memutuskan sesuatu dengan jujur. Beliau juga akan membuat makmur manusia sehingga saking makmurnya, tidak ada lagi orang yang mau menerima sedekah. Pada waktu itu, sujud lebih bernilai daripada dunia dan seisinya.

    Keluarnya bangsa Ya’juj dan Ma’juj

Ayat yang menyinggung tentang Ya’juj dan Ma’juj terdapat dalam surat Al-Kahfi ayat 98-99. Berdasarkan beberapa hadits dapat disimpulkan bahwa pada zaman Raja Zulkarnain terdapat dua macam bangsa yakni Ya’juj dan Ma’juj. Perilakunya gemar sekali merusak dan membuat onar negara. Ya’juj dan Ma’juj ialah dua anak cucu Adam keturunan dari bangsa Turki dan keturunan Yafit bin Nuh. Mereka terkurung dibelakang dinding yang dulunya dibangun oleh Zulkarnain untuk mereka karena mereka banyak berbuat kejahatan dan kerusakan. Dinding penghalang tersebut dibangun diantara dua gunung yang besar dan sangat kokoh sehingga mereka tidak dapat memanjat dinding tersebut.
Tanda-Tanda Hari Kiamat Menurut Al-Qur’anTanda-Tanda Hari Kiamat Menurut Al-Qur’an
Tanda-Tanda Hari Kiamat Menurut Al-Qur’an

    Keluarnya asap (dukhan)

Dalam QS. Ad-Dukhan ayat 10-12 dijelaskan bahwa asap yang menutupi umat manusia ini merupakan azab yang pedih yang dialami umat manusia. Manusia berkata: “Wahai Tuhan kami, semoga Engkau melenyapkan siksa ini dari kami semua. Sesungguhnya kami adalah orang-orang yang beriman“.

Dalam sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Hudzaifah disebutkan bahwa pada waktu itu asap akan menutupi seluruh alam semesta dari timur sampai ke barat selama 40 hari. Bagi orang mukmin, asap itu hanya sebagai pilek namun untuk orang kafir, asap itu membuat ia mabuk dan asap itu akan keluar dari hidungnya, kedua matanya, telinganya bahkan dari duburnya.

    Terpecahnya bulan

Hal tersebut diterangkan dalam QS. Al-Qamar ayat 1 yang artinya: “Telah dekat datangnya saat (kiamat) itu, dan telah terbelah bulan“.

    Terdengarnya tiupan terompet sangkakala

Kejadian hari kiamat itu begitu dahsyat dan hebatnya, sehingga tidak bisa digambarkan atau diperkirakan dengan sejelas-jelasnya. Datangnya kiamat ditandai dengan tiupan sangka kala seperti dalam firman Allah QS. An-Naml ayat 87 yang artinya: “Dan ingatlah hari (ketika) ditiup sangkakala, maka terkejutlah segala yang di langit dan di bumi, kecuali siapa yang dikehendaki Allah. Dari semua mereka datang menghadap-Nya dengan merendahkan diri“.

Dari Ibnu Abbas ra, Nabi bersabda: “Tatkala Allah telah menciptakan langit dan bumi, maka Dia menciptakan terompet. Dan terompet itu mempunyai sebelas bundaran, kemudian Allah memberikan terompet itu kepada Malaikat Israfil, sedang Israfil meletakkannya dpada mulutnya serta pandangannya diarahkan ke Arsy, sambil menanti kapan dia diperintah“.

Nabi bersabda: “Terompet itu ialah seperti tanduk besar dari cahaya. Demi Dzat Yang telah mengutus saya dengan sebenarnya sebagai Nabi, besar masing-masing bundaran didalam terompet itu seperti lebarnya langit dan bumi. Terompet itu akan ditiup sebanyak tiga kali; yaitu tiupan kejutan yang menakutkan, tiupan kematian dan tiupan kebangkitan“.

Itulah beberapa tanda-tanda datangnya hari kiamat yang pasti akan terjadi. Kita tidak ada yang mengetahuinya kapan kiamat datang, namun yang harus kita lakukan adalah meyakini bahwa hari akhir itu pasti ada dan kita harus benar-benar dalam keadaan yang beriman agar Allah menyelamatkan kita dari dahsyatnya hari kiamat.

Semoga artikel tentang Tanda-Tanda Hari Kiamat Menurut Al-Qur’an dapat bermanfaat bagi kita para pembaca sekalian dan sekian terimakasih 🙂

TANDA-TANDA BESAR KIAMAT

Hasil gambar untuk tanda tanda kiamatOleh
Dr. Yusuf bin Abdillah bin Yusuf al-Wabil

URUTAN TANDA-TANDA BESAR KIAMAT
Kami belum pernah mendapatkan dalil yang secara jelas menerangkan urutan tanda-tanda besar Kiamat berdasarkan kejadiannya. Semuanya hanyalah diungkapkan dalam berbagai hadits tanpa urutan, karena urutan penyebutan di dalamnya sama sekali tidak mengandung arti urutan di dalam kejadian. Ungkapan di dalamnya menggunakan huruf sambung wawu, sementara huruf tersebut tidak mengandung makna urutan.

Ada beberapa nash yang urutannya menyalahi urutan yang disebutkan pada nash lainnya.

Agar hal ini menjadi lebih jelas, maka kami akan menyebutkan sebagian contoh dengan mengungkapkan beberapa hadits yang menyebutkan tanda-tanda besar Kiamat secara keseluruhan atau sebagiannya.

1. Imam Muslim rahimahullah meriwayatkan dari Hudzaifah bin Asid al-Ghifari Radhiyallahu anhu, dia berkata, “Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam datang kepada kami. Sedangkan kami tengah berbincang-bincang, lalu beliau bertanya:

مَا تَذَاكَرُوْنَ؟

‘Apa yang kalian bicarakan?’

Mereka menjawab, ‘Kami sedang membicarakan Kiamat.’ Beliau berkata:

إِنَّهَا لَنْ تَقُوْمَ حَتَّى تَرَوْنَ قَبْلَهَا عَشْرَ آيَاتٍ.

‘Sesungguhnya ia (Kiamat) tidak akan terjadi hingga kalian melihat sepuluh tanda sebelumnya.’

Kemudian beliau menyebutkan asap, Dajjal, binatang, terbitnya matahari dari barat, turunnya Nabi ‘Isa bin Maryam, Ya’-juj dan Ma’-juj, dan tiga khasf (penenggelaman ke dalam bumi); khasf di timur, khasf di barat, dan khasf di Jazirah Arab, dan yang terakhirnya adalah api keluar dari Yaman yang menggiring manusia ke tempat mereka berkumpul.”[1]

Imam Muslim rahimahullah meriwayatkan hadits ini dari Hudzaifah bin Asid dengan lafazh lain, yaitu:

إِنَّ السَّاعَةَ لاَ تَكُوْنُ حَتَّـى تَكُوْنَ عَشْـرُ آيَاتٍ: خَسْفٌ بِالْمَشْرِقِ، وَخَسْفٌ بِالْمَغْرِبِ، وَخَسْفٌ بِجَزِيْرَةِ الْعَرَبِ، وَالدُّخَانُ، وَالدَّجَّالُ، وَدَابَّةُ اْلأَرْضِ، وَيَأْجُوْجُ وَمَأْجُوْجُ، وَطُلُوْعُ الشَّمْسِ مِنْ مَغْرِبِهَا، وَنَارٌ تَخْرُجُ مِنْ قُعْرَةِ عَدَنٍ تَرْحَلُ النَّاسَ.

“Sesungguhnya Kiamat tidak akan terjadi hingga ada sepuluh tanda (sebelumnya): khasf di timur, khasf di barat, khasf di Jazirah Arab, asap, Dajjal, binatang bumi, Ya’-juj dan Ma’-juj, terbitnya matahari dari barat, dan api yang keluar dari jurang ‘Adn yang menggiring manusia.”

Dalam riwayat lain:

وَالْعَاشِرَةُ: نُزُوْلُ عِيْسَى بْنِ مَرْيَمَ.

“Dan yang kesepuluh: turunnya ‘Isa bin Maryam.”[2]

Ini adalah satu hadits dari seorang Sahabat yang diriwayatkan dengan dua lafazh (redaksi) yang berbeda mengenai urutan tanda-tanda besar Kiamat.

2. Imam Muslim rahimahullah meriwayatkan dari Abu Hurairah Radhiyallahu anhu, bahwasanya Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

بَادِرُوا بِاْلأَعْمَـالِ سِتًّا: طُلُوْعَ الشَّمْسِ مِنْ مَغْرِبِهَا، أَوِ الدُّخَانَ، أَوِ الدَّجَّالَ، أَوِ الدَّابَّةَ، أَوْ خَاصَّةَ أَحَدِكُمْ، أَوْ أَمْرَ الْعَامَّةِ.

“Bersegeralah kalian dalam beramal (sebelum datang) enam hal: terbitnya matahari dari barat, asap, Dajjal, binatang, sesuatu yang khusus untuk kalian (kematian), atau masalah yang umum (hari Kiamat).”[3]

Imam Muslim rahimahullah meriwayatkan hadits ini dari Abu Hurairah Radhiyallahu anhu dengan lafazh lain:

بَادِرُوْا بِاْلأَعْمَالِ سِتًّا: اَلدَّجَّالَ، وَالدُّخَـانَ، وَدَابَّةَ اْلأَرْضِ، وَطُلُوْعَ الشَّمْسِ مِنْ مَغْرِبِهَا، وَأَمْرَ الْعَامَّةِ، وَخُوَيْصَةَ أَحَدِكُمْ.

“Bersegeralah kalian dalam beramal (sebelum datang) enam hal: Dajjal, asap, binatang bumi, terbitnya matahari dari barat, masalah yang umum (hari Kiamat), dan sesuatu yang khusus untuk kalian (kematian).”[4]

Ini pun satu hadits dari seorang Sahabat yang diriwayatkan dengan dua redaksi yang berbeda dalam urutan sebagian tanda-tanda besar Kiamat juga dalam penggunaan huruf athaf, di mana riwayat yang pertama menggunakan (أَوْ) sedangkan yang lain menggunakan (وَ), dan keduanya sama sekali tidak menunjukkan urutan.

Yang mungkin kita ketahui adalah urutan sebagian tanda dari segi kemunculan sebagiannya setelah yang lainnya, sebagaimana terdapat dalam beberapa riwayat, seperti yang dijelaskan dalam hadits an-Nawwas bin Sam’an Radhiyallahu anhu, sebagaimana akan dijelaskan nanti insyaa Allah Ta’ala. Disebutkan di dalamnya sebagian tanda secara berurutan berdasarkan kejadiannya. Di dalamnya disebutkan keluarnya Dajjal kepada manusia terlebih dahulu, lalu turunnya Nabi ‘Isa Alaihissallam untuk membunuhnya, setelah itu keluarnya Ya’-juj dan Ma’-juj pada masa Nabi ‘Isa Alaihissallam, dan menyebutkan do’a beliau agar mereka dihancurkan.

Demikian pula terdapat di sebagian riwayat bahwa tanda yang pertama adalah ini, sementara yang terakhir adalah ini. Walaupun demikian, sesungguh-nya ada perbedaan pendapat di antara para ulama tentang tanda yang pertama kali muncul, dan perdebatan ini sudah ada sejak zaman para Sahabat Radhiyallahu anhum. Imam Ahmad dan Muslim رحمهما الله meriwayatkan dari Abu Zur’ah [5] , beliau berkata, “Ada tiga orang dari kalangan kaum muslimin yang duduk bersama Marwan bin Hakam di Madinah, mereka mendengarnya meriwayatkan hadits tentang tanda-tanda (Kiamat) bahwa yang pertama menjadi tandanya adalah keluarnya Dajjal. Kemudian ‘Abdullah bin ‘Amr[6] rahimahullah berkata, “Marwan tidak mengatakan sesuatu (yang bisa dipegang), aku telah hafal dari Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam sebuah hadits yang tidak pernah aku lupakan setelahnya, aku mendengar Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

إِنَّ أَوَّلَ اْلآيَاتِ خُرُوْجًا طُلُوعُ الشَّمْسِ مِنْ مَغْرِبِهَا، وَخُرُوْجُ الدَّابَّةِ عَلَى النَّاسِ ضُحَى، وَأَيُّهُمَا مَا كَانَتْ قَبْلَ صَاحِبَتِهَا؛ فَاْلأُخْرَى عَلَى إِثْرِهَا قَرِيْبًا.

“Sesungguhnya tanda (Kiamat) yang pertama kali keluar adalah terbit-nya matahari dari arah barat, lalu keluarnya binatang (dari dalam bumi) kepada manusia pada waktu dhuha. Dan mana saja di antara keduanya yang terlebih dahulu keluar, maka yang lainnya terjadi setelahnya dalam waktu yang dekat.”

Ini adalah redaksi dalam riwayat Muslim.

Sementara Imam Ahmad rahimahullah memberikan tambahan dalam riwayatnya, “‘Abdullah berkata -saat itu beliau membaca beberapa kitab- ‘Aku meyakini bahwa yang pertama kali keluar adalah terbitnya matahari dari barat.’”[7]

Benar, al-Hafizh Ibnu Hajar rahimahullah menggabungkan antara (riwayat yang menjelaskan) bahwa keluarnya Dajjal adalah yang pertama kali dan (riwayat yang menjelaskan) bahwa terbitnya matahari dari barat adalah yang pertama kali, beliau berkata, “Pendapat yang paling kuat dari keseluruhan riwayat bahwa keluarnya Dajjal adalah tanda besar pertama yang mengisyaratkan perubahan keadaan secara umum di muka bumi, hal itu berakhir dengan wafatnya Nabi ‘Isa Alaihissallam. Sedangkan terbitnya matahari dari arah barat adalah tanda besar pertama yang mengisyaratkan perubahan alam atas (susunan tata surya), hal itu berakhir dengan datangnya Kiamat, dan saya kira keluarnya binatang besar (dari perut bumi) terjadi pada hari itu di mana matahari terbit dari barat.”

Kemudian beliau berkata, “Hikmah dalam hal itu bahwa ketika matahari terbit dari barat, pintu taubat ditutup, lalu binatang besar keluar. Binatang besar ini akan membedakan antara seorang mukmin dan kafir, sebagai penyempurna dari tujuan penutupan pintu taubat, dan tanda pertama yang mengisyaratkan tegaknya Kiamat adalah api yang mengumpulkan manusia.”[8]

Adapun al-Hafizh Ibnu Katsir berpendapat bahwa keluarnya binatang besar yang aneh merupakan tanda Kiamat besar pertama yang terjadi di muka bumi (alam bawah), karena binatang yang berbicara dengan manusia dan membedakan antara seorang mukmin dan kafir adalah hal yang menyelisihi kebiasaan.

Sementara terbitnya matahari dari barat, maka hal itu merupakan hal yang sangat jelas dan merupakan tanda Kiamat pertama yang terjadi di langit.

Adapun munculnya Dajjal, turunnya Nabi ‘Isa Alaihissallam dari langit, dan keluarnya Ya’-juj dan Ma’-juj, walaupun mereka keluar sebelum terbit matahari dari barat sebelum munculnya binatang karena mereka semua adalah manusia, menyaksikan mereka juga yang semisal dengan mereka, bukan hal aneh. Berbeda dengan keluarnya binatang dan terbitnya matahari dari barat, maka se-muanya adalah hal aneh.[9]

Nampaknya, pendapat yang dapat dijadikan sandaran adalah pendapat yang dipegang oleh Ibnu Hajar, karena keluarnya Dajjal dari keadaannya sebagai seorang manusia sama sekali bukan tanda Kiamat, yang menjadikannya sebagai tanda Kiamat adalah keadaannya sebagai manusia dengan kemampuan memerintahkan langit untuk menurunkan hujan, maka hujan pun turun, dan memerintahkan bumi agar menumbuhkan tumbuhan, maka bumi pun me-numbuhkan tumbuhan. Dia memiliki banyak kemampuan yang luar biasa, sebagaimana akan dijelaskan dalam pembahasan tentang Dajjal.

Maka Dajjal pada hakikatnya adalah tanda Kiamat besar pertama yang terjadi di bumi yang ada di luar kebiasaan.

Ath-Thaibi rahimahullah [10] berkata, “Kejadian-kejadian luar biasa tersebut merupakan tanda-tanda Kiamat, sebagai tanda akan dekatnya Kiamat, atau tanda akan terjadinya Kiamat. Yang pertama adalah Dajjal, turunnya Nabi ‘Isa, Ya’-juj Ma’-juj, dan penenggelaman ke dalam bumi. Bagian kedua adalah asap, terbit-nya matahari dari barat, keluarnya binatang, dan api yang mengumpulkan manusia.”[11]

Ini adalah urutan antara satu kelompok tanda-tanda Kiamat dengan kelompok yang lainnya tanpa berusaha mengurutkan setiap tanda yang ada di bawah dua kelompok tersebut, walaupun nampak bagi kami bahwa ath-Thaibi berpendapat adanya urutan Kiamat sesuai dengan yang beliau sebutkan pada setiap kelompok, karena pembagian ini -yang beliau pegang- adalah pembagian yang baik lagi teliti. Karena, jika bagian pertama yang menunjukkan dekatnya Kiamat telah keluar, maka hal itu bisa menyadarkan setiap manusia agar mereka bertaubat dan kembali kepada Rabb mereka, yang sebelumnya belum ada pembedaan antara seorang mukmin dan kafir. Tanda-tanda yang beliau sebutkan pada pembagian pertama telah kami nyatakan bahwa semua urutannya sesuai dengan kejadiannya, ditambah lagi dengan adanya penenggelaman ke dalam bumi, maka hal itu sesuai baginya.

Adapun jika bagian kedua telah muncul -yang menunjukkan datangnya Kiamat-, maka sesungguhnya manusia sudah dibedakan antara mukmin dan kafir, seperti yang akan dijelaskan nanti bahwa ketika munculnya asap yang menimpa setiap mukmin, maka mereka seperti dalam keadaan pilek, adapun orang kafir mengembung karena menghirup asap tersebut. Kemudian matahari terbit dari barat, maka tutuplah pintu taubat, sehingga keimanan seseorang yang sebelumnya kafir sama sekali tidak bermanfaat, demikian pula seseorang yang bertaubat. Setelah itu muncullah binatang besar yang akan membeda-bedakan manusia, sehingga seorang kafir bisa dibedakan dari seorang mukmin, karena binatang tersebut memberikan tanda bagi orang mukmin juga memberikan tanda (lain) bagi orang kafir sebagaimana akan dijelaskan. Dan akhir dari itu semua adalah munculnya api yang menggiring manusia.

Kami sengaja menyebutkan tanda-tanda besar Kiamat sesuai dengan urutan yang disebutkan oleh ath-Thaibi; karena pendapat itu -menurut hemat kami- lebih dekat kepada kebenaran, wallaahu a’lam.

Dan sebelum menyebutkan tanda-tanda besar yang sepuluh ini, kami akan berbicara terlebih dahulu tentang al-Mahdi, karena dia muncul sebelum tanda-tanda tersebut. Dialah yang bergabung dengan kaum mukminin untuk membunuh Dajjal, kemudian turunlah Nabi ‘Isa Alaihissallam, dan shalat di belakang-nya sebagaimana akan dijelaskan, insya Allah.

BERANGKAINYA KEMUNCULAN TANDA-TANDA BESAR KIAMAT
Jika tanda besar Kiamat yang pertama telah muncul, maka tanda-tanda yang lainnya akan keluar secara berurutan bagaikan mutiara di dalam sebuah rangkaian, salah satunya mengikuti yang lain.

Ath-Thabrani rahimahullah meriwayatkan dalam kitab al-Ausath dari Abu Hurairah Radhiyallahu anhu, dari Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam , beliau bersabda:

خُرُوْجُ اْلآيَاتِ بَعْضُهَا عَلَـى إِثْرِ بَعْضٍ، يَتَتَابَعْنَ كَمَـا تَتَابَعَ الْخَرَزُ فِي النِّظَامِ.

“Munculnya tanda-tanda (Kiamat) sebagiannya mengikuti bagian yang lain, saling mengikuti bagaikan mutiara pada sebuah rangkaian.”[12]

Dan al-Imam Ahmad meriwayatkan dari ‘Abdullah bin ‘Amr Radhiyallahu anhuma, beliau berkata, “Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

اْلآيَاتُ خَرَزَاتٌ مَنْظُوْمَاتٌ فِيْ سِلْكٍ، فَإِنْ يُقْطَعِ السِّلْكُ؛ يَتْبَعْ بَعْضُهَا بَعْضًا.

‘Tanda-tanda (Kiamat) bagaikan mutiara yang terangkai di dalam seutas benang, jika benang itu diputus, maka sebagiannya akan mengikuti sebagian yang lain.’”[13]

Hemat kami -wallaahu a’lam- yang dimaksud dengan tanda-tanda di sini adalah tanda-tanda besar Kiamat, karena zhahir dari hadits-hadits ini menunjukkan saling berdekatannya kemunculan tanda-tanda tersebut dengan jarak yang sangat dekat.

Hal ini diperkuat oleh keterangan yang telah berlalu tentang urutan tanda-tanda besar Kiamat, di mana sebagian hadits menyebutkan bahwa se-bagian tanda-tanda itu muncul pada zaman yang saling berdekatan. Tanda besar Kiamat yang pertama setelah kemunculan al-Mahdi adalah keluarnya Dajjal, kemudian turunnya ‘Isa Alaihissallam untuk membunuhnya, selanjutnya datangnya Ya’-juj Ma’-juj, dan do’a Nabi ‘Isa Alaihissallam untuk kebinasaan mereka, akhirnya Allah membinasakan mereka, selanjutnya Nabi ‘Isa Alaihissallam berkata:

فَفِيْمَا عَهِدَ إِلَيَّ رَبِّـيْ أَنَّ ذَلِكَ إِذَا كَانَ كَذَلِكَ؛ فَإِنَّ السَّاعَةَ كَالْحَامِلِ الْمُتِمِّ الَّتِـيْ لاَ يَدْرِيْ أَهْلُهَا مَتَـى تَفْجَؤُهُمْ بِوَلاَدِهَا لَيْلاً أَوْ نَهَارًا.

“Maka di antara yang diwahyukan oleh Rabb-ku kepadaku, bahwa hal itu (Kiamat) terjadi jika demikian. Maka sesungguhnya Kiamat itu bagaikan wanita hamil yang telah sempurna (kehamilannya) sementara keluarganya tidak mengetahui kapan mereka dikagetkan oleh kelahirannya, malam harikah atau siang hari?”[14]

Ini adalah dalil sangat dekatnya Kiamat, karena antara wafatnya Nabi ‘Isa Alaihissallam dan terjadinya Kiamat terdapat beberapa tanda-tanda besar Kiamat, seperti terbitnya matahari dari barat, munculnya binatang besar, asap, dan keluarnya api yang mengumpulkan manusia. Tanda-tanda Kiamat ini terjadi dalam waktu yang sangat singkat sebelum tegaknya Kiamat. Perumpamaannya seperti ikatan yang terputus dari rangkaiannya, wallaahu a’lam.

Dan kami telah mendapatkan sesuatu yang memperkuat pendapat yang telah kami sebutkan. Al-Hafizh Ibnu Hajar rahimahullah telah berkata, “Telah tetap bahwa tanda-tanda besar Kiamat bagaikan benang, jika ia putus, maka mutiara yang ada di dalamnya akan berjatuhan. Hadits ini dijelaskan di dalam riwayat Ahmad.” [15]

[Disalin dari kitab Asyraathus Saa’ah, Penulis Yusuf bin Abdillah bin Yusuf al-Wabil, Daar Ibnil Jauzi, Cetakan Kelima 1415H-1995M, Edisi Indonesia Hari Kiamat Sudah Dekat, Penerjemah Beni Sarbeni, Penerbit Pustaka Ibnu Katsir]
_______
Footnote
[1]. Shahiih Muslim , kitab al-Fitan wa Asyraathus Saa’ah (XVIII/27-28, Syarh an-Nawawi).
[2]. Shahiih Muslim (XVIII/28-29, Syarh an-Nawawi).
[3]. Shahiih Muslim, kitab al-Fitan wa Asyraathus Saa’ah bab fii Baqiyyati min Ahaadiitsid Dajjal (XVIII/ 78, Syarh an-Nawawi).
[4]. Ibid.
[5]. Dikatakan bahwa namanya adalah Haram, ada juga yang mengatakan ‘Abdullah dan ada juga yang mengatakan ‘Abdurrahman bin ‘Amr bin Jarir bin ‘Abdillah al-Bajali al-Kufi dari kalangan ulama Tabi’in. Beliau melihat ‘Ali Radhiyallahu anhu dan telah meriwayatkan hadits dari Abu Hurairah, Mu’awiyah dan ‘Abdullah bin ‘Amr bin al-‘Ash Radhiyallahu anhuma. Lihat Tahdziibut Tahdziib (XII/99).
[6]. Di dalam teks asli bahasa Arab tertulis ‘Abdullah bin ‘Umar, sementara di dalam teks asli hadits saya temukan ‘Abdullah bin ‘Amr.-penj.
[7]. Musnad Ahmad (II/110-111), tahqiq Ahmad Syakir, dan Shahiih Muslim, kitab al-Fitan wa Asyraathus Saa’ah, bab Dzikrud Dajjal (XVIII/77-78, dengan Syarh an-Nawawi).
[8]. Fat-hul Baari (XI/353).
[9].Lihat an-Nihaayah/al-Fitan wal Malaahim (I/164-168), tahqiq Dr. Thaha Zaini.
[10]. Beliau adalah Syarafuddin al-Hasan bin Muhammad bin ‘Abdillah ath-Thaibi, termasuk kalangan ulama hadits, tafsir dan sastra. Beliau memiliki beberapa karya tulis, di antaranya: Syarh Misykaatil Mashaabiih, Syarh al-Kasyaaf, al-Khulaashah fii Ushuulil Hadiits, dan yang lainnya.
Al-Hafizh Ibnu Hajar berkata tentangnya, “Dia sangat piawai dalam mengeluarkan makna-makna mendalam di dalam al-Qur-an dan as-Sunnah, orang yang bersemangat dalam menyebarkan ilmu dan memiliki ‘aqidah yang shahih.”
Beliau raimahullah wafat pada tahun 743 H.
Lihat biografinya dalam kitab Syadzaraatudz Dzahab (VI/137-138), Kasyfudz Dzunuun (I/720), al-A’laam (II/256), karya az-Zarkali.
[11]. Fat-hul Baari (XI/352-353).
[12]. Al-Haitsami berkata, “Diriwayatkan oleh ath-Thabrani dalam al-Ausath, dan perawinya adalah perawi ash-Shahiih selain ‘Abdullah bin Ahmad bin Hanbal dan Dawud az-Zahrani, keduanya tsiqah.” Majmaa’uz Zawaa-id (VII/331).
Al-Albani berkata, “Shahih.” Lihat Shahiih al-Jaami’ish Shaghiir (III/110, no. 3222).
[13]. Musnad Ahmad (XII/6-7, no. 7040) syarah Ahmad Syakir, beliau berkata, “Isnadnya shahih.”
Al-Haitsami berkata, “Diriwayatkan oleh Ahmad, dan di dalamnya ada ‘Ali bin Zaid, dia adalah perawi yang hasan haditsnya.” Majmaa’uz Zawaa-id (VII/321).
[14]. Musnad Imam Ahmad dari hadits Ibnu Mas’ud Radhiyallahu anhu (V/189-190, no. 3556), tahqiq Ahmad Syakir, beliau berkata, “Sanadnya shahih.”
[15]. Fat-hul Baari (XIII/77).

Sumber: https://almanhaj.or.id/3421-tanda-tanda-besar-kiamat.html

Saturday, April 28, 2018

Berbicara Agama Tanpa Ilmu Lebih Bahaya dari Dosa Kesyirikan

Hasil gambar untuk pemandangan indahIbnul Qayyim mengatakan, “Allah subhanahu wa ta’ala telah mengharamkan berbicara tentang-Nya tanpa dasar ilmu baik dalam fatwa dan memberi keputusan. Allah menjadikan perbuatan ini sebagai keharaman paling besar bahkan Dia menjadikannya sebagai tingkatan dosa paling tinggi.”

Allah Ta’ala berfirman,

قُلْ إنَّمَا حَرَّمَ رَبِّيَ الْفَوَاحِشَ مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ وَالْإِثْمَ وَالْبَغْيَ بِغَيْرِ الْحَقِّ وَأَنْ تُشْرِكُوا بِاللَّهِ مَا لَمْ يُنَزِّلْ بِهِ سُلْطَانًا وَأَنْ تَقُولُوا عَلَى اللَّهِ مَا لَا تَعْلَمُونَ

“Katakanlah: “Rabbku hanya mengharamkan perbuatan yang keji, baik yang nampak atau pun yang tersembunyi, dan perbuatan dosa, melanggar hak manusia tanpa alasan yang benar, (mengharamkan) mempersekutukan Allah dengan sesuatu yang Allah tidak menurunkan hujah untuk itu dan (mengharamkan) mengada-adakan terhadap Allah apa yang tidak kamu ketahui“.” (QS. Al A’rof: 33)”

Ibnul Qayyim -rahimahullah- ketika menjelaskan ayat di atas mengatakan, “Allah mengurutkan keharaman menjadi empat tingkatan. Allah memulai dengan menyebutkan tingkatan dosa yang lebih ringan yaitu al fawaahisy (perbuatan keji). Kemudian Allah menyebutkan keharaman yang lebih dari itu, yaitu melanggar hak manusia tanpa jalan yang benar. Kemudian Allah beralih lagi menyebutkan dosa yang lebih besar lagi yaitu berbuat syirik kepada Allah. Lalu terakhir Allah menyebutkan dosa yang lebih besar dari itu semua yaitu berbicara tentang Allah tanpa ilmu. Larangan berbicara tentang Allah tanpa ilmu ini mencakup berbicara tentang nama dan shifat Allah, perbuatan-Nya, agama dan syari’at-Nya.”

Mengapa bisa dikatakan demikian? Karena berbicara tentang Allah dan agama-Nya tanpa dasar ilmu akan membawa pada dosa-dosa yang lainnya.

Semoga hal ini sebagai nasehat bagi kita semua, termasuk juga penulis. Begitu banyak kita lihat saudara-saudara kita memberi komentar dalam masalah agama, padahal tidak ada satu pun dasar dari Al Qur’an dan Hadits yang ia bawa, bahkan mereka jarang mempelajari agama tetapi sangat nekad dan berani untuk memberi komentar. Semestinya setiap muslim selalu menjaga lisan dan perkataan. Seharusnya setiap muslim yang tidak memiliki ilmu agama diam dan tidak banyak bicara daripada banyak komentar sana-sini tanpa dasar ilmu sama sekali. Hanya kepada Allah kami meminta perlindungan dari dosa semacam ini.

Hanya Allah yang memberi taufik.

 

Faedah Ilmu dari I’lamul Muwaqi’in, Ibnul Qayyim, 1/38, Darul Jail Beirut

Sumber : https://rumaysho.com/590-berbicara-agama-tanpa-ilmu-lebih-bahaya-dari-dosa-kesyirikan.html

Seandainya Tidak Ada Keutamaan Ilmu Selain Ini

Hasil gambar untuk lilinNabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

نَضَّرَ اللَّهُ امْرَأً سَمِعَ مَقَالَتِى فَوَعَاهَا وَحَفِظَهَا وَبَلَّغَهَا

“Moga Allah memperelok seseorang yang mendengar perkataanku, lalu dia memahaminya, menghafalnya dan menyampaikannya.” (HR. Tirmidzi no. 2658 dengan sanad yang shahih)

Ibnul Qayyim rahimahullah mengatakan mengenai makna hadits di atas,

Kalau tidak ada keutamaan ilmu selain yang disebutkan dalam hadits di atas, maka itu sudahlah cukup menunjukkan kemuliaan ilmu syar’i. Karena Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mendoakan kepada orang yang mendengar hadits, lalu memahaminya, menghafalkannya dan menyampaikannya pada yang lainnya. Inilah tingkatan ilmu. Pertama dan keduanya adalah mendengar dan merenungkan ilmu. Jika seseorang mendengarnya dan memperhatikan dengan hatinya, menancaplah ilmu dalam qolbunya sebagaimana menancapnya sesuatu yang selalu jadi pusat perhatian, yang hal ini tidak membuat ilmu itu hilang. Tingkatan ketiga adalah menghafalnya sehingga tidak terlupa. Tingkatan keempat adalah menyampaikan dan menyebarkan hadits (ilmu) di tengah-tengah ummat. Ilmu yang tidak disampaikan pada orang lain adalah ibarat harta simpanan yang dipendam di tanah yang tidak pernah diinfaqkan. Ilmu yang tidak diinfaqkan (artinya: tidak disampaikan pada orang lain, pen) padahal hal itu sudah diilmui, maka lambat laut, ilmu itu akan sirna. Namun jika ilmu diinfaqkan (disampaikan) pada yang lain, maka ilmu itu akan terus tumbuh dan berkembang.

Barangsiapa yang melakukan empat martabat ini, maka ia termasuk dalam orang yang menjalankan dakwah nabawiyyah yang hal ini mencerahkan lahir dan batin. Karena yang namanya nadhroh, maksudnya adalah keelokan di wajah karena sebab iman dan hal ini pun akan merambat pada batin yang ikut menjadi elok. Hati menjadi begitu ceria dengan keelekon tersebut dan inilah yang namanya kegembiraan. Kegembiraan inilah yang akhinya tampak pada wajah.[1]

***

Bahasan singkat ini menunjukkan akan kemuliaan ilmu syar’i. Karena ilmu jika dimuthlaqkan maka maksudnya adalah demikian dan bukan maksudnya adalah ilmu dunia. Jika seseorang memperhatikan penjelasan hadits di atas, maka seharusnya ia termotivasi mempelajari, memahami, menghafalkan ilmu syar’i yang dipelajari, lalu setelah itu ilmu tersebut disampaikan pada yang lain. Karena ilmu yang sekedar disimpan untuk diri sendiri, maka lama kelamaan bisa sirna sebagaimana harta simpanan yang tidak pernah diinfaqkan dan hanya sekedar dipendam di dalam tanah. Beda halnya jika ilmu itu gemar disampaikan pada yang lainnya, maka ilmu itu akan terus bertambah dan berkembah. Oleh karenanya, janganlah bosan mencari ilmu dan menyebarkannya pada saudara muslim yang lainnya, baik melalui tulisan, lisan atau pun dengan contoh suri tauladan yang hasan (baik).

Wallahu waliyyut taufiq.


Worth note in Panggang-GK, 21st Shafar 1432 H, 25/01/2011 <in the blessed morning on vacation>

www.rumaysho.com

Sumber : https://rumaysho.com/1534-seandainya-tidak-ada-keutamaan-ilmu-selain-ini.html

Menyembunyikan Ilmu

Hasil gambar untuk lilinAllah ta’ala berfirman :

إِنَّ الَّذِينَ يَكْتُمُونَ مَا أَنْزَلْنَا مِنَ الْبَيِّنَاتِ وَالْهُدَى مِنْ بَعْدِ مَا بَيَّنَّاهُ لِلنَّاسِ فِي الْكِتَابِ أُولَئِكَ يَلْعَنُهُمُ اللَّهُ وَيَلْعَنُهُمُ اللاعِنُونَ * إِلا الَّذِينَ تَابُوا وَأَصْلَحُوا وَبَيَّنُوا فَأُولَئِكَ أَتُوبُ عَلَيْهِمْ وَأَنَا التَّوَّابُ الرَّحِيمُ
 
“Sesungguhnya orang-orang yang menyembunyikan apa yang telah Kami turunkan berupa keterangan-keterangan (yang jelas) dan petunjuk, setelah Kami menerangkannya kepada manusia dalam Al-Kitab, mereka itu dilaknati Allah dan dilaknati (pula) oleh semua (makhluk) yang dapat melaknati, kecuali mereka yang telah taubat dan mengadakan perbaikan dan menerangkan (kebenaran), maka terhadap mereka itu Aku menerima taubatnya dan Akulah Yang Maha Penerima taubat lagi Maha Penyayang” [QS. Al-Baqarah : 159-160].
 
Al-Qurthubiy rahimahullah berkata :
أخبر الله تعالى أن الذي يكتم ما أنزل من البينات والهدى ملعون. واختلفوا من المراد بذلك، فقيل: أحبار اليهود ورهبان النصارى الذين كتموا أمر محمد صلى الله عليه وسلم، وقد كتم اليهود أمر الرجم. وقيل: المراد كل من كتم الحق، فهي عامة في كل من كتم علما من دين الله يحتاج إلى بثه،....... قوله تعالى: {مِنْ بَعْدِ مَا بَيَّنَّاهُ} الكناية في "بيناه" ترجع إلى ما أنزل من البينات والهدى. والكتاب: اسم جنس، فالمراد جميع الكتب المنزلة.
قوله تعالى: {أُولَئِكَ يَلْعَنُهُمُ اللَّهُ} أي يتبرأ منهم ويبعدهم من ثوابه ويقول لهم: عليكم لعنتي، كما قال للّعين: {وَإِنَّ عَلَيْكَ لَعْنَتِي} [ص: 78]. وأصل اللعن في اللغة الإبعاد والطرد، وقد تقدم.
قوله تعالى: {وَيَلْعَنُهُمُ اللاَّعِنُونَ} قال قتادة والربيع: المراد "باللاعنون" الملائكة والمؤمنون. قال ابن عطية: وهذا واضح جار على مقتضى الكلام.
 
“Allah ta’ala telah mengkhabarkan orang yang menyembunyikan keterangan-keterangan yang jelas dan petunjuk yang diturunkan Allah termasuk orang yang terlaknat. Para ulama berselisih pendapat maksud orang yang terlaknat tersebut. Dikatakan : Mereka adalah para rahib Yahudi dan pendeta Nashara yang menyembunyikan perkara Muhammad shallallaahu ‘alaihi wa sallam. Orang-orang Yahudi juga telah menyembunyikan ayat rajam.[1] Dikatakan juga bahwa yang dimaksud orang yang terlaknat tersebut adalah orang yang menyembunyikan kebenaran. Dan hal itu berlaku umum bagi setiap orang yang menyembunyikan ilmu agama Allah yang seharusnya disebarluaskan.

Dan firman-Nya ta’ala  : ‘Setelah Kami menerangkannya kepada manusia dalam Al-Kitab’ ; merupakan kinayah dari kalimat : ‘setelah Kami menerangkannya’ yang kembali pada apa yang telah Allah turunkan berupa berbagai keterangan dan petunjuk. Adapun Al-Kitab merupakan kata jenis, yang mempunyai maksud semua kitab suci yang diturunkan oleh Allah…. Firman-Nya : ‘mereka itu dilaknati Allah’ ; maksudnya : Allah berlepas diri dari mereka dan menjauh dari mereka dari pahala, lalu Allah pun berfirman : ‘Wajib atas kalian akan laknat-Ku’ sebagaimana firman Allah : ‘sesungguhnya kutukan-Ku tetap atasmu’ (QS. Shaad : 78). Dan asal kata dari laknat adalah menjauhi dan mengusir.
 
Firman-Nya ta’ala : ‘mereka itu dilaknati Allah dan dilaknati (pula) oleh semua (makhluk) yang dapat melaknati’. Tentang ayat ini, Qataadah dan Ar-Rabii’ berkata : ‘Maksud dari kata al-laa’inuun adalah para malaikat dan orang-orang beriman. Ibnu ‘Athiyyah berkata : ‘Maknanya ini adalah jelas sesuai dengan maksud kalimat” [Al-Jaami’ li-Ahkaamil-Qur’aan, 2/479-483 tahqiq : Dr. ‘Abdullah bin ‘Abdil-Muhsin At-Turkiy; Muassasah Ar-Risalah, Cet. 1/1427 – dengan peringkasan].
Asy-Syaikh Ahmad Syaakir rahimahullah berkata :

هذا وعيد شديد لمن كتم ما جاءت به الرسل من الدلالات البينة على المقاصد الصحيحة والهدى النافع للقلوب، من بعد ما بينه الله تعالى لعباده في كتبه التي أنزلها على رسله. قال أبو العالية : نزلتْ في أهل الكتاب، كتموا صفة محمد صلى الله عليه وسلم. ثم أخبر أنهم يلعنهم كلّ شيء على صنيعهم ذلك، فكما أن العالم يستغفر له كل شيء حتى الحوت في الماء والطير في الهواء - فهؤلاء بخلاف العلماء، فيلعنهم اللهُ ويلعنهم اللاعنون.......وجاء في هذه الآية أن كاتم العلم يلعنه الله والملائكة والناس أجمعون. واللاعنون ؤيضاًَ، وهم كل فصيح وأعجمي، إما بلسان المقال أو الحال، أو لو كان له عقل، أو يوم القيامة. والله أعلم. ثم استثى الله تعالى من هؤلاء من تاب إليه فقال : "إلا الذيين تابوا وأصلحوا وبيّنوا" أي : رجعوا عما كانوا فيه وأصلحوا أعمالهم وبينوا الناس ما كانوا كتموه. "فأولئك أتوب عليهم وأنَ التوّاب الرحيم". وفي هذا دلالة على أنّ الداعية إلى كفر أو بدعة أذا تاب إلى الله تاب الله عليه......
 
“Ini merupakan peringatan yang keras bagi orang yang menyembunyikan apa saja yang diturunkan dengannya para Rasul, berupa ajaran dan petunjuk yang bermanfaat bagi hati, setelah Allah ta’ala terangkan kepada hamba-hamba-Nya sebagaimana tercantum dalam kitab-kitab yang diturunkan kepada para rasul-Nya.  Abul-‘Aaliyyah berkata : ‘Ayat ini diturunkan kepada Ahli Kitab yang menyembunyikan sifat Muhammad shallallaahu ‘alaihi wa sallam. Kemudian Allah pun mengkhabarkan bahwasanya mereka dilaknat oleh segala sesuatu atas perbuatan yang mereka lakukan. Sebagaimana para ulama dimintakan ampun oleh segala sesuatu termasuk ikan yang di air dan burung yang terbang di udara; maka keadaan mereka kebalikan dari para ulama tersebut – yang Allah melaknatnya dan segala sesuatu yang bisa melaknat pun melaknatnya.

Dan dalam ayat ini juga diterangkan bahwasannya orang yang menyembunyikan ilmu akan dilaknat oleh Allah, para malaikat, dan seluruh manusia. Kemudian Allah ta’ala mengecualikan dari mereka siapa saja yang bertaubat kepada-Nya. Allah berfirman : ‘kecuali mereka yang telah taubat dan mengadakan perbaikan dan menerangkan (kebenaran)’ ; yaitu mereka kembali pada kebenaran, memperbaiki amal-amal mereka, serta menerangkan kepada manusia tentang apa yang telah mereka sembunyikan sebelumnya. Firman Allah : ‘maka terhadap mereka itu Aku menerima taubatnya dan Akulah Yang Maha Penerima taubat lagi Maha Penyayang’ – dalam ayat ini terdapat pentunjuk bahwa orang yang mengajak pada kekufuran dan kebid’ahan apabila bertaubat kepada Allah, maka Dia akan menerima taubatnya.…. [‘Umdatut-Tafsiir, 1/279-280].

عن أبي هريرة قال : إن الناس يقولون أكثر أبو هريرة، ولولا آيتان في كتاب الله ما حدثت حديثا، ثم يتلو: {إن الذين يكتمون ما أنزلنا من البينات - إلى قوله - الرحيم}.......
Dari Abu Hurairah, ia berkata : “Orang-orang berkata : ‘Abu Hurairah terlalu banyak meriwayatkan hadits’. Jika saja bukan karena dua ayat dalam Kitabullah, niscaya aku tidak akan meriwayatkan hadits”. Kemudian ia (Abu Hurairah) membaca firman Allah : ‘Sesungguhnya orang-orang yang menyembunyikan apa yang telah Kami turunkan berupa keterangan-keterangan (yang jelas) dan petunjuk, setelah Kami menerangkannya kepada manusia dalam Al-Kitab, mereka itu dilaknati Allah dan dilaknati (pula) oleh semua (makhluk) yang dapat melaknati, kecuali mereka yang telah taubat dan mengadakan perbaikan dan menerangkan (kebenaran), maka terhadap mereka itu Aku menerima tobatnya dan Akulah Yang Maha Penerima taubat lagi Maha Penyayang’ (QS. Al-Baqarah : 159-160)…..” [Diriwayatkan oleh Al-Bukhaariy no. 118].
Al-Haafidh Ibnu Hajar rahimahullah saat mengomentari hadits di atas berkata :
ومعناه: لولا أن الله ذم الكاتمين للعلم ما حدث أصلا، لكن لما كان الكتمان حراما وجب الإظهار، فلهذا حصلت الكثرة لكثرة ما عنده.
“Dan makna dari perkataan ‘jika saja bukan karena dua ayat’ adalah : Jikalau bukan karena Allah mencela orang-orang yang menyembunyikan ilmu, aku tidak akan meriwayatkan hadits sama sekali. Namun karena menyembunyikan ilmu itu adalah diharamkan dan harus disampaikan, maka ia pun banyak meriwayatkan karena banyak hadits yang ia miliki” [Fathul-Baariy, 1/214].
عن أبي هريرة أن رسول الله صلى الله عليه وسلم قال مثل الذي يتعلم العلم ثم لا يحدث به كمثل الذي يكنز الكنز فلا ينفق منه
Dari Abu Hurairah : Bahwasannya Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda : “Perumpamaan orang yang mempelajari ilmu kemudian tidak menyampaikannya adalah seperti orang yang menyimpan harta namun tidak menafkahkannya darinya (membayarkan zakatnya)” [Diriwayatkan oleh Ath-Thabaraniy dalam Al-Ausath no. 689; shahih – lihat Ash-Shahiihah no. 3479].
عبد الله بن عمرو : أن رسول الله صلى الله عليه وسلم قال من كتم علما ألجمه الله يوم القيامة بلجام من نار
Dari ‘Abdullah bin ‘Amr : Bahwasannya Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam pernah bersabda : “Barangsiapa yang menyembunyikan ilmu, niscaya Allah akan mengikatnya dengan tali kekang dari api neraka di hari kiamat kelak” [Diriwayatkan oleh Ibnu Hibbaan no. 96, Al-Haakim 1/102, dan Al-Khathiib dalam Taariikh Baghdaad 5/38-39; hasan].
عن أبي هريرة قال : قال رسول اللّه صلى اللّه عليه وسلم: "من سئل عن علمٍ فكتمه ألجمه اللّه بلجام من نارٍ يوم القيامة".
Dari Abu Hurairah, ia berkata : Telah bersabda Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam : “Barangsiapa yang ditanya tentang satu ilmu lalu menyembunyikannya, niscaya Allah akan mengikatnya dengan tali kekang dari api neraka di hari kiamat kelak” [Diriwayatkan oleh Abu Dawud no. 3658, At-Tirmidziy no. 2649, Ath-Thayalisiy no. 2534, Ibnu Abi Syaibah 9/55, Ahmad 2/263 & 305 & 344 & 353 & 499 & 508, Ibnu Maajah no. 261, Ibnu Hibbaan no. 95, Al-Haakim 1/101, Al-Baghawiy no. 140, dan yang lainnya; shahih].
Al-Munawiy rahimahullah berkata :
فالحديث خرج على مشاكلة العقوبة للدنب وذلك لأنه سبحانه أخذ الميثاق على الذين أوتوا الكتاب ليبيننه للناس ولا يكتمونه. وفيه حث على تعليم العلم لأن تعلم العلم إنما هو لنشره ودعوة الخلق إلى الحق والكاتم يزاول إبطال هذه الحكمة وهو بعيد عن الحكيم المتقن ولهذا كان جزاؤه أن يلجم تشبيهاً له بالحيوان الذي سخر ومنع من قصد ما يريده فإن العالم شأنه دعاء الناس إلى الحق وإرشادهم إلى الصراط المستقيم
“Hadits tersebut berisi sanksi hukum atas sebuah dosa, karena Allah subhaanahu wa ta’ala telah mengambil perjanjian terhadap kaum yang diberikan Al-Kitab (Ahli Kitab) agar menerangkannya kepada manusia dan tidak menyembunyikannya. Padanya juga terdapat anjuran untuk mengajarkan ilmu, sebab menuntut ilmu bertujuan untuk menyebarkannya dan mengajak manusia kepada kebenaran. Adapun orang yang menyembunyikan ilmu pada hakekatnya telah membatalkan hikmah ini. Ia sangat jauh dari sifat bijaksana dan mutqin (kokoh dalam ilmu). Oleh karena itu, balasan baginya adalah dikekang sebagaimana hewan kekangan yang dipaksa dan dicegah dari apa yang dikehendakinya. Sesungguhnya kedudukan seorang ‘aalim (ulama) adalah mengajak manusia kepada kebenaran dan membimbing mereka kepada jalan yang lurus” [Faidlul-Qadiir, no. 8732].
Al-Khaththaabiy rahimahullah berkata :
هذا في العلم الذي يلزمه تعليمهُ إياه، ويتعين فرضه عليه، كمن رأى كافراً يريد الإسلام يقول : علمني، ما الإسلام ؟ وكمن يرى رجلاً حديث عهد بالإسلام، لا يُحسن الصلاة، وقد حضر وقتها، يقول : علمني كيف أصلي، وكمن جاء مستقياً في حلال و حرام يقول : أفتوني، وأرشدوني، فإنه يلزم في هذه الأمور أن لا يمنعوا الجواب، فمن فعل كان آثماً مُستحقاً للوعيد، وليس كذلك الأمر في نوافل العلم التي لا ضرورة بالناس إلى معرفتها، والله أعلم.
“Ini berlaku pada ilmu yang harus diajarkan kepada orang lain yang hukumnya fardlu ‘ain. Seperti halnya seorang yang melihat orang kafir yang ingin masuk Islam dan berkata : ‘Ajarkanlah aku, apa itu Islam ?’. Juga seperti orang yang baru saja masuk Islam yang tidak bagus shalatnya. Saat waktu shalat tiba, ia berkata : ‘Ajarkanlah aku, bagaimana aku melakukan shalat’. Juga seperti seseorang yang datang meminta fatwa dalam perkara halal dan haram. Ia berkata : ‘Berikanlah aku fatwa dan bimbinglah aku’. Barangsiapa yang menemui perkara-perkara seperti ini, hendaklah ia tidak menahan jawaban. Barangsiapa yang menahan jawaban, maka ia berdosa dan layak mendapatkan ancaman. Namun tidak demikian halnya dalam perkara ilmu yang disunnahkan dimana manusia tidak wajib mengetahuinya (yaitu tidak wajib memberi jawaban). Wallaahu a’lam [Syarhus-Sunnah oleh Al-Baghawiy, 1/302, tahqiq Syu’aib Al-Arna’uth & Muhammad Zuhair Syaawisy; Al-Maktab Al-Islaamiy, Cet. 2/1403].
Asy-Syaikh Ahmad Syaakir rahimahullah berkata :

تبليغُ العلم واجبٌُ، لا يجوزُ كتمانه، ولكنهم خصصوا ذلك بأهله، وأجازوا كتمانه عمن يكون مستعمداً لأخذه، وعمن يصر على الخطأ بعد إخباره بالصواب.
سُئل بعضُ العلماء عن شيء [من] العلم ؟ فلم يُجبْ، فقال السائل : أما سَمعتَ حديث : ((من علم العلماً فكتمه ألجم يوم القيامة بلجامٍ من نار)) ؟ فقال : اترك اللجام واذهب ! فإن جاء من يفقه وكتمتُه فَلْيُلْجمنيْ به.
 
“Menyampaikan ilmu adalah wajib, tidak diperbolehkan untuk menyembunyikannya. Akan tetapi hal itu dikhususkan bagi ahlinya (benar-benar menguasainya), dan diperbolehkan orang yang belum menguasai atau sering keliru untuk menyembunyikannya.
 
Sebagian ulama pernah ditanya tentang satu perkara ilmu, namun ia tidak menjawabnya. Maka orang yang bertanya itu berkata : ‘Bukankah engkau telah mendengar hadits : ‘Barangsiapa yang mengetahui satu ilmu namun menyembunyikannya, niscaya ia akan diikat dengan tali kekang dari api neraka di hari kiamat kelak’ ?’. Maka ulama tersebut menjawab : ‘Tinggalkanlah tali kekang dan pergilah !. Apabila ada orang yang mengetahui ilmu ini dan kemudian aku menyembunyikannya, maka ikatlah aku dengan tali kekang ini !” [Al-Ba’iitsul-Hatsiits, hal. 440, ta’liq : Al-Albaaniy; Maktabah Al-Ma’aarif, Cet. 1/1417].
 
Memang benar yang dikatakan oleh Asy-Syaikh Ahmad Syaakir rahimahullah. Walaupun menyampaikan ilmu itu wajib, maka itu hanya dibebankan pada mereka mampu, berilmu, dan benar-benar menguasai pokok persoalan yang hendak disampaikan/ditanyakan. Jangan sampai seseorang berfatwa dan berbicara mengenai agama Allah tanpa landasan ilmu, padahal Allah ta’ala telah berfirman :

قُلْ إِنَّمَا حَرَّمَ رَبِّيَ الْفَوَاحِشَ مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ وَالإثْمَ وَالْبَغْيَ بِغَيْرِ الْحَقِّ وَأَنْ تُشْرِكُوا بِاللَّهِ مَا لَمْ يُنَزِّلْ بِهِ سُلْطَانًا وَأَنْ تَقُولُوا عَلَى اللَّهِ مَا لا تَعْلَمُونَ
 
“Katakanlah: "Tuhanku hanya mengharamkan perbuatan yang keji, baik yang nampak atau pun yang tersembunyi, dan perbuatan dosa, melanggar hak manusia tanpa alasan yang benar, (mengharamkan) mempersekutukan Allah dengan sesuatu yang Allah tidak menurunkan hujah untuk itu dan (mengharamkan) mengada-adakan terhadap Allah apa yang tidak kamu ketahui" [QS. Al-A’raaf : 33].


[1]      Dari ‘Abdullah bin ‘Umar radliyallaahu ‘anhumaa :
أن اليهود جاؤوا إلى رسول الله صلى الله عليه وسلم، فذكروا له أن رجلا منهم وامرأة زنيا، فقال لهم رسول الله صلى الله عليه وسلم: (ما تجدون في التوراة في شأن الرجم). فقالوا: نفضحهم ويجلدون، فقال عبد الله بن سلام: كذبتم، إن فيها الرجم، فأتوا بالتوراة فنشروها، فوضع أحدهم يده على آية الرجم، فقرأ ما قبلها وما بعدها، فقال له عبد الله بن سلام: ارفع يدك، فرفع يده فإذا فيها آية الرجم، فقالوا: صدق يا محمد، فيها آية الرجم، فأمر بهما رسول الله صلى الله عليه وسلم فرجما،....
 
Bahwasannya orang-orang Yahudi mendatangi Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam untuk memberitahukan ada seorang laki-laki telah berzina dengan seorang perempuan di kalangan mereka. Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam bertanya kepada mereka : “Apa yang kalian dapati tentang hukum rajam di dalam kitab Taurat ?”. Mereka menjawab : “Hukuman pezina di dalam Taurat adalah dengan diumumkan dan dicambuk”. ‘Abdullah bin Sallaam berkata : “Kalian berdusta, karena dalam Taurat terdapat hukuman rajam (bagi pezina yang telah menikah)”. 

Mereka kemudian mengambil Taurat dan membukanya. Lalu salah seorang dari mereka menutupkan tangannya pada bagian ayat yang berisi hukuman rajam, sehingga dia hanya membaca ayat sebelumnya dan sesudahnya. Melihat itu ‘Abdullah bin Sallaam berkata : “Angkat tanganmu”. Maka dia pun mengangkat tangannya dan ternyata memang ada ayat tentang hukuman rajam di dalam Taurat. Mereka berkata : “Wahai Muhammad, memang benar, di dalam Taurat terdapat ayat tentang rajam”. Maka Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam memerintahkan untuk merajam keduanya…” [Diriwayatkan oleh Al-Bukhariy no. 3635 dan Muslim no. 1699].

Wallaahu a’lam bish-shawwaab.
Semoga risalah kecil ini ada manfaatnya.
[http://abul-jauzaa.blogspot.com].

ILMU HARUS DENGAN AMAL LALU UCAPAN

Hasil gambar untuk lilin Dari Jundub bin Abdullah al-Azadiy radliyallahu anhu, dari Rosulullah Shallallahu alaihi wa sallam bersabda,

مَثَلُ اْلعَالِمِ الَّذِى يُعَلِّمُ النَّاسَ اْلخَيْرَ وَ يَنْسَى نَفْسَهُ كَمَثَلِ السِّرَاجِ يُضِيْءُ لِلنَّاسِ وَ يَحْرِقُ نَفْسَهُ

“Perumpamaan seorang alim (berilmu) yang mengajarkan kebaikan kepada umat manusia dan melupakan dirinya sendiri adalah laksana sebatang lilin yang menerangi orang lain namun ia membakar dirinya sendiri”. [HR al-Khathib al-Baghdadiy, al-Bazzar dan ath-Thabraniy dari Jundub bin Abdullah radliyallahu anhu. Berkata asy-Syaikh al-Albaniy: Shahih].  [1]

Faidah hadits,

1. Rosulullah Shallallahu alaihi wa sallam menetapkan akan adanya orang alim yaitu orang yang berilmu.

Allah Azza wa Jalla  memuliakan orang-orang yang berilmu dan setiap muslimpun wajib menghormati mereka sesuai dengan batas-batas syar’iy. Hal ini sebagaimana dalil-dalil berikut,

يَرْفَعِ اللهُ الَّذِينَ ءَامَنُوْا مِنكُم وَ الَّذِينَ أُوتُوا اْلعِلْمَ دَرَجَاتٍ وَ اللهُ بِمَا تَعْمَلُونَ خَبِيرٌ

 “Niscaya Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu beberapa derajat. Dan Allah Maha mengetahui apa yang kalian kerjakan. [QS al-Mujadilah/ 58/ 11].

قُلْ هَلْ يَسْتَوِى الَّذِينَ يَعْلَمُونَ وَ الَّذِينَ لَا يَعْلَمُونَ إِنَّمَا يَتَذَكَّرُ أُولُوا اْلأَلْبَابِ

Katakanlah, “Apakah sama orang-orang yang mengetahui dengan orang-orang yang tidak mengetahui?” Sesungguhnya orang yang berakallah yang dapat menerima pelajaran. [QS az-Zumar/ 39: 9].

Dua ayat di atas menjelaskan bahwa Allah ta’ala memuliakan orang mukmin yang memiliki ilmu dengan mengangkat mereka beberapa derajat kemuliaan dan membedakan mereka dengan orang-orang yang tidak berilmu dengan perbedaan yang terang.

Dari Ubadah bin ash-Shamit berkata, Rosulullah Shallallahu alaihi wa sallam bersabda,

لَيْسَ مِنْ أُمَّتِى مَنْ لَمْ يُجِلَّ كَبِيْرَنَا وَ يَرْحَمْ صَغِيْرَنَا وَ يَعْرِفْ لِعَالِمِنَا (حَقَّهُ)

“Bukan termasuk umatku, orang yang tidak menghormati orang yang lebih tua dari kami, tidak menyayangi orang yang lebih muda dari kami dan tidak mengenal (hak) orang yang berilmu dari kami”. [HR Ahmad: V/ 323, ath-Thabraniy dan al-Hakim: 429 dengan lafazh ‘Bukan termasuk golongan kami’. Berkata asy-Syaikh al-Albaniy: Hasan]. [2]

Begitu pula Rosulullah Shallallahu alaihi wa sallam telah mengancam orang yang tidak mau memuliakan orang yang berimu di antara mereka dengan tidak memasukkannya ke dalam golongan umatnya. Memuliakan orang berilmu diantaranya adalah dengan memberikan haknya sebagai pembimbing, penashihat, pengajar dan pemberi fatwa dan sebagainya dalam urusan-urusan agama kepada mereka. Tidak menghina, mengejek atau mengolok-oloknya dimanapun ia berada. Tidak membuat kegaduhan dikala ia sedang memberikan pengajaran dan taushiyah. Mendebatnya dengan penuh semangat lantaran ingin meruntuhkan kehormatannya. Mencari segala aib dan kekurangannya lalu mengghibahnya karena ingin menghilangkan kemuliaannya. Dan lain sebagainya.

2. Kewajiban orang berilmu adalah mengajarkan berbagai kebaikan kepada umat manusia dengan hujjah yang terang.

Dari Abu Hurairah radliyallahu anhu bahwa Rosulullah Shallallahu alaihi wa sallam bersabda,

            مَثَلُ الَّذِى يَتَعَلَّمُ اْلعِلْمَ ثُمَّ لَا يُحَدِّثُ بِهِ كَمَثَلِ الَّذِى يَكْنِزُ اْلكَنْزَ فَلاَ يُنْفِقُ مِنْهُ

            “Perumpamaan orang yang menuntut ilmu lalu ia tidak mau menyampaikannya adalah seperti orang yang menimbun harta namun ia tidak mau menginfakkan sebahagian darinya”. [HR ath-Thabraniy di dalam al-Awsath dan Ibnu Abdil Barr. Berkata asy-Syaikh al-Albaniy: Shahih]. [3]

Dari Abdullah bin Umar radliyallahu anhuma berkata, Rosulullah Shallallahu alaihi wa sallam bersabda,

      عِلْمٌ لَا يُقَالُ بِهِ كَكَنْزٍ لَا يُنْفَقُ مِنْهُ

            “Ilmu yang tidak disampaikan (kepada orang lain) itu sama seperti simpanan (harta) yang tidak diinfakkan”. [HR Ibnu Asakir dan Ibnu Abdul Barr. Berkata asy-Syaikh al-Albaniy: Shahih]. [4]

Dari Abu Hurairah dari Nabi Shallallahu alaihi wa sallam bersabda,

      مَا مِنْ رَجُلٍ يَحْفَظُ عِلْمًا فَيَكْتُمُهُ إِلَّا أُتِيَ بِهِ يَوْمَ اْلقِيَامَةِ مُلْجَمًا بِلِجَامٍ مِنَ النَّارِ

            “Tidaklah seseorang yang menghafal ilmu lalu ia menyembunyikannya melainkan akan didatangkan  pada hari kiamat dalam keadaan diberi tanda dengan tanda dari api neraka”. [HR Ibnu Majah: 261. Berkata asy-Syaikh al-Albaniy: Hasan]. [5]

Dari Hasan Al-Bashriy rahimahullah berkata, “Sungguh aku mempelajari satu bab dari ilmu lalu aku mengajarkannya kepada seorang muslim di jalan Allah (yaitu mempelajari dan mengajarkannya karena Allah semata) lebih aku cintai daripada aku mempunyai dunia seluruhnya”. [6]

Jika seseorang telah memiliki ilmu dengan baik dan benar sesuai dengan syar’iy yaitu tidak menyelisihi alqur’an dan hadits-hadits shahih dengan pemahaman ulama salafus shalih, maka hendaknya ia mengamalkan ilmu-ilmunya tersebut sebatas kemampuannya sebelum menyampaikannya kepada orang lain.

Lalu jika ia telah mengamalkannya, ia mesti menyampaikan ilmu yang ia ketahui itu kepada orang lain dalam rangka mencari keridloan Allah Subhanahu wa ta’ala dan melaksanakan perintah Rosulullah Shallallahu alaihi wa sallam.

Orang yang memiliki ilmu namun ia tidak mau menyampaikannya kepada orang lain itu seperti orang yang memiliki harta yang tidak mau menginfakkan sebahagian hartanya. Allah Subhanahu wa ta’ala kelak akan mencapnya pada hari kiamat dengan sebuah tanda dari api neraka. Ma’adzallah.

3. Hendaknya orang alim tersebut untuk mengamalkan apa yang diajarkan sebelum mengajarkannya kepada orang lain.

Dari Ibnu Mas’ud radliyallahu anhu dari Nabi Shallallahu alaihi wa sallam bersabda,

لاَ تَزُوْلُ قَدَمَا ابْنِ آدَمَ يَوْمَ اْلقِيَامَةِ مِنْ  عِنْدِ  رَبِّهِ  حَتىَّ يُسْأَلَ عَنْ خَمْسٍ: عَنْ عُمْرِهِ فِيْمَا أَفْنَاهُ وَ عَنْ شَبَابِهِ فِيْمَا أَبْلاَهُ وَ عَنْ  مَالِهِ  مِنْ أَيْنَ اكْتَسَبَهُ وَ فِيْمَا أَنْفَقَهُ وَ مَا ذَا عَمِلَ فِيْمَا عَلِمَ

“Kedua kaki anak Adam tidak akan beranjak pada hari kiamat dari sisi Rabb-nya sehingga ditanya tentang lima perkara; tentang umur pada apa ia habiskan, kepemudaannya pada apa ia hancurkan, hartanya dari mana ia peroleh dan kemana ia belanjakan dan apa yang telah ia kerjakan pada apa yang telah ia ketahui. [HR at-Turmudziy: 2416, Abu Ya’la, ath-Thabraniy, Ibnu ‘Adiy dan Ibnu Asakir. Berkata asy-Syaikh al-Albaniy: Hasan ]. [7]

Dari Abu Barzah al-Aslamiy berkata, telah bersabda Rosulullah Shallallahu alaihi wa sallam,

لاَ تَزُوْلُ قَدَمَا عَبْدٍ حَتىَّ يُسْأَلَ  عَنْ  عُمْرِهِ  فِيْمَا أَفْنَاهُ وَ عَنْ عِلْمِهِ فِيْمَا فَعَلَ وَ عَنْ مَالِهِ مِنْ أَيْنَ اكْتَسَبَهُ وَ فِيْمَا أَنْفَقَهُ وَ عَنْ جِسْمِهِ فِيْمَا أَبْلاَهُ

“Kedua kaki hamba tidak akan bergeser hingga ditanya tentang; umurnya pada apa dia habiskan, ilmunya pada apa yang ia amalkan, hartanya darimana dia usahakan dan kemana dia belanjakan dan tubuhnya pada apa ia hancurkan”. [HR at-Turmudziy: 2417 dan ad-Darimiy: I/ 131. Berkata asy-Syaikh al-Albaniy: shahih]. [8]

Dalil-dalil diatas menjelaskan bahawasanya pada hari kiamat nanti setiap manusia akan ditanya tentang ilmu yang pernah ia dapatkan di dalam kehidupan dunia. Ilmu tersebut adalah ilmu yang berkaitan dengan masalah-masalah agama dan akhirat   . Yakni dengan ilmunya, seseorang akan dimintai pertanggungjawaban, apakah ilmu-ilmunya tersebut sudah ia amalkan atau tidak?. Jika ia telah mengamalkan apa yang telah ia ketahui maka selamatlah ia darinya, tetapi jika ia abaikan maka rugi dan sengsaralah ia pada hari kiamat.

Sehingga Abu ad-Darda radliyallahu anhu berkata, “Sesungguhnya yang paling aku khawatirkan dari apa yang mengkhawatirkanku adalah apabila aku telah bergantung dari hisab, akan dikatakan kepadaku, “Sungguh engkau telah mengetahui (berilmu), maka apakah engkau telah mengamalkan apa yang telah engkau ketahui itu?”. [9]

Dalam lain riwayat ia berkata, “Hanyalah yang kukhawatirkan dari Rabbku pada hari kiamat adalah ketika Ia memanggilku di tengah pemimpin para Makhluk. Lalu Rabbku berkata kepadaku, “Wahai Uwaimir!”. Aku menjawab, “Labbaika (Aku penuhi panggilan-Mu) wahai Rabb”.  Lalu Allah berfirman, “Apakah engkau telah mengerjakan apa yang engkau telah ketahui?”. [Atsar riwayat al-Baihaqiy, ad-Darimiy: I/ 82 dan Ibnu Abdil Barr. Berkata asy-Syaikh al-Albaniy: Shahih]. [10]

Berkata Ibnu Mas’ud radliyallahu anhu, “Belajarlah kalian, belajarlah kalian. Apabila kalian telah berilmu maka beramallah!”. [11]

Berkata al-Fudloil bin Iyadl rahimahullah, “Senantiasa orang yang berilmu itu masih bodoh dengan apa yang ia ketahui sehingga ia beramal dengannya. Apabila ia telah beramal dengannya maka ia menjadi orang yang berilmu”. [12]

Katanya lagi, “Hanyalah yang diinginkan dari ilmu itu adalah amal. Dan ilmu itu adalah dalilnya amal”. [13]

Katanya lagi, “Wajib bagi manusia untuk mempelajari (ilmu). Apabila mereka telah berilmu maka wajiblah bagi mereka untuk beramal”. [14]

Jadi setiap orang itu mesti berilmu terlebih dahulu sebelum beramal dan berujar. Jika ia beramal tanpa ilmu maka akan sesat dan rusak segala amalnya. Lalu jika ia berujar tanpa ilmu maka akan menimbulkan penyesatan dan pengrusakan.

Berkata Umar bin Abdul Aziz rahimahullah,

مَنْ عَبَدَ اللهَ بِجَهْلٍ أَفْسَدَ أَكْثَرَ مِمَّا يُصْلِحُ

“Barangsiapa beribadah kepada Allah dengan kebodohan, dia telah membuat kerusakan lebih banyak daripada membuat kebaikan”. [15]

Oleh sebab itu al-Imam al-Bukhoriy membuat suatu bab tentang keutamaan ilmu atas ucapan dan perbuatan,

اْلعِلْمُ قَبْلَ اْلقَوْلِ وَ اْلعَمَلِ

            “Ilmu itu sebelum perkataan dan perbuatan”. [16]

4. Adanya larangan di dalam menyampaikan ilmu namun si penyampainya sendiri tidak (mau) mengamalkannya.

      يَا أَيُّهَا الَّذِينَ ءَامَنُوا لِمَ تَقُولُونَ مَا لَا تَفْعَلُونَ كَبُرَ مَقْتًا عِندَ اللهِ أَن تَقُولُوا مَا لَا تَفْعَلُونَ

 “Wahai orang-orang yang beriman, mengapa kalian mengatakan sesuatu yang tidak kalian kerjakan?. Amat besar kemurkaan di sisi Allah bahwa kalian mengatakan apa-apa yang tidak kalian kerjakan”. [QS ash-Shaff/ 61: 2-3].

Ayat di atas menegaskan teguran Allah Azza wa Jalla kepada orang mukmin yang suka mengatakan, menyampaikan dan mengajak orang lain kepada suatu amalan, namun ia sendiri tidak mau mengamalkannya.

Siapapun orang yang mengucapkan sesuatu ajakan namun ia enggan untuk mengamalkannya maka Allah Subhanahu wa ta’ala akan murka kepadanya, memasukkannya ke dalam neraka dalam keadaan ususnya terburai keluar dan lidah dan mulutnya digunting dengan gunting neraka. Na’udzu billah min dzalik.

Dari Usamah bin Zaid radliyallahu anhu, bahwasanya ia mendengar Rosulullah Shallallahu alaihi wa sallam bersabda,

يُجَاءُ بِالرَّجُلِ يَوْمَ اْلقِيَامَةِ فَيُلْقَى فَى النَّارِ فَتَنْدَلِقُ أَقْتَابُهُ فَيَدُوْرُ بِهَا كَمَا يَدُوْرُ اْلحِمَارُ بِرَحَاهُ فَيَجْتَمِعُ أَهْلُ النَّارِ عَلَيْهِ فَيَقُوْلُوْنَ: يَا فُلَانُ مَا شَأْنُكَ؟ أَلَسْتَ كُنْتَ تَأْمُرُ بِاْلمـَعْرُوْفِ وَ تَنْهَى عَنِ اْلمـُنْكَرِ؟ فَيَقُوْلُ: :ُنْتُ آمُرُكُمْ بِاْلمـَعْرُوْفِ وَ لَا آتِيْهِ وَ أَنْهَاكُمْ عَنِ اْلمـُنْكَرِ وَ آتِيْهِ

            “Pada hari kiamat nanti, akan dibawa seorang lelaki lalu dicampakkan ke dalam neraka. Maka terburailah ususnya di dalam neraka, lalu ia berputar-putar seperti seekor keledai berputar-putar mengelilingi batu penggilingan. Maka penghuni nerakan berkumpul mendekatinya dan bertanya, “Wahai Fulan, mengapa engkau seperti ini?, bukankah dahulu engkau yang suka menyuruh kami kepada perbuatan ma’ruf dan melarang kami dari perbuatan mungkar?”. Maka ia menjawab, “Dahulu aku menyuruh kalian kepada perbuatan ma’ruf tetapi aku sendiri tidak melaksanakannya dan melarang kalian dari perbuatan mungkar namun aku sendiri melakukannya”.  [HR al-Bukhoriy: 3267, Muslim: 2989 dan Ahmad: V/ 205, 207, 209. Berkata asy-Syaikh al-Albaniy: Shahih]. [17]

Diriwayatkan dari Anas bin Malik berkata, Rosulullah Shallallahu alaihi wa sallam bersabda,

      رَأَيْتُ لَيْلَةَ أُسْرِيَ بِى رِجَالاً تُقْرَضُ شِفَاهُهُمْ بِمَقَارِيْضَ مِنْ نَارٍ فَقُلْتُ: مَنْ هَؤُلَاءِ يَا جِبْرِيْلُ؟ قَالَ: اْلخُطَبَاءُ مِنْ أَمَّتِكَ يَأْمُرُوْنَ النَّاسَ بِاْلبِرِّ وَ يَنْسَوْنَ أَنْفُسَهُمْ وَ هُمْ يَتْلُوْنَ اْلكِتَابَ أَفَلَا يَعْقِلُوْنَ؟

            “Pada malam isra’, aku melihat beberapa orang digunting mulut mereka dengan gunting neraka. Aku bertanya, “Siapakah mereka itu, wahai Jibril?”. Malaikat Jibril menjawab, “Mereka itu adalah para khatib dari umatmu, mereka menyuruh manusia kepada kebaikan namun mereka melupakan diri mereka sendiri, sedangkan mereka membaca kita (alqur’an). Tidakkah mereka berfikir?”. [HR Ahmad: III/ 120, 180, 231, 239, Ibnu Hibban, Ibnu Abi Syaibah, Abu Nu’aim dan selainnya. Berkata asy-Syaikh al-Albaniy: Shahih]. [18]

5. Rosulullah Shallallahu alaihi wa sallam telah memisalkannya dengan sebatang lilin yang memberi penerangan kepada orang lain namun ia sendiri menghancurkan dirinya sendiri.

Terkadang Allah ta’ala dan Rosulullah Shallallahu alaihi wa sallam di dalam menjelaskan sesuatu hal, membuat beberapa permisalan agar dapat dipahami oleh umat manusia, khususnya umat Islam. Permisalan-permisalan yang dibuat oleh Allah Azza wa Jalla dan Rosulullah Shallallahu alaihi wa sallam banyak terdapat faidah dan pengajaran bagi orang yang memiliki hati, membuka mata dan mengarahkan pendengaran kepadanya.

Permisalan yang dibuat oleh Rosulullah Shallallahu alaihi wa sallam di atas adalah lilin, sebuah benda yang dapat menjadi penerang bagi orang di sekitarnya jika dinyalakan, namun ketika itu ia membinasakan dirinya sendiri yakni lilin itu akan hancur perlahan-lahan dimakan api.

       وَ تِلْكَ اْلأَمْثَالُ نَضْرِبُهَا لِلنَّاسِ لَعَلَّهُمْ يَتَفَكَّرُونَ

Dan perumpamaan-perumpamaan itu Kami buat untuk manusia supaya mereka berfikir. [QS al-Hasyr/ 59: 21

وَ تِلْكَ اْلأَمْثَالُ نَضْرِبُهَا لِلنَّاسِ وَ مَا يَعْقِلُهَا إِلَّا اْلعَالِمُونَ

Dan perumpamaan-perumpamaan ini Kami buat untuk manusia, dan tiada yang memahaminya kecuali orang-orang yang berilmu. [QS al-Ankabut/ 29: 43].

6. Mudah-mudahan Allah ta’ala menjauhkan kita dari perilaku yang buruk tersebut.

Dengan gambaran dalil-dalil dan penjelasannya di atas hendaknya kita selalu memohon kepada Allah Subhanahu wa ta’ala agar dijauhkan dari perilaku dan sifat seperti itu. Di antaranya, dengan meminta perlindungan kepada Allah ta’ala dari ilmu yang tidak bermanfaat yakni dari ilmu yang baik lagi benar tapi tidak bermanfaat buat diri pemiliknya lantaran tidak mengubah keadaannya menjadi lebih baik dan benar. Dan juga memohon kepada Allah Azza wa Jalla agar menjadikan semua ilmu yang telah diberikan kepada kita menjadi bermanfaat dan agar Allah ta’ala juga melimpahkan ilmu yang bermanfaat buat kita. Aamiin yaa Mujiibas Saailiin…

Dari Zaid bin Arqom berkata, “Aku tidak akan berkata kepada kalian kecuali sebagaimana Rosulullah Shallallahu alaihi wa sallam bersabda. Beliau pernah bersabda,

اَللَّهُمَّ إِنِّى أَعُوْذُ بِكَ مِنْ عِلْمٍ لَا يَنْفَعُ وَ مِنْ قَلْبٍ لَا يَخْشَعُ وَ مِنْ نَفْسٍ لَا تَشْبَعُ وَ مِنْ دَعْوَةٍ لَا يُسْتَجَابُ لَهَا

“Ya Allah, sesungguhnya aku berlindung kepada-Mu dari ilmu yang tidak bermanfaat, hati yang tidak khusyu’, jiwa yang tidak pernah kenyang dan doa yang tidak dikabulkan”. [HR Muslim: 2722 dan an-Nasa’iy: VIII/ 260, 285. Berkata asy-Syaikh al-Albaniy: Shahih]. [19]

Dari Abu Hurairah radliyallahu anhu berkata, adalah Rosulullah Shallallahu alaihi wa sallam berdoa,

اَللَّهُمَّ انْفَعْنِى بِمَا عَلَّمْتَنِى وَ عَلِّمْنِى مَا يَنْفَعُنِى وَ زِدْنِى عِلْمًا وَ اْلحَمْدُ لِلَّهِ عَلَى كُلِّ حَالٍ وَ أَعُوْذُ بِاللهِ مِنْ عَذَابِ النَّارِ

“Ya Allah, berilah manfaat kepadaku terhadap apa yang Engkau ajarkan kepadaku dan ajarkanlah aku  dengan apa yang akan memberi manfaat kepadaku. Tambahkanlah ilmu kepadaku, segala puji bagi Allah atas segala keadaan dan aku berlindung kepada Allah dari adzab neraka”. [HR Ibnu Majah: 251, 3833 dan at-Turmudziy. Berkata asy-Syaikh al-Albaniy: Shahih]. [20]

Semoga bermanfaat untukku, keluarga, kerabat dan para shahabatku serta kaum muslimin seluruhnya. Wallahu a’lam bi ash-Showab.

[1] Shahih al-Jami’ ash-Shaghir: 5831, 5837, Shahih at-Targhib wa at-Tarhib: 126, 127 dan iqtidlo’ al-Ilmi al-Amal: 70, 71

[2] Shahih al-Jami’ ash-Shaghir: 5443 dan Shahih at-Targhib wa at-Tarhib: 96.

[3] Shahih al-Jami’ ash-Shaghir: 5835 dan Misykah al-Mashobih: 280.

[4] Shahih al-Jami’ ash-Shaghir: 4023 dan Shahih at-Targhib wa at-Tarhib: 118.

[5] Shahih Sunan Ibni Majah: 210, Shahih al-Jami’ ash-Shaghir: 5713 dan Shahih at-Targhib wa at-Tarhib: 116.

[6] Al-Majmu’ Syar-h Al-Muhadzdzab: I/ 21, karya Al-Imam An-Nawawiy.

[7] Shahih Sunan at-Turmudziy: 1969, Shahih al-Jami’ ash-Shaghir: 7299 dan Silsilah al-Ahadits ash-Shahihah: 946.

[8] Shahih Sunan at-Turmudziy: 1970 dan Shahih al-Jami’ ash-Shaghir: 7300.

[9] Jami’ Bayan al-Ilmi wa fadl-lihi: 752, halaman 248 dan Iqtidlo’ al-Ilmi al-Amal: 53 halaman 41.

[10] Shahih at-Targhib wa at-Tarhib: 125.

[11] Iqtidlo’ al-Ilmi al-Amal: 10 halaman 22-23.

[12] Iqtidlo’ al-Ilmi al-Amal: 43 halaman 37.

[13] Iqtidlo’ al-Ilmi al-Amal: 44 halaman 37.

[14] Iqtidlo’ al-Ilmi al-Amal: 45 halaman 37.

[15] Majmu’ Fatawa XXV/281.

[16] Fat-h al-Bariy: I/ 159.

[17] Shahihal-Jami’ ash-Shaghir: 8022, Silsilah al-Ahadits ash-Shahihah: 292, Shahih at-Targhib wa at-Tarhib: 120 dan iqtidlo’ al-Ilmi al-Amal: 74 halaman 51-52.

[18] Shahih at-Targhib wa at-Tarhib: 121 dan Silsilah al-Ahadits ash-Shahihah: 291.

[19] Shahih Sunan an-Nasa’iy: 5044, 5011 dan Shahih al-Jami’ ash-Shaghir: 1286.

[20] Shahih Sunan Ibni Majah: 203, 3091, Shahih Sunan at-Turmudziy: 2845 dan Misykah al-Mashobih: 3493.

sumber : https://cintakajiansunnah.wordpress.com/tag/keharusan-menyampaikan-ilmu/